Pengantin Simon

Pengantin Simon
73. Pick-up plan part 2


__ADS_3

Alric menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Marylin sedang melotot ke arah Simon, Wajahnya tampak marah.


"Kau mengakui kau berbohong!Ya Tuhan! Pantas saja ia sedih! Kau ... ck!" Marylin berdecak, lalu berbalik dan mulai berjalan menjauh, lalu kembali lagi. Mereka semua ada di ruang tamu Mansion. Simon datang sesuai permintaan Alric lalu Mary mulai memburunya dengan berbagai cerita yang telah ia dapat dari Leon tadi malam. Anak itu sudah menceritakan semua kesedihannya.


"Dia begitu menyukai Anna. Kurasa ia menyukainya lebih dari seorang guru. Leon menyukainya seperti ia menyukai Catty! Setelah melihat bagaimana kau dan Anna saat kita makan malam bersama waktu itu, kami juga mengira kau akhirnya mulai memikirkan untuk membuat keluarga yang lengkap untuk Leon."


Simon memandang Mary dan mencoba tersenyum. Dari wajah marah, ekspresi Mary sudah berganti sedih.


"Dia punya, Mary. Dia punya ayah dan ibu. Aku, Alric, Claude ... kami semua ayahnya dan kau serta Catty adalah ibunya," ucap Simon.


Mary berjalan gontai ke arah sofa, ia duduk dan menatap kosong ke arah meja tamu.


"Aku tahu, tapi entah kenapa ... aku tidak pernah bisa melupakan masa lalu ... aku merasa aku belum cukup berperan sebagai ibunya dengan benar. Selalu jadi beban penyesalan di sini," ucap Mary sambil mengangkat tangan, lalu menggosok dadanya dengan mata berkaca-kaca.


Alric mendekat ke sebelah Mary. Ia sudah berpakaian rapi untuk berangkat bekerja ketika Mary menceritakan hasil obrolannya dengan Leon tadi malam. Ia berinisiatif meminta Simon datang.


"Shhhh ... lupakan masa lalu. Leon menyayangimu sebagai ibunya. Percayalah." Alric merangkul, lalu menepuk pelan bahu Mary.


"Aku tahu itu, dia mencintaiku meski aku bukan ibu yang baik. Karena itu, aku ingin ia selalu bahagia. Namun ia selalu sedih beberapa hari ini. Catty tidak tidak tahu apa sebabnya." Mary membersit hidung, lalu menatap Simon.


"Kau meninggalkan Anna? Dulu, siapapun yang kau tinggalkan, hanya berefek pada hidupmu sendiri. Tapi sekarang ada Leon ... seharusnya kau menjaga jarak dari Anna jika akhirnya kau tidak mau bersamanya."


Simon mendongak ke arah tangga Mansion. "Apakah dia di atas?"


Alric mengangguk. "Dia bahkan tidak mau sarapan di bawah."


"Aku terus berada di rumah sakit. Aku tidak tahu kalau ...."

__ADS_1


Alric mengangguk mengerti. "Dia merindukan Anna, Simon."


Mary menyandarkan kepalanya pada bahu Alric. "Kasihan Leon ... Daddynya tidak mau berjuang untuk Mam Ann , aku sangat bersyukur kau dulu berjuang untukku, Alric. Kau memastikan aku dan Val akan selalu ada bersamamu."


Alric berdeham, tahu bahwa Mary sengaja menyinggung Simon. Ia melirik ke arah Simon, pria itu tidak tampak tersinggung. Malah menyeringai lebar.


"Izinkan aku naik ke atas. Aku akan bicara dengannya. Akan kupastikan, ia turun dengan wajah sangat ceria," ucap Simon sambil mengedipkan mata.


Alric mengangguk, lalu menyilakan Simon naik untuk mencari Leon di kamarnya.


Mary dan Alric tidak perlu menunggu lama. Lima belas menit kemudian, Leon turun bersama Valencia dan Aislin. Ketiga anak itu berbicara dengan nada riang, sangat seru dan berkejar-kejaran, hingga Mary dan Alric kesulitan mengikuti tema pembicaraan mereka. Di belakang tiga bocah itu, Simon mengikuti sambil menarik sebuah koper kecil yang tadi malam Leon bawa berisi barang-barangnya.


"Daddy Alric, Mom, Leon pergi dulu bersama Daddy Simon."


"Kau mau pergi? Kemana?" tanya Mary. Tersenyum senang melihat putranya sudah tersenyum. Simon menepati janjinya. Leon sudah ceria seperti semula.


Ucapan Leon membuat Val dan Aislin kembali memburunya. Pertanyaan sekitar liburan, kemana, dengan siapa saja, bolehkah mereka ikut segera menghampiri Leon.


Alric yang mengerti situasi segera cepat tanggap. "Val, Aislin, Kakakmu punya sedikit pekerjaan penting dengan Daddy Simon. Jadi mereka harus pergi berdua saja. Mereka bukan mau liburan."


Val dan Aislin akhirnya diam. Leon segera memeluk kedua adiknya, mencium masing-masing pipi montok mereka, lalu ia memeluk Alric.


"Dad, Leon pergi dulu."


"Ya. Jangan nakal, Oke?"


"Huum!" Leon mengangguk cepat, lalu bocah itu berpindah pada Mary. Mary memeluknya lama, lalu mencium puncak kepalanya.

__ADS_1


"Terima kasih, Mom. Leon sayang Mommy," bisik bocah itu di telinga Mary.


Mary menahan air matanya yang mau jatuh. Ia balas berbisik ke telinga Leon. "Pastikan kau kembali dengan Mam Ann. Oke?"


"Huum!"


Leon menyeringai lebar. Lalu meyambut uluran tangan Daddynya.


"Ayo, Dad! Cepatlah!"


"Kami pergi," pamit Simon pada Mary dan Alric.


Simon menutup pintu mobil bagian penumpang ketika putranya sudah masuk, lalu ia sendiri masuk setelah sekali lagi melambai kepada Alric sekeluarga.


Alric mendengar embusan napas lega dari bibir istrinya, ia melirik, cairan bening menetes di pipi mulus Mary, matanya memandang mobil hitam yang membawa Leon menjauh.


"Sudah kubilang ... ia mencintaimu. Kau adalah ibunya, Mary," bisik Alric, lalu ia membungkuk, menggendong si kecil Aislin dan kembali memeluk bahu Mary.


Valencia bergeser ke tengah-tengah Mary dan Alric, sebelah tangan melambai, sebelah lagi bergenggaman erat dengan tangan ibunya.


NEXT >>>>>


*********


From Author,


Jangan lupa like bab ini, Vote Hadiah, Love, bintang lima juga komentar. Atas dukungannya author mengucapkan terima kasih.

__ADS_1


Salam. DIANAZ.


__ADS_2