Pengantin Simon

Pengantin Simon
38. Vacation plan


__ADS_3

Anna menurunkan kedua kakinya perlahan dari tempat tidur. Ia melihat Simon bangkit dari sofa yang didudukinya. Ketika pria itu mendekat ke tempat tidur.


Anna mengernyit. "Sungguh, aku bisa sendiri," ucap Anna.


"Tentu. Tapi selang ini perlu dipegang," ucap Simon.


"Astaga ... tolong jangan membuatku malu di depan Mrs. Sanders dan Nyonya Luna, Simon." Anna mengembuskan napas berat sambil melirik ke arah sofa.


"Tidak perlu malu, Sayang. Kau sedang sakit. Aku dan Luna tentu tidak sanggup mengangkatmu." Mrs Sanders dan Nyonya Luna tertawa bersamaan.


"Menurut kalian, dia harus digendong?" tanya Simon.


Dua wanita yang duduk di sofa mengangguk serentak.


"Tentu, Daddy! Kaki Mam masih diperban, kata Daddy Claude perut Mam juga dijahit! Jadi akan sakit sekali jika berjalan sendiri!" Leon memberi persetujuan pada ayahnya.


Anna mengangkat kedua tangannya ke atas, menggoyangkannya ke kiri dan kanan.


"Tidak. Itu tidak perlu. Sungguh. Aku sudah kuat."


Simon tidak mendengarkan. Ia melepas cairan infus dari tempatnya, lalu mematikan alirannya sementara, kemudian memberikannya ke tangan Anna agar dipegang.


Reflek Anna memegangi cairan infus yang diletakkan Simon ke tangannya. Kemudian ia merasakan badannya diangkat.


"Astaga ... dia lebih ringan dari Leon," ucap Simon.


"Daddy ...," ucap Leon dengan pipi menggembung.


"Kenapa?"


"Tentu saja itu tidak mungkin! Mam Ann pasti lebih berat dari Leon! Leon tidak segemuk itu!"


Ucapan bocah itu membuat semua orang tertawa. Mrs. Sanders segera membantu membuka pintu kamar mandi yang ada di sudut kamar.


"Turunkan di sini saja," ucap Anna ketika mereka tiba di depan pintu. Namun Simon malah terus masuk sampai ke kamar mandi. Setelah mendudukkan Anna di atas closet, ia memegangi infus Anna.


"Tidak. Letakkan itu di sini dan keluarlah. Kumohon. Astaga ...." Anna menggelengkan kepalanya berulang kali.


"Kenapa malu? Kami semua temanmu."


"Aku mohon keluarlah dulu, Simon! Aku tidak mau membuka celanaku di hadapanmu!" seru Anna sambil mendelik.


Simon terkekeh. "Aku tidak keberatan melihat sedikit," godanya dengan sengaja.


Anna menyipit, merasa gemas melihat senyum jahil pria itu.


"Oh, keras kepala! Baiklah! Jangan bilang kalau aku tidak sopan!"


Dengan sengaja Anna menaikkan piyama atasnya, lalu mulai menurunkan karet celana dari pinggangnya. Melihat itu Simon langsung berbalik, lalu pergi keluar dan menutup pintu.

__ADS_1


Anna menyeringai lebar. Ia tahu Simon akhirnya akan keluar. Setelah mengenal dan berteman dengan pria tersebut, Anna tahu Simon memang jahil dan usil, namun pria itu orang yang sopan. Ia tidak akan berdiri di dekat wanita yang sedang buang air kecil.


Setelah beberapa menit berada di dalam, Anna akhirnya selesai. Ia mencuci tangannya, dan baru saja mematikan air wastafel ketika suara Simon terdengar dari depan pintu.


"Kau sudah selesai?" tanya Simon.


Anna berjalan tertatih, berusaha tidak menekan telapak kakinya yang dijahit dan diperban. Pintu terbuka dan Simon muncul.


"Ck! Jawab sudah jika sudah selesai! Malah berjalan sendiri!"


Simon kembali menggendong Anna dengan mudah. Membaringkan kembali wanita itu ke atas tempat tidur. Bulir keringat di kening dan pelipis Anna membuat Mrs. Sanders mendekat. Setelah menarik beberapa lembar tisu, ia menghapus keringat tersebut.


"Kau terlalu memaksakan diri. Lihat, keringatmu besar-besar."


"Aku tidak apa-apa," elak Anna.


"Jangan berbohong, Ann. Kami semua siap membantumu. Jadi mulai saat ini, jangan melakukan semuanya sendiri lagi, Sayang," ucap Nyonya Luna.


"Itu benar. Leon dan Dad juga akan selalu membantu Mam Ann."


Anna tersenyum, membalas genggaman tangan Leon pada jemarinya.


"Terima kasih. Leon baik sekali," puji Anna.


"Cepatlah sembuh. Kita bisa berjalan-jalan bertiga ... sudah lama Luna tidak mengunjungi kota ini," ucap Mrs. Sanders.


"Leon juga ikut!" seru Leon.


"Asiiik. Tenang saja! Kalau Mam sudah sembuh, Daddy akan mengantar kita berkeliling. Maukah Mrs. Sanders dan Nyonya Luna ikut ke kebun binatang?" tanya Leon antusias.


Simon hanya menaikkan kedua alisnya.


Mrs. Sanders dan Nyonya Luna mengangguk sambil tersenyum geli.


"Daddy akan mengambil libur dan mengantar kita jalan-jalan." tambah Leon lagi.


"Begitu ya?" tanya Simon. Tersenyum kecil melihat putranya yang tampak bersemangat.


"Ya! Lalu Daddy akan mengajak kita melihat lumba-lumba. Kita berlayar. Yacht milik Daddy sangat nyaman. Kita semua pasti akan menikmati liburan yang menyenangkan!"


Simon bersedekap. Mulai mengerutkan bibirnya. Namun belum berkomentar, hanya menunggu untuk mendengarkan celoteh Leon selanjutnya.


"Nanti kita akan menangkap ikan! Daddy akan membuatkan kita makanan dari ikan yang kita tangkap!"


Mrs. Sanders tertawa, mengedipkan mata pada Leon. "Daddy pandai memasak?" tanyanya.


"Sedikit ... tapi, Dad pandai memanggang! "


"Menarik sekali. Itu akan menghabiskan waktu ayahmu ... bagaimana pekerjaannya?" tanya Nyonya Luna.

__ADS_1


"Daddy tidak akan miskin karena tidak bekerja beberapa hari," ucap Leon.


"Benarkah? Jangan sampai Ayahmu melewatkan pertemuan dan rapat-rapatnya hanya karena menemani kita jalan-jalan," ucap Nyonya Luna.


"Daddy akan ...." Ucapan Leon terpotong oleh suara dehaman ayahnya yang berulang-ulang.


"Tenggorokan Daddy kenapa?" tanya Leon.


"Berhentilah berbicara. Mam Ann jadi tidak bisa istirahat. Lagipula ... berhenti jadi juru bicara untuk Dad."


Leon tersenyum malu. Melihat ke arah Anna yang tersenyum, dan Mrs Sanders dan Nyonya Luna yang terkekeh.


"Maaf ... Leon cerewet sekali."


Nyonya Luna tertawa. "Leon mau menyuruh Daddy mengambil libur, hanya untuk menjadi supir, lalu membawa para wanita tua, Mam Ann dan Leon jalan-jalan? Lalu menyuruhnya menjadi koki, memasak untuk kita semua? Leon sudah tanya apakah Daddy setuju?" tanya Nyonya Luna sambil melirik Simon yang menyeringai menatap Leon yang mengerucutkan bibir dan mulai menggosok hidungnya berulang-ulang.


"Emmmm ...." Leon melirik ayahnya, lalu menunduk lagi. Ekspresi bocah itu membuat semua orang sangat geli dan terhibur. Bocah itu sepertinya baru menyadari kalau ia belum meminta persetujuan ayahnya atas rencana yang sudah ia lontarkan.


Anna merasa sangat terhibur, hatinya senang dan gembira selama jam kunjungan tersebut. Ketika waktunya berakhir dan dua wanita tua yang ia sayangi itu berpamitan, Anna merasa agak sedih. Ia mengucapkan terima kasih dan menerima ciuman perpisahan dari keduanya.


Simon memutuskan mengantar kedua wanita tersebut hingga keluar, sekaligus mengantarkan Leonard pada Bruno. Setelah menyuruh putranya berpamitan, Simon melambai pada Anna, menutup pintu dan meninggalkan Anna dalam keheningan kamar.


Anna mendongak, menatap tetes demi tetes cairan bening yang perlahan turun dari botol infus. Simon telah mengalirkan kembali cairan tersebut setelah meletakkannya ke atas tempat tidur. Beberapa hal dilakukan sendiri oleh pria itu tanpa memanggil perawat. Dalam imajinasinya, tetesan air itu berbunyi ketika jatuh, bersuara seperti tetesan air yang jatuh ke atas tanah.


Anna terbayang kembali kilas kehidupannya. Anak-anak yang tidur di kamar yang sama dengannya di panti ... Nuella ... pasangan Barnes ... lalu Martin ....


Hati Anna terasa diremas ... sejak ia sadar, belum ada seorang pun yang menjelaskan kepadanya apa yang terjadi pada Martin. Dimana dan bagaimana keadaan pria itu. Anna tidak berani meminta penjelasan. Ia takut perasaan aman yang ia rasakan akan hilang.


Anna dapat menduga, namun merasa tidak pasti. Sesaat sebelum ia menutup matanya ketika ditusuk, Anna mengingat teriakan dari Simon yang memanggil namanya, ia ingat warna merah yang memercik wajahnya, ia ingat mendengar tembakan ... apakah Martin hidup? Sudah meninggal? Bagaimana keluarga Andreas? Anna bersyukur hingga saat ini belum melihat satu pun anggota keluarga Martin itu. Namun, kegelisahan membuatnya gundah.


Anna menoleh ke arah pintu, pikirannya melayang. Telinganya mendengarkan dengan seksama suara-suara yang datang dari lorong di luar pintu. Namun tidak ada seorangpun yang membuka pintu itu. Langkah kaki yang kadang terdengar di depan pintu hanya lewat saja.


Mata Anna terus memandang, tanpa sadar menanti sosok yang akan membuka pintu kamarnya. Hingga rasa kantuk mendatangi dan akhirnya ia menutup mata. Wajah Anna terus menoleh ke arah pintu.


Simon masuk ke kamar Anna hampir satu jam kemudian. Kepala Anna tertekuk di atas bantal. Wanita itu sudah tidur.


Simon mendekat, menaikkan selimut dan menutupi tubuh Anna hingga ke dada. Baru saja ia duduk di kursi yang ada di samping ranjang Anna ketika mendengar wanita itu mengingau.


"Simon?"


Namanya yang diucapkan dengan amat pelan dan nada penuh tanya itu membuat Simon mengulurkan tangan. Menggenggam tangan Anna, mendekatkan tubuhnya ke ranjang dan mengecup pelan punggung tangan Anna yang terpejam.


"Aku di sini," jawabnya pelan. Melirik ke kelopak mata Ann yang tertutup, memastikan kalau Anna masih tidur.


Simon mendesah berat. " Keluarga Andreas menanyakanmu, Ann ...."


NEXT >>>>>>


From Author,

__ADS_1


Jangan lupa tekan like ya readers, komentar, love bintang lima dan juga votenya untuk PS. Atas dukungan kalian semua, otor ucapkan terima kasih banyak. Luvv youu


Salam. DIANAZ.


__ADS_2