
Anna menarik napas lega setelah duduk di kursi santai yang ada di dek kapal Simon. Senyumnya merekah melihat Leon yang berbicara dengan semangat bersama Mrs. Sanders dan Nyonya Luna.
Ann tidak bergabung, hanya melihat dari kursinya. Sejujurnya ia sangat lelah. Sebelumnya mereka pergi ke kebun binatang, setelah puas berkeliling, Simon mengajak mereka semua makan siang. Sekarang mereka berlayar, Anna melihat Mrs. Sanders dan Nyonya Luna masih terlihat segar dan antusias, begitu juga dengan Leon.
Angin berembus lembut di wajah Ann. Keceriaan dan tawa dari Leon bersama Mrs. Sanders dan Nyonya Luna menjadi hal menarik untuk ditonton, hingga kemudian matanya meredup dan akhirnya ia tertidur di kursi.
Setelah hampir satu jam kemudian, mereka sudah kembali ke dermaga. Nyonya Luna dan Mrs. Sanders tersenyum ketika Bruno sudah menanti mereka.
"Maafkan aku tidak bisa mengantarkan kalian secara langsung," ucap Simon.
"Tak apa, Simon. Istirahat Anna tidak boleh di ganggu. Ia membutuhkannya. Kita telah membuatnya terlalu lelah hari ini."
"Leon, kami pulang lebih dulu. Tolong jaga Mam Ann, Oke?" Mrs. Sanders menepuk lembut puncak kepala Leon.
"Tentu. Kami akan menunggu Mam terbangun dan akan mengantarkan Mam pulang," ucap Leon.
"Anak baik ...." Lalu Mrs. Sanders berpaling pada Simon. "Terima kasih, Simon. Waktu yang menyenangkan sekali hari ini."
"Aku senang Anda menyukainya," ucap Simon.
Setelah melambai pada Simon dan Leon, Mrs. Sanders dan Nyonya Luna masuk ke dalam mobil yang dikendarai Bruno untuk kembali ke rumah.
Simon dan Leon berbalik kembali ke kapal. Leon langsung menuju kabin tempat Anna tertidur di atas ranjang. Sebelumnya Anna tertidur di kursi, Simon memindahkannya ketika melihat Anna terlelap dengan kepala tertekuk di atas kursi santai.
Leon mengambil sebuah buku cerita bergambar, lalu bergerak naik ke samping Anna. Simon yang menyusul melihat keduanya berbaring nyaman.
"Dad akan melihat kapal Paman Liam bersama Paman Jhon. Menurutmu tak apa kita berlayar lagi sebentar?"
Leon mendongak dari bukunya, kemudian mengangguk.
Simon meninggalkan kabin, pergi keluar dan mendapati Jhon sudah menantinya.
"Kau sudah baca pesanku? Kupikir kau ingin melihat sendiri barang yang ingin kau beli!" seru Jhon.
"Naiklah. Kita pergi kesana."
Jhon sedikit terkejut. "Sekarang?" tanyanya.
"Ya."
"Bagaimana dengan tamumu?"
"Hanya ada Anna. Sedang tidur, Leon menemaninya. Kita hanya melihat sebentar. Ayo," ajak Simon.
Setelah tiba di lautan, jhon menyerahkan teropong ke tangan Simon. Telunjuknya terarah di kejauhan.
"Di sana. Dua yang sedang berdampingan."
Simon mengarahkan teropongnya. Melihat satu demi satu dua kapal yang dimaksud oleh Jhon.
"Liam sudah hampir menyerah, mereka memerlukan uang untuk pengobatan ibunya. Rumah mereka terbakar dan harus mencari tempat baru. Namun, kau tahu bagaimana si tua Bardy ...."
"Bardy hanya ingin mempertahankan apa yang tersisa ... kapal itu ...."
"Aku sudah bicara pada Liam. Ia tetap bisa bekerja, kapal akan tetap berada di tangannya. Itu penawaranmu ... ia langsung setuju. Tapi membujuk ayahnya bukan perkara mudah."
Simon mengangguk. "Kuserahkan padamu. Kalau perlu, bantu dulu Liam dengan rumah baru dan perawatan ibunya."
Jhon meninju lengan atas Simon dan menyeringai lebar. "Itu yang kusukai darimu ... aku akan melakukannya! Aku dan Liam akan membujuk Bardy tua."
"Daddy?"
Simon dan Jhon seketika menoleh. Melihat Leon sudah ada di belakang mereka bergandengan tangan dengan Anna.
"Ah, kau sudah bangun?" tanya Simon.
"Ya ... kita masih berlayar? Dimana Mrs. Sanders dan Nyonya Luna?" tanya Ann.
"Mam tertidur sangat lama. Jadi Nyonya Luna dan Mrs. Sanders pulang duluan." Leon menggantikan ayahnya menjawab Ann, lalu ia melihat ke arah Jhon. "Paman Jhon! Bagaimana kalau memberiku pelajaran berenang lagi!?" seru Leon.
"Berenang? Di lautan?" Anna menetap Simon. "Apa itu tidak berbahaya?"
Simon tersenyum melihat pancaran khawatir di mata Anna. "Jhon menjaganya dengan baik," jawab Simon.
__ADS_1
"Baiklah kalau kau mau belajar lagi ... ayo berenang seperti ikan!" Jhon menangkap Leon yang berlari ke arahnya. Keduanya tertawa, lalu berpamitan menuju buritan.
"Ayo, Mam Ann. Anda harus mencobanya. Ini akan menyenangkan," ucap Jhon ketika melewati Anna.
Anna langsung menggeleng."Tidak ... terima kasih, tapi tidak," ucapnya dengan yakin.
"Mam Ann tidak bisa berenang, Paman Jhon!" teriak Leon sambil tertawa.
"Kemarilah," ajak Simon, melihat Anna hanya berdiri dengan mata memandangi air laut.
Ketika berdiri di pinggir kapal dan berpegangan pada pagar pembatas, Anna menunduk, menatap air laut yang berwarna biru.
"Ayo berenang. Masih sore, airnya masih hangat," ajak Simon.
Anna menyipit memandang ke bawah, menggelengkan kepalanya berulang kali. Ia melirik ke arah belakang kapal, berharap melihat Jhon dan Leon.
"Apakah Le ...." Anna menoleh ke arah Simon dan seketika berhenti bicara. Pria itu tengah melempar kemejanya ke arah kursi, dari pinggang ke atas pria itu polos, bertelanjang dada.
Simon melirik ke mata Anna yang melebar, lalu wanita itu terlihat agak syok ketika ia mulai membuka celananya.
"Apa yang kau lakukan!" seru Anna. Ia membuang pandangannya dan berbalik kembali memandang ke air laut.
Simon terkekeh. "Aku bilang mau berenang. Aku mengajakmu berenang."
Anna diam saja, mendengarkan dan membayangkan ketika mendapati Simon melempar sesuatu. Anna tahu itu pasti celana pria itu.
"Ayo terjun bersamaku," ajak Simon, tersenyum geli melihat Anna yang berusaha agar tidak melirik ke arahnya.
"Tidak. Terima kasih."
"Astaga ... jangan-jangan Leon benar. Kau tidak bisa berenang?"
Anna tidak menjawab. Membuat Simon jadi yakin bahwa itu benar.
"Sayang sekali. Kau melewatkan satu kesenangan." Lalu pria itu begitu saja melompat dari atas. Menceburkan diri ke dalam air laut.
Anna menutup mulutnya, ia menatap ketika dengan lincah tubuh Simon mulai bergerak di atas permukaan air hanya menggunakan celana renang ketat yang membalut bokongnya .
"Haisss ... apa yang kupikirkan ...," desis Anna sambil menutup matanya dengan telapak tangan.
Teriakan Leon membuat Anna kembali menunduk dan melihat ke air laut.
Leon berenang perlahan di dampingi Jhon. Tiba di dekat Simon, mereka berenang berdampingan. Anna tersenyum, menumpukan sikunya pada pagar pembatas dan menahan dagunya dengan telapak tangan. Mendengar tawa Leon membuat Anna terhibur, sesekali ia melirik ke arah Simon yang sepertinya sangat menikmati berkejaran di dalam air dengan putranya.
Anna memandangi Jhon. Pria itu juga hanya mengenakan celana renang. Namun tidak ada perasaan tidak nyaman ketika menatapnya Anna merasa aneh, ia menatap lagi ke arah Simon, mendapati pria itu telentang dengan dada telanjanggnya ke arah atas. Simon melihatnya, menyeringai, melambaikan tangannya, lalu menghilang menyelam ke dalam air.
Anna berdiri lebih tegak dengan kedua tangan berpegangan ke pagar ketika beberapa lama ia tidak juga melihat pria itu muncul ke permukaan.
Jhon dan Leon masih berkejaran, sepertinya tidak menyadari kalau Simon sudah tidak ada bersama mereka.
"Jhon!" Anna berteriak. Perlu beberapa teriakan ketika Jhon menyadari Anna memanggilnya. Jhon dan Leon sudah berenang menjauh dari kapal.
Jhon hanya melambaikan tangan.
"Jhon! Simon kemana!?" teriak Anna, dua tangannya ia taruh di depan mulut membentuk corong.
"Jhon! Simon! Simon kemana!?" teriak Anna lagi. Namun bukannya mendekat, Jhon terlihat berenang menjauh dengan Leon berada di punggungnya.
Anna menelan ludah, ia menunduk, melihat lagi sambil berjalan memutari haluan kapal. Ia tidak mendapati Simon di sekitar kapal. Anna berbalik lagi dan memanggil Jhon. Suaranya mulai terdengar panik.
"Jhon!" Anna berjinjit, melambaikan kedua tangannya tinggi-tinggi.
"Jhon!"
"Ada apa kau memanggilnya?"
Anna terlonjak, langsung berbalik dan mendapati Simon berdiri di belakangnya dengan seluruh tubuh yang basah. Air mengalir ke lantai kapal. Pria itu berkacak pinggang, menatap Anna dengan pandangan heran.
"Simon!' seru Anna.
"Ya. Aku ... kenapa?"
Anna mengembuskan napas panjang. Menunjuk ke air laut dan mulai mengoceh. "Kau menyelam, lalu tidak muncul-muncul! Aku memanggil Jhon! karena kau tidak terlihat dimanapun! Kau seharusnya muncul dulu sekali ke permukaan! Jadi aku tahu kau tidak tenggelam!"
__ADS_1
"Ah, kau mengkhawatirkan aku ya! Manis sekali ... tapi aku sudah berenang di sini sejak aku kecil. Aku bisa menyelam, berenang seperti ikan. Kau mau kuberi sedikit pelajaran? Siapa tahu kau juga tertarik terjun ke dalam laut, " ucap Simon. Menertawakan pancaran khawatir di mata Anna.
Anna mengerutkan bibirnya. Merasa lega sekaligus kesal karena Simon menertawakannya.
"Kau benar. Percuma khawatir padamu," ucapnya, lalu ia melangkah melewati Simon.
"Mau kemana?"
"Mengambil handuk! Kau membuat lantainya basah."
Anna melangkah, lalu menuruni tangga, ia menoleh ke belakang ketika menyadari Simon mengikutinya.
"Kau jangan kemana-mana! Kau membuat lantainya basah! Aku akan mengambilkan handuk untukmu!"
Simon melangkahi dua anak tangga sekaligus, melingkarkan lengan ke pinggang Anna dan menariknya mendekat. Anna mendongak, melihat wajah Simon begitu dekat dengan wajahnya.
"Ada yang ingin kutanyakan ...," bisik Simon.
"Apa? Tanya sa-ja, ti-tidak perlu memegangku," ucap Anna.
"Kau tidak mengatakan apapun terhadap apa yang kulakukan pada pondokmu, juga pada jalan setapaknya ... kau marah padaku?"
"Kenapa baru bertanya sekarang? Memangnya kau butuh pendapatku?" sindir Anna.
"Aku tidak bisa mendapatkan waktu berdua denganmu. Selalu ada Leon, Mrs. Sanders, juga Nyonya Luna. Kau juga tidak mengatakan apapun ...."
"Apalagi yang harus kukatakan? Tidak setuju? Semuanya sudah dikerjakan. Sudah kau pikirkan dengan seksama." Sindir Anna lagi.
Simon menyipit. "Kau tahu aku melakukannya untukmu, Ann. Agar pondokmu layak! Agar pondokmu terlihat sedikit aman di malam hari? Meski harus kukatakan tetap saja aku merasa tempat itu tidak aman sama sekali!" desis Simon.
Mendengar kemarahan di suara Simon, Anna sedikit melunak. Ia tahu Simon melakukannya untuk keamanan Anna.
Setelah menarik napas panjang, Anna mengangkat tangannya. Menyentuh dada Simon dan mendongak menatap mata pria itu.
"Aku tahu kau melakukannya untukku. Aku sangat berterimakasih. Tapi kau seharusnya tetap menanyakan pendapatku," ucap Anna.
Mereka bertatapan. Simon kembali terpesona pada pancaran mata hijau yang menatapnya. Mata yang tadi menatap khawatir saat Leon mengatakan mau berenang, menatap khawatir ketika mengetahui Simon tidak muncul di permukaan setelah menyelam.
Tanpa kau sadari kau peduli pada kami ...
Simon menarik Anna makin dekat. Satu lengannya bertumpu pada sisi tangga.
Mata Anna melebar ketika melihat Simon mulai menundukkan wajahnya. "Jangan lakukan itu," ucap Ann. Dapat mengira apa yang akan dilakukan oleh Simon.
Simon menyipit. "Sayangnya ... aku bukan anak yang patuh sejak dulu, Ann ...."
Simon menutup pembicaraan mereka dengan menyatukan bibirnya dengan Anna. Melahap bibir atas Ann, merayu dan memagutt berulang kali. Anna mendorong lengan Simon yang mengelilingi pinggangnya, namun cekalan pria itu bagai rantai besi yang menahannya.
Merasakan kalau Ann masih menolak, Simon mengubah ritme ciumannya, ia melakukannya perlahan, dengan lembut dan membelai bibir Anna. Dada mereka yang saling menempel memberitahu Simon bahwa debaran jantung wanita itu juga berubah cepat, meski tubuh Anna masih tegang dan kaku, namun ia tahu, setidaknya setiap sentuhannya juga mempengaruhi Anna.
Setelah ciuman itu akhirnya berakhir, Simon menjauhkan tubuhnya sedikit. Ia menunduk, mendapati blus Anna basah, hingga mencetak dengan jelas dadanya yang membukit .
Melihat tatapan Simon, Anna ikut menunduk, memandangi dirinya sendiri, lalu menutup diri dengan menyilangkan kedua tangannya.
Tidak ada yang bicara setelahnya. Anna tidak dapat melakukan apapun karena tubuhnya merasa sangat lemas, ciuman Simon membuat tulangnya seperti meleleh. Ketika pria itu kemudian mengangkat dan membawanya masuk ke dalam kabin. Anna hanya diam dengan tangan masih tersilang di depan dada.
Simon menurunkan Anna ke atas sebuah kursi yang ada di samping ranjang. Kemudian pria itu menarik sebuah handuk.
Sambil mengelap tubuhnya Simon berucap. "Keluarga Andreas masih menunggu jawabanmu. Beritahu aku ketika kau sudah siap bertemu mereka. Kau harus bertemu mereka dan mengakhiri semuanya."
Anna melirik ketika pria itu berlalu.
Kau orang yang baik ... tapi jangan mendesakku ... aku kemari melarikan diri karena mencari kebebasan. Untuk pertama kalinya aku tidak perlu bergantung pada keputusan orang lain. Untuk pertama kalinya akhirnya aku memiliki kebebasan menentukan arah hidupku sendiri. Kau terlalu dominan ... jangan memutuskan segala sesuatunya untukku ... aku tidak akan mau dekat-dekat dengan orang yang kembali akan mengekangku, Simon ....
NEXT >>>>>
**********
From Author,
Jangan lupa bantuannya untuk tekan like ya readers. Bagi yang belum tap Love dan rate bintang lima, yuk klik sekarang. Ketik juga komentar kalian, review, saran, kritik juga boleh untuk perbaikan bagi author. Vote juga hadiahnya ya untuk Leon.
Atas dukungannya author ucapkan terima kasih banyak.
__ADS_1
Salam. DIANAZ.