Pengantin Simon

Pengantin Simon
77. Welcome, Ann.


__ADS_3

Yoana yang sedang turun dan menapaki anak tangga terakhir menyipit ketika pintu ganda didorong. Ia melihat Leonard yang masuk sambil berlari.


"Aunty!" panggilnya ketika mendongak dan melihat ke arah tangga.


"Mana salamnya, Leon?" tanya Catty dengan nada lembut.


Leon menoleh, mendapati Catty dan Claude duduk berdampingan di sofa ruang tamu yang sangat besar tersebut.


"Ah, Maaf. Leon pulang, Mom, Dad!" serunya sambil mendatangi Catty dan Claude. Ia mencium pipi keduanya dengan sangat bersemangat.


"Kau tampak senang sekali. Mau cerita sebabnya?" tanya Catty lagi.


"Huum! Leon sudah dapat Mommy untuk Dad! Dad tidak sendiri lagi!"


Yoana terbatuk dengan sengaja untuk menarik perhatian Leonard. "Dimana Daddymu sekarang?"


Leon menghambur ke pelukan Yoana yang sudah mendekat dan melebarkan kedua tangannya untuk memeluk keponakannya itu.


"Ummm ... sedang bicara di mobil!"


Bunyi pintu kembali didorong. Dua orang staf mereka masuk, lalu membungkuk hormat. Mereka menunggu tanda dari Claude. Ketika Claude mengangguk dan menunjuk ke arah tangga, keduanya baru bergerak dan meletakkan semua bawaan di dekat tangga. Saat melihat di sudut gelap dekat tangga, terlihat Tuan mereka Vincent duduk sambil memegang sebuah mug. Setelah Vincent mengangguk, keduanya berlalu dan menghilang ke arah belakang.


Yoana berdiri dan berdecak. Kedua tangannya memegang bahu Leon.


"Leon, pergilah ke atas. Temui sepupumu."


"Mmm ... tunggu dulu, Aunty. Dad dan Mom belum ma-"


Belum selesai ucapan Leon, pintu kembali di dorong terbuka.


Simon masuk sambil menggenggam tangan Anna.


"Yey!" Leon berjalan cepat ke arah Anna, menarik lepas pegangan Anna dari Simon dan mengajaknya menjauh.


"Le-Leon. Tu-tunggu ...." Anna menahan kakinya. Ia melihat Yoana menyipit, pandangan mata wanita itu memang tidak terarah padanya, tapi berpusat ke arah belakang. Anna tahu wanita itu memandangi Simon.


Anna melirik ke sofa kulit yang tampak mewah dan besar ke arah kiri. Pasangan Catty dan Claude duduk disana. Senyum lembut dan sorot mata ramah terlukis di wajah Catty, namun wajah Claude Bernard tampak sangat dingin, sorot matanya tajam memandang ke arah Simon.


Anna meneguk salivanya, ia makin gugup dan cemas.


Catty segera menyenggol suaminya ketika menoleh dan mendapati wajah suaminya tampak menyeramkan.


"Oh, hentikan itu, Claude! Bocah itu tidak takut sama sekali dengan ekspresi itu," bisik Catty dengan nada geli.


"Biar saja. Aku mau dia tahu bahwa aku sangat marah."


Catty merapatkan bibirnya menahan senyum geli. Claude memang sangat kesal ketika Yoana memberitahu kabar pernikahan Simon.

__ADS_1


"Leon, maukah kau menemani sepupu-sepupumu di atas? Mereka menunggumu dari tadi, sebelum mereka semua tertidur," pinta Catty.


"Baiklah." Leon melepaskan tangannya dari tangan Anna. Lalu memeluk kedua kaki wanita itu. Ia mendongak. "Leon ke atas dulu, Mom."


Anna menunduk, lalu segera berjongkok. Ia menerima satu pelukan lagi. Hati Anna sedikit lega menerima dukungan itu dari Leon.


"Baiklah," ucap Anna dengan senyum yang dipaksakan. Ia kesulitan menyunggingkan senyum saat ini.


Ketika semua wajah menoleh ke atas, memastikan Leon sudah naik dan menghilang di lorong menuju kamar sepupunya, Simon berjalan mendekat ke belakang Anna. Masih sambil menyeringai ia berucap," Selamat malam semuanya. Aku pulang, perkenalkan, ini Anna, istriku."


"Kapan kau berniat memberitahu keluargamu? Jika aku tidak menelepon, kami tidak akan tahu berita ini kan?" Yoana menatap tajam ke wajah adiknya.


"Well ... rencananya setelah acara bulan maduku selesai, aku pulang dan memberitahu kalian," ucap Simon dengan santai sambil melilitkan tangannya ke pinggang Anna dari belakang. Seringainya makin lebar.


”Jangan menyeringai, Simon! Kau mengambil istri seperti merekrut orang untuk jadi pegawai hotelmu! Tanpa memberitahu siapapun!" Yoana mulai meninggikan suaranya. Ia bersedekap dengan wajah kesal.


"Tidak perlu mengomelinya, Yoan. Kau hanya akan menghabiskan energimu." Suara yang terdengar dari arah tangga itu membuat mata semua orang melirik. Vincent yang mengenakan kemeja dan celana hitam keluar dari balik bayang-bayang tangga. Anna jadi makin mengkerut. Bekas luka yang memutih di wajah pria itu tidak membuatnya takut, tapi wajah datar tanpa ekspresi di sana membuat Anna makin tertekan.


"Ah, aku suka nasehatmu, Vince. Perjalananku jauh, dan aku sedikit lelah untuk mendengar omelan bukan begitu?" Simon menjawab dengan santai.


"Kau! Dimana kau menikah!? Apa kau juga tidak memberitahu keluarga dan teman-teman Anna seperti kau tidak memberitahu keluargamu?" cecar Yoana.


Simon mengerucutkan bibirnya sebelum menjawab. "Anna tidak keberatan." ucapnya.


"Ya Tuhannnnnn! Kau! Kemari! Kali ini aku benar-benar akan memukulmu!" Yoana berjalan maju ke arah Simon. Sedangkan Simon dengan cepat menutup kedua telinganya dengan telapak tangan. Ia tahu, ancaman memukul dari Yoana berarti telinganya akan ditarik.


"Mmm ... Aku minta maaf. Akulah yang bersalah. Se-sebenarnya, akulah yang mengajaknya menikah. Salahku Simon sampai tidak sempat memberitahu kalian. Aku minta maaf, kalau mau memukul, pukul saja aku," ucap Anna, suaranya menjadi pelan saat di akhir kalimat. Wajahnya pucat dan tertunduk seperti orang ketakutan.


Yoana membelalakkan mata. Ia baru menyadari Simon membawa pengantinnya. Berharap melampiaskan kekesalan dan memuaskan kemarahannya pada Simon, ia sampai lupa menyambut Anna dalam keluarga Bernard.


"Ya ampun! Kau lihat! Kau membuat kacau semuanya! Kau membuat pengantinmu jadi takut padaku!" Yoana melotot ke arah Simon sebelum dengan cepat merubah ekspresinya menjadi lembut dan penuh senyum.


"Aku tidak marah padamu, Sayang. Si brenggsek di belakangmu itu seharusnya memberikan pernikahan yang sangat indah untukmu. Melamarmu bersama kami, memberimu cincin yang cantik, gaun mewah yang akan membuat kau tampil bak peri."


"Tapi ... sungguh, aku tidak apa-apa. Aku sangat bahagia meski tanpa semua itu, Yoa ... mm Nyo."


"Ck! Panggil aku Yoana, kami semua keluargamu sekarang. Kau bebas memanggil nama kami. Tapi lihat dirimu, apakah dengan gaun pink itu dia mengajakmu menikah? Rambutmu ... wajahmu bahkan tidak dibedaki ...."


Simon menyeringai, ia kembali berdiri di belakang Anna. "Jangan marah Yoan. Kau dan Vince juga menikah seperti aku."


Yoana mendengus. "Itu berbeda! Aku dan Vince harus menunggu sepuluh tahun lebih untuk menikah! Wajar jika kami terburu-buru! Kau?"


"Aku sudah menunggunya seumur hidupku," jawab Simon dengan nada menggoda.


"Bajingann brengsekk tukang rayu! Hahhhhh ..." Yoana mengembuskan napas panjang, namun otot pipinya berkedut menahan senyum geli.


Claude sudah berdiri, diikuti oleh Catalina. Ia mendekat, masih sambil menatap tajam ke arah Simon.

__ADS_1


Ia kemudian menarik lengan Simon yang masih memeluk Anna dari belakang. Setelah lepas ia mendorong sedikit sehingga adiknya itu terjajar ke belakang. Simon jadi terbahak ketika Claude kemudian memeluk Anna dan mengucapkan kalimat sambutan untuk pertama kalinya pada istrinya itu.


"Selamat datang di keluarga Bernard, Ann. Kuharap kau bersabar dengannya. Seperti kami selama ini dengannya."


Anna yang terkejut tidak dapat mengucapkan apapun. Lalu ia merasa punggungnya ditepuk dengan sayang sebelum dilepas dan Claude melihat ke arah matanya.


"Kami keluargamu sekarang. Jangan merasa sungkan ataupun takut," ucapnya kemudian, lalu tersenyum cerah yang membuat keseluruhan tampilan wajah Claude berubah. Sedikit sorot jahil yang sering Anna lihat di mata Simon juga terlihat di mata Claude.


Kemudian Anna digilir mendapatkan pelukan dari Catty. Catty yang tinggi dan berisi memeluk Anna dan mencium pipinya. "Terima kasih sudah membuat Leon kami sangat bahagia, Ann," ujar Catty.


Anna balik tersenyum membalas senyum Catty. Matanya mulai berkaca-kaca.


Lalu giliran Yoana yang menyambutnya. Dengan tinggi yang sama dan badan yang sama mungil. Yoana memeluk Anna erat sambil berbisik, "Maafkan sikapku, aku hanya kesal pada suamimu... selamat datang di keluarga kami, Ann. Terima kasih sudah membuat senyum konyol miliknya itu terbit, dia terlihat sangat bahagia."


"Aku juga sangat bahagia. Terimakasih sudah menerimaku," bisik Anna pelan.


"Tentu saja kau diterima, Ann. Jangan tertipu dengan sikap galak keluarga Bernard. Mereka terlihat seperti macan yang mengerikan, sebenarnya mereka hanyalah anak kucing yang sangat lucu." Vincent menepuk bahu Anna dari belakang tubuh istrinya.


Yoana menoleh, menyipit memandang suaminya. "Aku bukan kucing! Apalagi macan!"


Vincent hanya tertawa, mengangkat bahu, lalu kembali menyeruput minuman dalam mugnya.


"Sudah selesai? Kalau begitu, kami pamit dulu." Simon menarik Anna kembali ke dalam pelukannya.


Yoana mendengus. Memangnya kau mau kemana?"


"Honeymoon."


"Kau akan pergi besok pagi. Semuanya sudah disiapkan Claude. Malam ini, kau tidur di atas! Di kamarmu."


"Apa!?"


Yoana menatap adiknya dengan tatapan mengejek. "Perjalananmu jauh, Bocah. Jadi kau pasti lelah. Ayo Ann, aku antar ke kamarmu. Kau perlu mandi air hangat, ganti baju, lalu mengisi perutmu. Bocah ini pasti belum memberimu makan. Ayo ...."


Yoana menarik Anna, lalu pergi meninggalkan tempat itu, Catty mengikutinya. Vincent dan Claude menyeringai melihat Simon yang hanya bisa mengerucutkan bibirnya tanda keberatan, namun tidak bisa menghentikan Yoana.


NEXT >>>>>>>


*********


From Author,


Tetap di sini dan sabar menanti ya. Karena author akan crazy up bila lolos review semuanya hari ini.


Jangan lupa like bab, komentar and vote hadiah okeh ... sayang kalian banyak-banyakkkk.


Salam. DIANAZ.

__ADS_1


__ADS_2