
Simon tiba di depan sebuah pintu ganda. Ia mendorong dan melangkah masuk. Ketika tiba pada barisan laci-laci berukuran besar, ia mendengar petugas kamar jenazah menjelaskan pada orang-orang yang hadir. Di depan orang-orang tersebut, sebuah laci ditarik dan jenazah Martin tampak ada di atasnya.
"Hasil autopsinya akan saya serahkan segera pada Anda, Tuan Andreas."
Simon menatap pada seorang pria tua dengan rambut beruban di dekatnya. Di sebelah pria itu berdiri seorang wanita yang berdandan elegan dengan topi hitam dan jaring menutup wajah. Keduanya berpakaian hitam. Orang asing ketiga adalah seorang pria yang sedikit mirip dengan wajah Martin. Simon menebak pria itu adalah saudara Martin.
"Kalian ... kurasa kalianlah yang membawa tubuh Martin ke rumah sakit ini?" tanya satu-satu nya wanita yang ada di sana.
"Benar. Nyonya Andreas," jawab Alric.
"Kalian juga yang menembak dan mengakhiri hidupnya ...."
"Kami semua berada di sana. Melihat apa yang telah dilakukan Martin, maka orang-orang kami tidak dapat diam saja," sahut Alric.
Nyonya Andreas menatap tajam ke arah Alric.
"Kau tak perlu membunuhnya!"
Alric menatap dengan mata tak kalah tajam.
"Jika itu yang terjadi, maka yang akan kehilangan nyawa adalah Ibu guru yang adalah menantu kalian, juga Leonard yang juga ikut diculik oleh Martin."
Tuan Andreas mengangkat tangannya ketika melihat istrinya mau mendebat lagi ucapan Alric. Sebagai sesama pengusaha sukses ia mengenal siapa Alrico Lucca, juga nama Claude Bernard yang pertama kali menghubunginya dan memberi kabar tentang Martin.
"Kalau aku boleh tahu, siapa Leonard ini, Tuan Lucca?" tanya Tuan Andreas.
"Dia putraku, seorang Bernard, juga seorang Lucca. Martin menangkapnya bersama Anna ...."
Tuan Andreas dan putranya yang sejak tadi diam tampak terkejut. Berpikir bahwa Martin sangat bodoh. Nama Bernard terkenal dengan kekuatan akan perlindungan terhadap anggota keluarga mereka, Claude Bernard akan melakukan apapun untuk memastikan seluruh anggota keluarganya aman. Hal yang sama persis juga akan dilakukan oleh Lucca.
Seorang pria dengan pakaian rapi dan licin, yang sejak tadi hanya diam mendengarkan, dengan tatapan mengintimidasi memandang keluarga Andreas.
"Saranku, Tuan dan Nyonya Andreas ... bawalah jenazah Martin pulang ... Lakukan pemakaman yang layak."
Nyonya Andreas mendengus mendengar ucapan pria itu. "Tentu saja kami akan melakukannya! Dan Emillia harus segera pulang bersama kami agar ia bisa ikut menghadiri!"
Mendengar ocehan Nyonya Andreas, Simon mulai ikut bicara.
"Aku rasa itu tidak dapat dilakukan, Nyonya. Emilia atau Anna masih sakit."
"Ia adalah istri Martin! Ia berkewajiban pulang ke keluarga Andreas! Sekarang ia janda Martin. Aku akan memindahkannya ke tempat perawatan lain tempat keluarga kami bisa mengurusnya," ucap Nyonya Andreas menggebu-gebu.
Simon bersedekap, menyipitkan mata memandang Nyonya Andreas.
"Kau yakin bisa mengurusnya? Kau tidak bisa mengurus Martin dengan benar, membiarkan begitu saja ketika hidup Anna terbelenggu oleh putramu. Membiarkan Anna mengorbankan hidupnya untuk mengurus putramu. Supaya kalian bisa lepas tangan, hanya memantau dan mendikte apa yang kalian inginkan agar Martin nampak seperti putra normal yang sudah berkeluarga."
Keluarga Andreas terdiam.
__ADS_1
Memutuskan mengakhiri pertemuan itu, Alric mengulurkan tangan pada ayah Martin.
"Maaf Tuan Andreas. Kami hanya bisa menemani Anda sekeluarga sampai di sini. Jika masih ada yang perlu di urus, Anda bisa menghubungi pengacaraku. Soal Anna, kami akan memastikan ia mendapatkan perawatan hingga sembuh. Jika ia berkeinginan untuk bertemu dengan keluarga Andreas, maka setelahnya Anna pasti akan menemui kalian."
Dengan setengah hati, Tuan Andreas menyambut uluran tangan tersebut. Mereka bersalaman, saling mengangguk dan terakhir, Alric berpamitan, lalu pergi meninggalkan keluarga Martin bersama Simon dan pria yang merupakan rekannya yang mengurus kasus Martin.
"Aku jadi rindu pada ibuku ...," ucap Alric tiba-tiba.
"Nyonya Annete? Kenapa tiba-tiba?" cetus Simon.
"Melihat Martin dan Nyonya Andreas, aku merasa beruntung memiliki ibuku ... Ibuku tidak pernah mengabaikan kami ... ia mengurus semua hal sebisa dan semampunya ... meskipun hanya kekacauan dan masalah yang kami hadapkan padanya, namun ia tidak pernah menyerah ... bahkan masalah yang dibuat oleh Alexandro adikku dulu ... ibuku tetap mengurusnya. Martin tidak beruntung ... keluarganya ...." Alric menggelengkan kepala.
Simon diam membisu, ia sendiri teringat pada kedua kakaknya. Sejak ayah dan ibunya tiada, Simon banyak membuat masalah yang menyulitkan Yoana dan Claude . Tumbuh liar, bebas dan hanya membuat masalah bagi kedua kakaknya itu. Namun, mereka tetap menyayanginya, mereka mengurus Simon. Bahkan juga Leonard. Anak Simon.
Yoana dan Claude tidak pernah meninggalkannya, atau menyuruh orang lain untuk mengurus masalah yang telah ia buat. Ia tumbuh dengan baik, menjadi dewasa dan akhirnya mengerti akan tanggung jawab. Entah apa yang terjadi bila ia tidak memiliki Yoan dan Claude. Simon yakin ia sudah rusak oleh minuman keras, obat terlarang atau bahkan menjadi depresi berkepanjangan karena kesedihan mendalam disebabkan ibunya yang meninggal, disusul kemudian oleh ayahnya.
"Kurasa aku juga beruntung ... memiliki keluarga yang selalu mendukungku, mencintaiku apa adanya, mengakui keberadaanku dan tetap menyayangi, meski aku melakukan banyak kesalahan serta dipenuhi kekurangan ... mereka tetap menerima dan membiarkanku menjadi diri sendiri."
***********
Simon membuka pintu kamar perawatan Leonard. Ia melihat Yoana dan Vincent ada di sana. Segera ia mendekat, lalu tiba-tiba memeluk Yoana.
Yoana yang terkejut terdiam kaku. Menyangka ada sesuatu yang tidak beres.
"Ada apa? Kenapa tiba-tiba?" tanya Yoana.
"Dimana Alric?" tanya Vincent.
"Simon! Lepaskan aku! Aku tidak bisa bernapas!" seru Yoana. Tubuhnya yang kecil tenggelam dalam pelukan lengan adiknya yang sudah tumbuh besar menyamai Claude dan Vincent.
"Sebentar saja! Aku hanya rindu padamu!"
"Aku tidak percaya! Mau menunjukkan kalau badanmu jauh lebih besar dariku? Aku sudah tahu, Bocah!"
"Ayolah, Yoan. Aku bukan bocah lagi."
Yoana menyipit. "Ada apa sebenarnya?"
"Kau ribut sekali. Leon bisa terbangun."
"Dia tidur seperti orang pingsan. Jawab aku, ada apa?"
"Tidak ada."
Vincent menatap menyelidik ke arah Simon.
"Urusan dengan Andreas sudah beres?" tanya Vincent. Ia tidak tahu keluarga itu tiba hari ini, ia baru saja datang dan mendapat kabar dari Claude.
__ADS_1
"Sudah. Sudah selesai."
"Jadi?Ada apa sebenarnya?" Yoana mendorong dada Simon. Menatap khawatir pada adiknya itu.
"Sungguh, tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin memelukmu."
Yoana memonyongkan bibirnya. "Kau pasti menginginkan sesuatu," ucapnya dengan kening berkerut.
"Ck! Tidak ada yang kuinginkan, Yoan. Jangan mengerutkan dahimu. Kau jadi terlihat makin tua," ucap Simon sambil tertawa. Namun tawanya hanya berlangsung beberapa detik, karena di detik berikutnya ia melompat-lompat sambil mengaduh, tulang kakinya sudah jadi korban tendangan Yoana.
Vincent menyeringai. "Kau tidak pernah bisa mengelak dari itu, Simon."
"Aku hanya bercanda, Yoan!" seru Simon.
Yoana melenggang pergi ke arah ranjang Leonard. Bocah itu masih tidur nyenyak.
"Siapa yang menjaga Ibu Guru? " tanya Yoana.
"Claude ada di sana," jawab Simon.
"Pergilah ke sana. Gantikan Claude. Suruh dia pulang. Kami yang akan menjaga Leon di sini," ujar Yoana.
"Baiklah ...." Simon mendekat ke arah ranjang. Mencium kening Leon, lalu menoleh menatap Yoana.
"Terimakasih sudah menjadi kakakku," ujar Simon tiba-tiba. Yoana menaikkan kedua alisnya, tapi Simon hanya terkekeh, lalu berbalik dan pergi dari kamar itu.
Yoana menatap Vincent.
"Apa?' tanya Vincent.
"Kau dengar ucapannya tadi?"
"Ya. Bukan hal aneh. Ia pasti sudah lama ingin mengatakannya."
"Darimana kau tahu?"
Vincent hanya mengangkat bahu, tersenyum melihat istrinya yang terheran-heran atas sikap Simon.
NEXT >>>>>
*********
From Author,
Ikuti kisah selanjutnya ya. Part Anna akhirnya bangun, kembali menjalani hidup, namun dengan godaan sekaligus gangguan terbaru. Duda keren paket komplit bonus bocah tengil.
Eh ... kalo duda berarti pernah menikah ya kan? Kalo Simon julukannya apa? Nikah blom pernah, tapi punya satu anak😳😳😳😳
__ADS_1
Klik like, love, bintang lima, komentar dan vote untuk Leon ya pembaca yang baik hati. Atas dukungannya otor mengucapkan terima kasih banyak.
Salam. DIANAZ.