Pengantin Simon

Pengantin Simon
58. Sorrow


__ADS_3

Anna memutuskan langsung kembali ke White Sand Bay setelah membuang cincinnya di Danau Elar. Waktu di pesawat dihabiskan Anna untuk membaca surat-surat yang ditulis oleh Nuella.


Simon mendapati kadang wanita itu tersenyum, namun kemudian terlihat sedih, dan termangu. Tatapannya terus menatap ke lembaran kertas, entah ia hanya termenung, atau memang membaca kata demi kata yang ada di lembaran itu. Simon tidak mau mengganggunya, memberi Anna waktu pribadi, membaca sambil membayangkan sosok Nuella ketika sedang menulis surat.


Anna makin terlihat sedih ketika pesawat mereka telah tiba. Simon bahkan harus menepuk pelan pundaknya ketika mendapati Anna tidak kunjung bergerak untuk bangkit dari kursi.


"Ann, kita sampai," ucap Simon.


Anna menoleh, mengerjap dan mendapati telapak tangan Simon sudah terulur ke arahnya.


"Oh ....".Anna menyambut tangan Simon. Menggenggamnya sambil bangkit dari tempat duduk, dengan tangan sebelah lagi ia mengapit kotak berisi surat Nuella.


"Berikan itu. Sini, aku yang bawa"


Anna memberikan kotaknya pada Simon, mereka kemudian bersama-sama turun dari pesawat. Senja sudah lama menjelang ketika mereka menapakkan kaki ke atas tanah. Di kejauhan terlihat Jhon yang melambaikan tangannya ke arah mereka.


"Ayo, Jhon sudah lama menunggu kita."


Simon melirik, mendapati Anna hanya mengangguk. Namun mata wanita itu tampak kosong, nestapa tampak menyelubunginya.


Simon menarik kuat-kuat dan sengaja mempercepat langkah. Anna hanya mengikuti tanpa protes. Padahal Simon mengharapkan sedikit respon. Peringatan, rasa kesal atau bahkan marah karena berjalan terlalu cepat. Tidak ada, pikiran wanita itu ada di tempat lain.


Simon menyapa Jhon, temannya itu sudah menunggu dengan kapal yang akan membawa mereka ke dermaga. Simon lebih suka pulang lewat jalur laut.


**********


Simon duduk dan mengobrol di anjungan kapal bersama Jhon. Mereka sudah tiba dari tadi, namun belum juga turun dari kapal. Simon masih memberi waktu pada Anna. Ia tidak mau mengganggu Anna yang telah mengurung diri di dalam kabin. Larut dengan semua isi surat yang bertebaran di atas sofa panjang yang ada di dalam kabin.


"Damian mengajak ke Stone Bar. Ia bilang mau mentraktir bir. Ia menyuruhku mengajakmu bila kau ada waktu," ucap Jhon.


"Sepertinya aku tidak bisa ikut malam ini, Jhon."


"Ya. Aku tahu. Akan kusampaikan padanya nanti."


Jhon menyipit memandang seseorang yang tampak sedang melompat dari titian sebuah kapal ke dermaga.


"Itu Charlie, aku ke sana dulu. Ada yang mau kubicarakan dengannya."

__ADS_1


Simon menganggukkan kepala. "Ya. Terima kasih sudah menjemputku."


"Tidak masalah. Aku pergi dulu," ucap Jhon sambil melompat turun dan berjalan cepat meninggalkan Simon sendirian di sana.


Simon menoleh ke arah tangga menuju kabin. Anna masih belum keluar dari sana. Ia memutuskan mengecek bagaimana keadaan wanita itu, lalu mengajaknya pulang.


Setelah membuka pintu, Simon terkejut melihat Anna yang terbaring di atas sofa sambil menangis. Kedua kakinya masih berada di atas lantai sedangkan badannya tergeletak di atas sofa. Beberapa surat terjatuh di atas lantai di dekat kaki Anna.


"Ann!"


Simon duduk di sebelah Anna, menarik kedua bahunya dan segera merengkuhnya dalam pelukan.


"Ada apa?"


Anna menggeleng. Hanya terus terisak.


"Kalau tidak ada apa-apa, kenapa menangis?"


Masih tidak ada jawaban.


Simon akhirnya meraih sebuah lembaran surat yang tergeletak di ujung sofa. Ia mulai membaca dalam hati, goresan cerita dari Nuella, tentang rasa sakit, rasa bosan juga rasa rindunya pada Anna. Simon membiarkan saja Anna menangis dan bersandar di dadanya, satu tangan Simon menepuk pelan bahu Ann, hanya itu penghiburan yang bisa ia berikan saat ini.


"Lepaskan, Ann. Biarkan aku melihatnya."


Anna melonggarkan genggaman sehingga Simon bisa menarik benda yang ia pegang. Simon merapikan benda kusut tersebut, menekannya di atas paha hingga terbentang kembali. Sebuah foto yang ia sadari adalah gambar pekuburan.


Simon membalik gambar tersebut. Menemukan tulisan tangan bersambung.


Nuella Barnes. White Clouds Cemetary.


"Ini ...." Simon membalik kembali gambar tersebut. Meneliti satu demi satu tiga makam yang ada di baris depan foto itu. Ia begitu berkonsentrasi sehingga tidak menyadari jemari Anna telah melepas kancing teratas kemejanya.


Mata Simon terpaku pada makam yang ada di tengah. Makam itu tampak baru. Bunga di atas pusara masih segar saat foto diambil. Ia mendekatkan gambar ke depan wajahnya, menyipit, berusaha membaca nama yang ada di nisan. Karena sudah kusut dan mengkerut, nama itu sulit dieja. Saat itulah ia baru merasakan sensasi aneh di dada. Simon menunduk, mendapati tangan Anna sudah menyelinap setengah ke balik kemejanya. Ia merasakan jemari wanita itu membelai dan menjelajahi otot-otot di dadanya.


"Ann ... apa yang kau lakukan?" tanya Simon.


Simon melirik kepala Anna yang bersandar di bahunya. Wanita itu menunduk, ia tidak dapat melihat bagaimana ekspresi wajah wanita itu.

__ADS_1


Simon menggeretakkan gigi ketika merasakan jari Anna menyentuh puncak dada. Wanita itu makin berani membelai dan menggodanya. Segera tangan Simon menangkap lengan Anna.


"Hentikan!" seru Simon.


Namun, bukannya berhenti. Anna bahkan menempelkan wajahnya ke dada pria itu. Bibirnya mengecup otot dada Simon dari balik bahan kemejanya. Tak hanya satu tempat, Anna bahkan berpindah, mengecup di beberapa tempat dengan amat perlahan, seolah menikmati setiap sentuhan yang sedang ia lakukan.


Simon merasakan setiap bagian tubuhnya berdering siaga, ketika tangan Anna yang tadi meraba dadanya keluar dari balik kemeja, lalu meneruskan kembali membuka kancing kemejanya hingga bawah.


"Ann ... kau tidak tahu apa yang sedang kau lakukan," bisik Simon. Suaranya sendiri terdengar amat aneh. Tapi Anna seolah tidak mendengarkan, dengan cepat wanita itu menyingkap satu sisi kemeja Simon setelah kancingnya terbuka. Mata Ann menatap, melahap dan dengan perlahan memulai lagi belaiannya dengan akses yang sekarang lebih luas. Jika tadi Anna hanya meraba tanpa melihat karena tertutup kemeja, maka sekarang wanita itu mengarahkan tangannya dengan bantuan penglihatan langsung. Ia bukan hanya dapat membelai, matanya menikmati ketika setiap centi dari otot-otot dada Simon bereaksi terhadap sentuhannya.


Mata Anna sedang menunduk, melihat ke arah telapak tangannya yang sedang berhenti di salah satu bidang abs di bawah dada Simon. Wanita itu terus menggerakkan tangannya ke bawah, berhenti sesaat di atas pusar Simon. Ketika jemari Ann menyentuh ikat pinggang celana Simon, Anna merasa dagunya tiba-tiba terangkat.


Wajah Anna mendongak karena tangan Simon menarik dagunya. Mata mereka bertatapan, kilau di mata Simon seperti bintang yang melesat di langit malam yang gelap. Tatapan mata gelap itu terasa menusuk.


"Hentikan, Ann ... kau bermain api ...."


Simon masih memegang dagu Anna dengan satu tangan, tangan satu lagi yang memeluk bahu Anna bergerak menghapus pipi wanita itu. Jejak airmata masih membekas, mata itu masih terlihat sembab.


"Aku tahu kau sedih, tapi ini bukan penghiburan yang cocok untukmu."


Simon menyipit, karena bukannya menjauh, Anna malah mendekatkan wajahnya. Memanjangkan tubuhnya untuk menjangkau wajah Simon. Kali ini kedua tangan Anna mendorong dan menekan bahu Simon ke sandaran sofa. Dengan mata terbelalak, Simon kemudian merasakan bibir wanita itu yang menyentuh dan mulai melumatt bibirnya.


NEXT >>>>>>


*********


Note:


abs \= abdomens (otot-otot perut)


********


From author,


Habislah lu Daddy wkwkkwkwk....


Mo author up lagi besok? ayo bantu like bab ini, love ,bintang lima ,komentar dan vote hadiah untuk PS. Atas dukungannya author ucapin terimakasih banyak. Luv you....

__ADS_1


Salam. DIANAZ.


__ADS_2