Pengantin Simon

Pengantin Simon
78. Miracle


__ADS_3

Anna duduk di pinggir ranjang Leon. Bocah itu tidur lelap memeluk sebuah boneka beruang berwarna cokelat. Ia menemani Leon sampai tertidur. Dua buku yang tadi ia baca tergeletak di pangkuannya.


Mengedarkan padang ke sekeliling kamar Leon, Anna mendapati kamar itu sangatlah besar. Tentu saja untuk ukuran mansion sebesar itu, kamar Leon hanyalah bagian kecil dari bangunannya.


Anna bangkit, lalu menyusun kembali dua buku cerita yang tadi ia baca ke atas rak kaca di sudut kamar Leon. Ketika ia kembali menuju ranjang, pintu kamar terbuka. Kepala Catty muncul dari balik pintu.


"Dia sudah tidur?" tanyanya.


Anna mengangguk. Catty masuk, menutup kembali pintu dan mendekat ke ranjang.


"Dia makin tampan bukan?" tanya Catty dengan senyum bangga.


"Ya ... sangat," jawab Anna. Ia duduk di dekat Catty di pinggir ranjang Leon.


"Dia ... putra Mary ...."


Anna mengangguk, Catty menatapnya dengan wajah sendu.


"Kau sudah tahu riwayatnya?"


"Ya ... Simon sudah menceritakan semuanya."


"Masa lalu yang salah biarlah tetap di sana ... di masa kini dan masa datang, kami semua hanya ingin dia berbahagia. Tidak ada lagi yang mengenang kesalahan itu ...." Catty menatap Leon, namun matanya menerawang jauh.


"Leon adalah keajaiban. Jika ia tidak dilahirkan, aku tidak akan bertemu dengannya di White Sand Bay ...," ucap Anna pelan.


Catty memegang tangan Anna. "Kau benar. Dia keajaiban. Aku bertemu suamiku karena Leon," senyum Catty.


Anna tertawa kecil. "Simon juga sudah bercerita."


"Kalau dipikir ... Yoana dan Vince menikah juga karena Leon."


"Benarkah?"


"Ya ... ketika Leon dibawa kemari, Yoana ikut mengasuhnya, saat itu Leon menyentuh rasa keibuan dan kasih sayang Yoan. Ia akhirnya berpikir untuk memiliki anak sendiri. Karena Vincent selalu menolak menikah dengannya, Yoan akhirnya mulai berpikir untuk berburu suami," ucap Catty sambil menyeringai.


"Berburu? Suami?"


"Karena umurnya saat itu sudah lebih 32 tahun, ia mengatakan ia harus bergerak cepat bila mau punya anak. Vincent jadi kelabakan."


Kedua wanita itu sama-sama menahan tawa.


"Lalu?"


"Yoana berkenalan dengan seorang dokter. Mereka berteman dekat. Namun Vincent merasakan ancaman untuk pertama kalinya. Ia tidak mau berspekulasi lalu kehilangan cintanya. Mereka kemudian menikah."


"diam-diam?"


"Ya ... tapi semua orang sudah dapat menebaknya. Leon ... merasakan kasih sayang dari kami semua. Dia punya ibu dan juga ayah. Tapi ... anak itu selalu merasa kurang, karena merasa keluarga Daddynya belum lengkap. Sekarang kau melengkapi keinginan Leon, Ann."


"Aku tidak sempurna ... tapi, aku akan berusaha menjadi ibu yang baik untuknya, Catty."

__ADS_1


"Terima kasih. Kami semua juga tidak sempurna. Mary yang melahirkan namun tidak mau mengasuhnya saat itu. Aku yang bukannya memberitahu keluarga ayahnya namun berusaha menjauhkannya dari keluarga Bernard saat ia dilahirkan ...."


"Manusia pasti pernah melakukan kesalahan."


"Kau benar. Tinggal dia memperbaikinya atau tidak. Semua sudah berlalu, kita berharap Leonard selalu bahagia. Itu saja."


Anna mengangguk, lalu merasa tangannya digenggam sangat erat oleh Catalina.


"Kami ... titip anak kami ... buatlah ia bahagia selalu," bisik Catty dengan suara serak. Tidak menyadari air matanya mengalir karena teringat masa lalu Leon.


"Aku akan berusaha. Aku berjanji ...." Anna dan Catalina saling memeluk erat.


"Besok, kau dan Simon pergilah ke rumah sakit dulu sebelum pergi. Temui Paman Hamilton."


"Beliau belum pulang?"


"Paman sebenarnya belum dibolehkan pulang. Ia hanya mengatakannya agar Simon mau pulang dan melihat sendiri keadaannya. Tapi dia baik-baik saja."


"Syukurlah ... mmm, aku ... juga mau bertemu Mary ... apakah-"


"Besok. Besok temuilah Mary dan Alric, Ann ...."


**********


Keheningan kamar menyambut Simon ketika ia masuk. Suara air mengalir dari kamar mandi memberitahunya bahwa Anna ada di dalam. Segera ia memutar kunci pintu. Ia kembali setelah lama mengobrol bersama Vincent dan Claude selagi Yoana, Catty dan Anna menidurkan anak-anak.


Simon menoleh ketika pintu kamar mandi terbuka. "Kau sudah kembali?" tanya Anna.


"Ya." Anna mengangguk, lalu duduk di depan kaca. Ia sudah melepas gaun yang tadi dipakaikan Yoana. Gaun itu tidak nyaman bila dipakai tidur, bagian pinggangnya agak ketat dan kerutan di punggungnya akan mengganggu ketika ia berbaring. Ketika mencari piyama, atau gaun tidur di dalam walk in closet, Anna menyadari tidak ada satupun pakaian untuknya. Hanya pakaian Simon yang ada di dalam sana. Anna lalu mencari tas miliknya dan koper milik Simon, tidak terlihat dimanapun. Ia memutuskan hanya memakai handuk jubah yang ada di dalam kamar mandi di luar pakaian dalamnya. Sudah tengah malam dan tidak mungkin ia menanyai Yoana dimana meletakkan traveling bag miliknya.


Anna baru saja selesai memakai rangkaian perawatan wajah ketika Simon keluar dari kamar mandi. Dari cermin ia melirik Simon yang masuk ke walk in closet mencari pakaian tidur.


Ketika Simon keluar dengan jubah tidur, pria itu mengernyit melihat Anna memakai jubah mandi. "Kenapa kau tidak ganti dengan gaun tidurmu?"


"Aku tidak punya."


"Tasmu?"


Anna mengangkat bahu. "Tidak tahu ada di mana."


"Ck! " Simon berkacak pinggang. "Pasti Yoana ...," desisnya.


Anna meletakkan sisir ketika ia melirik dengan ekor mata kalau Simon akan berderap keluar mencari kakaknya.


Anna berlari mengejar, lalu menarik lengan jubah pria itu. "Hentikan. Sudah malam. Yoana pasti sudah tidur."


"Tapi ...." Simon menunduk, kemudian terpaku pada pemandangan dibalik kerah jubah handuk Anna yang longgar.


"Tidak masalah. Aku bisa tidur di balik selimut." Ucap Anna dengan nada datar. Ia merasa berdebar ketika melihat kedua mata suaminya tak beranjak dari bagian leher jubahnya yang terbuka. Anna bersyukur Yoana memberinya set pakaian dalam yang tampak mengundang ketika ia pakai.


"Apa yang kau lihat?"

__ADS_1


Simon tersentak, lalu pandangannya beradu dengan sepasang mata hijau yang memandangnya sedikit geli.


"Kau tidak gugup? Bagaimana kalau aku meminta malam pertama kita?"


Lengan Anna terangkat mengalungi leher Simon.


"Mmm ... Aku punya sedikit pengalaman dengan malam pertama," ucapnya sambil berjinjit.


Simon mendengus, melilitkan lengannya ke pinggang Anna. "Aku mau lihat. Apa yang bisa kau lakukan? Sebanyak apa pengalamanmu?"


"Baiklah ...," jawab Anna dengan berani, namun Simon melihat pipi istrinya itu memerah.


Dengan malu-malu, Anna menyentuhkan bibirnya ke bibir Simon. Mereka memulai dengan saling memagutt pelan. Ketika napas mereka mulai memburu, ciuman itu sudah semakin intens dan panas. Ketika merasa jemari Simon sudah membuka taki ikatan jubahnya, Anna mendorong jubah handuk itu hingga terjatuh dari bahu. Memperlihatkan tubuhnya yang hanya mengunakan lingerie berwarna merah muda.


"merah muda ... Dasar perawan," bisik Simon serak ketika menyentuh renda berwarna pink di lekukan dada Anna.


"Selain ini ... apa lagi yang bisa kau lakukan?" tanya Simon sambil menyelipkan ujung jarinya ke balik renda. Menemukan sesuatu yang mengeras namun tetap teraba lembut.


Anna menelan ludah, merasakan sensasi geli di seluruh tubuh, padahal Simon hanya menyentuh puncak dadanya. Anna maju dan membuka perlahan tali ikatan jubah Simon.


"Kau berani? Aku tidak memakai apa-apa dibalik ini," ucap Simon provokatif.


Anna terlihat agak ragu, namun dengan tangan sedikit bergetar, ia meneruskan membuka ikatan tali jubah tersebut. Sambil menyeringai, Simon menahan tangan istrinya.


"Belum saatnya bagimu untuk ini. Ini nanti! Sekarang, kau duluan!" serunya, kemudian menangkap Anna lalu membantingnya ke atas kasur mereka yang empuk sebelum ikut bergabung melucuti bahan berenda yang menutupi bagian paling menyenangkan dari tubuh istrinya itu.


Di depan pintu kamar Simon, Vincent yang memegang traveling bag milik Anna menyeringai mendengar seruan Simon, jeritan Anna, kemudian tawa keduanya dari balik pintu.


Yoana yang baru saja mau mengetuk pintu mengurungkan niat ketika mendengar bunyi yang sama. Ia menoleh ke arah Vincent sambil mengerutkan kening.


"Kenapa mereka terdengar seperti sedang bermain?"


Vincent menarik lengan Yoana. "Mereka memang sedang bermain, Yoan. Ayo, kita kembali. Anna sepertinya tidak membutuhkan ini."


Yoana melirik ke tas di tangan Vincent. "Sepertinya kau benar. Ayo, kita pergi saja."


Tiga langkah keduanya pergi, suara benda jatuh ke lantai terdengar nyaring. Yoana dan Vincent menoleh berbarengan ke arah pintu.


"Mereka sedang apa sebenarnya?" bisik Yoana.


"Kau dengar suara berdentum tadi? Mereka sedang berperang," canda Vincent, lalu menarik tangan Yoana, agak setengah memaksa agar menjauh dan kembali ke kamar mereka sendiri.


NEXT >>>>>>


**********


From Author,


Part-part menuju End. Wait and stay ya. Akan up hari ini juga. Ayo dukung part-part akhir PS dengan Vote untuk mereka. Terima kasih banyak.


Luv youuu. Salam. DIANAZ.

__ADS_1


__ADS_2