
Kobaran gairah masih melanda dua sosok yang berpelukan di atas sofa ruang tamu Anna. Dengan jemari yang sudah menyentuh kulit lembut yang tersimpan dibalik gaun Ann, tangan Simon bergerak mencari bagian lain, ingin merasakan lembutnya setiap kulit dan mendengarkan desah yang terlepas dari mulut Anna akibat ciuman dan sentuhannya.
Bibir Simon dengan sengaja mengunci bibir Anna ketika jari-jarinya berkelana hingga ke ujung gaun wanita itu dan mulai menariknya ke atas.
Satu sentuhan di kulit paha Anna bagian dalam tiba-tiba membuat tubuh Anna kaku. Tangan wanita itu mendorong dada Simon dan menjauhkan tubuhnya. Ann mungkin saja akan melompat jika saja satu lengan Simon tidak melingkar di pinggang wanita itu.
"Lep-lepaskan aku," ucap Anna dengan napas memburu.
"Tidak. Aku tidak akan lagi membiarkanmu melarikan diri dari ini, lalu bersikap seolah tidak terjadi apa-apa antara kita!"
Anna menoleh cepat, mata mereka bertemu. Ia melihat tekad dan juga gairah yang masih membara di mata pria itu. Ia juga merasakan perubahan tubuh Simon di bawah sana.
Anna menelan ludah. Sentuhan tangan Simon di ujung pahanya bagian dalam membuat tubuhnya seperti baru saja diguyur air dingin. Ann teringat kondisinya yang sedang datang bulan. Memalukan sekali jika tangan pria itu tiba di pangkal pahanya. Ann bersyukur ia menyadari lebih awal.
"Kita harus berhenti, Simon," ucap Anna dengan suara serak. Ia menarik cepat bra dan juga gaunnya yang berantakan. Jemari Anna terlihat gemetar ketika memasang kembali kancing yang tadi dibuka oleh Simon.
Simon menghela tangan Anna, menjauhkannya dari kancing ketika melihat wanita itu tidak berhasil memasang kembali kancing gaunnya. Dengan tenang Simon menggantikan Anna, kedua matanya menatap setiap ekspresi yang melintas di raut wajah wanita itu.
"Ann ... kita harus membicarakan ini ... aku tidak mau dianggap pria kurang ajar." Simon memulai.
Anna menggelengkan kepala. "Tidak, aku tahu kau tidak begitu. Kita hanya terbawa suasana." Anna tertawa kering.
Ganti Simon yang menggeleng. "Tidak. Aku tidak terbawa suasana. Jangan memberi alasan apapun untuk apapun yang tadi kita lakukan. Aku melakukannya secara sadar ...."
Anna menelan ludah, menunduk dan tidak menjawab. Simon menggenggam satu tangannya, Anna merasa malu karena pria itu pasti tahu kalau ia gemetar.
"Ann ... yang tadi kulakukan, tidak seharusnya kulakukan pada seorang teman. Ciuman seperti itu ... hanya dibagi antar kekasih ...."
Anna terpaksa menurut, ketika Simon melepas genggaman di tangannya dan menaikkan dagu Ann. Mata mereka bertatapan.
"Sudah kukatakan tadi ... aku tidak terbawa suasana, aku melakukannya secara sadar, karena aku menginginkannya. Kau sudah cukup mengenalku, kau tahu aku menyayangimu. Aku bahkan sudah ... mencintaimu ...."
Dua bola mata berwarna hijau yang ada di depan Simon terbelalak lebar. Anna tidak pernah mengira akan mendengar kalimat seperti itu malam ini. Ia tahu Simon menyayanginya, Simon sudah tahu riwayat hidupnya, lalu pria itu menjaganya sepenuh hati. Namun Ann tidak pernah mengira kalau perasaan Simon sampai sejauh itu.
"Kurasa selama ini kau menutup hatimu. Kau menolak melihat perasaanku. Aku mengerti karena apa yang telah kau alami membuatmu merasakan bahwa cinta hanya membuat hidupmu menderita ...."
Simon menunggu, karena tidak mendapat tanggapan ia melanjutkan perkataannya.
"Aku tidak akan memaksa, Ann ... kau berhak tidak membalas perasaanku. Tapi jangan menghindariku, perasaanku cukup untuk kita berdua, aku yakin. Janjiku masih sama .... aku tidak akan melakukan apapun yang tidak kau inginkan, tidak kau sukai ...."
Anna tiba-tiba tertawa lagi, tawa terpaksa yang terdengar amat kering. "Kau ...," Anna menggelengkan kepalanya. "Kau hanya perlu keluar dengan wanita lain Simon. Kau terus mengajakku dan kita jadi amat dekat ... tapi kurasa, itu bukan cinta ... kita saling menyayangi sebagai sahabat. Kit-"
Anna berhenti, karena jari telunjuk Simon telah mendarat di bibirnya, menghentikan semua kata yang akan ia utarakan.
"Itu yang kau percayai. Silakan saja, tapi jangan menganalisa perasanku ... aku mengenal diriku sendiri."
Anna menunduk, nada suara Simon membuat Anna merasa buruk. Ia pasti telah menyinggung perasaan pria itu.
"Aku ingin bertanya dan aku sangat berharap kau mau menjawabnya." Simon membiarkan wanita itu menyembunyikan wajahnya dengan menunduk dalam-dalam, yang penting Anna mau mendengarkan, itu sudah cukup.
"Selama pernikahanmu ... apakah kau sudah pernah berbagi gairah dengan suamimu?"
Pertanyaan itu membuat geraham Anna merapat, ia memejamkan mata sejenak. Sudah beberapa kali ia menghindar dari pertanyaan yang satu ini.
"Ann ... tak perlu malu. Aku sudah tahu jawabannya. Tapi aku ingin kau yang mengatakan. Aku ingin memastikan, agar aku tidak membuatmu takut ke depannya. Bagaimana Martin memperlakukanmu selama lebih kurang enam tahun?" Simon membujuk dengan nada lembut.
Hening. Simon melihat Anna mengatur napas dan mengepalkan tangan.
__ADS_1
"Terutama ... di tempat tidur?" tambah Simon. Kalimat yang membuat Anna menoleh, menyipit tajam memandang Simon.
"Aku sudah mengatakan alasanku. Marah saja kalau kau tidak suka," pancing Simon.
"Kau menanyakan hal yang bukan urusanmu, Simon!"
Dengan sengaja Simon tertawa meremehkan, ia ingin memancing kemarahan Anna, agar apa yang ada di pikiran wanita itu keluar mengudara.
"Sekarang jadi urusanku. Kau membalas ciumanku seperti wanita yang kehausan, kau menikmatinya, kau sengaja menurut ketika aku mengajakmu mendaki bersama-sama, tapi di tengah perjalanan kau menarikku turun! Kau berhenti! Kenapa? Kau ... sakit? Seperti Martin?"
Plak!
Tepukan mendarat di dada Simon.
"Kau tidak berhak menanyakan itu! Kalau kau ingat, kau yang berutang menjawab empat pertanyaan padaku! Aku belum menanyakan apa-apa! Tapi kau memaksaku menjawab ini? Baiklah! Tidak, Simon! Aku tidak sakit! Aku memiliki gairah itu! Aku bahkan mengejarnya berkali-kali dengan Martin! Aku melakukan hal-hal memalukan hanya agar dia mau berpartisipasi! Dan belum! Aku belum pernah bercinta sama sekali!"
Anna menghapus kasar air mata yang mengaliri pipinya. Ia sangat tersinggung dengan ucapan Simon. Seketika ia melompat berdiri ketika merasakan lengan Simon melonggar.
"Sekarang pulanglah! Soal aku membalas ciumanmu, aku minta maaf! Tidak ada yang pernah menciumku sepanas itu! Dan soal aku yang menghentikannya dan membuatmu jadi tidak nyaman, aku juga minta maaf! Mungkin aku masih perlu belajar!" Anna tertawa kering, "Belajar. Aku bisa melakukannya. Aku wanita bebas bukan?"
"Apa maksudmu?" Simon menyipit, memandang Anna yang berjalan bolak-balik.
"Tidak ada yang melarang aku mencium pria manapun! Aku bukan lagi wanita bersuami! Aku sempat berpikir aku sakit ketika dengan Martin, namun sekarang aku tahu dengan pasti aku tidak! Aku juga punya keinginan!"
"Kau tidak bisa begitu saja mencium pria manapun ...."
"Kalau begitu aku akan mulai mencari teman kencan!"
Simon bangkit tiba-tiba.
"Kenapa malah membahas pria lain!? Kau tidak memikirkan perasaanku!?"
Tawa Simon meledak. Ia terpingkal-pingkal sambil menatap Anna dengan sinar mata geli.
Anna berkacak pinggang. "Apa yang lucu?" tanya Anna.
"Kau!" Simon terkekeh. "Ann ... tidak perlu mencari pria ... Aku bisa mengajarimu ... lagipula, sudah kubilang aku mencintaimu kan...," ucap Simon dengan nada menggoda, Anna melihat mulut pria itu terbuka, lidahnya meliuk di sisi pipi, membuat pipinya terdorong menonjol, mata Simon menatap Anna dari atas sampai bawah. Tatapan yang terkesan kurang ajar, namun Ann tahu pria itu sengaja.
"Aku hanya bisa membuatmu tidak nyaman! Apa istilahmu tadi? Menarikmu turun? Ya ... berhenti ketika semuanya belum selesai! Astaga ....."
"Aku bisa menanggungnya dan memulai lagi pelan-pelan. Asalkan kau mau," rayu Simon sambil mengedipkan mata.
"Cari saja wanita lain!"
"Wanita yang mana? Aku tidak punya ..."
Anna mendengus keras. "Pria brengssek. Teman wanitamu banyak! Jangan pura-pura!"
"Mana? Hanya kau yang kubawa kemana-mana kan?"
"Ya kalau sedang mengajakku! Kita tidak bersama dua puluh empat jam, Simon! Seperti tadi, wanita cantik berambut merah ya g memelukmu tadi, ia temanmu juga kan? Pasti pernah di peluk sepertiku, karena itu ia langsung memelukmu ketika melihatmu!" Anna merasa sesak napas, ia seperti habis lari maraton. Kata-katanya berhamburan tanpa ia pikirkan lagi.
"Oh ... Maksudmu, Jean?"
"Oh ... Jean?" ulang Ann dengan suara mengejek.
Simon terkekeh, ia melangkah mendekat. Anna jadi mundur.
__ADS_1
"Berhenti. Pulanglah!"
"Tidak mau melanjutkan yang tadi?"
Anna menyipit, membiarkan saja pria itu mendekatinya, Satu langkah di depan Anna Simon berhenti.
"Aku bisa memulainya lagi ...."
"Oh ya?"
"Tentu. Love lesson from Simon Bernard."
Anna menyeringai, tiba-tiba ia merasa geli. Meski marah dan tadi berteriak, anehnya ia merasa lega sudah bersikap saling jujur dengan Simon.
"Terima kasih, Sir. Tapi aku tidak membutuhkannya. Sekarang pulanglah, karena aku perlu ke toilet. Aku perlu ganti pembalut!"
Simon diam sejenak, seperti berusaha mencerna ucapan Anna. Lalu pria itu menarik napas panjang sambil berbalik ke pintu keluar.
"Aku pulang ... katakan padaku kapan kau mau menemui Nyonya Andreas. Kita pergi bersama."
"Bagaimana kalau liburan musim panas?"
"Tidak. Leon sudah punya rencana. Dan itu melibatkanmu."
"Jadi harus sebelum itu?"
"Ya."
"Baiklah."
Anna melihat Simon tersenyum. Pria itu berhenti tepat di luar pintu pondoknya, tampak menjulang dan mengisi hampir seluruh bingkai pintu Ann.
"Kau langsung setuju jika urusannya berhubungan dengan Leon tanpa bertanya apa rencana liburannya," ucap Simon sambil tertawa. "Tutup pintunya Ann ... aku pulang ...."
Simon melangkah menuruni beranda dengan senyum puas.
Dia datang bulan, Bodoh! Apa selanjutnya?
Selanjutnya? hmmm ... itu terserah padaku. Mungkin mulai mencari cincin?
NEXT >>>>>
*********
From Author,
Hayoo Dad, semangat ... vacation plannya blom dijalankan. Ditunggu, wkwkkwkw Jangan ada gangguan ya ...
Hmmm, apa iya gak ada gangguan?
Hmmm .... krik ... krik .... krik ..
Sini-sini, kirimin kopi lagi buat otor yah, heheehe, otor candu kopi hitam. Hadiah laen juga boleh, Uhuk!
Like bab ini ya readers Daddy Simon, sekalian komen, bintang lima dan lovenya.
Terima kasih banyakkk.
__ADS_1
Salam. DIANAZ.