Pengantin Simon

Pengantin Simon
61. Another day


__ADS_3

"Kau darimana?" tanya Anna. Berpura-pura, seolah ia tidak pernah meninggalkan kabin.


"Mengukur suhu air laut," jawab Simon, sambil menggosokkan sebuah handuk kecil ke atas rambutnya.


"Apakah dingin?"


"Lumayan. Cocok untuk memadamkan api dalam darahku."


Anna tidak menanggapi, namun memikirkan apa penyebab dari api yang dimaksud oleh Simon membuat ia jadi merona. Sengaja Anna berdiri, memandang kemanapun selain pada Simon.


"Bisakah kita pulang sekarang?"


Simon melangkah ke arah pintu keluar, berdiri di sana seolah sengaja menghadang siapapun yang berniat keluar.


"Jawab dulu pertanyaanku."


Anna mengalihkan kegugupannya dengan berpura-pura merapikan kotak berisi surat-surat Nuella.


"Tentang apa?" tanya Anna acuh.


"Ada apa tadi?"


"Kapan?"


"Di sofa."


Anna mengangkat bahu, menarik tasnya yang terjatuh di kaki kursi.


"Gambar di foto itu ... bukankah tempat peristirahatan Nuella?" tanya Simon, memperhatikan dengan seksama gerak-gerik Anna.


Anna mengembuskan napas panjang. "Benar ...."


"Itukah penyebab kau menangis ketika aku masuk?"


Anna mengangguk. "Andai aku menemukan amplop berisi gambar itu saat kita masih di Danau Elar, atau bahkan sebelum itu, aku hanya perlu berkendara satu jam lagi untuk sampai ke Panti White Clouds."


"Panti? Bukankah itu tanah pemakaman?"


"Memang ... letaknya hanya seratus meter dari panti tempat aku dan Nuella dibesarkan, sebelum kami diadopsi keluarga Barnes.."


"Itu membuatmu sangat sedih? Aku bisa mengantarkanmu ke sana kapanpun kau mau."

__ADS_1


"Aku tahu itu ... tapi kata seandainya terus melintas. Seandainya aku menemukan amplop itu lebih cepat, aku pasti bisa melihat tempatnya. Aku kesal, aku marah, sakit hati juga sangat sedih. Martin bahkan masih bisa membuatku sakit hati meski sudah berbeda alam!"


Simon melihat Anna melempar tas tangannya ke ujung sofa.


"Lalu?"


"Lalu apa?"


"Setelah kau menangis?"


"Kau sendiri tahu apa yang terjadi. Kenapa bertanya?" Anna berjalan menjauhi sofa. Mengeluh dalam hati kenapa Simon tidak juga beranjak dari pintu keluar.


Simon terkekeh, ia berjalan mendekat sambil melempar handuk ke arah sofa. Kedua lengannya memeluk Anna dari belakang.


"Aku sepenuhnya tahu apa yang terjadi. Adegannya malah masih jelas di kepalaku, karena aku adalah salah satu dari pelaku utamanya. Yang kutanyakan ... kenapa tiba-tiba? Kau menerima lamaranku kan? Apa yang kita bagi sangat istimewa, karena kau sendiri sangat istimewa untukku, Ann ...."


Anna menundukkan kepala, memandang ujung kakinya sendiri. Rasa senang tentu saja berpendar dalam hatinya mendengar ucapan manis dari Simon. Namun sisi lain dari hatinya juga merasa ragu, Simon godaan yang sangat besar bagi setiap wanita, Jean contohnya, Anna sudah melihat sendiri bagaimana cara wanita itu menggoda Simon. Simon pun tidak mengelak, pria itu tentu saja sudah sangat ahli dalam seni rayu-merayu. Berkata manis dan memuji tentu adalah hal yang sudah biasa ia lakukan terhadap wanita.


"Bisakah kita tidak membahasnya?" bisik Anna.


"Maaf ... permintaanmu yang ini tidak dapat aku kabulkan. Katakan kenapa? "


Anna merasakan Simon menggesekkan ujung dagunya pada puncak kepala Anna. "Pengalihan ... kalau begitu aku hanya pengalihan? Katakan ... kau teralihkan sepenuhnya?


" ... ya."


"Bagus ...kau menikmatinya?"


Anna diam, bersyukur mereka tidak berhadapan. Pipinya terasa hangat. Jika diberi kesempatan, ia mau lari saja dan meninggalkan Simon sendiri di sana. Namun Ann tahu, jika ia bergerak, maka lengan yang mengelilingi tubuhnya saat ini akan mengencang.


"Kau tahu bagaimana bedanya yang menikmati dan yang tidak. Jadi, jangan membuatku membuat pengakuan."


Ucapan Anna membuat lengan Simon mengencang.


"Meskipun begitu, aku mau kau yang mengatakannya."


"Ya ... bisakah kita pulang?"


"Apanya yang ya?"


Anna menarik lengan Simon agar pria itu melonggarkan belitannya. Setelah menguatkan tekad dan mengisi paru-parunya dengan udara sebanyak mungkin, ia berbalik dan mendongak. Menatap langsung ke mata Simon.

__ADS_1


"Kau ingat apa yang kukatakan ketika aku menciummu di Danau Elar? Bahwa aku akan menikmati hidupku ... menemukan pria yang baik ... kau mendaftar pertama, ingat?"


Senyum Simon mengembang. "Tentu. Apa aku lolos audisi? Aku bisa membuktikan kita sangat cocok bukan hanya di atas sofa, tapi juga di tempat tidur jika kita sudah menikah," ucap Simon.


Anna menatap pria itu tanpa menjawab. Ia sungguh tidak tahu bagaimana menjawab hal itu. Keraguannya masih sangat besar. Ann merasa, kebebasannya akan hilang jika mereka bersama. Namun hatinya juga tidak rela, melihat Simon terlihat mesra dengan wanita lain.


"Tidak bisakah kita menunda membicarakan ini?" Anna mencoba mengelak.


"Kau terlihat sangat ragu ... kau tidak mempercayai aku?"


"Aku percaya, kau baik dan terus membantuku. Tapi ..."


"Tapi kau tidak mencintaiku ...."


Anna memutuskan diam. Jika ia membantah pernyataan Simon, maka pria itu akan berasumsi bahwa Ann mencintainya. Sedangkan Anna merasa, ia masih perlu waktu untuk memikirkan perasannya sendiri dan juga jawaban bagi lamaran pria itu.


Kediaman Anna menggoreskan rasa kecewa di hati Simon. Namun sebisa mungkin ia menyimpannya. Ia menarik napas panjang, lalu berusaha menyunggingkan senyuman.


"Kurasa kau benar. Kita bahas lain hari ... kita sama-sama lelah ...."


Anna mengangguk cepat. Menyetujui sepenuh hati. "Ya. Waktu kita masih panjang ... kita terus akan bertemu , bukankah rencana liburan musim panasnya jadi? Leon bilang kita akan menghabiskan liburan sama-sama."


"Leon? Kau mau ikut?"


"Tentu. Leon sudah menanyakan persetujuanku."


"Dia belum membahas mau pergi kemana denganku."


"Masih satu mingguan lagi ... masih banyak waktu."


"Kau benar. Sekarang, ayo kita pulang saja."


NEXT >>>>>


*******


From Author,


Jangan lupa klik like, love, bintang lima, komentar dan juga votenya ya. Atas dukungan kalian semua, otor mengucapkan banyak terima kasih.


Salam. DIANAZ.

__ADS_1


__ADS_2