Pengantin Simon

Pengantin Simon
37. Special quest


__ADS_3

Anna merasa sangat terkejut. Mulutnya terbuka sambil memandang tak percaya pada tamu yang datang bersama Mrs. Sanders.


"Halo, Emillia ... bagaimana kabarmu?"


"Nyonya Luna?"


"Ya. Ini aku ...."


Anna tertawa, merentangkan kedua tangannya menyambut Nyonya Luna. Wanita tua itu mendekat, lalu duduk di sebelah ranjang dan memeluk Anna.


Anna tidak tahu entah sejak kapan air matanya sudah menetes dan ia terisak-isak. Nyonya Luna menepuk pelan punggungnya, berirama dan berulang-ulang.


"Maaf aku baru bisa datang sekarang, Em ...." Nyonya Luna berbisik, menyeka butiran bening yang mengalir di pipinya.


"Aku senang sekali Anda ada di sini," balas Anna dengan suara serak.


Mrs. Sanders yang datang bersama nyonya Luna mengelap pipinya dengan saputangan. Setelah menarik napas panjang, ia memasang senyum gembira dan mendekat ke arah tempat tidur.


"Ayolah. Jangan menangis. Kalian membuat bedakku luntur." Mrs. Sanders mengulurkan sekotak tisu pada keduanya.


Setelah memisahkan diri dan berbagi tawa. Anna dan Nyonya Luna mengambil tisu. Membersihkan wajah mereka yang basah.


"Semuanya sudah berlalu. Semoga kebahagiaan menyertaimu selalu setelah ini, Ann," ucap Mrs. Sanders.


"Ann ... terdengar cocok untukmu. Aku lebih suka Ann daripada Emillia," ucap Nyonya Luna dengan gembira.


"Kalian berdua ... aku sangat berterima kasih. Entah bagiamana jadinya kehidupanku tanpa pertolongan kalian," bisik Anna sepenuh hati.


Nyonya Luna membelai rambut Anna, lalu menghapus air mata di pipi Anna yang kembali mengalir.


"Kami berdua senang dapat membantumu, Sayang. Aku harap kau hanya bertemu orang-orang baik dan mencintaimu setelah ini."


Mrs. Sanders menganggukkan kepala. "Ya. Orang-orang yang dapat menorehkan cerita bahagia bersamamu dan menghapus kenangan buruk ... kami berdua akan selalu mendoakanmu, Ann."


Mendengar ucapan keduanya, Anna kembali menangis haru.


Suara pintu yang terbuka membuat mereka bertiga menoleh. Suara riang Leon terdengar melengking.


"Mam Ann! Kami datang!" serunya dengan kedua tangan terangkat tinggi ke atas.


Simon yang masuk bersamanya langsung menutup mulut putranya dengan telapak tangan, sambil mendesis dengan jari telunjuk di bibir.


"Sttt ... Daddy bilang apa tentang diam dan jangan ribut? Anak kecil dilarang masuk! Leon mau di usir keluar oleh perawat?"


Leon meniru ayahnya. Meletakkan jari telunjuknya di bibir dan mengangguk mengerti.


Nyonya Luna dan Mrs. Sanders tertawa geli, Anna tersenyum sambil menyeka wajahnya dengan tisu.

__ADS_1


"Ah, maafkan kami," ucap Simon, lalu ia mendekat dan mengulurkan tangan ke arah Nyonya Luna.


"Anda sudah tiba, Nyonya," ujar Simon.


"Ya. Tuan Bernard. Berkat Anda ... saya akhirnya dapat datang kemari." Nyonya Luna menjabat tangan Simon.


"Simon, Nyonya. Panggil Simon saja."


Nyonya Luna tersenyum sambil mengangguk.


Anna mengerutkan keningnya. Heran dengan ucapan Nyonya Luna.


"Anda kemari karena Simon? Maksudnya?" tanya Anna.


Nyonya Luna melihat Leon yang merangkak naik ke atas tempat tidur di sebelahnya. Ia membantu bocah itu hingga duduk di pinggir ranjang.


"Kau pasti Leonard," ucap Nyonya Luna.


"Hu um," jawab Leon, mengangguk dan tersenyum lebar. Kemudian ia hanya diam sambil memegangi tangan Anna. Anna reflek memegang tangan Leon dan tersenyum. Kemudian ia kembali pada Nyonya Luna, menanyakan kembali pertanyaannya tadi yang belum terjawab.


"Apa maksudnya karena Simon Anda bisa kemari Nyonya?" tanya Ann.


"Ah ... itu. Kau tahu kakiku selalu bermasalah, Ann. Ketika kau masuk rumah sakit, sejak hari pertama Sanders sudah menghubungiku. Tapi lututku bengkak dan nyeri. Aku tidak bisa pergi kemana-mana tanpa ada yang menemani. Anakku harus bekerja, jadi ia tidak bisa mengantarku kemari."


Mrs. Sanders ikut menimpali," Simon meminta aku menghubungi Luna sejak kau masuk rumah sakit dan tidak sadar, Ann. Aku menjelaskan padanya masalah yang dialami Luna. Setelah itu ia meminta ijin bicara langsung dengan Luna."


"Aku harus berterima kasih. Itu sebuah pujian untukku," ucap Simon sambil mengedipkan mata pada Nyonya Luna.


"Jelaskan apa yang telah dilakukannya, Nyonya?" tanya Anna.


"Nyonya Luna membelai rambut Leon sambil tersenyum.


"Simon mengirimkan seseorang datang menjemputku. Tentu saja sebelumnya, pria yang datang itu membawaku ke dokter. Anakku Edward sampai terkejut ... ia pulang bekerja dan menemukan ibunya sudah punya seorang penjaga, perawat sekaligus supir pribadi," ucap Nyonya Luna sambil terkekeh.


"Kuharap Lucas tidak membuat Anda merasa tidak nyaman, Nyonya."


"Oh, tidak, tidak, Simon. Malah sebaliknya. Lucas sangat terlatih. Edward suka sekali padanya."


"Syukurlah kalau begitu."


Anna melirik Simon. Mendapati sepasang mata berwarna hitam itu balik menatapnya. Ann menaikkan alis mendapati kilau yang terasa berbeda di mata laki-laki itu.


"Aku datang bersama Lucas, segera setelah bengkak di lututku hilang, Ann. Edward sampai merasa malu karena belum sempat mengajakku ke dokter, namun Lucas sudah melakukannya saat Ed pergi bekerja ke kantor. Aku akhirnya bisa melihatmu dan bertemu Sanders. Aku senang sekali."


"Apakah Mam juga merasa senang?" tanya Leon tiba-tiba.


"Oh, tentu, Leon. Mam sangat senang. Mam sudah sangat rindu pada Nyonya Luna."

__ADS_1


Leon bertepuk tangan dan segera mendapat teguran dari ayahnya.


"Leon ... stttt ...."


Leon segera berhenti, lalu mulai bertanya ini itu pada Anna dengan suara pelan. Membuat Anna harus melayani dan menjawabnya dengan sabar.


Simon kemudian mengajak Nyonya Luna dan Mrs. Sanders duduk di sofa panjang yang ada di ruangan itu.


"Bagaimana dengan tempat itu, Mrs. Sanders?" tanya Simon.


"Sangat bagus, Simon. Itu tempat yang sempurna untuk Ann."


Simon mengangguk puas. "Kuharap Anda berdua membantuku membujuknya."


"Tentu," jawab Nyonya luna dan Mrs. Sanders bersamaan.


Pembicaraan mereka mengalir menit demi menit. Simon, Mrs. Sanders dan Nyonya Luna bercakap-cakap dengan akrab untuk saling mengenal, sesekali terdengar tawa kecil di sela percakapan mereka.


Di atas ranjang, Anna punya percakapan sendiri dengan Leonard. Kegiatan sehari-hari dan cerita tentang adik dan sepupunya menjadi topik utama Leon. Sampai Anna merasakan kebutuhan untuk ke belakang.


"Ah, Leon. Bisa tunggu sebentar? Mam mau ke toilet dulu, Oke?" ucap Anna dengan nada lembut sambil tersenyum. Ia baru saja akan menyingkirkan selimut ketika tiba-tiba Leon berteriak.


"Dad!" seru Leon memanggil ayahnya.


"Ya?" jawab Simon.


Anna melotot, tiba-tiba bisa menduga alasan bocah itu memanggil ayahnya.


"Tidak, Leon! Mam bisa sen-" ucapan Anna terpotong oleh teriakan Leon selanjutnya.


"Mam Ann mau ke toilet! Mam harus dibantu, Dad!" ucap bocah itu.


Tiga pasang mata serentak menatap Anna. Seketika wanita itu merona malu.


"Astaga, Leon ...," ucap Anna pelan sambil menutup matanya dengan telapak tangan.


NEXT >>>>>


*********


From Author,


Wkkwkwkwk ... Leon, suruh Dad panggil perawat aja, Sayang. Jangan Daddy yang disuruh bantu ... Mam kan jadi malu🤪🤪


Jangan lupa like, love, bintang lima, komentar dan Vote ya semuanya🤗🙏. Atas dukungan nya otor ucapkan terima kasih banyak. Tanpa kalian, Leon mungkin udah tenggelam, gakkan muncul di permukaan, apalagi masuk rank🙈🙈 Sekali lagi Terimakasih ya. Sayang kalian banyak-banyakkk😘😘😘😘


Salam. DIANAZ.

__ADS_1


__ADS_2