Pengantin Simon

Pengantin Simon
71. Leon's request


__ADS_3

Mary dan suaminya Alric tiba di Mansion keluarga Bernard. Catalina menyambut keduanya, terlihat lega dan tergesa-gesa menyambut.


"Untunglah kalian datang. Aku sudah kebingungan. Entah apa sebabnya, dia terus terlihat sedih." Catalina memeluk dan mencium pipi Mary.


"Apakah karena Paman Hamilton? Alric sudah dapat kabar dari Claude kalau Paman sudah bangun," ucap Mary.


"Aku sudah mengatakan kabar itu padanya, dia terlihat lega, namun kemudian kembali sedih. Tapi dia tidak mau bilang apa penyebabnya."


Alric menyentuh pinggang isterinya. "Ayo kita temui dia," ajak Alric.


Catalina dan Mary mengangguk. Mereka melangkah menuju bagian samping Mansion. Setelah sampai di beranda, terlihat Leon yang termenung di kursi yang ada di pinggir kolam renang, dibawah sebuah payung lebar yang melindunginya dari matahari sore.


"Kalian sapalah dia, lalu tinggalkan kami, biar aku bicara padanya. Siapa tahu ini masalah para lelaki yang tidak bisa diceritakan pada para ibu," ucap Alric dengan nada serius, namun sinar geli di matanya tidak dapat ia sembunyikan.


"Oh ya? Masalah apa itu? Coba berikan contohnya." Mary memandang suaminya penasaran.


"Misalnya tentang liburan musim panas yang membuatnya tidak bisa bertemu gadis manis teman sekelas yang ia sukai."


Catty tersenyum geli, sedang Mary berdecak sambil memandang suaminya.


"Ck! Dia baru enam tahun, Alric!"


"Jangan salah, Sayang. Anak enam tahun tahu yang mana yang manis mana yang tidak."


Mary menyipitkan mata, memandang curiga pada Alric. " Apakah itu pengalaman pribadimu?"


Alric pura-pura tidak mendengar dan berlalu untuk menyapa Leon.


"Hai, Leon."


"Dad ... ah, Mom juga datang." Leon melihat ke arah Mary dan Catty.


"Leon terlihat sedih, ada masalah?" Tanya Mary sambil mengambil posisi duduk disebelah kanan Leon.


"Tidak ada, Mom."


Alric menarik kursi di sebelah kiri. "Tapi wajah Leon terlihat lesu. Leonard yang biasa sangat bersemangat dan ceria. Mom Catty bilang Leon terus menerus merasa sedih. Ada apa?" tanya Alric.


Leon mengembuskan napas panjang, ia menoleh ke arah Mary, lalu Catty yang berdiri di depan mejanya, kemudian Alric.


"Benarkah kakek sudah bangun, Dad?" tanya Leon pada Alric.

__ADS_1


"Itu benar. Daddy Claude sudah mengabari. Kita berdoa sama-sama, Kakek Hamilton bisa cepat pulang dan kembali bergabung bersama kita."


Leon menganggukkan kepala. "Apakah Daddy Simon akan pulang?"


"Tentu. Daddy Claude sudah bilang kalau malam ini Daddy Simon akan makan malam dan tidur di rumah," ucap Catty.


Ucapan Catty menerbitkan senyum kecil yang hilang dengan cepat di bibir Leon. "Baguslah ... Leon rindu Daddy."


Catty, Mary dan Alric saling melempar pandang, namun tidak berkomentar apa-apa.


"Kalian berdua, maukah ikut makan malam di sini? Please ... anak-anak pasti senang," mohon Catty.


Mary memandang suaminya, menyerahkan keputusan pada Alric.


"Tentu, aku akan menelepon Ibu dulu, dia bersama anak-anak. Memberitahunya kita akan makan malam di sini, juga memintanya menemani anak-anak tidur jika kita pulang sedikit terlambat."


Mary mengangguk. Leon akhirnya tersenyum senang. Hari-harinya terasa sepi hanya berada di Mansion dengan dua sepupu kecilnya yang lebih banyak tidur. Ayahnya tidak pernah pulang, terus berada di rumah sakit, begitu juga dengan Paman Vincent dan Daddy Claude, Leon berusaha memahami bahwa situasi kakek Hamilton lebih utama, jadi ia tidak mau mengeluh. Ia ingin bertemu ayahnya, ingin bertanya apakah Mam Ann setidaknya pernah menelepon, bukankah mereka pergi tanpa pamit? Bukankah mereka membatalkan acara liburan tanpa pemberitahuan. Ia ingin tahu bagaimana keadaan Mam Ann saat ini.


**********


Setelah makan malam, Catty mengajak para putrinya dan Mary duduk di ruang keluarga. Leon juga ikut. Bocah itu beberapa kali melirik ke arah Simon, namun Simon sudah terlibat pembicaraan dengan Alric.


Sambil bermain dengan Alexa, Leon terus mengawasi ayahnya. Seperti menunggu celah dan berharap bisa bicara.


Dering ponsel kemudian terdengar, Mary menoleh dan melihat Simon sedang memandangi ponselnya. Pria itu kemudian pamit pada Alric pergi sebentar untuk menerima telepon.


"Stttt! Leon!" panggil Mary.


Leon menoleh.


"Itu, Daddymu ke sana, kau ingin bicara dengannya kan? Pergilah susul ke sana. Tunggui ia sampai selesai terima telpon, lalu Leon bisa bicara berdua saja," ucap Mary sambil mengedipkan sebelah mata.


Senyum Leon terkembang. Ia mengangguk, lalu bangkit menyusul ayahnya yang pergi ke beranda samping.


Leon berhenti di balik bingkai pintu, ia menunggu di sana. Menatap ke arah Simon yang berdiri di teras sambil membelakangi Leon. Ponselnya masih terus berdering. Simon kemudian meletakkan ponsel ke telinganya.


"Ya? Mam Ann? Ada apa?"


Seketika senyum Leon mengembang sempurna. Ia sangat gembira mengetahui Mam Ann menelpon ayahnya.


"Aku? Aku di rumah sakit."

__ADS_1


Kening Leon berkerut. Tidak mengerti kenapa ayahnya berbohong.


"Bicara dengan Leon? Tidak. Tidak bisa. Dia ada di rumah."


Mulut Leon mengerucut, pandangan matanya langsung buram, berkaca-kaca mendengar ayahnya berbohong.


"Nanti saja kalau aku sudah pulang, Mam. Sekarang kami agak si-"


Leon berbalik dengan cepat. Ia tidak ingin lagi mendengar kalimat yang diucapkan ayahnya. Sejak pergi tiba-tiba dari rumah pantai, Leon sudah mengira terjadi sesuatu yang buruk antara ayahnya dan Mam Ann. Memang mereka harus segera pulang karena kakek Hamilton sakit, tapi bukankah setidaknya masih bisa saling menelpon, berpamitan pada Mam Ann.


Sambil menghapus kasar air mata di pipinya, Leon menarik napas panjang. Ia tidak mau ditanyai oleh Mom Mary dan Mom Catty kenapa ia menangis. Setelah menepuk pelan kedua matanya, Leon kembali ke ruang keluarga. Ia mendekati Daddy Alric.


"Dad ...."


"Ya?"


"Emm ... bolehkah Leon menghabiskan liburan musim panas bersama Val dan Aislin?"


"Maksudmu, menginap bersama adik-adikmu seperti yang sudah-sudah?"


Leon mengangguk.


"Tentu saja boleh! Val dan Aislin akan senang sekali. Nenek Annete juga ada di sana. Ayo kita buat liburan yang seru dan menyenangkan." Alric menyisir rambut Leonard dengan jemarinya.


"Terima kasih, Dad ...."


Di tempat duduknya, Mary dan Catty saling berpandangan.


"Apakah dia ingin bicara dengan ayahnya tadi karena ingin menghabiskan liburan di tempatmu, Mary?" tanya Catty.


Mary menggelengkan kepala. "Aku tidak yakin. Pasti ada sesuatu yang lain. Aku akan mengoreknya nanti saat di rumah."


Catty menganggukkan kepala. "Aku rasa juga begitu. Pasti ada masalah lainnya."


"Itu Simon kembali. Wajahnya tampak senang. Kurasa pembicaraannya dengan Leon lancar. Tapi kenapa bocah itu masih ....."


Catty menepuk lutut kakaknya. "Kuserahkan padamu. Bicaralah dengannya sampai dia jujur tentang masalah sebenarnya."


**********


From Author,

__ADS_1


Jangan lupa like, love, bintang lima, komentar dan Vote untuk PS ya. Terima kasih banyak atas dukungannya.


Salam. DIANAZ.


__ADS_2