
Anna memeluk erat-erat sebuah bantal guling yang ada di kedua lengannya. Ia merasa ada sedikit keanehan pada benda tersebut. Namun rasa malas dan kantuk membuatnya tidak mau membuka mata.
Antara sadar dan tidak, masih mengantuk dan merasa masih berada di awang-awang, Anna menaikkan sebelah pahanya ke atas bantal guling, menjepit bantal tersebut dengan kakinya. Ia mendesah, kembali tertidur dengan nyaman setelah menggosokkan hidung beberapa kali, menghidu wewangian yang tercium dari bantal yang ia peluk.
Anna tidak menyadari sama sekali kalau benda yang ia kira bantal guling adalah tubuh Simon. Pria itu berbaring kaku tidak berani bergerak. Ia tidak mengira keputusan untuk berbaring dan tidur bertiga di ranjang Leon akan membuatnya sengsara.
Mengira kalau ia sudah memasang jarak aman dari Anna, Simon tadi sempat terpejam sejenak, namun ia terbangun karena merasakan sesuatu yang lembut dan empuk menempel di sisi tubuhnya yang berbaring telentang. Setelah menoleh, Simon tersadar kalau itu adalah Anna yang telah bergeser dalam tidurnya. Berbaring miring dengan wajah menempel di lengan atas Simon.
Awalnya Simon merasa senang. Ia tidak pindah atau mendorong Anna agar kembali ke tempat semula. Ia hanya menoleh ke arah lain agar tidak terus memandangi wajah wanita itu, berusaha mengalihkan perhatiannya dari tubuh Anna yang menempel pada sisi badannya dan kembali memejamkan mata.
Namun, itu ternyata adalah keputusan yang buruk. Ketika tangan Anna terangkat dan mulai meraba-raba dadanya, Simon jadi gelisah. Wanita itu bahkan merogoh ke balik jubah yang ia pakai, memeluk erat dada Simon.
Astaga ... jauhkan tanganmu, Ann.
Tubuh Simon berubah menjadi kaku ketika merasakan Anna kemudian mengangkat sebelah kaki dan meletakkannya ke atas paha. Ia bisa merasakan langsung kalau selimut flanel yang tadi menutupi bagian bawah wanita itu sudah tersingkap. Kakinya bertemu dengan kehalusan kulit kaki Anna. Simon ingin sekali mengangkat selimut yang menutupi pinggang mereka dan mengintip ke bawah.
Itu berbahaya ... jangan mencobanya, Simon.
Simon memperingatkan dirinya sendiri, lalu Anna kembali bergerak, kali ini hidungnya digosokkan ke lengan atas Simon, seolah mencium wangi dari lengan jubahnya. Simon menanti dan bersiap kalau-kalau wanita itu terbangun. Namun tidak ada gerakan, bahkan suara. Ia menoleh dan mendapati Anna masih tertidur.
Anna hanya mendesah kecil dengan mata terpejam. Simon memejamkan matanya sendiri. Berusaha menahan agar tidak menyentuh Anna atau melakukan sesuatu yang bisa membuat wanita itu terbangun.
Tidur ... cobalah untuk tidur ... pejamkan saja matamu, Sialan!
Simon memaki dalam hati ketika merasakan bukannya menjadi santai dan melakukan perintah otaknya agar kembali tidur, tapi tubuhnya malah semakin waspada dan semakin fokus pada setiap gerakan dari Anna, bahkan ia tahu setiap tarikan napas dari wanita itu.
Aku harus pergi dari sini, batin Simon.
Perlahan ia mulai menurunkan sebelah kaki ke atas lantai, lalu ketika hendak menggeser tubuhnya, sekali lagi Anna bergerak, kaki wanita itu menyelinap diantara dua paha Simon, lalu tangannya memeluk semakin erat.
Simon mengerucutkan bibirnya, menatap langit-langit kamar.
"Sebaiknya jangan bergerak lagi Ann ... kau sudah terlalu dekat ...," bisiknya perlahan. Sedikit melirik apakah Anna terganggu dengan suara yang ia buat, namun melihat kalau wanita itu bergeming dengan mata tertutup rapat.
Tidurmu nyenyak rupanya ... tapi aku bukan bantal guling, Ann. Aku pria dan aku tahu kau tidak akan mau melihat aku berbaring di sisimu dengan jubah setengah tersingkap ketika kau bangun nanti ... jadi sebaiknya pergilah ke sisi sebelah sana ... peluklah Leon saja ....
Seolah menjawab kata hati Simon, Anna bergerak menggeser pahanya di atas kaki Simon, hingga kulit mereka bergesekan.
Simon tersenyum miring. "Malamku akan panjang ...," bisiknya.
**********
Leon terbangun dan langsung bangkit duduk di atas tempat tidur. Ia menoleh ke samping dan mendapati Mam Ann tertidur miring menghadap ke arahnya. Ibu gurunya itu meringkuk di tengah ranjang dengan selimut menutupi pinggang ke bawah.
Leon mengerutkan kening ketika melihat di sebelah Mam Ann terbaring ayahnya dengan posisi yang agak aneh. Kaki kanan ayahnya sudah setengah turun dari atas kasur. Ayahnya telentang di atas sisi kasur paling ujung, posisi tidur itu nampak sangat tidak nyaman di mata Leon. Segera ia bergerak perlahan, menyeberangi Anna dari bagian kaki, lalu duduk di atas selimut di ujung kaki ayahnya. Leon memegang kaki ayahnya, lalu mulai menggoyangkan kaki tersebut sambil berbisik pelan.
"Dad ... Dad ...," bisik Leon. Ia melirik ke arah punggung Mam Ann, melihat apakah Mam Ann terganggu. Melihat Anna tidak bergerak, Leon kembali membangunkan ayahnya, kali ini ia menarik selimut dan merangkak ke arah pinggang.
__ADS_1
"Daddy ...." Leon menarik-narik kelepak jubah, lalu mencubit sedikit pinggang ayahnya, sengaja agak keras karena tahu ayahnya agak sulit dibangunkan. Segera terdengar suara erangan dan kemudian diikuti kelopak mata Simon yang membuka.
"Leon ...." Simon bangun, duduk dan terhuyung. Ia memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa berdenyut.
"Daddy ... kenapa Daddy tidur di sini?" tanya Leon.
Simon menelan ludah, membasahi kerongkongannya yang terasa kering. Matanya melirik ke arah jam dinding dan mendapati sebentar lagi hari akan pagi.
"Dad hanya bermaksud memeriksamu sebelum tidur ... tapi malah tertidur di sini." Simon mengeluarkan sebelah kakinya dari selimut, ia duduk di tepi ranjang dan mulai memijit kepalanya. Lalu ia teringat Anna dan segera menoleh. Mendapati wanita itu masih tidur membelakangi. Entah kapan Anna melepas pelukan di tubuh Simon, ia tidak tahu.
Simon merasa telah menunggu berjam-jam dan tubuhnya terasa sakit, pegal, lelah dan berpuluh rasa tidak nyaman lainnya yang tidak bisa ia jabarkan satu demi satu.
"Sudah hampir pagi ... Daddy akan kembali ke kamar. Leon berbaringlah sebentar lagi, hari ini Leon tidak usah sekolah. Istirahatlah dulu di rumah, nanti setelah Paman Bruno datang, Daddy akan mengantar Mam Ann pulang. Mam Ann pasti mau ke sekolah."
Leon menganggukkan kepala. Ia mengerutkan kening khawatir ketika melihat ayahnya berulangkali memijit kening.
"Kepala Daddy sakit?"
"Sedikit ...."
"Daddy pasti tidak tidur dengan baik."
"Benar."
"Tadi kaki Daddy di bawah. Kenapa tidak tidur lebih ke tengah. Kan tempat tidur Leon masih luas ...."
Serentak Simon dan Leon menoleh dan menatap. Kelopak mata Anna perlahan terbuka, mata hijau itu tampak agak terkejut setelah bisa fokus dan melihat kehadiran Simon.
Simon merasa tidak punya tenaga memberikan penjelasan apapun tentang kenapa ia ada di kamar Leon. Jadi ia memutuskan segera pergi. Ia bangkit dan berpamitan.
"Daddy kembali ke kamar dulu, kau masih harus minum obatmu, jadi hari ini tidak usah sekolah .... " Simon berjalan ke arah pintu, tubuhnya terasa limbung hingga ia berpegangan di pintu agak lama.
Anna sudah duduk di atas kasur, ia mengernyit menatap Simon.
"Kau kenapa? " tanyanya heran.
"Kepala Daddy sakit," Leon menjawab menggantikan ayahnya.
"Aku mau tidur ... malamku agak mengerikan," ucap Simon.
"Kau mimpi buruk?"
"Bukan mimpi, tapi kenyataan ... izinkan aku tidur sebentar ... aku akan mengantarkanmu pulang setelahnya." Simon melambai, membuka pintu lalu pergi dari kamar tersebut tanpa menoleh.
Anna dan Leon berpandangan.
"Jalan ayahmu limbung ... hal mengerikan apa yang ia alami? Kenapa dia kemari?"
__ADS_1
Leon mengangkat kedua bahunya. "Daddy bilang ia kemari karena mau memeriksa Leon."
"Oh ... mungkin ia kemari karena tidak dapat tidur dengan nyenyak ... ia bilang malamnya mengerikan ... tapi ia tidak mimpi buruk ...."
Leon kembali menyelinap di samping Anna, berbaring di bawah selimut.
"Mungkin Daddy memang mimpi buruk, tapi hanya tidak mau mengakui ... makanya ia kemari, sebenarnya mungkin saja Daddy takut," canda Leon sambil menyeringai.
Anna tertawa, lalu ikut berbaring. "Itu tidak mungkin, Leon. Ayahmu bukan penakut," ucap Anna sambil menyentil hidung Leon.
"Hmmm ... Mam benar, Daddy Leon kuat dan pemberani."
"Hu um. Benar."
"Juga ayah yang baik. Mengurus Leon dengan sangat baik."
"Benar."
"Daddy Leon juga sangat tampan ...."
Anna tertawa, menyipit memandang Leon. Mereka berbaring miring bersisian dan saling menatap.
"Kenapa kita malah membicarakan ayahmu?"
"Benar tidak, Mam? Menurut Mam, Daddy bagaimana?"
"Hmmm ... itu ... entahlah ... tidurlah, Leon."
Leon menggeleng. "Tidak. Sebelum Mam menjawab."
"Menjawab apa?"
"Daddy tampan atau tidak?"
"Hmm ... baiklah. Kalau menurut Mam, Daddy Leon memang good looking."
"Bukan itu. Pertanyaannya Dad tampan atau tidak. Itu saja."
"Good looking artinya ya Leon. Daddymu tampan. Sekarang tidurlah."
Leon mengangguk. Tersenyum dalam hati, menyimpan pertanyaan selanjutnya untuk Anna, mengatakan pada dirinya sendiri kalau pertanyaan yang ini harus benar-benar diajukan jika waktunya sudah pas.
Di depan pintu, Simon yang sebenarnya belum beranjak mencuri dengar semua percakapan itu. Ia mengembuskan napas panjang sambil mulai melangkahkan kaki menuju kamarnya.
"Harusnya kau bertanya ... Mam mau jadi Mommy Leon atau tidak, Bocah. Itu akan memudahkan ayahmu ini ... tampan saja tidak cukup untuk memikat ibu gurumu ...."
NEXT >>>>>
__ADS_1
**********