Pengantin Simon

Pengantin Simon
27. Answer my question


__ADS_3

"Dimana Mam Ann?" Simon bertanya sambil membelai rambut putranya yang masih menangis.


Leon memberi jarak pada tubuh ayahnya, menggosok hidungnya yang berair, lalu menarik lengan sang ayah menuju sebuah pohon besar.


Cahaya senter menerangi Anna yang terduduk lemas dengan wajah penuh air mata.


"Simon?" ucap Anna dengan nada bertanya, seolah kurang yakin dengan penglihatannya.


"Simon mendekati Anna, berjongkok dan secara otomatis memeluk wanita itu.


"Ya. Ini aku. Aku sudah datang," ucap Simon. Suaranya sarat emosi. Melihat kelegaan luar biasa yang terpancar di mata Anna. Simon melihat Leon mendekat ke samping Anna. Segera saja ia merengkuh putranya itu dan memeluknya erat.


"Di mana Martin? Apakah kau bertemu dengannya?" tanya Anna.


"Ya. Dia jatuh di lembah. Aku tidak tahu bagaimana dia sekarang. Aku langsung lari begitu mendengar suara Leon berteriak."


"Tadi ada yang jatuh menimpa bahu Leon, Leon kira itu ular, Dad, makanya Leon berteriak."


"Ular!"


"Tidak, Dad. Bukan ular. Untung Mam Ann cepat membuangnya dan bilang kalau itu hanya akar."


Simon menarik napas panjang, terbayang apa yang telah dialami putranya hingga ia menemukannya di pulau ini.


"Kau tahu Martin?" tanya Anna heran. Ia menyebut Martin dan Simon seolah sudah tahu kalau pria itulah yang membawa mereka.


"Aku tahu karna kapal yang disewa untuk membawa kalian adalah milik Joaquin. Kami tahu darinya kalau pria yang menyewa bernama Martin."


Anna mengangguk mengerti.


"Kita harus segera pergi. Kau tahu jalan menuju pantai bukan?" Anna mulai dapat merasakan tubuhnya kembali. Ia berniat bangkit berdiri, namun baru saja menumpukan kaki kanannya ke atas tanah, ia terjatuh dengan mulut mendesis kesakitan.


"Ann? Ada apa?" Simon menyinari wajah Anna dengan lampu senter, mendapati kernyitan di wajah wanita itu.


"Entahlah, kakiku ...."


Anna meraba kakinya dalam gelap, lalu Simon mengarahkan senter ke arah telapak kaki wanita itu.


"Mam ...." Leon merintih melihat pemandangan sebuah luka menganga yang kotor di bagian tumit Anna.


"Ann ... kakimu ... kita harus segera mencari air dan membersihkan lukamu." Simon baru saja hendak mengangkat kaki Anna ketika wanita itu menggeleng dan menahan tangannya.


"Tidak. Periksalah kaki Leon. Kurasa kakinya juga terluka."


Simon segera memeriksa kaki Leonard. Tampak luka-luka kecil dan lecet di kedua telapak kaki tersebut.


"Ini sakit, Dad ...," ucap Leon.


"Gendonglah Leon, Simon. Kita harus segera pergi dari sini." Anna mencoba bangkit sekali lagi. Kali ini ia bertumpu pada kaki kiri dan melangkah dengan menapak pada ujung jari kaki kanan, berjinjit mengangkat tumit.


"Tapi, Ann. Kakimu ...."


"Tidak. Jangan pikirkan kakiku. Sejak tadi aku bisa terus berjalan. Ayolah, kita harus segera mengeluarkan Leon dari sini."


"Tapi ...."


"Tidak ada tapi, Simon. Ayo!" Anna mulai melangkah, karena tidak bisa menapakkan kakinya dengan benar, ia berjinjit dan melangkah sedikit pincang.

__ADS_1


Melihat tekad Anna, Simon akhirnya menurut. Ia segera memasang punggungnya untuk Leon.


"Naik ke punggung Daddy, Leon." perintah Simon.


Setelah menggendong putranya Simon segera berjalan mengikuti Anna yang telah membawa satu-satunya sumber cahaya mereka.


Setelah berjalan beberapa lama, Simon akhirnya berhenti, Sosok Anna yang terlihat memaksakan diri menyeret tubuh untuk berjalan membuatnya tidak tega.


"Ann! Kita harus berhenti!" seru Simon.


"Apa!? Kenapa?" Anna menoleh dan memandang Simon.


"Kurasa Leon tertidur. Bisakah kita istirahat sebentar?"


Anna menyinari wajah Leon, benar saja, pipi bocah itu bersandar di bahu ayahnya, matanya terpejam rapat.


"Ah ... dia pasti sangat lelah ...."


"Sejujurnya, Ann ... aku juga agak lelah." Simon tahu Anna akan memaksakan diri terus berjalan, wanita itu tidak akan pernah mengakui kalau kakinya sakit dan ia lelah.


"Baiklah. Kurasa Kita bisa duduk sebentar."


"Terus terang Ann ... aku sebenarnya tidak tahu pasti apakah jalan yang kita ambil ini benar. Jadi, lebih baik kita istirahat, menyimpan tenaga kita, mengulur waktu hingga bantuan datang."


"Apakah akan ada yang menjemput kita di pantai?"


"Tentu. Bahkan mungkin tidak hanya di pantai. Mungkin yang menjemput kita akan masuk ke hutan. Mereka hanya perlu waktu untuk sampai kemari."


Anna mengangguk. Ia akhirnya memandang berkeliling, mencari tempat yang setidaknya datar dan agak bersih untuk tempat mereka beristirahat. Dengan bantuan cahaya senter ia menemukan sebuah batu dengan permukaan yang datar diantara tumpukan batu kecil, Simon juga melihat dan menyuruh Anna berhenti di tempat itu.


"Di sana!" ucap Simon.


"Bisakah kau ambil Leon sebentar? " tanya Simon


"Oh, baiklah. Berikan dia padaku." Anna meletakkan senter ke atas tanah, lalu mengambil Leon dari belakang punggung Simon.


Setelah Leon digendong oleh Anna, Simon mencari tempat duduk. Ia memilih sebuah batu yang dibelakangnya ada sebuah pohon. Setelah duduk dan bersandar di pohon tersebut, Simon melepas jaket parka dari tubuhnya lalu mengulurkan tangan pada Anna.


"Sini, Berikan dia padaku."


Anna meletakkan Leon di pangkuan Simon dengan hati-hati, menjaga agar bocah itu tidak terbangun.


"Kemarilah, duduk di sini." Simon memberi tanda dengan tangannya agar Anna duduk di sampingnya.


"Tidak. Aku duduk di sini saja," tolak Anna.


"Ayolah Ann. Senternya akan kumatikan. Kita perlu menghemat daya. Ketika ada yang memanggil, atau bantuan datang, setidaknya cahaya ini bisa jadi petunjuk dimana tempat kita."


"Kita bisa berteriak." Anna memberi alasan.


"Kau benar. Tentu saja. Tapi aku berkeras. Kemari dan duduk di sini! Setidaknya lakukan agar aku tidak khawatir," ucap Simon dengan nada tegas.


Anna menaikkan alisnya mendengar nada suara pria itu, namun ia sudah kehabisan tenaga untuk berdebat.


"Baiklah."


Anna bergerak dan duduk di samping Simon. Ia sedikit menunduk dan mengintip ke arah Leon yang terlelap dengan bersandar di dada ayahnya.

__ADS_1


"Syukurlah dia tidur nyenyak."


Baru saja ia akan bersandar ke belakang, lengan Simon bergerak dan merangkul bahu Anna.


"Hei!" protes Anna.


"Mendekatlah. Piyamamu lembab. Kau tidak mau membukanya bukan? Jadi mendekatlah padaku agar kita bertiga bisa muat di bawah parka lebar ini."


Simon membentangkan jaket parkanya hingga menutupi tubuh bagian atas mereka bertiga.


"Nah. Ini muat jika kau mendekat. Atau lebih baik lagi jika kau bersandar seperti Leon."


Nada menggoda di suara Simon membuat tawa Anna akhirnya terlepas. Tawa kecil yang membuat Simon merasa lega.


"Kau ini!" Anna menepuk pelan dada Simon. Ia langsung menggenggam tangannya sendiri sesudahnya.


Astaga ... itu tadi dada atau tembok ....


Simon menarik bahu Anna lebih keras, hingga wanita itu akhirnya benar-benar berhimpitan dengan tubuhnya. Saat itulah tangan Anna tanpa sengaja menyentuh bekas tusukan pisau yang dilakukan oleh Martin. Simon mendesis hingga membuat Anna merasa heran. Ia mengambil senter dan memeriksa tangan pria itu.


"Simon! Luka ini ...."


"Sttttt ... jangan dibesar-besarkan. Sedikit perkelahian dengan Martin. Pelankan suaramu Ann ... Leon bisa terbangun."


"Tapi ... ini masih mengeluarkan darah, Simon. Kau harus membalutnya."


Anna melihat bahan kain yang membalut tubuh Leon, lalu melihat piyamanya sendiri. Simon terkekeh karena bisa menduga arah pikiran wanita itu.


"Jangan bilang kau mau merobek piyamamu untuk membalut luka ini. Walaupun aku tidak keberatan melihat hal menarik di tengah hutan yang gelap ini, tapi aku tidak mau temanku jadi kehilangan pakaian."


"Seriuslah, Simon. Ini harus dibalut."


"Baiklah, kalau begitu, robeklah lengan kemejaku saja. Bisa kau tarik dengan mudah."


Anna melakukan apa yang simon katakan, dengan mudah ia menarik lengan kemeja sutra tersebut dari bagian bahu, lalu mulai menutup dan membalut lusa tusuk di lengan Simon.


"Beres," ucap Simon ketika Anna selesai membebat lukanya.


"Tidak sakit?"


"Tidak."


"Syukurlah."


"Sekarang jawab pertanyaanku, Ann ... Semuanya! Karena tanpa kau minta, kau sudah membawa kami berdua berurusan dengan Martin, Jangan mengelak. Jangan berbohong ... Pertama ...."


Simon kembali menarik bahu Anna, jaket parka sudah melorot dan hanya menutupi tubuh Leon yang tertidur. Pandangan mata Simon menatap dalam-dalam ke mata Anna.


"Siapa pria bernama Martin ini, Ann?"


NEXT >>>>>


*********


From Author,


Hai semuanya, mat berpuasa yang sedang menjalankan ibadah puasa ya. Mon maaf kalo up ngadat, harap maklum karna mesti bagi waktu antara jadi ibu jadi istri jadi karyawan dan jadi author (ckckck ...author wkkwkw). Semoga kita semua sehat selalu. Aamiin.

__ADS_1


Jangan lupa dukung Leon dengan like, love, bintang lima, komentar dan Vote hadiahnya ya pembacaku tersayang. Terimakasih atas dukungan kalian selama ini.


Salam hangat. DIANAZ.


__ADS_2