
Anna berdiri di tengah-tengah kamar tamu yang lumayan besar, matanya sedang memandang berkeliling seluruh isi yang ada di dalam kamar tersebut ketika pintu kamar diketuk dari luar.
Anna menoleh dan melihat kepala Simon menyembul dari sela pintu yang memang tidak ia tutup.
"Aku membawakanmu baju ganti," ucap Simon.
Anna mendekat, membuka pintu lebar-lebar hingga seluruh sosok Simon terlihat. Pria itu membawa dua pakaian di masing-masing tangan.
"Kau bisa mengenakan ini, atau yang ini setelah kau mandi." Simon menunjukkan benda di masing-masing tangannya pada Anna.
Anna menunjuk pada benda di tangan kanan Simon.
"Ini kemeja?" tanyanya.
Simon mengangguk.
"Yang ini?" tunjuk Anna pada baju yang ada di tangan kiri Simon.
"Kaos longgar. Pasti nyaman dipakai tidur."
Anna mengerutkan keningnya. "Punya siapa pakaian ini?"
"Punyaku. Belum pernah dipakai sama sekali. Ini, kau lihat ... ini masih baru," ujar Simon sambil memperlihatkan label pakaian tersebut yang belum dilepas.
Anna bersedekap sambil cemberut, matanya memandang tidak setuju ke wajah Simon.
"Apa kau tidak punya pakaian perempuan?"
"Dimana aku mencarinya malam-malam begini?"
"Milik Yoana mungkin ... atau Catty? Mereka kan sering kemari dan menginap."
"Tentu saja semuanya dibawa kembali. Untuk apa mereka meninggalkan pakaian di sini?" Simon menyeringai dalam hati. Meminta maaf pada Anna di dalam hati karena telah berbohong. Di kamar yang biasa Yoana tempati bersama Vincent bila sedang menginap di rumahnya, tentu saja tersimpan selemari penuh pakaian wanita, ukurannya pasti muat untuk Anna karena tubuh Yoan sama mungilnya dengan Anna.
Di kamar Catty juga, banyak pakaian yang bisa digunakan Anna, tapi Simon tidak mau memberikannya pada wanita itu.
"Hanya ini yang ada. Pakai saja ini untuk malam ini.
__ADS_1
"Hanya ini? Astaga ... tidak mungkin habis mandi aku hanya memakai ini tanpa-" Anna berhenti, menyadari kalau ia sedang berbicara dengan seorang pria.
Pembicaraan tentang pakaian dalam bukanlah pokok bahasan yang cocok untuk didiskusikan dengan Simon, meskipun ia sudah sangat dekat dengan temannya itu, Simon tetaplah seorang pria.
"Tanpa apa? ... oh, pakaian dalam?" tanya Simon tanpa malu.
Anna menggosok keningnya, ia menahan mulutnya mengucapkan kata pakaian dalam, malah pria itu yang mengatakannya duluan.
"Ck! Itu tidak perlu dirisaukan. Kau bisa menggunakan pakaian ini tanpa dalaman, atau ... kau bisa tidur dengan caraku, dijamin nyaman dan nyenyak."
Anna menyipitkan matanya dengan sinar curiga. "Bagaimana memangnya caramu?"
Simon menyeringai. "Mandi, keringkan tubuh, lalu langsung tidur. Gunakan saja selimut untuk menutup tubuhmu."
Anna ternganga, otaknya jadi membayangkan pria itu tidur dalam keadaan polos tanpa pakaian, hanya ditutupi selimut. Seketika wajahnya mulai merona, membuat Simon terbahak kencang.
"Ck! Kau! Sana pergi! Aku mau mandi!" usir Anna, mengalihkan pembicaraan.
Anna menarik kaos yang dipegang oleh Simon, lalu segera menutup pintu tepat di depan hidung pria itu. Ia mendengar tawa Simon semakin kencang di luar sana, lalu pria itu kembali mengetuk pintunya dua kali.
"Kau tidak mau menikmati berenang dulu di kolam?"tanya Simon dari balik pintu.
"Sayang sekali! kolamnya ada di samping kamarmu!"
Anna masih berdiri, menunggu di balik pintu sampai tidak ada lagi suara yang ia dengar dari luar kamarnya. Langkah kaki Simon sudah menjauh dan menghilang. Segera Anna mengunci pintunya dan melempar kaos yang tadi ia ambil dari tangan Simon ke atas tempat tidur.
Anna baru saja melepas dua kancing teratas gaun yang ia pakai ketika matanya menatap tirai panjang yang menjuntai dari satu sisi dinding kamar ke sisi lainnya. Menutup keseluruhan dinding bagian itu.
Ia mendekat ke arah sudut kamar, menarik tirai hingga terbuka. Anna mendapati di belakang tirai tersebut adalah dinding kaca yang bisa ia buka kapan saja, seperti pintu dorong yang bisa ia geser bila ia ingin keluar.
Memandang ke luar dari dinding kaca yang terlihat jernih itu, Anna mendapati memang ada sebuah kolam renang yang masih jadi bagian dari rumah tersebut. Kolam yang tadi disebutkan oleh Simon.
Sebuah pergerakan dari arah salah satu sudut membuat mata Anna beralih. Ia mendapati Simon berjalan ke arah pinggir kolam dengan bertelanjanng dada. Pria itu sudah membuka baju bagian atasnya.
Anna memegang kain gorden, bermaksud menarik dan menutup kembali dinding kaca, namun ia berhenti ketika mendapati Simon dengan perlahan mulai membuka dan menurunkan celananya. Simon berdiri menyamping, hanya bagian samping tubuhnya yang terlihat.
Degupan jantung Anna mulai berdetak lebih cepat ketika celana pria itu benar-benar sudah lepas. Dengan pakaian di tubuhnya, Simon tampak gagah, besar dan juga tampan, namun tanpa pakaian, Anna merasa pria itu jadi lebih berbahaya. Beberapa kata mulai berhamburan di otaknya untuk menggambarkan bagaimana penampilan pria itu. Sexi, kuat, sangat menarik, mendebarkan sekaligus menggairahkan.
__ADS_1
Anna merona sendiri ketika pikiran-pikiran itu melintas. Ia sampai memikirkan kata menggairahkan, membuatnya jadi merasa malu.
Ketika Simon tiba-tiba berdiri lurus ke arah kolam, bersiap-siap melompat, keseluruhan tubuh bagian depan pria itu terlihat jelas. Untung saja bagian pinggul pria itu masih mengenakan ****** *****, namun seperti merasa ada yang memperhatikannya, wajah pria itu tiba-tiba terarah ke dinding kaca kamar Anna.
Dengan panik Anna cepat-cepat menarik tirai hingga tertutup. Ia memegang dadanya sendiri dengan sebelah tangan, jantungnya berdebar kencang, merasa telah tertangkap basah mengintip dan melihat sesuatu yang seharusnya tidak ia lihat.
"Astaga! Apa yang kulakukan!"
Anna berderap meninggalkan sudut kamar. Membuka kancing gaunnya sampai pinggang, lalu segera masuk ke kamar mandi yang ada di dalam kamar itu sambil melepaskan seluruh pakaiannya. Meninggalkan pemandangan menarik yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat, mulutnya kering dan matanya ....
Anna Geraldi ... matamu lapar! matamu melahap pemandangan itu dengan senang hati! Astagaaaa .... memalukan sekali ... tapi ....
Anna menyalakan shower dan mengguyur kepala dan seluruh tubuhnya dengan air dingin. Namun lagi-lagi, sosok Simon di pinggir kolam terbayang jelas di kepalanya. Anna memejamkan mata.
"Oke. Baiklah! Bayangkan saja dia sepuasmu! Lagipula ... akui saja dia memang sangat tampan! ... juga sexi ... sangat sexi malah ....haishhh!" Anna bicara sendiri di tengah guyuran air. "Simon bodoh! Kenapa harus berenang malam-malam begini! Hanya mengenakan dalaman seperti itu!" makinya kencang-kencang.
Sekalian saja kau telanjanng!
Anna berdiri kaku dengan kepala tertunduk, matanya menatap aliran air di atas lantai kamar mandi. Tercenung oleh kalimat yang baru saja melintas di kepalanya.
Setelah mengedipkan mata dan mengusap wajahnya berulang kali, Anna mulai tertawa kecil.
"Otakku mulai memikirkan yang tidak-tidak. Astaga ... aku tidak pernah seperti ini. Semua gara-gara dirimu, Simon Bernard! Kau teman yang meresahkan!"
Anna menggapai sebuah botol shampo, lalu menuang sedikit di atas telapak tangannya.
"Sepertinya kepalaku benar-benar perlu dicuci," bisik Anna sambil tersenyum.
NEXT
>>>>>>>
From Author,
Mohon maaf untuk jadwal update yang tidak tentu ya semuanya. Kembali alasan klasik kesibukan sehari-hari yang lumayan menyita waktu. Otor berterimakasih masih mengikuti kisah Simon dan Anna.
Mohon dukungannya untuk menekan like, love, bintang lima, komentar dan juga Vote untuk PS. Terima kasih banyak sebelumnya ya.
__ADS_1
Salam hangat. DIANAZ.