
Anna meremas kuat-kuat bahan kemeja Simon. Sesuatu seperti telah bergerak dan membuat darahnya berpacu lebih cepat. Ia menahan napas.
Ciuman Simon di bibir Anna berubah dari sekedar kecupan ringan, pria itu memagutt, membelai dan makin berani ketika merasakan Anna hanya diam saja dan terbaring kaku dalam pelukannya. Ketika Simon mulai memainkan lidahnya dalam rongga mulut Ann, pelukannya di tubuh Anna mengetat. Membuat Anna makin sesak dan akhirnya mulai memukul dada Simon, kedua kakinya mulai meronta.
Simon mengangkat kepalanya. "Ann?" tanyanya dengan suara serak.
Anna meraup udara banyak-banyak, mengisi paru-parunya dengan rakus.
"Ya ampun ... kenapa kau tidak bernapas?" senyum geli tersungging di bibir Simon, berusaha meringankan suasana dan mencairkan sesuatu yang terasa pekat dan menggelegak di dalam dirinya sendiri.
"Kau!" Anna melotot marah ketika sudah bisa mengendalikan diri dan merasa rasa lemasnya agak menghilang.
"Kenapa? "
"Aku yang harusnya bertanya! Kenapa kau lakukan itu!?"
"Karena aku ingin ... tidak boleh? Harusnya kau mendorongku, atau menamparku ...." Simon menatap mata Anna, menilai semua ekspresi yang melintas di wajah wanita itu.
Anna bergeser, berpindah duduk dari pangkuan Simon. "Aku terlalu terkejut! Kau tiba-tiba ...."
"Tiba-tiba menciummu, aku tahu," ucap Simon.
Anna menelan ludah, ia kebingungan kata apa lagi yang mau ia ucapkan. Jantungnya masih berdebar kencang, ia segera beringsut ke ujung sofa, duduk menghadap ke arah Simon dan memeluk kedua kakinya yang ditekuk, memasang jarak dari Simon yang terasa menggelisahkan. Anna melirik dan mendapati wajah pria itu sangat tenang. Ia menggeretakkan giginya.
"Jangan pernah lakukan itu lagi!"
"Kenapa? Kau tidak suka? Katakan padaku Ann ... sebelum ini apa kau pernah dicium?" tanya Simon. Matanya memandang Ann dengan sinar menggoda. Reaksi tubuh Anna bukanlah reaksi seorang wanita yang sudah berpengalaman, meski sudah pernah bersuami.
"Tentu saja!"
"Oh ya?"
Nada suara Simon yang terdengar sangsi membuat Anna sedikit tersinggung.
"Ya. Kau pikir aku tidak pernah berkencan sebelum bertemu Martin? Aku sudah melakukannya sejak masih remaja!"
Simon mengerucutkan bibirnya. "Kau gadis yang disukai."
"Ya! teman sekolahku mengajakku kencan, teman kerja paruh waktuku juga. "
"Baiklah. Masukkan aku dalam daftar priamu selanjutnya."
"Apa maksudmu!?"
"Aku akan mengatakannya dengan jujur. Statusmu bebas sekarang, Ann ... kau bisa berkencan dengan siapapun yang kau mau."
"Aku tidak tertarik."
"Kenapa?"
"Pria itu merepotkan. Sudah cukup dengan Martin."
"Martin sering menciummu?"
__ADS_1
"Ya! Tentu saja ia melakukannya!"
"Aku bertanya apa dia sering menciummu? Sering?"
Anna terdiam sesaat sebelum menjawab. "Itu bukan urusanmu."
"Apa kau sudah pernah bercinta dengannya?"
Kaki Anna reflek terjulur dan menendang paha Simon. Belum sempat kakinya ditarik, tangan Simon menangkap pergelangan kakinya.
"Jawab aku," ucap Simon. Menatap bola mata berwarna hijau yang balik memandangnya.
Anna menarik napas panjang. "Sebenarnya kenapa kita membahas ini?" Anna menoleh ke arah kamarnya, "aku jadi lelah ...."
"Ann ...."
"Kau temanku, Simon ... aku tidak cocok kau ajak berkencan. Banyak yang tertarik padamu ... pilih salah satu dari mereka. Hidupku sudah terlalu banyak masalah, aku ingin mengurusnya satu persatu ..."
Simon bangkit, lalu bergerak mendekati Anna. Setengah terkejut, Anna mendapati pria itu mengangkat dan menggendongnya.
"Istirahatlah di kamarmu ...."
Simon mendorong pintu kamar yang setengah terbuka dengan kakinya. Ia membaringkan Anna di atas kasur.
"Kau tidak perlu melakukan ini. Kau sudah terlalu banyak membantuku," ucap Anna perlahan.
"Kalau masih menganggapku teman, jangan mengatur apa yang boleh dan tidak boleh kulakukan. Tidurlah. Aku akan keluar, mengurus beberapa hal."
"Apa yang kau lihat di sana?"
"Tak ada ... istirahatlah," ucap Simon. Ia menatap lama dan menahan diri memberi kecupan di pipi Anna.
"Kau akan mengunci pintunya?" tanya Ann. Matanya meredup. Tubuhnya mudah sekali merasa lelah.
"Ya. Aku meninggalkan kunci lain untukmu." Simon menunjuk ke arah meja kecil Anna. Memperlihatkan rangkaian kunci.
Anna mengangguk. "Terima kasih, Simon."
"Kau sungguh tidak apa-apa ditinggal sendiri?" Simon merasa sangat berat meninggalkan wanita itu sendirian. Jika Ann setuju dengan rumah yang sudah ia dan Mrs. Sanders pilihkan tentu ia tidak perlu khawatir karena Mrs. Sanders dan Nyonya Luna akan melihatnya secara berkala, rumah itu berdekatan dengan rumah Mrs. Sanders.
"Aku sudah biasa sendirian, Simon. Pergilah. Terima kasih sekali lagi," ucap Anna.
Setelah satu embusan napas panjang, Simon mengangguk. Ia memasang selimut Anna, lalu berpamitan.
"Aku pergi." Simon langsung berbalik, menutup pintu kamar dan berdiri di depan pintu itu sambil bersedekap.
Siapa yang mengatakan kalau ini akan mudah, Simon Bernard? Kau salah melangkah, ia akan menjauhimu perlahan.
Simon keluar dan berdiri lama di beranda. Ia memandangi halaman kecil rumah Anna, mencatat beberapa hal dalam otaknya dan kemudian mengeluarkan ponsel.
Setelah terhubung dengan Bruno, ia langsung bertanya. "Sudah kau hubungi mereka, Bruno?'
"Sudah, Tuan. Mereka akan tiba sebentar lagi. Lokasi mereka tidak jauh dari sana. "
__ADS_1
"Baiklah. Aku menunggu saja kalau begitu."
"Ya, Tuan."
Simon melangkah menyusuri jalan setapak. Memandangi pohon-pohon yang ada di pinggir jalan.
"Jika kau tidak mau pindah, maka tempat ini harus dibuat aman dan juga terang benderang kalau malam hari. Mobilku juga harus bisa parkir di depan rumahmu jika aku dan Leon kemari," bisik Simon. Ia berkacak pinggang, menyipit memandang ke atas, ke puncak pepohonan yang pasti akan roboh dan menghilang besok.
Suara langkah kaki membuat Simon menoleh, beberapa pria datang dan mendekatinya.
"Tuan Simon Bernard?" tanya salah satu pria itu.
"Ya. Itu aku."
"Kami datang untuk cek lokasi dulu. Melihat apa saja yang perlu kami lakukan besok."
"Tentu. Ini jalannya ... aku mau dilebarkan hingga pondok di ujung sana. "
"Baik, Tuan."
"Soal izinnya kalian juga yang akan mengurus bukan?"
"Ya. Tuan. Bruno sudah menjelaskan detailnya. Apakah lampu-lampu yang Anda inginkan akan dipasang di pondok itu?"
"Ya. Buat pondok itu terang benderang, juga di sepanjang jalan ini."
"Baik, Tuan. Kami akan mulai melihat dan melakukan pemeriksaan awal," ucap pria itu, memberi tanda pada orang-orangnya.
Simon mengangguk. Ia melihat dua orang pria berjalan menuju pondok.
"Ah ... bisa tolong jangan terlalu berisik di sekitar pondok. Ada yang sedang tidur di dalam," ucap Simon.
Dua pria itu mengangguk.
Simon tersenyum, mengikuti dengan matanya setiap pekerjaan yang dilakukan orang-orang tersebut. Lalu ia teringat dengan Leonard, Simon melirik jam tangannya.
"Sudah waktunya ia pulang," bisik Simon. Dengan segera mengirimkan pesan pada Seth agar menjemput Leon dan mengantarkannya ke rumah pondok.
Kau bisa menolakku, tapi kurasa kau tidak bisa menolak Leonard, Ann ... kami berdua akan membuatmu tidak bisa mengatakan tidak. Teman katamu? Tak apa ... teman tapi mesra ... aku tidak keberatan ....
Senyum simpul tersungging di bibir Simon. Membuat pria yang sedang bicara dengannya jadi percaya diri, merasa kalau Simon menyukai apapun yang ia lontarkan sebagai rencana yang akan dilakukan pada jalan dan pondok kecil Anna.
NEXT >>>>>
*********
From Author,
Daddy ganteng punya paket komplit yang sulit ditolak. Sayangnya Mam Ann benar-benar cuma menganggap Daddy teman. Tapi bukan Simon namanya kalau gak bisa manisin mulut, walaupun teman bakalan tetap mesraaaaa wkwkkwk
Jangan lupa like, love, bintang lima ,komentar dan vote untuk Leon ya. Atas dukungannya author ucapkan terima kasih.
Salam. DIANAZ.
__ADS_1