
Simon memandang berkeliling, suara musik bercampur obrolan dan tawa terdengar riuh di telinganya. Mata Simon mengawasi, mencari sosok Jhon dan juga sosok wanita dengan gaun mini berwarna silver.
Sebuah tepukan di bahu kanannya membuat Simon menoleh. Seringai lebar seorang wanita terkembang di hadapannya.
"Aku tahu aku tidak salah lihat! Ini benar-benar si tampan Simon Bernard. Mau bergabung dengan kami? Aku punya topeng ekstra untukmu."
Simon mengerutkan keningnya menatap wanita itu.
Satu tepukan lagi mendarat di bahu kiri Simon. Ia menoleh, menatap sepasang mata seorang pria yang menyipit tajam memandang wanita yang tadi menegur Simon.
"Jangan ganggu dia. Dia mencari seseorang." Jhon menarik lengan Simon agar menjauh dari Jean.
"Oh-oh, aku jadi penasaran siapa," ucap Jean sambil melingkarkan tangannya ke lengan Simon, lalu balas menarik Simon agar menjauh dari Jhon.
"Kau siapa?" tanya Simon dengan wajah datar.
Jean terkekeh, lalu menarik wig yang ada di kepalanya. Satu karet pengikat yang menahan rambut merahnyapun segera ia lepas.
"Jean," ucap Simon.
"Ya. Ini aku. Meski aku bertopeng, rambut merahku dengan mudah dikenali kan?" tanya Jean dengan nada genit.
"Ck! Lepaskan dia, Jean. Dia punya urusan lain di sini," ujar Jhon.
"Bisakah urusanmu ditunda? Berdansa dulu denganku," ajak Jean. Sengaja memeluk erat lengan Simon. Ia gembira melihat perubahan di sinar mata Jhon.
Simon tidak memedulikan dua temannya yang saling menatap dengan tatapan menantang tersebut. Ia memandang berkeliling, lalu terpaku pada seorang wanita yang masih berada dalam pelukan seorang pria. Sepertinya tadi mereka sedang berdansa, namun tiba-tiba berhenti karena sang wanita secara mendadak berdiri diam. Untunglah si pria segera menuntun sang wanita ke pinggir agar tidak mengganggu pasangan lainnya.
Anna menatap tajam ke arah sosok Simon. Ia sangat terkejut ketika sedang berputar bersama Zach pasangannya dan melihat sosok Simon di kejauhan. Anna berhenti tiba-tiba yang membuat Zach berinisiatif menuntunnya ke pinggir, menyingkir dari kumpulan orang-orang.
Dari kejauhan, Anna juga melihat sosok wanita berambut merah yang bergelayut manja di lengan Simon. Ia menelan ludah, tangan kirinya tanpa sengaja meremass erat kemeja Zach.
"Ada apa? Kau mengenal pria di ujung sana?" tanya Zach. Di balik topengnya, Zach merasakan tatapan dingin dan tajam pria dengan jaket hitam di ujung lain ruangan terasa menusuk menatapnya.
__ADS_1
"Dia Simon Bernard." tambah Zach lagi.
"Kau mengenalnya?" tanya Anna terkejut.
"Tentu saja, pria mapan lajang dengan satu anak. Aku benar kan? Pria yang selalu mengataiku sebagai anak perempuan saat kami masih sekolah. Alasannya karena wajahku yang putih dan manis ini," ucap Jhon dengan nada mengejek.
Anna mengangguk.
Zack menunduk menatap Anna, senyum manisnya membuat lesung pipi pria itu kelihatan jelas.
"Jangan-jangan kau kekasihnya ya?" tanya Zach
Anna belum sempat menjawab, karena seseorang sudah menarik tangan Zach yang masih bertengger di pinggangnya.
"Uppssss ... maafkan aku, aku sampai lupa melepaskan tanganku," ucap Zach dengan senyum geli ketika menyadari Simon sudah tiba di dekat mereka.
"Ayo, pergi," ucap Simon. Wajahnya dingin dengan tatapan mata keras.
"Tunggu du-" Ucapan Anna terpotong, ia membelalak ketika lengannya ditarik kasar oleh Simon. Anna menoleh ke belakang, mendapati Zach hanya tersenyum lebar sambil melambaikan tangan. Anna mengembuskan napas lega, pria itu tampaknya tidak tersinggung dengan sikap kasar yang dilakukan Simon.
"Lepaskan aku! Simon! Kau gila ya! Ada apa denganmu!"
Tanpa memberi aba-aba, Simon berhenti dan berbalik, membuat Anna yang berjalan setengah diseret di belakangnya terjungkal dan menabrak dada pria itu.
Simon memegangi kedua bahu Anna. Ia menunduk, menatap tajam dengan geraham dikatup rapat-rapat.
"Kubilang lepaskan aku!" desis Anna.
"Setelahnya apa!? Setelah kulepaskan kau mau masuk lagi ke sana? Berpelukan dengan para pria di sana dengan baju minimmu itu!?" Simon balik mendesis ke arah wajah Anna.
"Kenapa dengan bajuku!? Semua orang memakai yang lebih parah dari ini!"
"Kenapa dengan bajumu!? Kau masih bertanya!? Apa kau tidak punya cermin di rumahmu!? Belahan dadamu kelihatan! Kakimu kelihatan! Bawah gaunmu itu begitu pendek! Sedikit saja kau membungkuk, bokonngmu yang kau pamerkan!"
__ADS_1
Kekesalan Anna karena ditarik paksa berubah jadi amarah. "Kau tidak berhak mengatur apa yang mau kupakai! "
"Oh ya? Lalu aku apa bagimu selama ini? Kau bilang pertemuan guru!? Bullshittt, Ann! Kau menghindariku berhari-hari! Pesanku tidak kau balas! Teleponku tidak kau angkat! Kuajak keluar malam ini kau tak bisa! Ini rupanya! Kau memilih kemari dan bergoyang dalam pelukan pria yang bahkan baru sekali kau temui! Berpakaian dan bersikap seperti jalanng!"
Simon menarik napas, memasukkan udara dalam parunya yang terasa seperti terbakar. Ucapannya sudah tidak terkendali.
Anna berubah kaku dalam pegangan kedua tangan Simon. Matanya berapi-api menatap Simon.
"Kau bilang apa!? Aku!? Jalanng!?" Anna mendorong kuat-kuat dada Simon.
"Dengarkan baik-baik, aku akan mengatakannya sekali! Dengan bahasa yang sangat jelas!" Anna menyipitkan mata, amarah di dadanya membuat darahnya terasa mendidih. Ucapan Simon entah kenapa membuat hatinya terasa sakit.
"Kau, Tuan Simon Bernard tidak punya hak membatasi aku! Kebebasanku adalah milikku sendiri! Mau aku menjadi jalanng malam ini, tidak ada urusan denganmu! Kau bukan ayahku! Bukan kakakku! Bukan kekasihku! Apalagi suamiku! Bukan! Kau bukan semua itu!"
Anna mengucapkan kata-katanya sambil berjalan mundur. Ketika kalimatnya selesai, ia langsung berbalik dengan cepat.
"Dasar pria arogan!" maki Anna kencang. Sengaja agar terdengar Simon. Tak jauh dari sana, ia melihat Brenda yang sudah ada di dekat mobilnya.
"Ann ... apa semua baik-baik saja? Aku bisa bantu menjelaskan kesalahpahaman ini pada Tuan Bernard."
"Tidak perlu, Bren ... sudah beres. Tidak ada masalah. Bisakah kita pulang sekarang?"
"Tentu ...." Brenda menatap ke arah Simon yang masih berdiri di tempatnya tadi. Pria itu sempat mengulurkan tangan, seolah berniat menahan Anna. Namun tidak ada suara yang keluar dari mulutnya untuk memanggil Ann, atau gerakan untuk mengejar Ann.
Anna berjalan mendekati pintu mobil. Ia melirik ketika melihat gerakan tak jauh dari sana. Seorang wanita berambut merah yang berlari ke arah Simon.
Huh! Kau sendiri bersenang-senang kemari dengan si rambut merah! Dan kau mengataiku Jalanng!? Pria sialllan!!
NEXT >>>>>>
From author,
Like, love vote, bintang lima dan komentar ya. Terimakasih readers.
__ADS_1
Salam. DIANAZ.