
Simon berhenti tiba-tiba, ia melihat Anna tersungkur di tanah dengan kedua tangan menggenggam rerumputan. Sepuluh langkah di depannya, Leon berdiri di depan seorang pria yang berjongkok di belakang bocah itu. Sebuah pisau ditempelkan ke leher Leonard.
Wajah Simon memucat, tubuhnya gemetar, cahaya dari senter mereka yang tergeletak di tanah memperlihatkan seringai dari wajah penawan Leon.
"Kau terlalu lama memainkan ini, Em. Seharusnya kau tidak membuatnya sulit. Seharusnya kita sudah tiba di bandara dan sudah berangkat menuju rumah baru kita."
Anna bangkit dengan sangat perlahan. Kedua matanya menatap ke arah Martin tak berkedip.
"Martin, kau ingin aku ikut denganmu dan mengakhiri semua ini bukan?"
"Kau sudah tahu apa mauku, Em."
"Kalau begitu, lepaskan anak itu. Biarkan dia berjalan kemari, lalu aku akan berjalan ke arahmu."
"Ann ...." Simon menoleh ke arah Anna, ia melihat wanita itu mengeretakkan giginya.
"Dia menginginkan aku, Simon. Segera setelah pisau itu lepas dan Leon berjalan kemari, bawalah Leon secepatnya. Pergilah jauh-jauh ...."
Setelah ucapan itu selesai, mereka semua mendengar deru helikopter di kejauhan.
"Kau dengar itu, Martin? Itu adalah orang-orang yang sedang mencari anak itu. Aku yakin benda itu tidak cuma satu, mereka mencari ke seluruh pulau. Urusan kita bisa jadi semakin panjang jika kita bertemu mereka. Lebih baik kau pulangkan anak itu ke ayahnya ini, lalu aku akan kembali padamu."
Martin mendongak ke arah langit, ia tidak melihat apapun, namun suara tadi memang ada, Mereka semua telah mendengarnya. "Baiklah. Tapi kau berjalanlah kemari lebih dulu!" seru Martin.
Anna mengangguk.
"Ann ...." Simon menatap Anna, menggelengkan kepalanya pelan-pelan.
Anna tersenyum. "Sudah kukatakan padamu jauhkan Leonard dariku, Simon. Akan berbahaya untuknya ... aku tidak takut pada Martin bila aku menghadapinya sendirian. Bawalah Leon jauh-jauh, Simon ... bantuan sudah datang, kau juga mendengarnya tadi kan."
"Cepatlah!" teriak Martin. Gusar melihat Anna malah berbicara dengan Simon.
Anna maju dua langkah, lalu berhenti.
"Jauhkan pisau itu, Martin!" seru Anna. Melihat Leon yang memucat dengan air mata meleleh, anak itu menangis tanpa suara.
"Baik! Tapi teruslah berjalan!"
Anna kembali melangkah ketika melihat Martin menjauhkan lengannya dari leher Leon. Pria itu sudah berdiri tegak dengan sebelah lengan menahan lengan atas Leon.
Ketika ia hampir tiba, Anna kembali berhenti.
"Leon ... sekarang pergilah ke Daddymu," ucap Anna.
Leon mengangguk, namun ia terhenti karena lengan Martin masih memeganginya.
"Lepaskan tanganmu, Martin. Ayo kita pergi dari sini. Sebelum orang-orang yang mencari ayah dan anak ini datang."
Lengan Martin terlepas, Leon melangkah pelan pada awalnya, kemudian berlari kencang menuju Simon.
__ADS_1
Anna merasa lengannya ditarik paksa, lalu Martin setengah menyeretnya melangkah pergi dari tempat itu. Anna menoleh sejenak ketika dalam langkah cepat ia dan Martin menjauh. Pandangannya bertemu dengan mata Simon yang menatapnya dengan penuh tekad. Ann tidak tahu apa yang pria itu pikirkan. Yang pasti Anna merasa lega, Leonard sudah berada dalam dekapan ayahnya. Bila sesuatu terjadi dalam pelariannya ini dengan Martin, Anna tidak akan menyesal. Tidak ada orang lain yang jadi korban. Senyum terkembang di bibir Anna, ucapan selamat tinggalnya pada Simon dan Leon.
Simon dan Leon menatap sampai bayang Anna dan Martin hilang ditelan kegelapan. Isak tangis yang tadi ditahan oleh Leonard sekarang lepas. Ia memeluk ayahnya dan menangis pilu.
"Daddy ... Mam ...."
"Shhhh ... Daddy tahu. Kita pasti akan menolong Mam Ann. Daddy Claude pasti sudah datang."
Simon baru saja bangkit berdiri, ketika ia dikelilingi beberapa pria yang muncul dari balik pepohonan. Para pria itu berpakaian hitam, senjata mereka di arahkan padanya.
"Siapa ...," ucap Simon, harapan membuncah di hatinya. Mengatakan bahwa keluarganya sudah tiba.
Seorang pria lagi muncul dari kegelapan. Dengan satu isyarat tangan darinya, senjata yang tadi diarahkan pada Simon serentak di turunkan.
"Apakah kau baik-baik saja, Bernard?" tanya pria tersebut.
"Blaird!" seru Simon. Ia langsung memandang berkeliling. "Di mana Vincent!" ujarnya.
"Aku di sini," bisik sebuah suara yang muncul dari balik sebuah pohon.
Leonard segera mengenali suara tersebut. Ia berlari sambil menangis ke arah Vincent yang sudah berjongkok dengan kedua lengan terbentang.
"Paman!" Kembali Leonard menangis kencang.
"Ya, My Lion. Paman sudah di sini."
"Kau sudah tiba," ucap Simon dengan nada lega.
"Sudah sejak tadi. Kami belum bertindak karena pria itu memegang Leonard. Kau baik-baik saja?" tanya Vincent.
Simon mengangguk. "Hanya luka kecil," ucapnya sambil mengangkat lengan kanan yang ditusuk pisau oleh Martin.
Blaird segera mendekat. Teman Vincent itu segera menyinari lengan Simon dan memeriksa.
"Pergilah bersama Leon ke tempat penjemputan. Orang-orang kita akan mengantarkanmu ke sana," ucap Blaird.
"Tidak ... ibu guru Leon ..." Simon berhenti berkata ketika tangan Leon menggapai ke arahnya.
"Kenapa?" tanya Simon.
"Dad ... tolong bawa Mam kembali," ucap Leonard.
"Tentu ... Dad dan Uncle Vince akan membawanya kembali. Leon berjanjilah akan kuat dan menunggu Dad."
Leon mengangguk. Satu tepukan di pipinya dari Vincent membuatnya menoleh.
"Daddy Claude dan Daddy Alric akan ada di sana. Jadi jangan takut. Leon pergi dengan Paman Blaird, Oke?"
Leon mengangguk.
__ADS_1
"Jadi, aku tidak ikut pergi ke pesta?" tanya Blaird.
"Tidak Blaird. Aku pergi dengan tim 2. Kau sudah menghubungi semuanya ... kurasa tim yang lain juga sudah mendekat. Bawalah Leon. Alric dan Claude sudah menunggu."
Blaird membuka jaket hitam yang ia pakai, lalu memasangnya pada Leon.
"Oke, kemarilah. Kita pergi," ucap Blaird.
Leon telah berpindah ke lengan Blaird. Sebuah ciuman dari ayah dan juga pamannya mendarat di kening sebelum Blaird membawa bocah itu pergi bersama beberapa orang penjaga yang mengawal mereka.
"Pria itu tidak akan bisa pergi kemanapun. Tempat ini sudah terkepung." Vincent melepas jaketnya dan melemparkannya pada Simon.
"Pakai itu, Simon!"
Simon mengangguk, memasang jaket yang terasa hangat di tubuhnya.
"Apa senjata yang dia punya hanya pisau itu?" tanya Vincent.
"Aku tidak tahu. Jangan mengambil resiko. Lumpuhkan saja dia secepatnya!" ujar Simon.
"Itu rencanaku," ucap Vincent.
Bersama dengan beberapa pria yang tersisa mereka berjalan ke arah tempat Martin dan Anna menghilang. Vincent terlihat bicara lewat alat komunikasi yang ia pakai. Tidak lama kemudian ia menyeringai.
"Ada apa?"
"Mereka menemukannya."
"Martin dan Anna?"
"Ya."
"Tunjukkan arahnya, cepatlah Vincent!"
"Bersabarlah. Dia punya wanita itu sebagai sandera. Kita harus berhati-hati."
Simon menarik napas panjang. Ia tahu Vincent benar. Hal semacam ini Vincent lebih tahu harus bertindak bagaimana. Simon berharap Anna tidak melakukan sesuatu yang dapat memancing amarah Martin. Terakhir melihat senyum Anna sebelum wanita itu ditarik pergi oleh Martin, Simon merasa seolah Anna tidak merasa takut atau khawatir. Seakan-akan wanita itu sudah siap menghadapi apapun, termasuk kematian di tangan suaminya itu.
NEXT >>>>
********
From Author,
Jangan lupa tekan like, love, bintang lima, komentar dan vote hadiah untuk Leon ya pembacaku yang baik hatinya😁🙏
Atas dukungan kalian otor ucapin terimakasih banyakkk.
Salam hangat. DIANAZ.
__ADS_1