
"Itulah diriku di masa lalu. Brengseek, bajinngan, benar-benar bad boy ," Simon menyeringai menatap Anna, "sudah dua pertanyaan. Sekarang giliranku lagi kan," tambahnya sambil duduk tegak di kursinya.
Anna mengangkat kedua bahu. Berusaha bersikap santai, walaupun hatinya mulai merasa gelisah. Entah kenapa, instingnya mengatakan kalau Simon pasti akan bertanya tentang masa lalu dan itu pastilah tentang kehidupan pernikahannya dengan Martin.
"Kau pernah punya kekasih? Maksudku berkencan? menyukai seorang pria sebelum kau bertemu Martin dan menikah."
Anna terlihat berpikir sejenak, ia mengingat masa-masa saat ia bekerja di sebuah cafe sebagai waiter. Salah satu dari sekian pekerjaan paruh waktu yang ia lakukan untuk mencari uang ketika hidup sebagai anak adopsi di keluarga Barnes.
"Pernah ... dulu aku pernah bekerja di sebuah cafe sebagai pelayan. Di sanalah aku bertemu Hans, seorang pelayan sama sepertiku. Dia mengajakku kencan." Anna tersenyum kecil. Merasa lega pertanyaan Simon bukanlah tentang pernikahannya.
Simon terlihat menyipitkan matanya. "Kemana kalian pergi?"
"Aku akan menghitungnya sebagai satu pertanyaan lagi. kau berutang dua pertanyaan."
"Baik. Jawab saja pertanyaanku," ucap Simon.
"Hans mengajakku nonton, kami pergi ke bioskop."
"Film apa yang kalian tonton?"
" Sekarang jadi tiga." Anna tiba-tiba tidak bisa menahan mulutnya untuk menyeringai, rasa penasaran pria itu membuat ia tidak bisa menahan pertanyaan-pertanyaan yang menurut Anna sangat remeh.
"Baik. Tiga. Jadi jawablah."
"Tentu saja film romantis. Kisah sepasang kekasih yang dimabuk cinta."
"Film seperti itu ... banyak adegan panasnya, ciuman, pelukan, belaian, juga tidur bersama ... katakan, apa akhirnya Hans berusaha menciummu di ruang gelap bioskop?"
Anna tertawa, mengacungkan empat jari tangannya ke arah Simon. "Empat. kau berutang menjawab empat pertanyaan. Jawabannya adalah ya, Hans mencoba menciumku," jawab Anna.
"Dia-"
"Eits ... tidak. Jatahmu habis! Tidak ada pertanyaan lagi. Aku lelah. Aku mau tidur."
"Tidur ... kata yang menarik saat ini bukan? Katakan, apa adegan tidur di film romantis yang kau tonton lumayan panas?"
Anna menyipitkan matanya, memandang jengkel ke arah Simon. "Kau tahu yang kumaksud bukanlah tidur yang begitu. Sekarang buka kuncinya, Simon. Aku mau keluar."
"Ann ... aku akan menambah utangku, jawab satu lagi pertanyaanku, lalu aku akan membuka pintunya ...."
Anna yang berusaha membuka pintu mobil tiba-tiba berhenti bergerak. Simon tidak dapat melihat wajahnya karena Anna menghadap ke arah kaca. Melihat wanita itu diam saja, Simon melanjutkan perkataannya.
"Kau dan Martin ... selama tahun-tahun pernikahanmu-"
"Berhentilah, Simon. Buka pintu ini, aku mau keluar. Aku lelah, kumohon ...."
Simon diam dan menunggu apakah Anna akan berbalik menatapnya, namun setelah beberapa detik yang terasa amat lama, Simon tahu Anna tidak akan berbalik melihatnya.
"Baiklah, maafkan aku. Aku terlalu ingin tahu kehidupanmu ...."
Simon kemudian membuka pintu, ia keluar dan bermaksud membukakan pintu Anna, namun wanita itu sudah turun dari mobil dan menutup sendiri pintunya.
"Kemarikan kuncinya," ucap Simon.
Anna mencari-cari di dalam tas kecilnya, menemukan kunci dan memberikannya pada Simon. Ia tidak mau mendebat pria itu, ia hanya ingin cepat masuk, lalu beristirahat.
Mereka naik ke beranda. Simon membuka kunci pintu, lalu masuk dan berjalan kesana kemari hingga ke dapur Ann. Pria itu bahkan mengintip sedikit ke arah pintu kamar Anna yang terbuka.
"Kau sedang apa?" tanya Anna sambil meletakkan tas kecilnya di atas sofa, lalu ia membuka jas Simon yang masih ia pakai. Setelah kembali dari pantai, Anna benar-benar memakai jas itu ke tubuhnya, meskipun kilau di mata keluarga Simon, Nyonya Luna maupun Mrs. Sanders membuatnya jadi sedikit tidak nyaman, namun Ann masih bisa menahan. Ia akan sangat malu jika ada yang melihat jejak merah di kulitnya, meski Anna yakin kissmark itu tersembunyi di balik gaun, namun ia tidak yakin apakah leher atau lengan atasnya bebas dari kemerahan, ia mengingat kalau bibir Simon menjejak turun dari bibir ke lehernya, lalu tangannya mengelus kemana-mana, lebih aman bersembunyi dengan ditutupi jas Simon.
"Hanya memeriksa."
__ADS_1
"Semuanya aman kan, Ini ... kenakan kembali jasmu. Terima kasih, aku jadi tidak kedinginan." Anna mengulurkan jas pada Simon.
"Alasan yang bagus," ucap Simon dengan nada geli.
"Alasan? Alasan apa?"
Tawa geli Simon semakin kencang. "Alasan kau tetap memakai jasku setelah kembali dari pantai."
"Maksudmu?"
"Kau menyembunyikan sesuatu atau menutupi sesuatu dengan jas itu."
"Itu kan yang kau pikirkan."
"Itu juga yang semua orang pikirkan Anna Sayang." Simon terkekeh, "mereka semua pasti mengira aku melakukan sesuatu padamu."
Anna menganga, wajahnya mulai merona. Apakah ia malah memberi petunjuk dan membuat berbagai dugaan melintas di kepala semua orang saat kembali dari pantai bersama Simon.
"Jangan terkejut begitu. Kau pergi berdua dengan pria tampan yang pandai merayu wanita. Tentu saja mereka tidak akan percaya kalau aku hanya berjalan-jalan menikmati ombak laut di malam hari bersamamu." Simon masih tertawa, ia berjalan mendekat dan berhenti di depan Anna.
"Kau membuat pikiran mereka berkelana kemana-mana. Meskipun sebenarnya itu memang benar. Aku memang menciummu," Simon mengambil jasnya dari tangan Anna dengan wajah menunduk dan mata tidak lepas dari wajah Anna.
Tangan kanan Simon terangkat, menangkup pipi kiri Anna dan mengelusnya dengan sangat lembut.
"aku tidak menyesal sudah menciummu, aku tidak akan minta maaf. Aku bahkan ingin melakukannya lagi ...." Simon mengelus bibir Anna dengan ibu jarinya.
"Jangan menghindariku setelah ini. Apapun yang membuatmu tidak nyaman, tidak suka, tidak ingin ... kau hanya perlu mengatakannya padaku. Aku tidak akan pernah memaksamu, tapi izinkan kami, aku dan Leon untuk lebih dekat denganmu ... kau ibu guru kesayangan Leon dan sekarang seorang sahabat kesayanganku," ucap Simon.
Simon menunduk, mengecup lembut dan mesra bibir Anna. Awalnya ia hanya ingin memberikan kecupan selamat tinggal, namun ketika mencecap rasa manis bibir wanita itu, ia merasa membutuhkan lebih. Simon memagutt, memcecap dan menelusuri bagian kenyal dan sangat menggoda itu hingga darahnya kembali memanas.
Suara dering ponsel dari dalam tas kecil Anna di atas sofa memberi pengalihan dari ciuman yang mulai memanas tersebut. Anna segera mundur dan melepaskan diri. Secepat kilat meraih tasnya dan mengambil ponsel.
"Halo," sapa Anna dengan suara serak. Ia tidak berani menatap ke arah Simon.
"Leon?" Anna menjauhkan ponsel dari telinganya dan melirik ke arah layar. Melihat jam yang tertera di layar, lalu mengernyit.
"Leon, kenapa belum tidur? Ini sudah malam."
"Leon sudah siap tidur, sudah sikat gigi dan pakai piyama. Tapi Leon belum memastikan Mam Anna sudah tiba di rumah apa belum. Mam juga harus segera tidur. Besok kita akan ke sekolah. Jadi tidak boleh terlambat bangun."
Anna jadi tersenyum mendengar ocehan bocah itu. "Mam sudah sampai di rumah. Ini Daddymu baru saja akan pulang."
"Baguslah. Daddy memang terbaik! Umm ... boleh Leon bicara dengan Dad sebentar Mam?"
"Oh, tentu." Anna mengulurkan ponsel pada Simon.
"Leon?" tanya Simon.
Anna mengangguk.
"Aktifkan speakernya saja," ucap Simon. Ia masih berdiri di tempatnya tadi sambil memasukkan kedua tangan ke dalam kantong celana, menahan tangannya agar jangan meraih Anna lagi. Mengatakan pada dirinya sendiri agar menahan diri dan bersikap perlahan, meskipun yang ia inginkan saat itu adalah meneruskan apa yang baru saja mereka lakukan.
"Dad?"
"Ya. Ini Daddy."
"Daddy sudah mau pulang?"
"Ya. Sebentar lagi."
"Kalau begitu Leon titip sesuatu untuk Mam, Dad."
__ADS_1
"Titip apa?"
"Tolong berikan ciuman selamat malam dari Leon. Tadi Leon hanya memeluk Mam Ann saat berpisah. Leon belum mengucapkan selamat malam."
Simon dan Anna berpandangan. Sinar geli mulai menari-nari di mata Simon ketika melihat mata Anna yang melebar.
"Baiklah. Dad akan melakukannya. Itu saja? Tidak ada yang lain?"
"Lakukan sekarang, Dad."
"Baiklah ... Ann, Leon mengucapkan selamat malam, tidur yang nyenyak agar besok bisa bangun pagi-pagi dan ke sekolah bersama Leon." Simon mengucapkannya dengan keras agar Leon mendengar.
"Ya, begitu. Jangan lupa cium Mam Ann untuk Leon, Dad!"
Simon benar-benar tertawa sekarang. Anna terlihat menunduk dan menutup matanya dengan satu tangan. Tangannya yang lain tetap memegang ponsel dan mengarahkannya pada Simon.
"Dad sudah melakukannya dari tadi, Bocah."
"Yeay! Daddy memang terbaik! Kalau begitu sudah dulu ya. Sampaikan salam Leon. Leon tidak sabar bertemu Mam lagi di sekolah!"
Sambungan itu berakhir. Anna meletakkan ponselnya di atas meja, lalu mendongak menatap Simon.
"Bagaimana? Satu ciuman lagi, kecupan selamat malam dari Leonard un-"
Simon berhenti, lalu bergerak dengan gesit untuk mengelak dari bantalan sofa yang dilempar Anna ke arahnya.
"Pulanglah!" teriak Anna.
Tawa Simon menggema, matanya melahap rakus pemandangan wajah Anna yang merona dengan bibir lembab yang baru saja ia cium. Wajah yang semakin melekat dan selalu terbayang sesaat sebelum ia tidur, membuat ranjangnya yang selama ini terasa nyaman meski ia tidur sendiri sekarang terasa terlalu besar, terlalu lebar dan kosong. Semakin terasa berat ketika ia sudah tertidur dan Anna masuk ke dalam mimpi-mimpinya, adegan yang membuat Simon berharap agar jadi kenyataan. Namun ia terbangun dan mendapati ranjangnya kosong. Hanya dirinya sendiri, berkeringat dan mendamba.
"Aku pulang, Ann. Selamat malam. Kunci pintunya sekarang!"
Simon berbalik, berjalan cepat keluar dan berdiri di beranda. Ia menunggu Anna menutup dan mengunci pintu.
"Selamat malam, Simon. Aku tutup pintunya," ucap Anna.
Simon masih berdiri di sana setelah Anna mengunci pintu. Ia menatap lama ke daun pintu yang tertutup.
Aku akan segera membuat mimpiku jadi kenyataan ... dan kuyakinkan itu akan sangat memuaskan dan membahagiakan bagi kita berdua.
Simon melangkah menuruni undakan tangga pondok menuju mobilnya. Setelah masuk dan menghidupkan mesin mobil, sekali lagi ia menatap ke arah beranda Anna.
Sepertinya aku harus membuat sebuah rencana. Mungkin membawamu ke suatu tempat dimana kau hanya bisa bergantung padaku, kau tidak bisa menghindariku. Membuatmu terbiasa dengan sentuhanku ....
Senyum simpul tersungging di bibir Simon, sebuah pikiran menyenangkan terlintas di kepalanya. Sambil bersiul, ia mulai mengendarai mobil dan perlahan menjauh dari pondok Anna.
NEXT >>>>>
**********
From Author,
Q : Dad, bagi tahu rencananya boleh?
A : No, No, No ....
ih, pelit!
Author ngomong ma readers ajalah.
Hai semuanya, jangan lupa klik like, love bintang lima dan komentar. Juga bagi hadiah vote untuk PS ya, Jadi penyemangat buat author untuk terus lanjutin ceritanya. Buat yang udah dukung PS maupun karya-karya saya yang lainnya, author mengucapkan terima kasih banyak. Semoga bahagia dan sehat selalu ya, Aamiin....
__ADS_1
Sekali lagi terima kasih. Luv youu
Salam. DIANAZ.