Pengantin Simon

Pengantin Simon
33. New life


__ADS_3

Leon membuka matanya perlahan-lahan. Cahaya lampu kamar membuat kedua matanya menyipit.


"Kau sudah bangun? Perlu Mommy matikan lampunya?"


Leon menoleh, mendapati dua ibunya sudah duduk di salah satu sisi ranjang.


"Mom Mary ... Mom Cat ...." desahnya pelan.


Catalina yang dipanggil Mom Cat mengambil segelas air, lalu duduk di kepala ranjang. Membantu Leon bersandar dan menyusun bantal di belakang kepala bocah itu.


"Minumlah ... pelan-pelan," ucap Catalina. Setelah Leon selesai minum, ia duduk kembali di samping Mary.


Dua wanita tersebut memandangi Leon dengan pandangan khawatir. Mommy Mary adalah kakak dari Catalina atau biasa dipangggil Catty oleh suaminya Claude Bernard.


Seharusnya Catty menjadi Bibi bagi Leonard. Namun, karena Catty lah yang mengasuh Leon dari bayi, Leon memanggilnya Mommy.


"Bagaimana perasaan Leon? Ada yang sakit?" tanya Mary.


Leon menggeleng, lalu teringat ayahnya dan Mam Ann.


"Daddy?"


"Daddy Simon baik-baik saja. Sekarang sedang melihat keadaan Mam Ann," ucap Mary.


Leon seketika duduk di atas ranjang. "Leon mau kesana!"


Catty berdiri, membelai rambut anak itu dan tersenyum menenangkan.


"Mam Ann sedang dalam perawatan. Ia butuh istirahat tanpa diganggu agar luka-lukanya cepat sembuh. Leon pasti ingin Mam Ann cepat sembuh bukan?"


Leonard menganggukkan kepalanya.


"Kaki Mam Ann memang terluka dan robek. Pasti sakit sekali saat dijahit," ucap Leon sambil bergidik.


Catalina dan Mary saling berpandangan. Memutuskan lebih baik menyimpan dulu apa yang sebenarnya terjadi pada Anna.


"Leon juga harus istirahat. Agar bisa cepat pulang dan bertemu semuanya," ucap Mary.


"Semuanya ada di sini?"


Catalina dan Mary mengangguk. Tahu bahwa Leon menanyakan keberadaan sepupu dan adik-adiknya.


"Baiklah ... Nanti saja Leon melihat Mam Ann ...."

__ADS_1


Di lain lorong pada rumah sakit yang sama, Simon sedang berdiri di depan sebuah pintu dan memandang ke arah dalam lewat kaca kecil yang ada di pinggir pintu. Operasi Anna berjalan lancar, namun wanita itu belum juga sadar.


Langkah kaki yang tergesa mendekat membuat Simon menoleh. Ia mendapati Mrs. Sanders kepala sekolah Rainbow Kindergarten mendatanginya.


"Anda sudah datang ... maafkan aku mengganggu Anda."


"Tidak. Aku berterimakasih Anda menghubungiku, Mr. Bernard. Bagaimana Anna ...."


Simon membuka pintu, mengajak Mrs. Sanders masuk. Setelah berdiri di samping tempat tidur Anna, mata Mrs. Sanders berkaca-kaca. Ia duduk di samping ranjang, memegangi tangan Anna.


"Apa yang sebenarnya sudah terjadi? Anna?"


Tidak ada jawaban dari tubuh Anna yang terbaring diam di atas tempat tidur. Genggaman tangan Mrs. Sanders juga tidak berbalas. Tangan Anna lemas dan tidak berdaya. Hanya dadanya yang bergerak teratur seiring napasnya yang dibantu dengan oksigen.


"Mr. Bernard ... bisakah ceritakan apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Nyonya Sanders.


"Simon, Nyonya. Panggil aku Simon. Sebaiknya kita bicara di luar."


Mrs. Sanders mengangguk, setelah mengelus tangan Anna sekali lagi, ia bangkit dan mengikuti Simon keluar. Mereka duduk di kursi panjang yang ada di lorong depan kamar perawatan Anna.


Simon menceritakan semuanya pada wanita tua itu sampai akhirnya Anna dibawa ke rumah sakit.


"Kurasa inilah alasan kenapa ia ingin tinggal sendiri di pondok itu. Jika suaminya datang, ia tidak mau ada yang menjadi korban. Naas Leon sedang bersamanya ketika Martin datang," ucap Mrs. Sanders.


"Ya, tapi syukurlah semuanya sudah berakhir."


"Belum."


"Berjanjilah jangan ada satu pun diantara mereka yang bisa melihat Anna sebelum ia sadar penuh. Kecuali Anna sendiri yang mengizinkan mereka bertemu dengannya," pinta Mrs. Sanders.


"Ya. Itulah rencanaku ...."


"Sudah cukup Martin yang menekan hidup Ann selama bertahun-tahun ... sekarang ketika Martin tiada, aku tidak mau keluarganya yang mengambil alih ... Anna berhak menentukan kehidupannya sendiri setelah ini. Keluarga Andreas tahu penderitaan Anna ... mereka tahu Martin sakit, namun mereka diam saja ... mereka lepas dari Martin dengan mengorbankan hidup Anna ... mereka tidak peduli ...."


Simon menganggukkan kepalanya. Setelah melirik ke arah pintu kamar, ia teringat cerita Anna tentang Nyonya Luna yang membantunya melarikan diri dan mengirimnya pada Mrs. Sanders.


"Mrs. Sanders ... bisakah Anda memberitahu Nyonya Luna? Aku ingin orang-orang yang menyayangi Anna berada di dekatnya. Aku harap ia cepat bangun ...."


"Ah ... kau tahu Luna ... berarti Ann sudah menceritakan kisahnya padamu?"


"Ya. Ann mengatakan, Nyonya Luna dan Anda telah menyelamatkan hidupnya, ia akhirnya bisa pergi meninggalkan Martin. Apalagi setelah ia tahu bahwa Nuella telah tiada ... Nuella yang ia kira masih dalam perawatan. Martin sudah berbohong begitu lama...."


Mrs. Sanders menggeleng.

__ADS_1


"Tidak. Kau salah, Simon. Anna masih bertahan berada di samping pria itu meskipun sudah tahu Martin berbohong tentang Nuella ... ada penyebab lain yang membuat ia pergi."


Simon lalu teringat akhir dari cerita Anna sebelum wanita itu muntah dan berhenti bercerita saat di dalam hutan.


"Ada hubungannya dengan Gery?"


Mrs. Sanders terlihat terkejut. "Anna menceritakan tentang Gery juga padamu?"


"Tidak. Ia muntah dan tampak sakit ketika tiba di bagian Gery. Ada apa sebenarnya?"


Mrs. Sanders menarik napas panjang. Bersandar ke dinding dan memeluk tas tangannya.


"Anna bercerita semuanya padamu, Simon. Kuanggap ia sudah sangat mempercayaimu sebagai temannya. Dia tidak pernah begitu saja menceritakan kisah hidupnya pada orang lain. Ia juga tidak pernah dekat dengan siapapun, termasuk dengan sesama rekan di taman kanak-kanak, ia menjaga hubungan profesional dan menjauhkan tentang masalah pribadi. Fakta ia mengatakannya padamu berarti ia mempercayaimu ... Keluarga Andreas menyinggung masalah pernikahan Martin dan Anna yang sudah berlangsung enam tahunan namun belum dikaruniai keturunan." Mrs Sanders kemudian tertawa sinis sebelum lanjut berbicara.


"Aku tidak tahu mereka benar-benar tidak tahu, atau hanya berpura-pura tidak tahu atas kelemahan anak mereka. Namun karena ocehan tersebut, Martin mempunyai ide gila untuk membuat Anna segera hamil."


Simon mengernyit, berbagai pikiran buruk berlintasan di kepalanya. Namun ia hanya diam menunggu agar Nyonya Sanders segera bicara lagi.


Mrs. Sanders mendengus keras. "Martin tidak mampu melakukannya sendiri. Kau tahu, Simon ... Anna mengatakan kalau suaminya itu impoten. Jadi ia mengajukan ide untuk mengadopsi saja jika memang Martin ingin punya anak. Tapi pria kejam itu malah memiliki pikiran gila dengan mencari seorang pria yang memiliki warna rambut seperti dirinya, warna mata seperti matanya dan sosok yang menyerupai tubuhnya. Pria yang setiap hari pekerjaannya hanya mabuk, yang mau melakukan apapun agar mendapatkan uang untuk membeli minuman! Orang yang Martin bayar untuk membuat istrinya hamil! Pria itulah Gery ... menjijikkan bukan?"


Simon menggeretakkan geraham dan mengepalkan tinjunya.


"Rencana Martin, setelah Anna hamil, ia akan pindah ke rumah baru. Lalu mengundang keluarganya untuk merayakan kehadiran calon keturunannya." Mrs. Sanders tertawa pahit. " Saat itu, Luna temanku sudah merasa heran dengan kehidupan Anna yang tertutup. Berbagai usaha yang ia tempuh untuk mengenal Anna seolah ditolak secara halus. Kemudian tiba-tiba Anna sendiri yang berusaha mendekatinya, Anna memutuskan mencari bantuan untuk melarikan diri. Entah bagaimana Luna berhasil membantunya pergi dan mengirimnya padaku ...."


Simon mengusap wajahnya perlahan-lahan.


"Anna beruntung bertemu Nyonya Luna dan Anda, Mrs. Sanders ... kadang sebagian orang bahkan tidak peduli sama sekali dengan apa yang terjadi di dalam rumah tetangganya. Meski ia tahu kekerasan sudah terjadi."


Mrs. Sanders tersenyum, tanpa sadar menepuk lengan Simon.


"Dan Anna beruntung bertemu denganmu juga Leon. Kuharap penderitaannya berhenti sampai di sini."


Simon menganggukkan kepala. Ia jadi ingin melihat lagi sosok Anna. Ia bangkit dan berdiri di depan pintu, menatap ke arah ranjang rumah sakit.


Bangunlah ... Leonard mencarimu, Ann ... buka matamu dan akan ku tunjukkan kehidupan yang berbeda padamu. Yang tidak hanya diisi oleh penderitaan dan kesedihan ... hidup baru tanpa Martin ....


NEXT >>>>>>>


**********


From Author,


Selamat membaca ya readers. Tekan likenya sebelum meninggalkan part ini, love, bintang lima, komentar dan vote hadiahnya ya.

__ADS_1


Atas dukungannya otor ucapin terimakasih banyak.


Salam. DIANAZ.


__ADS_2