Pengantin Simon

Pengantin Simon
72. Pick-up plan


__ADS_3

Simon sarapan pagi bersama Claude, Catalina dan anak-anak mereka. Catty tampak penasaran pada Simon, ia ingin tahu apa yang dikatakan Leon pada ayahnya itu sebelum pergi ikut Mary dan Alric tadi malam.


"Apakah Leon mengatakan padamu apa sebabnya ia selalu sedih beberapa hari ini?"


"Sedih? Emm ... tidak. Kurasa karena Paman Hamilton sedang sakit?"


Catalina menggelengkan kepala. "Kurasa bukan karena itu saja. Apa yang ia katakan sebelum pergi tadi malam?"


"Tidak ada. Hanya bilang selamat tinggal, dia mau menghabiskan libur bersama Valencia dan Aislin."


"Ck! Kau sama sekali tidak peka! Ada sesuatu yang mengganjal di hati Leon. Aku tahu itu!"


Claude mengulurkan tangan, menggenggam sebelah tangan istrinya.


"Ia akan bicara jika sudah ingin, Sayang. Mary akan memberitahu kita."


Catty mengangguk. Ia melirik Simon yang sempat berhenti menyuap, sedikit mengernyit seolah tidak mengerti sebenarnya masalah apa yang sedang dibicarakan kakaknya.


Dering ponsel mengalihkan perhatian Simon. Ia segera memeriksa dengan mulut masih mengunyah makanan, membuat Claude mengeluarkan ceramah singkat melihat sikap adiknya itu.


"Apapun berita yang datang tidak akan membuatmu ketinggalan jika membacanya setelah sarapan, Simon! Seharusnya benda itu kau jauhkan dahulu! Kau meng-"


Claude terdiam ketika melihat adiknya itu mengangkat tangan, memberi kode agar Claude jangan bersuara, wajahnya tampak serius.


"Siapa? Seorang laki-laki?" tanya Simon pada orang yang bicara dengannya di ponsel.


"Tampak berumur?" tanyanya lagi.


"Mengikutinya dari penginapan?"


"Dia menuju pemakaman? Tempat itu pasti sepi! ... kau jangan kehilangan jejak!"


"Ya! Ambil foto sebaik yang kau bisa. Tampak depan jika memungkinkan!


Catty dan Claude saling berpandangan mendengar percakapan satu arah tersebut. Mereka tidak tahu siapa yang menelpon. Simon mengambil gelas minum, meneguk habis isinya sambil mematikan ponsel.

__ADS_1


"Vincent masih di rumah sakit?" tanyanya pada Claude.


"Ya. Ada apa?"


"Maafkan aku. Aku ada perlu dengan Vincent. Aku pergi dulu!"


**********


"Kau sudah menerima gambarnya?" tanya Simon pada Vincent yang duduk di sebelah kanan ranjang Hamilton.


"Ya ... tapi Blaird belum memberi kabar."


"Ck!"


"Bersabarlah."


Hamilton membuka mata, menatap Vincent di sebelah kanannya lalu berpindah pada Simon di sebelah kirinya.


"Ada apa?" tanya pria tua itu.


"Ah, tidak, Paman. Hanya masalah kecil tentang Anna," jawab Simon singkat, tak lupa tersenyum gembira agar lelaki tua itu tidak khawatir.


"Ck! Paman butuh istirahat. Jangan mengoceh, Vincent!" Simon mendelik.


"Dan dia diam-diam mengirim orang untuk mengawasi Anna. Agar Anna aman dan dia bisa merasa tenang. Namun, pagi ini, dia menerima kabar kalau seorang pria mengikuti Anna sejak wanita itu keluar dari penginapan."


"Anna akan baik-baik saja. Orangmu itu akan menjaganya kan?" Simon bersedekap. Menyipit memandang Vincent. Tidak setuju Vincent menceritakan masalah itu saat Paman Hamilton sedang butuh istirahat.


"Kalau begitu ...." Hamilton berhenti sejenak, tampak lemah untuk bicara, namun tetap berusaha menyampaikan kata-katanya.


"Kenapa kau masih di sini, Bocah? Bawa menantuku kemari. Tak kusangka kau lamban dari Claude dan Alric. Mereka lebih cepat menangkap Catty dan Mary daripada dirimu."


Simon membelalak kan mata. Vincent terbahak sambil menutup mulut agar tawanya sedikit teredam.


"Paman benar-benar baik-baik saja?"

__ADS_1


Hamilton tersenyum, ia menunjuk selang oksigen di hidungnya. "Benda ini sebenarnya sudah tidak perlu. Tapi aku akan mengikuti para dokter baik hati yang sudah merawatku."


Simon tersenyum, mengulurkan tangan menggenggam tangan Hamilton.


"Pergilah. Bawa Ann kemari. Kau juga ingin bertemu dengannya kan?"


Vincent memeriksa ponselnya yang tiba-tiba berdering. Setelah membuka sebuah pesan, ia menunjukkannya kepada Simon. Pesan balasan dari Blaird.


"Ini. Tuan Mario Barnes. Kau kenal?"


Simon mengertakkan giginya.


"Itu ayah angkat Anna ...." Simon meremas tangan Hamilton. "Aku benar-benar bisa pergi?"


Hamilton mengangguk.


Terdengar lagi dering ponsel, kali ini milik Simon yang berbunyi. Nama Alric tertera di sana.


"Ya. Alric?"


"Bisakah kau kemari sekarang?"


Simon tersenyum lebar. "Tentu. Aku juga mau ke sana menjemput putraku. Kami ada sedikit pekerjaan."


Simon menutup sambungan, lalu menatap Pada Hamilton dan Vincent.


"Pergilah. Bawa Leon juga. Dia pasti sangat senang," saran Vincent.


Setelah mengangguk dan kemudian menunduk untuk mencium pipi Hamilton. Simon keluar dari ruang perawatan. Melangkahkan kakinya menuju ke Mansion Lucca, tempat Leon yang baru satu malam menginap. Ia akan pergi ke White Clouds menjemput Anna bersama Leonard.


**********


From Author,


Jangan lupa Like, love, bintang lima dan komentar serta vote PS ya.

__ADS_1


Otewe menuju End. Mohon dukungannya ya readers tersayang.


Salam. DIANAZ.


__ADS_2