Pengantin Simon

Pengantin Simon
54. Ma tu re


__ADS_3

"Simon. Turunkan aku. Aku bisa jalan sendiri."


Anna meronta ketika mereka sudah tiba di luar, namun Simon belum menurunkannya.


"Tunggu sampai mobil."


"Astaga ... kau kira aku anak kecil!"


"Badanmu cukup kecil."


"Ya. Tapi aku wanita dewasa! Tubuhku saja yang kecil!"


Simon seketika berhenti. Ia menurunkan Anna.


"Dewasa? Kenapa aku merasa seperti sedang menggendong Leon?"


Anna menepuk pelan dada Simon yang tersenyum geli.


"Jangan menggodaku," ucap Anna.


Simon mencuil dagu wanita itu sambil tertawa. "Tapi aku suka menggodamu. Ayo, kita pulang saja. Kau pasti lelah."


Simon menggandeng tangan Anna, bersama-sama mereka menuju tempat parkir.


Anna berjalan satu langkah di samping Simon, ia menyentuh pelan dagunya yang tadi dicolek oleh pria itu, lalu matanya melirik tangan mereka yang saling menggenggam.


Anna merasa hatinya menjadi hangat dan juga bahagia. Simon benar-benar tulus dalam hubungan pertemanan mereka. Ia selalu membuat Ann merasa nyaman dan aman. Namun, terkadang sikap dominan yang ditunjukkan pria itu membuatnya merasa sedikit takut. Anna tidak mau kebebasannya hilang, cukuplah dulu dengan Martin ia mengalami hal itu.


Mereka masuk ke dalam mobil dan kemudian melaju menuju pondok Anna. Obrolan seputar Leon mengisi perjalanan, selalu membuat hati Anna menjadi riang.


Ketika tiba di depan pondoknya, mereka baru saja berbagi tawa bangga tentang Leon yang sudah berteman akrab dengan Jessi.


"Aku masuk dulu," pamit Anna. Wajahnya tersenyum, tampak sangat senang.


Simon merasa tidak suka menghilangkan senyum di wajah wanita itu, tapi ada kabar yang harus ia sampaikan. Ia sudah menunda cukup lama, dan orang-orang itu sudah mendesak berulang kali. Tidak ada lagi alasan yang bisa mereka utarakan.


"Ann ... ada yang ingin kusampaikan padamu."


"Ya?"


"Ini tentang keluarga Andreas ...."


Keheningan merebak, Simon menunggu Anna bereaksi. Tapi wanita itu hanya diam termangu memandang ke depan pondoknya.


"Untuk ke sekian kalinya, Nyonya Andreas menghubungi Claude ... kakakku ...."


Anna menolehkan kepalanya, mengerutkan kening menatap Simon.


"Sesudah kejadian beberapa bulan lalu, saat Martin tiada, Keluarga Andreas berkeras ingin membawamu bersama mereka."


Anna menelan ludah. Ia sudah merasa heran keluarga Martin tidak mengganggunya sedikitpun sesudah Martin terbunuh di pulau Abalon. Anna menebak itu pasti karena campur tangan Simon.


"Claude mengatakan pada mereka, keluarga Bernard akan menjadi perwakilan untukmu. Jika kau sudah siap, maka kau akan menemui mereka. Selama ini mereka mengatakan pada Claude kalau mereka ingin kau kembali ke keluarga Andreas. Kau masih menantu, itulah yang mereka katakan. Claude selalu bisa mengelak dan menolak, namun kemarin ... mereka mengatakan alasan mereka ingin bertemu denganmu karena ada satu wasiat Martin yang harus diberikan kepadamu ... mereka menemukannya saat membongkar kamar Martin."


"Ap-apa itu?"


Simon menarik napas panjang. "Sesuatu tentang Nuella, itulah yang mereka katakan. Aku tidak yakin apakah itu benar, namun jika memang ada hubungannya dengan Nuella, kau pasti menginginkannya bukan?"


Anna mengangguk. "Tapi ... aku ...."

__ADS_1


"Kau mau menemui mereka?"


Anna tampak diam dan ragu.


Simon mengulurkan tangannya, menggenggam tangan Anna dan meremasnya dengan lembut. "Kalau kau mau, maka kau tidak akan pergi sendirian. Aku akan menemanimu bila kau mengizinkan ...."


Anna menatap Simon, melihat kesungguhan di mata pria itu.


"Kau sungguh mau melakukannya? Maksudku ... ini ... tidak ada hubungannya denganmu, aku mungkin akan merepotkanmu."


"Tidak masalah dan aku tidak repot."


"Selama ini, Nyonya Andreas pasti selalu mengganggumukan?"


"Tidak. Dia tidak menggangguku, tapi dia mengganggu Claude," ucap Simon sambil tertawa.


"Aku bahkan telah merepotkan keluarga besarmu."


"Tidak. Claude tidak merasa begitu."


Mereka turun dari mobil, berjalan ke arah pondok. Simon membuka pintu yang telah dibuka kuncinya oleh Anna, lalu pria itu masuk. Kebiasaan yang ia lakukan ketika mengantar Anna pulang. Simon akan memeriksa hingga ke dapur Anna.


Anna duduk di sofa, lalu melempar tas ke atas meja. Rasa nyeri di perutnya terasa mulai melilit. Anna biasa merasakan hal itu di hari pertama siklus datang bulannya.


"Kau sakit?"


"Tidak."


"Jujurlah. Kau mengernyit."


"Hanya nyeri sedikit."


Simon mendekat lalu duduk di samping Anna. Pria itu mengulurkan tangan, memijit kening Anna, mengira kepala wanita itu yang sakit. Seketika Anna tertawa geli karena perbuatan Simon.


"Kenapa kau malah tertawa? Apanya yang lucu?"


"Tidak ... tidak ada," Anna tidak dapat menghentikan tawanya ketika melihat mata Simon yang menyipit, jemarinya masih memijit kening Anna.


"Bukannya berterimakasih, kau malah menertawakan aku. Katakan! Apa yang lucu?"


Anna menggeleng, menutup mulutnya dengan telapak tangan.


Perutku yang sakit, tapi kau malah memijit kepalaku, ejek Anna dalam hati.


Simon berhenti memijit ketika melihat sinar mata Anna yang terlihat mengejeknya. Ia mengulurkan lengan dan mengangkat wanita itu, meletakkan ke atas pangkuannya.


Anna menyipit, menatap tidak setuju. "Berhentilah mengangkat, menggendong dan memangku tubuhku seperti aku anak kecil! Aku bukan Leon!"


"Tentu saja kau bukan Leon. Aku tahu perbedaannya," ejek Simon.


"Aku orang dewasa. Kita bisa duduk tanpa saling peluk seperti ini!" Anna berusaha menyingkirkan lengan Simon yang melingkar di sekeliling pinggangnya.


"Kalau begitu katakan kenapa tadi kau tertawa?"


Anna diam, tidak mau menjawab. Ia tidak mau mengatakan kalau perutnya yang sakit, yang akan merambat pada pertanyaan apa sebab dari sakitnya. Mengatakan kalau ia datang bulan!? Itu terlalu memalukan.


"Kau benar ... aku memeluk wanita dewasa ...," ucap Simon.


Anna mendongak ketika mendengar nada suara Simon yang berubah. Ia mendapati mata berwarna gelap itu berkilat memandangi wajahnya. Anna menelan ludah ketika satu lengan Simon terangkat, memegang dagu dan pipinya. Menahan wajahnya agar terus menatap Simon.

__ADS_1


"Wanita dewasa tidak dilarang untuk adegan ini, Ann ...."


Simon menunduk, menyatukan bibirnya dengan bibir Ann. Melakukan sesuatu yang sudah sangat ia rindukan. Mencium wanita itu sekali lagi, acara kencan mereka selama ini hanya diselingi dengan pegangan tangan dan saling menggandeng. Ia hanya bisa memeluk Ann ketika mereka berdansa. Simon bertekad mengenalkan sentuhan lain selain pertemanan pada Anna, ia ingin Anna tahu, ia menginginkan lebih dari apa yang Anna tawarkan.


Simon tidak memberikan Anna kesempatan untuk menghindar, atau menolak ciumannya. Satu lengannya membelit pinggang wanita itu, menahan tubuh Ann tetap di pangkuannya. Satu lagi lengannya menahan dagu Anna, memaksa Ann menerima apa yang tengah ia lakukan dengan bibirnya.


Anna merasa ciuman Simon kali ini begitu berbeda, pria itu mereguk seolah kehausan. Melumatt bibirnya tanpa ampun, meliuk dan menarikan lidahnya di dalam mulut Anna. Ia merasa sesak, sekaligus merasa nikmat, ia merasa tidak tahu malu, karena menyukainya. Tangan Anna menggenggam dan meremass erat bahan kemeja Simon, terkepal di balik jas pria itu.


Di satu kesempatan pria itu berhasil menangkap lidahnya dan menggigit kecil, perasaan seolah terbakar melanda Anna. Ia mendesah, suara yang membuat Simon jadi makin berani, tangan pria itu mulai mengembara, naik dari pinggang Ann menuju ke atas.


Anna merasakan sentuhan telapak tangan Simon dari balik bahan gaunnya. Ia merasa melambung, Simon membujuknya dengan kecupan-kecupan kecil dan pagutann menggoda di bibir bawahnya sebelum pindah ke leher Anna, memberikan kecupan yang lama dan terasa sedikit menyakitkan di kulit Anna.


"Aku ingin melihatmu," bisik Simon, dua kancing teratas gaun Anna telah terbuka, Anna baru menyadarinya ketika merasakan sebuah kecupan yang mendarat di kulit bagian atas lekukan dadanya.


Anna menggigit bibir, Ia tidak dapat meminta pria itu berhenti. Seumur hidupnya pengalaman seperti ini tergolong baru baginya. Dengan Martin ia seperti stop kontak yang dicabut, hingga aliran listriknya tiba-tiba berhenti. Anna dengan cepat padam ... namun sekarang, ia merasa terus menerus dialiri arus. Ia ingin tahu sampai mana arus ini mengantarkannya sampai puncak.


"Katakan padaku ... kau sudah pernah mengalami ini?"


Simon mengecup lagi lekukan atas dada Anna, membuat wanita itu memejamkan mata, lalu jemarinya mengelus belakang leher Anna.


"Su-sudah," desah Anna, seperti kesulitan menjawab.


Simon mengangkat kepala sedikit, tidak suka mendengar jawaban Anna. Dengan satu jarinya Simon mengaitkan renda bra Anna dan menariknya ke bawah, hingga pemandangan indah satu gunung kembar milik Anna terpapar jelas.


"Kalau ini?"


Anna memejamkan mata, menggigit bibirnya kuat-kuat ketika merasakan kelembapan yang melingkupi puncak dadanya. Namun bibirnya kembali terbuka, tidak mampu pagi menahan desahan ketika merasakan kecupann mulut Simon berubah jadi isapan.


"Ini?"


Kali ini puncak dadanya mendapatkan jilatann.


"Sim-"


"Jawab saja aku."


"Ti-tidak. Bel ... lum ...."


Simon menyeringai. "Gadis pintar ...." Ia mengecup kulit di samping puncak dada Anna, memberi tanda kemerahan yang membuat Anna kembali menggenggam kemejanya kuat-kuat.


Simon merasakan alarm berbunyi di otaknya ketika bagian tertentu dari tubuhnya sudah bangkit.


Berhentilah, Bodoh! Ia belum siap untuk ini!"


NEXT >>>>>


**********


From Author,


Otor : "Heiiiii, Daddy! Ngajarin Mamnya pelan-pelan ae ah! " (melotot) .Tapi .... hayuk ah dilanjutin... hahahhahaha (malu-malu meong)


Para readers Dad Simon, vote hadiah dong untuk Daddy, biar otor semangat up tiap hari. wkwkwkkw, paling gak kopi biar melek terus ngetik, atau kalo gak bunga juga boleh biar wangi ni kamar otor yang sumpek , love, kursi pijat, silet, piala apalagi, itu mah diterima dengan senang hati wkwkkwkwk,


Jangan lupa part ini dikasih like ya, bintang lima and love bagi yang belom klik. Terima kasih, para readers kesayangan Costra, eh salah, Daddy Simon. (Tetiba aku kangen Kang Costra.........)


Makasih banyakkkkk. Luv you...


Salam. DIANAZ.

__ADS_1


__ADS_2