
Simon bernapas lega melihat Anna bersikap seperti biasa ketika mereka kembali dari pinggir pantai. Anna tersenyum, berpelukan, menanggapi candaan, dan menjawab pertanyaan yang dilontarkan kepadanya.
Setelah mengobrol beberapa saat, Simon melihat ke arah jam tangan dan memutuskan sudah saatnya ia mengantar Anna pulang.
Setelah berpamitan dan masuk ke dalam mobil. Sikap Anna terasa berbeda. Senyumnya hilang, tidak ada percakapan sama sekali, hanya diam dan membiarkan keheningan merebak. Simon membiarkan saja hal itu, membiarkan Anna sibuk dengan pikirannya sendiri.
Setelah memasuki jalur menuju pondok Anna, Simon bertanya dengan mata tetap menatap ke arah depan.
"Besok kau mulai masuk kembali bukan?"
Anna yang sejak tadi hanya termenung mengerjapkan mata, lalu menjawab tergagap. "Be-besok?"
"Iya. Besok kau sudah masuk sekolah kembali kan? Tadi Mrs. Sanders yang mengatakannya padaku." Simon menghentikan mobil ketika sudah sampai di halaman depan pondok Anna.
"Ah, ya. Itu benar."
"Bersiaplah pagi-pagi. Kami akan menjemputmu."
"Apa!? Itu tidak perlu. Aku bisa pergi sendiri."
"Aku tahu itu. Namun, apa salahnya pergi bersama."
Anna mengembuskan napas panjang. Nada suara Simon terdengar tegas, ia yakin pria itu siap beradu kata dengannya. Tapi Anna tidak ingin melayani pria itu, ia merasa lelah.
"Terserah kau saja," ucap Anna sambil mencoba membuka pintu mobil. Namun pintu itu sama sekali tidak mau terbuka. Otomatis ia menoleh ke arah Simon.
Simon tersenyum melihat Anna yang menatapnya. Awalnya wajah wanita itu bingung, lalu berubah kesal ketika tahu Simon memang sengaja tidak membiarkannya keluar dari mobil.
"Buka kuncinya!" perintah Anna.
"Tidak. Aku perlu bicara denganmu."
"Aku lelah. Aku sedang tidak mau bicara."
"Kau baru saja bicara, Ann sayang," ucap Simon sambil terkekeh geli.
Anna menyipitkan mata, menatap Simon yang malah balas menatapnya dengan alis terangkat. Pria itu sejak tadi seolah siap beradu mulut dan memiliki berpuluh pertanyaan yang ingin diajukan padanya. Anna tidak akan mudah meloloskan diri.
Terkurung dalam mobil dan tidak dapat melakukan apa-apa, Anna akhirnya bersandar di kursi, menatap ke arah beranda pondoknya sambil bersedekap.
"Bicaralah ... apa yang ingin kau katakan."
"Bukan katakan, tapi tanyakan."
"Aku mendengarkan ... namun mau menjawabnya atau tidak sepenuhnya adalah hakku, keputusanku."
Simon menggelengkan kepala. "Tidak. Kau harus menjawabnya, namun aku memberikan kelonggaran. Kapan kau akan menjawabnya merupakan keputusanmu, tapi tetap harus di jawab."
Simon tertawa mendengar Anna mendengus.
"Berapa tepatnya umurmu?" tanya Simon.
"Dua puluh enam."
"Berapa tahun kau menikah?"
"Lebih kurang ... lima atau enam tahun." Anna tertawa hambar setelah mengucapkan kalimat itu. "Aku bahkan lupa kapan aku menikah ... itu bukan sesuatu yang ingin aku kenang."
Simon baru saja akan mengucapkan pertanyaan berikutnya saat Anna menoleh dengan satu telapak tangan terangkat, menghentikan ucapannya.
"Tunggu! Sebenarnya untuk apa kau menanyakan semua itu!?
__ADS_1
Simon mengatur nada suaranya agar terdengar meyakinkan. "Ann ... kita berteman bukan? Kau bahkan sudah menceritakan sedikit tentang kehidupanmu dengan Martin sebelumnya. Aku ingin tahu semua tentangmu. Seorang sahabat pasti tahu semua tentang kehidupan sahabatnya, seorang sahabat juga dapat dipercaya untuk jadi tempat menceritakan segala sesuatu."
Anna terlihat tersenyum kecil mendengar ucapan Simon.
"Itu berlaku timbal balik. Kau sudah mengajukan dua pertanyaan. Aku juga akan bertanya padamu. Satu pertanyaan darimu, maka aku juga berhak mengajukan satu." Anna tersenyum penuh kemenangan melihat wajah Simon yang terkejut.
"Bagaimana?" tanya Anna.
Simon terlihat mengerutkan kening.
"Baiklah. Peraturannya sama untukku. Semua pertanyaan akan kujawab, tapi kapan waktu aku menjawabnya merupakan keputusanku."
"Sepakat!" jawab Anna bersemangat, ia bergerak menghadap ke arah Simon.
"Berapa umurmu ketika Leon lahir?"
Simon diam sejenak, lalu senyum masam tersungging di bibirnya. Bila ia menjawab pertanyaan Anna, maka wanita itu dapat menjawab dua pertanyaan sekaligus. Anna tahu berapa umur Leon. Jika ia tahu berapa umur Simon saat Leon lahir, maka Anna akan tahu berapa umurnya saat ini. Anna hanya tinggal menambahkan.
"Dua puluh lima," jawab Simon.
Anna menghitung dalam hati. Menambahkan dengan umur Leon dan mendapati umur Simon sudah 31 tahun.
Senyum simpul terlukis di bibir Simon. Tahu kalau tebakannya benar, Anna tengah menebak umurnya.
"Umurku 31," tambah Simon tanpa diminta.
Anna melihat senyum simpul pria itu dan tahu jika Simon tahu apa yang ia pikirkan.
"Selanjutnya? Pertanyaan apa lagi? Satu pertanyaan lagi dan selanjutnya giliranku." Simon menunggu Anna yang sepertinya berpikir pertanyaan apa yang akan ia lontarkan berikutnya.
"Perlu kubantu? Mungkin kau ingin tahu kenapa aku dan Mary tidak pernah menikah?" Simon mengakhiri ucapannya dengan tersenyum ketika melihat Anna langsung menatapnya dengan wajah terkejut.
"Kau dan Mary tidak pernah menikah?" tanyanya kebingungan.
Simon menggeleng.
"Itu hanya dugaanmu bukan?" Simon bergerak menurunkan sandaran kursinya. Ia menatap lurus ke arah beranda Anna dan memulai cerita tanpa diminta.
"Aku melakukan sebuah kesalahan di masa lalu. Tapi kalau boleh kukatakan, aku tidak pernah menyesal. Leonard bukanlah kesalahan, dia keajaiban ... Aku berkenalan dengan Marylin di sebuah klub malam. Dia pekerja di sana. Saat itu ... well ... aku menghabiskan seluruh waktuku hanya untuk bersenang-senang. Menghambur-hamburkan uang, pergi kemanapun aku ingin dan melakukan apapun yang aku suka." Simon tertawa, ia menoleh ke arah Anna dan mengedipkan mata.
"Aku yakin, saat itu Yoana dan Claude sering sekali ingin mencekik leherku dan memukulku habis-habisan." Tawa Simon menggema di dalam mobil, membuat bibir Anna tanpa sadar melengkung tersenyum. Ia tahu dari nada tawa Simon bahwa Claude dan Yoana tidak pernah melakukan itu.
"Aku adalah sumber masalah untuk mereka berdua. Yoana bilang, aku anak yang sangat nakal, sangat merepotkan dan dia tidak akan pernah mau mengurusiku lagi jika aku terus membuat masalah."
"Tapi dia terus melakukannya ... mengurusmu," ucap Anna.
Simon mengangguk. "Ya ... meski dia berkata akan membunuhku ketika tahu masalah yang telah kubuat, ketika bertemu, yang bisa dilakukannya hanyalah menarik telingaku, tapi itu lumayan sakit, sampai terasa seperti mau putus."
Simon dan Anna sama-sama tertawa membayangkan kejadian itu.
"Merekalah yang menyelesaikan semua kekacauan yang aku buat. Termasuk dengan Marylin ... Aku dan Mary berkencan. Aku menyukainya karena menurutku dia sangat cantik."
"Dia masih cantik hingga saat ini," puji Anna.
Simon mengangguk. "Sekarang, setelah kami menjadi satu keluarga karena pernikahan Catty dan Claude, aku tahu kalau Mary saat itu menyukaiku karena sikapku yang ceria, penuh perhatian. Aku tampan dan juga sangat menggoda. Saat itu tubuhku belum sebesar sekarang, jadi Mary tidak takut padaku. Waktu itu Mary punya kecenderungan takut pada para pria bertubuh besar."
Simon mendengar Anna mendengus.
"Kenapa kau mendengus?" tanyanya.
"Dengarlah kata-kata itu. Kau memuji dirimu sendiri, Simon."
__ADS_1
Simon tertawa. "Aku memang begitu. Sejak dulu aku memang menggoda. Mau coba?"
Simon mengulurkan tangan, Anna segera menjauh hingga tubuhnya menempel di pintu mobil.
"Hentikan! Lanjutkan saja ceritamu!" seru Anna.
Simon terbahak melihat ekspresi Anna.
"Singkat cerita, Mary hamil ... aku kebingungan lalu menyuruhnya datang kepada kakakku. Aku ingin mereka yang mengambil keputusan untukku."
"Astaga ... "
Simon bersandar dan meletakkan kedua tangannya di belakang leher.
"Aku bajingan bukan? Itu belum apa-apa dibanding apa yang kulakukan kemudian. Aku menghilang, aku pergi kemari. Berdiam diri di pulau ini bersama Hamilton. Menunggu apapun yang akan diputuskan oleh Claude."
"Lalu?"
"Tidak ada yang terjadi ... aku diam saja, menyimpan kenyataan itu dan brengseknya, aku merasa lega karena Yoana dan Claude tidak pernah memanggilku dan memaksaku menikah. Aku bertanya-tanya, apa yang Mary katakan pada kakakku ketika datang ke mansion kami."
"Apakah Claude dan Yoana tidak mengatakan apa-apa waktu itu?'
"Tidak. Mary mengira Claude dan Yoana sudah tahu kalau dia hamil, padahal mereka tidak tahu ... aku pecundang yang tidak berani mengatakannya sendiri karena tidak mau memikirkan kemungkinan dipaksa menikah. Saat itu ... itu terasa mengerikan."
"Oh, astaga ... apa yang dilakukan Claude dan Yoana ketika Mary datang?"
"Mereka mengusirnya."
Anna menutup mulutnya dengan satu tangan. Menahan diri agar tidak mengucapkan apapun.
"Kami melanjutkan hidup ... aku dengan kehidupanku dan Mary dengan jalannya sendiri. Leonard akhirnya lahir, dan diasuh oleh Catalina, dia seorang perawat di sebuah klinik bersalin saat itu, Leon beruntung ... Bibinya lebih waras saat itu daripada ayah dan ibunya," Simon tertawa mengejek dirinya sendiri.
"Berbulan-bulan ... aku dipenuhi tanda tanya bagaimana nasib Marylin ... seiring waktu, beban rasa bersalah dan pertanyaan tentang bagaimana keadaan bayi yang dikandung Marylin membuatku akhirnya bicara."
"Kau menjemput Leon?" tanya Anna penuh harap.
Simon menggeleng. Ia menoleh menatap Anna. Sinar mata Anna hanya terlihat penasaran. Tidak ada rasa jijik, menghakimi, atau jengkel di mata hijau itu.
"Tidak. Aku menceritakan semuanya pada Paman Hamilton. Lalu Yoana dan Claude yang menangani semuanya. Saat itulah Claude akhirnya bertemu Catalina. Catalina mengasuh Leon seperti ibunya sendiri. Bahkan Mommy satu-satunya bagi baby Leon saat itu hanyalah Catalina. Mary melepas hak itu sepenuhnya ... aku tidak menyalahkannya, kehidupannya saat itu penuh beban dan kesulitan. Aku bersyukur saat pikirannya kusut karena hamil dan ditinggalkan oleh pria brengsek kekasihnya, ia datang kepada Catalina."
"Pasti sangat berat bagi Mary ..."
"Pasti ... Tapi ia selalu memiliki Serge di sampingnya. Seorang sahabat yang selalu membantu dan memberi semangat untuk Mary. Ia juga punya Catalina, Leon, bahkan kami keluarga Bernard, lalu sekarang ia punya Alric ... suami yang mencintainya. Aku senang, Mary akhirnya hidup bahagia."
Anna tersenyum. Menatap Simon yang menatap ke arah atap mobil, terlihat santai dengan tangan terjalin di belakang kepala.
"Mary beruntung."
Simon menoleh, menatap tak berkedip langsung ke mata Anna. Tatapan yang amat serius, tidak ada sinar menggoda ataupun main-main.
"Kami ... aku dan Leon bisa jadi apapun untukmu. Keluargamu, sahabatmu, temanmu ... kau bisa mengandalkan kami, Ann. Aku ingin kau juga merasa beruntung bertemu kami. Seperti kau merasa beruntung bertemu Nyonya Luna dan Mrs. Sanders."
Anna menatap di kedalaman bola mata Simon yang berwarna gelap. Ia tahu Simon mengatakannya dengan tulus. Anna tersenyum, matanya menatap terharu.
"Terima kasih, Simon," ucap Anna.
Simon balas tersenyum. Ia menahan tangannya agar tidak menjangkau tubuh Anna, karena apa yang sebenarnya ingin ia lakukan saat ini adalah memeluk wanita itu erat-erat. Selama hidupnya, Anna hanya memiliki Nuella, dan gadis kecil itu telah pergi. Selama menikah dengan Martin, Ann hanya memiliki dirinya sendiri tanpa bisa berbagi rasa sakit, rasa takut maupun kesusahannya dengan orang lain.
Aku bisa jadi apapun yang kau butuhkan, Ann ... ijinkan aku memilikimu, jadi pendampingmu ... kau tidak akan pernah sendirian lagi.
**********
__ADS_1
Jangan lupa likenya, ketik komentar, love dan bintang lima ya readers. Juga bagi Votenya untuk PS ya. Atas dukungannya author ucapkan terima kasih.
Salam. DIANAZ.