Pengantin Simon

Pengantin Simon
22. Blood trail


__ADS_3

Anna berdiri di belakang, tak jauh dari Martin yang sedang berbicara dengan seorang pria yang tampak agak mabuk di tepi dermaga. Tangan Martin memegang kuat pergelangan tangan Leon. Anna tidak berani melakukan apapun karena Leon berada di tangan Martin. Tempat itu sepi, hanya ada pria paruh baya yang bicara dengan Martin. Sepertinya pria mabuk itu memang sudah menunggunya sejak tadi.


Leon terlihat menarik-narik tangannya yang dipegang oleh Martin. Namun, jangankan melonggar, jepitan tangan Martin membelenggu makin kuat. Leon meliuk-liukkan tangannya, namun Martin tetap tidak peduli. Membuat Leon akhirnya menyerah.


Pria yang berbicara dengan Martin tidak menyadari bahasa tubuh Leon. Hanya fokus pada jumlah uang yang ia terima dari Martin.


Di kejauhan, seorang pria bernama Jhon yang melewati tempat itu melihat aksi Leon, ia mengernyit ketika cahaya menerangi wajah bocah yang tadi menarik tangan dari pegangan pria yang memegangnya. Teringat pada bocah kecil yang sering bermain di dermaga bersama Simon dan Hamilton. Namun ia menggelengkan kepala.


"Mirip," bisiknya pada diri sendiri dan meneruskan langkah.


Beberapa saat kemudian rombongan kecil itu menaiki sebuah kapal bermotor. Ketika kapal yang dikemudikan Martin melewati Jhon, wajah bocah yang tengah di peluk seorang wanita di atas kapal itu terlihat jelas. Jhon mengerutkan keningnya.


"Leonard Bernard tidak mungkin berada di luar malam-malam begini tanpa ayah, kakek, atau pengawalnya ...," bisik Jhon lagi.


Memutuskan untuk memastikan bahwa dugaannya benar bocah tadi hanya mirip, Jhon merogoh kantong jaket parkanya dan meraih ponsel. Ia menghubungi Simon.


"Halo, Jhon. Aku sedang mengemudi sekarang. Ada apa?" suara Simon terdengar di seberang sana.


"Ah, tidak. Hanya mau memastikan sesuatu


Leon ada bersamamu?"


"Tidak, Jhon. Dia di rumah. Ada apa?" Simon tidak menjelaskan rumah mana, tak ingin memperpanjang penjelasan karena sedang menyetir.


"Tidak ada apa-apa. Aku baru saja melihat seorang bocah yang mirip Leon. Kukira kau ada di sekitar sini," ucap Jhon mengakhiri ucapannya dengan tertawa.


Simon ikut tertawa. "Putraku ada di rumah, Jhon. Sebentar lagi aku sampai dan akan bertemu dengannya."


"Oke, Simon. Maaf mengganggumu."


"Tak apa, Kawan."


Simon tiba di lapangan dekat rumah Anna. Mengambil ponsel dan menerangi jalanan ke arah rumah Anna. Setengah perjalanan, ia memandang ke arah pondok dan mengernyit melihat pintu pondok yang terbuka lebar. Anna yang selalu waspada tidak akan pernah melakukan itu. Meski ia tengah menunggu seseorang, pintu itu akan tetap terkunci dari dalam.


Firasat buruk membuat Simon berlari menuju pondok.


Melompati semua undakan tangga sekaligus, ia langsung tiba ke atas beranda, Simon masuk dan mendapati palang pintu tergeletak di atas lantai kayu, ia menerobos ke kamar, lalu dapur, mencari Anna dan Leon. Tidak ada orang.


"Ann! Leon!" Rumah itu sepi dan lengang.


"Anna! Leon!" Panggilnya berulang kali.


tidak ada sahutan. Simon menekan nomor Anna, deringnya berbunyi dan ponsel tersebut ada di ujung sofa. Ketika bergerak mengambil ponsel, Simon melihat sebuah pisau tergeletak di sudut. Ia berjongkok, menunduk dan terbelalak melihat noda darah di pisau tersebut.


Dengan jantung berdebar tidak menentu, Simon menelusuri lantai. Menemukan jejak percikan darah tak jauh dari palang pintu yang tadi tergeletak.

__ADS_1


Aliran darahnya seolah berhenti. Teringat ucapan aneh Anna padanya agar menjauhkan Leon, akan berbahaya bila Leon ada di dekat Anna.


"Leon ...." Simon mengucapkan nama putranya itu dengan nada cemas penuh kekalutan.


Dengan tangan bergetar, Simon mencari nomor Hamilton. Namun ia langsung teringat Jhon yang tadi meneleponnya. Mengatakan melihat bocah mirip Leon. Simon ganti menekan nomor Jhon.


"Tenang. Tenanglah," ujarnya pada diri sendiri.


Lama tidak ada yang mengangkat. Simon terus menghubungi.


"Ayolah, Kawan!" seru Simon sambil dengan gelisah keluar ke arah beranda.


Beberapa saat kemudian Jhon menjawab panggilannya.


"Halo, Simon. Maaf, Kawan. Aku ke toilet," ujarnya.


"Jhon, bocah yang kau lihat mirip Leon tadi kau melihat dia di Dermaga?" Simon langsung bertanya.


" ... ya. Ada apa, Simon?" Nada tergesa dan kalut yang ia dengar membuat Jhon jadi waspada.


"Apakah dengan seorang wanita?"


"Ya, benar. Seorang wanita memeluknya ketika kapal mereka melewatiku, juga ada seorang pria yang memeganginya sebelum naik kapal. Pria itu bicara dengan Joaquin. Sepertinya mereka memakai kapal Joaquin."


"Jhon! Bantu aku! Pergilah ke Joaquin! tanyakan tujuan mereka! Kurasa yang kau lihat memang putraku! dan wanita itu ibu gurunya! Aku akan ke sana secepat mungkin!" Kepanikan mewarnai suara Simon.


"Joaquin, Jhon! Sekarang pergilah ke Joaquin! Kurasa putraku diculik!"


Mendengar itu Jhon memaki keras-keras, lalu ia langsung berlari menuju kapal Joaquin. Pria itu biasa ada di kapalnya yang tertambat di pinggir dermaga.


Simon sudah mematikan sambungan. Ia menekan nomor Hamilton, setengah berlari menuju mobilnya.


"Paman! Leon tidak ada di tempat Anna. Rumahnya kosong. Ada jejak pisau penuh darah di sana. Jhon melihat Leon di dermaga! Aku sedang menuju ke sana. Tolong hubungi orang-orang kita!"


"Tunggu ... apa yang kau bicarakan!?" Hamilton kebingungan mendengar kepanikan di suara Simon.


"Aku menuju dermaga. Suruh orang memeriksa rumah Anna juga. Aku pergi, Paman!"


"Tunggu, Simon! Memangnya apa yang terjadi!?"


"Kurasa Leon diculik, Paman!"


Simon melempar ponselnya ke kursi sebelah, Segera menghidupkan mobil dan segera memacu mobilnya menuju dermaga.


Hamilton memandangi ponselnya seperti baru pertama kali memegangi benda itu. Sekian detik ia masih mengira si Bungsu Keluarga Bernard itu mengatakan sebuah lelucon. Tadi ia dan Bruno berpisah dengan Simon yang mau menyetir sendiri untuk menjemput Leon. Jadi Hamilton pulang dengan Bruno ke rumah pantai.

__ADS_1


Hamilton merasa jantungnya mulai berdebar tak karuan ketika menyadari Simon tidak akan mengatakan sebuah lelucon payah tentang penculikan putranya.


Ia berlari keluar dan mendapati Bruno masih ada di halaman, bercakap-cakap dengan Lucas temannya sambil tertawa.


Keduanya menganggukkan kepala hormat ketika melihat Hamilton. Pria tua itu bicara dengan seseorang di ponselnya.


"Segera. Di dermaga. Simon di sana," ucapnya.


Setelah menutup ponsel. Hamilton memandang Bruno.


"Leonard diculik! Kita ke dermaga sekarang. Simon sedang menuju ke sana."


Dua pria itu terbelalak, namun segera bergerak sendiri-sendiri. Bruno masuk ke belakang kemudi. Lucas dengan ponselnya mulai mengumpulkan orang-orang mereka.


Di dalam mobil, jari-jari Hamilton seperti mengambil alih, pertama ia mencari nomor Claude. Dengan cepat menyampaikan berita yang membuat Kakak laki-laki Simon itu berteriak kencang, Hamilton sampai harus menjauhkan ponsel untuk menyelamatkan telinganya. Namun, tak perlu waktu lama untuk membuat Claude percaya, karena Hamilton tidak pernah bercanda dengan hal-hal seperti ini. Claude Bernard akan tahu apa yang harus ia lakukan.


Selesai dengan Claude, Hamilton mencari nomor Yoana. Kakak perempuan Simon itu segera mengangkat di dering pertama.


"Ya, Paman. Kami sudah siap pergi pagi-pagi sekali besok. Paman mau mengingatkanku lagi tentang ini kan? " Yoana yang sedang menggendong putrinya tersenyum ketika tangan mungil Marcia menggapai ke arah ponselnya.


"Yoan, ada kabar buruk. Aku belum tahu detailnya. Tapi kunjungan kita terpaksa ditunda. Kalian harus kemari. Leon hilang. Simon tengah mencarinya." Hamilton berusaha menghindari pemakaian kata diculik pada Yoana, tidak mau membuat wanita itu panik.


"Hilang? Dia merajuk lagi? Sudah cari ke Mansion Lucca?" tanya Yoana.


"Berikan ponselnya pada Vincent. Aku mau bicara." Hamilton meminta Yoana memberikan ponsel pada suaminya, ia jadi tidak yakin bisa menyampaikan berita ini pada Yoana.


Hamilton merasa ia bisa menyampaikan berita itu pada Vincent, namun tidak pada Yoana. Memutuskan membiarkan Vincent yang menangani cara untuk menyampaikan pada istrinya nanti.


"Jangan Marcia, Kakek mau bicara dengan Daddymu." Yoana menjauhkan ponsel dari tangan Marcia yang ingin merebutnya.


Hamilton mendengar Yoana bicara pada si kecil Marcia. Menunggu dengan tidak sabar, melirik jarum jam di pergelangan tangannya yang terus bergeser memutari angka detik demi detik.


"Halo, Paman Hamilton?"


Hamilton lega mendengar suara Vincent, lalu mulai menyampaikan kabar buruk tentang Leon. Belum tahu cerita sebenarnya, namun meminta mereka semua datang, lebih cepat lebih baik.


Yoana melihat wajah suaminya berubah kaku, rahang pria itu berkedut seolah ia tengah menggeretakkan gigi.


"Tentu, Paman Hamilton. Kami ke sana. Sekarang juga!"


Hamilton mengembuskan napas setelah mengakhiri pembicaraan. Ia menyipit memandang jalanan, lalu menatap ke arah atas dari kaca mobil.


"Langit sangat gelap. Tidak ada bintang satu pun. Aku berharap ini hanya aksi jahil ke sekian kalinya dari bocah itu. Aku tidak akan marah. Aku lebih suka ini hanya lelucon daripada kenyataan," desah Hamilton.


NEXT >>>>>

__ADS_1


**********


__ADS_2