Pengantin Simon

Pengantin Simon
23. Stranded


__ADS_3

Kapal menjauh dari dermaga hingga ke tengah lautan, baru kemudian berlayar memutari pulau.


Anna memeluk Leon erat-erat. Leon jadi sangat pendiam, itu membuat Anna sangat takut. Anak itu pasti sangat syok sampai kehilangan kemampuan untuk berceloteh.


"Beruntungnya aku, mengendalikan mainan seperti ini perkara mudah untukku. Semboyan keluarga Andreas agar selalu menjadi yang terbaik membuat kami tiga bersaudara harus bisa menunjukkan kemampuan terbaik di bidang apapun. Aku sudah menemukanmu beberapa minggu lalu, Em. Namun aku belum bisa menjemput, aku mengurus rumah baru kita, mengurus rencana dengan Gery, baru datang kemari."


Anna tidak menanggapi ucapan Martin. Ia melihat rompi pelampung di dekat tempat duduknya, segera mengambilnya dan memasangkan pada Leonard. Entah kenapa ia merasa perlu memasangkan pelampung pada Leon. Ia harap mereka tidak akan perlu terjun ke laut yang dingin.


"Kukira kau menemukan seekor kucing lagi yang menarik perhatianmu," ucap Martin.


Anna menyipit, memandang tajam pada Martin. tapi ia menolak bersuara.


"Siapa yang membantumu kabur?" tanya Martin pada Anna.


Anna diam, seolah tidak mendengar ucapan Martin. Ia menarik kepala Leon yang memandangi Martin tanpa berkedip. Menolehkan kepala bocah itu agar menghadapnya. Leon menurut, wajahnya bertemu bahan mantel di dada Anna. Ia memejamkan mata, mengeratkan pelukan di seputar tubuh ibu gurunya itu. Mereka berdua duduk tak jauh dari Martin.


Martin melirik lagi pada Leon yang sekarang duduk di pangkuan Anna, kedua lengan Anna memeluknya erat, tampak seperti menjaga dan melindungi bocah itu bahkan dari tatapannya.


Martin mendengus melihat posisi Anna yang seolah melindungi Leon demikian rupa.


"Bocah itu akan segera berpisah denganmu, Em. Tidak usah terlalu dekat dengannya. Kau membuatku jadi ingin mendorongnya ke air, seperti kucing kuning milik si tua Hannah!"


Pelukan Anna mengencang ketika merasakan tubuh Leon gemetar. Bocah itu pasti mendengar ucapan Martin. Di balik lengan Anna, Leon mengintip lautan yang dilewati oleh kapal mereka, terlihat gelap, bayangan didorong ke tengah lautan dalam itu membuat mata Leonard kembali berair.


"Daddy ...." rintih Leon. Ia tahu pria di dekat mereka adalah orang yang sangat jahat. Ketika menarik tangannya di dalam pondok, pria itu bahkan tidak peduli bahwa ia kesakitan. Meski Mam Ann bersikap berani dan selalu menjaganya, namun Leon tahu Mam Ann bukanlah lawan pria itu. Mereka akan selamat hanya jika ayahnya segera datang.


"Shhhhh ... beranikan dirimu, Sayang. Daddymu akan datang. Mam percaya ia sedang menyusul kita," bisik Anna di telinga Leon. Berharap dalam hati bahwa ucapannya benar.


Martin merasa kesal melihat Anna yang berbisik-bisik dengan anak muridnya itu. Ia bangkit, lalu dengan cepat menarik Leon dari pelukan Anna. Leon yang sudah sejak tadi menahan tangis otomatis menjerit keras, tangisnya pecah, ia menahan tubuhnya di lantai kapal, tangannya menggapai ke arah Anna.


"Lepaskan dia, Martin!" Anna mendorong tubuh Martin, Leon yang melihat ibu gurunya menabrakkan tubuh ke badan penjahat yang menahan lengannya segera ikut membantu. Leon mengangkat kaki, menendang tulang kering Martin.


Tubuh Martin goyah, lalu jatuh, mengenai peralatan navigasi. Kapal mereka terasa bergoyang agak kuat, getaran dari gelombang makin terasa di kaki Anna dan Leon karena mereka berdiri . Namun, Anna tidak berhenti. Ia mengangkat sebuah papan penutup sebuah peti yang ada di dek. Dengan cepat melayangkannya ke arah kepala Martin. Martin yang baru saja berdiri kembali terjatuh mengenai peralatan navigasi.


Martin tertawa kencang ketika ia menarik Anna adrenalinnya terpacu, ingin menjatuhkan wanita itu lantai kapal. Kapal terus melaju membelah lautan. Kedua orang dewasa yang sedang bergulat itu tidak peduli. Anna menggunakan seluruh tubuhnya untuk melawan. Ancaman Martin menceburkan Leon ke laut membuatnya ketakutan. Kucing milik Hannah tetangga mereka dulu mati karena Martin menenggelamkan makhluk itu ke dalam air. Meski tidak ada yang tahu mengenai hal itu, namun Anna tahu Martinlah yang melakukannya.

__ADS_1


Leonard berpegangan ke besi pembatas kapal, ia melotot ngeri melihat air laut yang gelap di bawah sana. Tangisnya makin kencang.


"Daddy!" seru bocah itu sekuat mungkin.


Mata Leonard terpaku, ketika di kejauhan ia melihat cahaya suar.


"Mam ... Mam ...." tunjuk Leonard.


Martin melihat arah telunjuk Leon, lalu ia berseru pada Anna.


"Berhenti, Emillia!" Martin memukul pipi Anna. Membuat wanita itu terkapar di atas lantai.


"Mam ...," rintih Leonard, tangisnya pilu, ia meringkuk sambil berpegangan pada besi.


Anna tidak pingsan, namun ia kehabisan napas. Tubuhnya yang kecil tidak memiliki tenaga yang cukup menjatuhkan Martin. Ia tetap terbaring di lantai, mengatur dan mengisi paru-parunya yang sesak.


Martin baru saja berdiri dan akan memeriksa peralatan navigasi ketika merasakan kapal mereka menabrak sesuatu.


Leon menjerit lagi ketika benturan keras itu ia rasakan. Kapal bergetar lalu bergoyang tidak stabil. Anna melihat Martin teralihkan untuk membuat kapal stabil kembali. Ia bangkit perlahan, melirik ke arah papan yang tadi ia gunakan untuk memukul Martin.


Anna menggendong Leon. Ia melihat ke seputar tempat itu. di sisi kanan, terlihat cahaya dari suar yang menandakan mereka ada di perairan sebuah pulau. Anna ingat tiga pulau kecil yang ada di sekitar White Sand Bay. Yang pasti, mereka tidak berlabuh di tempat yang seharusnya. Karena kegelapan di luar sana memberitahu Anna kalau tempat itu tidak berpenghuni.


Marcusuar yang ada di setiap pulau kecil itu sekarang hanyalah penanda bagi awak kapal bahwa perairan tersebut dangkal atau terdapat banyak batu karang. Tentu saja untuk kebutuhan navigasi mereka sudah menggunakan gps.


Anna menimbang, mengikat Martin dan tetap menunggu di kapal, atau turun dan berenang ke daratan.


Anna memutuskan dengan cepat akan berenang ke daratan. Dari catatan yang ia baca. Tiga pulau kecil di dekat White Sand bay memang tidak berpenghuni, namun kerap dikunjungi untuk wisata alam oleh para pelancong. Masih dikunjungi manusia berarti tidak berbahaya, putus Anna dengan cepat.


Ia tidak dapat membunuh Martin. Menunggu di sana dan menanggung resiko pria itu terbangun terasa mengerikan oleh Anna. Belum lagi kondisi laut yang ia tidak tahu apakah tetap akan tenang seterusnya. Mengemudikan kapal itu untuk kembali lagi ia tidak tahu caranya.


"Leon ... kau percaya Mam akan menjagamu dengan seluruh hidup Mam kan...."


Leonard mengangguk.


"Kita pergi dari sini?"

__ADS_1


Kembali Leon mengangguk.


Anna melihat sebuah tali di atas dek. Ia mengambilnya dan mulai mengikat kaki dan tangan Martin.


"Leon, Mam melompat lebih dulu. Terjunlah ketika Mam suruh untuk lompat. Oke?"


Leon mengangguk.


"Leon harus berani."


Anggukan lagi.


Anna mengelus pipi montok muridnya itu.


"Oh, Sayang ... Maafkan, Mam."


Anna menghapus air mata yang mulai menuruni pipinya. Lalu ia tersenyum.


" Mam akan turun sekarang."


Setelah melihat anggukan Leon, Anna melompat ke dalam laut. Dingin terasa menusuk di tubuhnya. Ia mengapung dan mengangkat tangannya ke arah atas.


Leon melihat Mam Ann berenang lincah seperti seekor ikan di bawah sana. jarak dirinya dan air laut tidaklah terlalu tinggi. Leon melepas pegangannya pada besi.


"Kemari, Sayang. Mam akan menangkapmu!"


Dengan kepercayaan penuh, tanpa ragu Leonard melompat, terjun ke air laut, disambut pelukan kedua lengan ibu gurunya. Bayangan dewi laut berupa ibu putri duyung yang cantik dan baik hati berkelebat di pikiran Leonard. Membawanya ke sebuah cerita lain dari buku-buku bergambar berisi dongeng kesayangannya, mengalihkan otaknya dari situasi mengerikan yang sedang terjadi.


NEXT >>>>>>


**********


From Author,


Like, love, bintang lima, komentar, dan vote untuk Leon ya pembaca sekalian. Atas dukungannya author ucapkan terimakasih banyakk.

__ADS_1


Salam hangat. DIANAZ.


__ADS_2