Pengantin Simon

Pengantin Simon
30. Ambush


__ADS_3

Jhon mengenali Claude Bernard segera setelah pria itu melompat turun dari helikopter. Wajah kakak laki-laki Simon itu tampak kusut. Ia mengenakan mantel lebar berwarna hitam yang menutupi hingga ke lututnya. Ia melangkah cepat mendekati Hamilton.


"Paman," sapa Claude.


"Dimana Vincent?" tanya Hamilton.


Claude otomatis melihat ke arah atas, lalu memicingkan mata ke arah heli yang terbang menjauh.


"Dia mau langsung berkeliling," ujarnya pendek. Kemudian ia melirik ke arah seorang pria yang juga baru turun dari heli yang mendarat berbarengan dengan Claude. Pria yang langsung menepuk pundak Jhon dari belakang dan membuatnya sangat terkejut.


"Kaukah yang bernama Jhon?" tanya pria itu.


Hamilton yang mengenali pria tersebut seketika mengulurkan tangan.


"Alric, kau datang ...." Hamilton menebak Claude lah yang menghubungi Alric.


"Tentu, Paman Hamilton. Ini menyangkut Leonard, untunglah Yoana mengabariku. Aku tidak tenang bila tidak melihat langsung situasinya," ucap Alric sambil menyambut tangan Hamilton.


"Jhon ... ceritakan lagi semuanya. Dari awal," ucap Claude pada Jhon.


Jhon mengangguk dan mulai menceritakan sejak ia melihat Leon dan ibu gurunya ,lalu menghubungi Simon.


"Pesawat yang menjemput pria ini masih menunggu di bandara. Kita sudah menahan mereka ... identitas pria ini juga sudah kita ketahui. Kalian mengikuti infonya terus bukan?" tanya Hamilton.


"Tentu," sahut Claude dan Alric berbarengan.


Setelah mendengarkan apa yang perlu dari Jhon dan Hamilton, Alric memutuskan ia terlalu gelisah bila hanya menunggu.


"Aku akan ikut pergi mencari," ucap Alric.


"Ya. Aku juga," sahut Claude.


Baru saja keduanya akan bergerak ke arah heli mereka, Hamilton menyuarakan pertanyaannya tentang isteri dan anak-anak para pria itu.


"Aku memaksa Yoan dan Catty tinggal di rumah pantai, Paman," ucap Claude.


"Mary juga bersama mereka. Aku meninggalkan Diego di sana. Tugasnya jangan sampai ada yang keluar dari rumah. Mary begitu gelisah, aku takut ia memaksa ikut pergi."


"Seth dan Lea mendapatkan tugas yang sama. Aku juga menempatkan beberapa orang di rumah. Kau tahu Yoan, Paman. Ia akan mengajak Catty dan Mary ikut kemari."


"Bagus. Itu yang aku takutkan. Kita perlu mereka tenang dan menunggu sampai Leon dan Simon bisa kita bawa pulang."


"Ya ... mereka akan pulang ...." Claude menyipit memandang langit, sudah hampir pagi. Ia menyimpan rasa khawatir di dadanya rapat-rapat. Mengatakan pada dirinya sendiri bahwa Simon Bernard bukan bocah lagi. Dia pria dewasa ... dia pasti bisa bertahan dan menemukan Leonard.


"Mereka harus pulang ... dan baik-baik saja ... Valencia dan Aislin menunggu Leon. Aku sudah berjanji akan membawa mereka bertemu Leonard ...." Alrico Lucca menelan ludah. Terbayang wajah istrinya, Mary ketika mereka menerima kabar dari Yoana. Alric tidak bisa menyimpan berita itu, karena Marylah yang menerima telepon. Wajah Mary seolah kehilangan warna, lalu setelah sekian detik tertegun, istrinya itu histeris.


Setelah menjawab Hamilton, Claude dan Alric pergi dengan helikopter masing-masing.


"Tuan ... gunakan ini." Bruno yang baru saja berbicara dengan seorang pria memberikan sebuah earpiece pada Hamilton. Alat komunikasi yang mereka gunakan, agar siapapun yang melihat tanda-tanda keberadaan Simon dan Leon di pulau itu segera diketahui oleh setiap tim pencari.


"Adakah kabar bagus?" tanya Hamilton, mengatur pemasangan alat itu di telinganya.


Gelengan kepala dari Bruno membuat Hamilton mengembuskan napas panjang.

__ADS_1


**********


"Daddy?" Leon yang terbangun menggosok kedua matanya.


"Shhh ... tidak apa-apa. Tidurlah kembali." Simon menarik kepala Leon agar bersandar di dadanya lagi.


"Dimana Mam, Dad?" Leon menahan tarikan ayahnya. Ia mencari-cari, namun tidak melihat ibu gurunya itu.


"Ann! Bersuaralah," ujar Simon.


Dibalik sebuah pohon di dekat tempat Simon, Anna keluar tertatih. "Di sini. Mam ada di sini, Leon."


"Kenapa Mam di sana?" tanya bocah itu heran.


"Mam tidak ingin muntah lebih banyak di dekat tempat kita beristirahat."


"Muntah? Kenapa ...."


Belum selesai Leon bertanya, Simon menarik kembali kepala putranya.


"Tidurlah Leon. Kita butuh tenaga untuk berjalan lagi. Kita tunggu pagi saja, jadi tidak mengira-ngira di dalam gelap."


"Ya, Dad. Mam ... kesini, dekat Leon," ucap Leon dengan satu tangan terulur ke arah Anna.


"Baiklah. Mam duduk di sana lagi. Tapi Leon harus tidur, sebentar lagi pagi. Kau baru tidur sebentar."


Anna duduk di samping Simon, tersenyum pada Leon yang memandangnya dengan puas karena Anna menurut untuk duduk di dekat bocah itu dan ayahnya.


Anna menarik napas panjang. Ia sungguh tidak mau membahas alasan kenapa ia muntah.


"Tidak apa-apa." jawabnya singkat. Berharap Leon menyudahi. Namun sesuai perkiraannya, Leon tidak akan berhenti sebelum mendapatkan jawaban yang membuatnya puas.


"Muntah itu pasti ada penyebabnya kan, Dad?"


Simon bersandar ke batang pohon di belakangnya. Tampak santai dan memejamkan mata.


Leon mendongak, menggaruk pelan rahang ayahnya yang teraba kasar karena bulu bulu halus yang baru tumbuh di rahang tersebut.


"Daddy tadi belum tidur."


Anna tersenyum melihat Simon terpaksa membuka kembali kedua mata.


"Kau mau Daddy menjawab?" Simon memikirkan jawaban apa kira-kira yang akan membuat Leon berhenti bertanya.


Leon mengangguk.


Simon menoleh, menatap Anna. Dengan sangat serius ia berucap.


"Sebenarnya Mam Ann bukan muntah. Ia hanya perlu ke toilet. Jadi ia pergi ke belakang pohon di sana."


"Ohhh ....." Leon seketika berhenti berkata-kata. Bersandar ke dada ayahnya, memejamkan mata dengan wajah menghadap ke arah Anna.


"Kau," desis Anna sambil memukul pelan bahu Simon.

__ADS_1


Simon menyeringai. Wajah Ann akhirnya kembali seperti semula. Bahkan tampak malu karena ucapannya yang disengaja tentang toilet. Anna menghindar ke belakang pohon karena ia terus menerus memuntahkan isi perutnya. Simon sempat khawatir melihat wajahnya yang pucat. Pembicaraan tentang Martin sepertinya sangat berat. Ia harus menghentikannya sampai di sana. Sampai pada hal mengenai mempunyai keturunan. Namun, secara garis besar ia sudah dapat menyimpulkan bagaimana kehidupan wanita itu selama ini.


"Tidak penasaran lagi? Kenapa berhenti bertanya?" tanya Simon dengan nada geli pada Leon.


"Leon sudah besar, Dad. Leon sudah tahu kalau seseorang membutuhkan toilet itu artinya apa. Jadi tidak perlu dijelaskan penyebabnya."


"Pintar,"


"Leon mau tidur lagi."


"Ya." Simon tersenyum, menatap Anna yang mengerucutkan bibirnya. Ia menghela bahu wanita itu, memeluknya lagi seperti pertama saat Anna mulai bercerita.


"Bentangkan jaketnya, Ann" ucap Simon.


Anna segera menghamparkan jaket parka milik Simon kembali ke atas tubuh mereka. Lalu sama-sama mereka menatap ke arah Leon.


"Kau lihat ... dia berhenti bertanya ketika aku menyinggung toilet."


"Berhentilah membahas toilet."


Leon membuka mata, bergerak duduk di pangkuan ayahnya.


"Ada apa? Kenapa tidak jadi tidur?" tanya Simon heran.


"Karena Daddy membahas toilet, Leon jadi mau buang air kecil."


"Sini, Mam temani. Di balik pohon yang itu saja," tunjuk Anna.


"Kenapa tidak di pohon yang itu?"tunjuk Leon.


"Itu bekas Mam Ann," ucap Simon sambil terkekeh mendapati Anna melotot padanya. Ia baru saja akan bergerak bangkit, namun Anna menghentikan.


"Aku tidak mau menunggu di dalam gelap sendirian. Kau yang di sini, aku menemani Leon. Senternya kami bawa." Anna sudah tegak berdiri, memegang tangan Leon dan mengajaknya pergi.


"Kami tidak akan lama," ucapnya sambil tersenyum.


Simon menatap setiap gerak cahaya di dalam gelap. Bias cahaya terlihat dari balik pohon tempat Anna dan Leon. Sampai cahaya itu memantulkan sebuah bayangan tubuh besar yang menyergap keduanya.


Tanpa sadar Simon memaki , ia melompat, bangkit dan berlari ke arah Anna dan Leon.


"Berhenti! Bajinggan!" teriakan Simon menggelegar.


NEXT>>>>>


********


From author,


Siapa kira-kira? Martin? Vincent? atau para pria dari tim pencari? Semoga sabar menunggu lanjutannya ya🙏


Jangan lupa like, love bintang lima, komentar dan vote yang pembaca Leon. Atas dukungannya authorengucapkan terima kasih.


Salam. DIANAZ

__ADS_1


__ADS_2