Pengantin Simon

Pengantin Simon
32. Rescue team 2


__ADS_3

Anna melirik pergelangan tangannya yang dipegang erat oleh Martin. Pria itu berjalan cepat setengah menyeret Anna agar mengikutinya.


Anna melihat ke arah kakinya yang terasa amat sakit. Darah kembali keluar dari tumitnya yang robek.


"Martin ... tunggu, bisakah kita berhenti sebentar? Kakiku ...."


Anna berusaha menahan badannya di tempat. Tidak melangkah mengikuti Martin, karena tarikan tangan Martin begitu kuat, Anna tersungkur ke depan kaki pria itu.


"Apa yang kau lakukan!" teriak Martin.


"Tunggu ... sebentar saja, aku mohon. Ini sakit sekali," ucap Anna sambil memperlihatkan kakinya yang terluka dan berdarah.


Anna menarik lengan piyamanya dari bahu, bermaksud menyobek kain tersebut, tapi jahitannya yang kuat tidak lepas sama sekali.


"Martin, gunakan pisaumu. Potong lengan piyamaku agar aku bisa membalut kakiku. Setidaknya lukanya jadi tidak bersentuhan langsung dengan tanah ketika berjalan."


Martin mengembuskan napas panjang. Ia menarik lengan piyama Anna, lalu memotongnya pada bagian bahu. Setelah selesai, Anna menggunakan bahan itu untuk membalut kakinya.


"Seharusnya kau ikut dengan sukarela, jadi kau bisa menggunakan alas kaki. Bukannya lari menghindariku ...."


Anna hanya diam, tidak menjawab. Martin berdiri tak jauh dari Anna, menunggu wanita itu selesai ketika suara tembakan terdengar seiring rasa nyeri menyebar di kedua kakinya. Martin berteriak kencang.


"Siapa!" teriak pria itu.


Beberapa pria keluar dari belakang pepohonan. Martin yang tersungkur dengan dua tembakan pada paha kiri dan kanan bertumpu pada kedua lutut di atas tanah, ia memandang nanar pada para pria bersenjata yang bermunculan tersebut. Melihat senjata yang diarahkan padanya ia tahu ia tidak akan bisa lolos. Orang-orang itu profesional dan Martin tahu, para pria itu bermaksud akan membebaskan Emilianya. Akan mengambil Emilianya.


"Ann! Kemarilah!"


Anna menoleh, melihat Simon muncul dibalik sebuah pohon. Martin melihat Simon dan tahu bahwa pria yang datang tersebut kembali akan mengambil Emilia.


Belum sempat Anna bergerak, ia merasa tubuhnya ditabrak oleh Martin. Ia terkunci di tanah.


"Maafkan aku, Em ... tapi ... bila kau tidak bisa kembali padaku, maka kau tidak perlu hidup ...."


Mata Anna terbeliak lebar ketika ia merasakan sesuatu yang tajam menembus perutnya. Mulutnya baru saja akan merintih kesakitan ketika sesuatu berwarna merah memercik dan mengotori wajah Ann. Seketika Anna menutup kembali mulut, juga menutup mata ketika merasakan cairan merah tersebut mengaliri kelopak matanya.

__ADS_1


"Annn!"


Simon berlari, Jaraknya dengan Anna terlalu jauh dibanding Martin. Ketika pria itu melompat dan menerkam Anna, Simon dan semua orang tidak menyangka bahwa Martin akan langsung menusuk wanita itu.


Pisau yang dipegang Martin sudah lebih dulu bersarang ke perut Anna ketika Vincent menyarangkan sebuah peluru tepat di kepala Martin. Pria itu tersungkur di atas tubuh Anna dengan darah memercik ke wajah wanita tersebut.


Anna yang telentang di atas tanah dengan tubuh Martin di atas badannya membuka kelopak mata, memandangi langit yang membiaskan cahaya pagi. Cahaya yang tampak indah, menghilangkan kegelapan, memperlihatkan harapan dan hari baru yang telah menjelang. Ia bersyukur bisa melihat cahaya itu dengan sisa-sisa kekuatan yang ia miliki sebelum matanya tertutup rapat diiringi suara Simon yang berteriak memanggil namanya.


*********


Claude menyisir rambutnya dengan jari-jari. Ia gelisah dan tidak sabar. Namun tidak ada yang dapat dilakukannya selain menunggu.


"Kuharap Vincent melakukannya dengan cepat!" ujar Claude.


Alric merapatkan mantelnya, ia menatap ke arah langit yang mulai menampakkan tanda-tanda kehadiran matahari.


"Dia tahu apa yang perlu dilakukan, Claude. Dia menyuruh kita menunggu di sini ...." Alric sendiri merasa tidak sabar, namun instruksi Vincent adalah menyuruhnya menunggu di tempat itu bersama Claude.


"Tuan ... di sana," tunjuk salah satu pengawal mereka.


Alric dan Claude menoleh berbarengan. Di kejauhan, dibalik pepohonan yang agak rapat, keluar beberapa pria yang merupakan orang-orang dalam tim pencarian. Ketika tiba di tanah kosong tempat mereka menunggu, para pria tersebut menyebar dan memperlihatkan sosok Blaird yang menggendong Leonard.


Rasa lega membuat air mata tanpa disadari mengalir di pipi kepala keluarga Bernard tersebut. Claude menciumi pipi montok Leon berulang kali.


"Kau tidak apa-apa? Leon terluka?" tanya Claude dengan suara serak.


Leon menggelengkan kepala, tangisan membuatnya sulit untuk mengucapkan apapun.


Setelah puas memeluk Claude, Leon melihat Alric dan tersenyum gembira.


"Kemarilah ... peluk Daddy," ucap Alric.


Claude menyerahkan bocah itu pada Alric, lalu ia mencari-cari diantara para pria yang datang.


"Blaird ...." desis Claude.

__ADS_1


Blaird tahu siapa yang Claude cari.


"Ia ikut Vincent ... pria itu menyandera ibu guru Leon," jelas Blaird.


"Apa dia baik-baik saja?"


Blaird tersenyum. "Kurasa begitu ... karena itu Vincent mengizinkannya ikut. Kita tunggu ka ...." ucapan Blaird terhenti ketika mendengar sesuatu dari alat komunikasi di telinganya. Kening Blaird seketika berkerut dalam.


"Sebaiknya kita mulai evakuasi ... Alric, bawalah Leon. Hamilton juga sudah akan pergi ... rumah sakit sudah menunggu, bawalah Leon ke sana. Simon dan Vincent akan menyusul. Aku akan menjemput mereka." Blaird berpandangan dengan Claude.


"Sudah selesai?" tanya Claude.


"Kita akan berurusan dengan keluarga Andreas," ucap Blaird. Kilau di sinar mata Blaird memberikan dugaan pada Alric dan Claude.


"Akan kutangani mereka nanti. Sekarang sebaiknya kita pergi. Kaki Leon terluka," ucap Alric.


"Paman Blaird! Bagaimana Dad?" seru Leon.


"Ayahmu baik-baik saja."


"Mam! Mam Ann bagaimana!?" tanya Leon.


"Cepatlah pergi dan obati kakimu. Semua akan menyusul." Blaird menyipitkan mata ke arah Alric. Isyarat yang dimengerti oleh Alric agar segera membawa Leonard pergi.


Claude menepuk bahu Blaird."Kuserahkan padamu. Bawa Simon dan Vince ... kami pergi."


Blaird memandangi heli yang membawa para pria itu terbang meninggalkan Abalon. Ia mengembuskan napas panjang, ia yakin urusan Martin Andreas yang mati tertembus peluru Vincent di kepalanya bakal jadi urusan mudah bagi seorang Alrico Lucca untuk menanganinya. Apalagi saksi mata mengatakan bahwa pria itu memang layak menerimanya karena menusuk dengan sengaja wanita yang ia jadikan sandera. Namun menjelaskan pada Leonard bahwa ibu gurunya telah jadi korban dalam peristiwa itu akan menjadi hal yang sulit. Blaird mendengar permintaan Leon pada Simon agar membawa ibu gurunya kembali. Kasih sayang bocah itu pada wanita itu terlihat jelas. Ia hanya bisa berharap keinginan wanita itu untuk hidup lebih besar dari keinginannya menyambut kematian.


NEXT >>>>>>


**********


**From author,


Ikuti** kisah selanjutnya ya readers, dan jangan lupa untuk tekan like sebelum meninggalkan part ini. Ketik juga komentar ,klik love dan bintang lima serta vote hadiahnya untuk PS.

__ADS_1


Atas dukungannya author ucapkan terimakasih.


Salam hangat. DIANAZ.


__ADS_2