
"Halo?" Simon mengangkat panggilan telepon dari kakaknya.
"Akhirnya kau mengangkat! Sebenarnya apa yang sedang kau kerjakan, Bocah!" teriakan melengking dari Yoana terdengar dari seberang. Simon sampai harus menjauhkan ponselnya.
Anna mendekat, lalu mengintip layar ponsel di tangan Simon.
"Kau mau mendengar suara Yoan?" tanya Simon pada Anna.
Yoana yang mendengar kalimat itu segera bertanya dengan nada waspada. "Kau bersama siapa? Wanita? Vincent bilang kau menjemput Anna? Apa itu dia?"
"Hmmm ... aku sedang bersama Nyonya Bernard, Yoan."
"Apa? ... Nyo ... Sialll-" Yoana terdengar berhenti, tidak melanjutkan umpatannya.
"Kemarilah. Pulang. Akan kuurus pernikahanmu seindah mungkin. Akan kusiapkan para desainer dan wedding organizer terbaik," bujuk Yoana dengan suara halus.
"Terima kasih, Yoan. Tapi ... aku sudah menikah," jawab Simon dengan nada manis.
Hening. Telepon itu tidak terputus. Anna mendengarkan dengan jantung berdebar-debar. Apa yang akan dikatakan oleh kakak iparnya itu selanjutnya.
"Simon Bernard! Pulang sekarang juga! Bawa wanita malang yang kau nikahi itu! Kau seharusnya membawa kami kepadanya untuk meminangnya dulu, Bodoh! Kalian bahkan belum bertunangan! Dan ... dan ... jangan katakan kalau Anna menerimamu sepenuh hati! Kau memaksanya!? Si-"
Tuttt!!!
Simon mematikan ponsel. Anna mengernyit, tampak khawatir setelah mendengar Yoana berteriak.
"Bagaimana ini," ucap Ann.
Simon malah terkekeh. Ia bergerak ke arah tumpukan benda yang ada di atas ranjang mereka.
"Apanya? Apalagi kalau bukan bersiap pergi bulan madu."
"Tapi ... kakakmu ...."
"Bantu aku. Mumpung Leon sedang mencari es krim. Kita harus sudah siap saat ia kembali."
Anna menelan ludah. Hanya bisa mengikuti apa yang dikatakan Simon. Namun hatinya merasa tidak lega. Mereka mengikat janji tanpa memberitahu keluarga besar Simon. Setahu keluarganya, simon dan Leon mengisi liburan bersama Anna di White Clouds.
Beberapa menit kemudian, ponsel Simon kembali berdering. Kali ini dari Claude. Simon menekan tanda menerima.
"Ya, Claude?"
"Pulang. Sekarang juga."
"Aku baru mau pergi bulan madu," ucap Simon dengan nada malas. Ia tahu, Yoana pasti langsung menelpon Claude dan memintanya menyuruh Simon pulang.
Hening sebentar.
"Orang-orang Vincent, kenapa tidak bicara tentang pernikahanmu? Kau menyogok mereka?" tanya Claude lagi.
"Mereka orangku sekarang. Bekerja untukku," ucap Simon dengan nada geli.
"Pulang dulu kemari."
__ADS_1
"Hmmmm ...."
Claude terdengar menarik napas panjang. Sudah menduga adiknya itu akan bersikap keras kepala.
"Ada yang mau bicara." ujarnya kemudian, lalu terdengar bunyi ponsel berpindah tangan.
"Halo?"
Sekarang Simon yang diam tidak menjawab.
"Kau masih di sana, Simon?"
"Ah ... ya, Paman."
"Bisa pulang hari ini?" tanya Hamilton tanpa basa-basi.
"Emmm ....."
"Kami tunggu di Mansion Bernard. Oke?"
"Emmm ...."
"Ah ... aku lupa memberitahu. Aku keluar rumah sakit hari ini."
"Syukurlah, Paman."
"Ya. Semua akan disiapkan Claude. Bruno akan menjemputmu," ucap Hamilton. Pernyataan berupa perintah secara tidak langsung.
**********
Anna tanpa sadar memegangi dadanya dengan tangan kanan ketika mobil yang ia tumpangi berbelok, lalu berhenti di sebuah gerbang mansion yang sangat besar.
Gerbang itu lalu terbuka, Bruno yang mengendarai mobil kembali melaju, masuk ke halaman dan akhirnya berhenti di bagian depan mansion.
"Semuanya sudah menunggu, Tuan," ucap Bruno.
"Siapa saja?" tanya Simon yang duduk di sebelah Anna.
"Semuanya," jawab Bruno pendek.
Simon menggaruk kepalanya. Anna jadi makin gugup melihat pria itu tampak mengintip dari kaca ke arah depan mansion.
Anna mendekat ke telinga Simon. "Sudah kubilang. Kita harusnya memberitahu mereka dulu," bisik Anna.
Bruno sudah turun dari mobil, lalu membuka pintu bagian penumpang.
"Ayo, Mommy!" Leon menarik tangan kiri Anna.
"Leon ... turunlah lebih dulu ... Dad mau bicara dengan Mom sebelum turun. Leon temui Aunty Yoan lebih dulu. Oke?"
Leon mengangguk bersemangat. Anna melihat bocah itu turun dan setengah berlari menuju mansion dan menghilang dibalik pintu ganda berwarna hitam legam.
Anna menoleh ketika satu mobil lainnya yang datang bersama mereka telah tiba. Dua orang pria turun dan menurunkan tas, traveling bag milik Anna dan juga koper milik Simon dan Leon.
__ADS_1
"Semua orang sudah masuk. Ayo, Ann. Kita juga harus turun kan?" Simon menggenggam tangan Anna yang terasa dingin.
Anna menoleh, wajahnya cemas. Kedua matanya seperti sudah mau menangis.
"Dia terdengar sangat marah saat kau memberitahu tentang pernikahan kita, Simon. Seharusnya kau mendengarkan aku. Beritahu dulu kedua kakakmu baru kita menikah."
"Ck! Yoana akan membuatku menunggu lagi jika itu aku lakukan! Dia akan beralasan sebuah pesta pernikahan butuh bla-bla-bla. Jangan khawatir. Kau sudah jadi istriku. Terima saja kalau mereka marah. Kita berdua memang sedikit nakal, bukan? jadi wajar dimarahi," ucap Simon sambil terkekeh. Tidak memahami sama sekali ketakutan dan kecemasan Anna.
Anna menarik tangannya dari genggaman Simon. Dia jadi kesal. "Kau sama sekali tidak mengerti," bisik Anna. Suaranya sengau dan juga makin cemas.
Simon menarik napas panjang. Ia memeluk Anna dan menepuk pelan punggung wanita yang sudah ia nikahi satu hari yang lalu itu.
"Hidupku seperti naik roller coaster beberapa hari ini, Simon! Kita bertemu lagi, lalu berjanji mau menikah dan ... dan ... seperti mimpi kita berdua sudah mengucapkan janjinya. Menikah. Dengan hanya Leon yang-"
"Sttt ... aku tahu aku terlalu memaksamu. Tapi aku memang mencintaimu, Ann. menjadikan kau istriku adalah keinginanku."
"Tapi keluargamu ...."
"Keluargaku akan mendukungku. Mendukung kita. Percayalah"
"Tapi ... Yoana ...."
Simon mencoba menahan tawa geli yang hampir keluar dari mulutnya. Ia menyeringai. "Jangan terintimidasi pada suaranya. Percayalah, dia yang paling senang aku menikah."
Simon mendengar Anna membersit hidung. Ia menarik sedikit tubuh wanita itu agar bisa melihat wajahnya.
"Kenapa kau menangis? Kau setakut itu? Apa yang sebenarnya kau takutkan?"
Anna menghapus air matanya dengan jari. Ia masih merasa berada diawang-awang karena kemarin, ketika ia mengangguk menyetujui lamaran yang Simon utarakan sekali lagi. Anna langsung menerimanya, lalu entah bagaimana pria itu seperti sudah siap dengan semuanya. Leon sangat senang, bahkan sudah mengganti panggilannya pada Anna. Anna merasa kewalahan, ia takut dengan reaksi keluarga besar Bernard.
"Ba-bagaimana kalau ... mereka sama sekali tidak menyukaiku?" tanya Anna dengan wajah tertunduk.
"Ayo, kita turun dan temui mereka. Jangan takut, mereka tidak menggigit," ucap Simon sambil tertawa geli.
Anna menurut. Tangannya menggenggam erat tangan Simon, telapak tangan itu sudah basah oleh keringat. Tubuhnya sendiri sudah berkeringat dingin. Anna pasrah, gaun pink muda yang ia pakai tampak kusut, ia tidak sempat memikirkan merapikan rambut atau memoles sedikit bedak pada wajahnya.
Anna berhenti sebentar di depan pintu. Menepuk-nepuk sedikit wajahnya yang pucat, sambil memastikan tidak ada lagi sisa air mata. Ia mencoba menyunggingkan senyum, membuat Simon yang memperhatikannya terbahak.
"Ada apa denganmu? Ayolah ...." ucapnya geli.
NEXT >>>>>>
**********
From Author,
Kenapa mereka blom MP? wkkwkwk, kalo ada yg nanya gitu, itu karena ada Leonard Gaes! Tahan dulu, Bocil masih ikut. Jadi skip dulu yang ntu. hahhaha.....
Kalo mo jujur ya, setiap Ending, otor tuh pasti kesulitan membuat eksekusi akhir. Kenapa ya? ... gak tahu deh🤭🤭🤭🤭
Jangan lupa like bab ini, love, bintang lima dan vote untuk PS. Atas dukungannya otor ucapkan terimakasih.
Salam. DIANAZ.
__ADS_1