Pengantin Simon

Pengantin Simon
39. Slip


__ADS_3

Simon meletakkan sepasang sandal ke lantai di dekat tempat tidur.


"Pakai ini,"ucapnya sambil membantu Anna bangkit.


Seorang perawat masuk dengan sebuah kursi roda. "Ah, Anda sudah bersiap. Jangan lupa semua pesan yang dokter katakan, Nona Ann."


"Baik. Terima kasih sudah banyak membantu saya," ucap Anna pada perawat tersebut.


Simon membantu Anna duduk di kursi roda, lalu menggantikan perawat tersebut. "Biar saya. Terima kasih. Kami pulang," ucapnya berpamitan.


Simon mendorong kursi roda Anna melalui lorong-lorong rumah sakit. Tiba di lift ia masuk dan menekan tombol menuju lantai dasar.


"Ann ... boleh aku memberikan pendapat tentang tempat tinggalmu ...."


Anna mendongak, menatap Simon yang berdiri di belakang kursi rodanya.


"Tempat tinggal? Ada apa dengan pondokku?"


"Setelah kejadian kemarin, tidakkah menurutmu tempat itu agak terpencil?"


Anna terdiam, memandangi pintu lift yang tertutup.


"Mrs. Sanders menemukan sebuah tempat ... dekat dengan rumahnya, juga tidak terlalu jauh dari sekolah ... sebuah lingkungan dengan beberapa rumah yang berdekatan."


Simon menunggu jawaban. Namun, sampai mereka tiba dan pintu lift terbuka, Anna tidak mengatakan apapun.


Simon kembali mendorong kursi roda. Mereka hanya diam sampai tiba di pintu ganda menuju keluar. Sebuah mobil hitam mendekat. Berhenti tepat di depan kursi roda Ann.


Tak lama, Bruno keluar dan membukakan pintu. Anna bangkit dan mengucapkan terima kasih pada Bruno sebelum masuk ke bagian belakang mobil. Setelah menjauhkan kursi roda, Simon berjalan memutari mobil dan masuk ke sisi sebelah Anna.


"Kita pergi, Bruno ...."


"Ya, Tuan Simon ... emm ... ke rumah pondok?" tanya pria itu.


"Ya," jawab Simon yakin. Tidak adanya tanggapan dari Anna tentang rumah yang ia sarankan memberitahunya bahwa wanita itu tidak setuju dengan ide tersebut.


Anna melirik ke arah Simon, wajah pria itu terlihat biasa. Tidak ada kecewa atau tersinggung karena ia tidak menjawab atau setidaknya mengucapkan terima kasih atas perhatiannya yang sudah bersusah payah memikirkan mencari tempat untuk Anna. Sejujurnya Anna sendiri merasa gamang dengan perasaannya sendiri. Di White Sand Bay, hanya rumah pondoknya yang telah ia kenal selama berbulan-bulan, memberikan rasa aman padanya bahkan dengan pemikiran bahwa Martin akan datang. Kesendirian dan kesunyian tempat itu memberi Anna rasa damai, memberikan kekuatan bahkan jika Martin datang, ia siap menerimanya di pondok itu ... tempat dimana tidak ada orang lain yang akan disakiti oleh Martin.


Anna menahan semua pertanyaannya tentang Martin. Simon juga tampaknya tidak berminat bercakap-cakap dengan adanya Bruno yang menyetir.


Ketika tiba di lapangan menuju jalan setapak rumah Anna. Mobil berhenti. Tanpa menunggu dibukakan pintu, Simon turun, lalu membukakan pintu untuk Anna.


Anna baru saja akan beringsut turun ketika setengah badan Simon masuk dan kedua lengannya menarik tubuh Anna.


"Ap-" ucapan Anna terpotong ketika ia melihat ekspresi Simon.


"Jangan membantah," ucap Simon dengan suara pelan.


"Terima kasih Bruno, aku akan menghubungimu nanti!" ucap Simon pada Bruno.


Setelah anggukan dari Bruno, Simon melangkah memasuki jalan setapak. Anna berpegangan pada bahu dan leher pria itu, mendongak dan mendapati mata Simon menatap penuh penilaian pada setiap pohon yang mereka lewati.


"Apa yang kau pikirkan?" tanya Anna.


"Pohon," jawab Simon singkat.


"Pohon? Ada apa dengan pohonnya?"


Simon mengembuskan napas, melirik ke wajah Anna yang masih tampak pucat.


"Aku menghitung ... berapa pohon yang harus di tebang jika jalan setapak ini mau kulebarkan."


Mata Anna melebar, namun mereka sudah tiba. Simon menaiki undakan tangga, lalu pria itu perlahan menurunkan Anna ke atas lantai beranda.


"Tunggu, aku buka pintunya dulu," ucap Simon.

__ADS_1


Sebelum Simon mengangkatnya lagi, Anna segera berjalan masuk ketika pintu terbuka.


"Selamat datang ... akhirnya aku pulang," ucap Anna dengan senyum lebar.


Simon balas tersenyum. "Duduklah," ucapnya. Ia sendiri pergi ke belakang, mengambil satu gelas air minum, lalu kembali dan meletakkannya ke atas meja. Anna sudah duduk di atas sofa panjang kecil miliknya.


"Sekarang tanyakan apa yang ingin kau ketahui," ucap Simon langsung. Ia tahu Anna pasti mau tahu tentang Martin.


Anna bersandar, memiringkan tubuh ke arah Simon yang duduk di sisi lain ujung sofanya.


"Ceritakan saja ... apakah ia ... sudah ...."


Simon melihat Anna menelan ludah. Wanita itu sepertinya kesulitan bicara. Simon memutuskan memulai cerita dari terakhir Anna kehilangan kesadaran, dibawa ke rumah sakit, lalu juga menceritakan tentang Martin dan keluarganya tanpa ada yang ketinggalan satupun.


"Jadi ... dia sudah dimakamkan," desah Anna pelan.


"Ya ...."


"Keluarga Andreas ...."


"Mereka meminta menemuimu. Namun Claude dan Alric belum memberikan izin. Keputusan akan menemui mereka atau tidak, adalah keputusanmu. Jadi kami menunggu kau pulih, lalu memutuskan sendiri."


Anna mengubah posisi duduknya, kali ini ia memandang langit-langit ruang tamunya.


"Aku pasti akan menemui mereka ... tapi tidak sekarang ... nanti setelah aku sudah benar-benar sembuh ...."


"Baiklah ...."


"Soal rumah yang tadi kau sarankan, maafkan aku ... seharusnya aku berterimakasih ... tapi ...."


"Katakan saja kalau kau menolak."


"Aku ... akhirnya terbebas dari Martin. Tempat ini memberiku rasa aman, bahkan saat Martin masih hidup ... kini ia tiada ... apalagi yang bisa membuatku takut? Tidak ada ... jadi aku memilih tetap di sini ... maaf Simon."


Anna melihat Simon mengeluarkan ponselnya, mengirimkan beberapa pesan entah pada siapa. Ia mengulurkan tangan, menjangkau gelas berisi air yang tadi Simon letakkan di atas meja, karena pegangan tangannya yang tidak stabil, air minum tersebut tumpah sedikit ke atas lantai.


Anna meneruskan meminum air dalam gelas, lalu meletakkannya kembali. Ia melihat lantai yang basah oleh tumpahan air.


"Lantai ini bersih sekali," ucapnya.


"Hmm? Oh ... aku menyuruh orang membersihkannya. Kau jangan terlalu lelah. Rumahmu bersih, tidak ada yang perlu kau kerjakan," ucap Simon tanpa mengalihkan mata dari ponselnya. Ia menghubungi Bruno, menjalankan rencana kedua karena rencana pertama untuk membuat Anna pindah sudah gagal.


Anna mengedarkan pandangan. Rumahnya tampak sangat bersih. Ia jadi penasaran bagaimana keadaan dapurnya.


"Aku akan mengambil kain pel, lantainya basah," Anna bangkit tergesa, takut Simon melarangnya bergerak. Namun kakinya yang masih diperban menginjak sedikit air, karena masih terasa sakit untuk dipijakkan ke lantai, tapakan kakinya goyah, Anna terpeleset.


Simon reflek melempar ponsel ke atas sofa, lalu menangkap tubuh Anna sebelum jatuh.


"Astaga! Kau mau membenturkan kepalamu!" seru Simon. Jantungnya berdegup, kepala Ann akan membentur meja bila ia tidak segera menangkapnya.


Anna membuka matanya perlahan, kerutan di sekitar matanya perlahan menghilang ketika tahu ia tidak jatuh membentur meja atau lantai.


"Hufhhh ... terima kasih. Aku terpeleset. Aku menumpahkan air, lantainya bersih dan licin. Airnya malah terinjak olehku," celoteh Anna. Ia bermaksud bangkit, namun lengan Simon yang memeluknya malah makin mengencang. Anna memegang lengan Simon dan mendorongnya. Namun tidak juga lepas. Ia akhirnya menoleh ke belakang dan bertemu pandang dengan mata Simon, wajah pria itu menunduk menatapnya.


Anna merasa debaran jantungnya mulai bermasalah, ia membuang pandang karena merasa tidak sanggup terus bertatapan. Sinar mata Simon terasa meresahkan.


Ia menatap ke bawah tubuhnya yang setengah berada di atas sofa, bagian pinggang ke atas berada di pelukan Simon. Punggungnya berada di dada pria itu, kedua lengan Simon melingkari dadanya. Anna mulai merasa pipinya menghangat. Simon menangkapnya dari belakang ketika ia terpeleset.


"Aku sudah tidak apa-apa ... emm ... bisakah kau melepaskan tanganmu?" tanya Anna.


"Tidak. Kalau kulepaskan, kau akan mulai bergerak semaumu ...."


Anna mengernyit mendengar suara Simon yang terdengar serak di telinganya. Lalu ia merasa pria itu menunduk, merasakan sebuah kecupan mendarat di puncak kepalanya.


"Apa yang ...."

__ADS_1


"Stttt ... kau membuatku ketakutan!


Kau baru pulang dari rumah sakit, tapi lihat yang kau lakukan barusan ... kau hampir membenturkan kepalamu."


"Aku tidak sengaja ... aku berjanji lebih berhati hati."


Anna mengira Simon akan melepaskan tangannya, namun ternyata tidak.


"Simon ... tanganmu ...."


"Kenapa? Biarkan aku memelukmu begini sebentar saja."


"Tapi ...."


"Kenapa?"


"Emmm ... ini terasa tidak nyaman ...."


"Tidak nyaman? Baiklah ... sini," ucap Simon. Ia mengubah posisinya, dengan mudah menarik dan mengangkat Anna hingga ke posisi duduk di pangkuannya.


Simon melihat wajah Anna yang pucat sedikit berwarna, rona kemerahan menghiasi pipi wanita itu. Mereka berpandangan, satu tepukan dari tangan Anna mendarat di dada Simon.


"Ini malah tambah tidak nyaman," sungut Anna.


Simon mengeratkan pelukan. Menarik tubuh Anna hingga bersandar di dadanya.


"Kau membuatku sedikit tersinggung. Leon menyukai pelukanku, keponakanku juga ....baru kau yang bilang kalau pelukanku tidak nyaman."


Anna tertawa kering. Ia merasa agak merinding ketika lengan Simon mengetat di sekeliling tubuhnya, membuat ia terpaksa menempel dan bersandar ke dada pria itu. Degup jantungnya makin kencang. Anna merasa napasnya jadi agak sesak.


"Bukan itu maksudku ... sungguh ... ini ...." Anna jadi bingung menjelaskan bagaimana sesungguhnya perasaan yang ia alami.


"Ini apa? Tidak nyaman? Membuat resah? Apalagi?" cecar Simon, sengaja pura-pura tersinggung.


"Ini ... aku ... ah, begini ... aku jadi merasa agak sesak jika kau memelukku. Jadi merasa tidak nyaman. Lagipula ... laki-laki dan perempuan tidak baik berpelukan terlalu lama."


"Siapa yang berkata begitu?"


"Aku ... kau kan dengar barusan aku yang mengatakannya. Teman tidak berpelukan lama-lama," ucap Anna sambil tersenyum kecil, berusaha menghilangkan rasa canggungnya dengan lelucon kecil.


Namun, mata Simon malah berkilat. Mata Anna melebar ketika tangan Simon terangkat dan menahan pipinya. Kepala Anna terdorong hingga menempel di bahu Simon.


Telapak tangan Simon yang menahan pipinya terasa sejuk di kulit wajahnya yang menghangat. Anna mulai panik ketika Simon mulai menunduk.


"Teman boleh berpelukan ... tapi tidak boleh lama-lama, begitu? ... Kalau begitu teman juga boleh memberikan kecupan asal jangan lama-lama," bisik Simon dengan jemari mulai bergerak menahan dagu Anna.


"Si-siapa yang bilang begitu? Tidak boleh ada kecupan diantara teman!" seru Anna dengan mata melebar.


"Aku. Barusan kau dengar aku yang mengatakannya kan?" Simon membalikkan ucapan Anna sambil menyeringai. "Tapi baiklah ... kecupan memang tidak boleh ... namun ciuman boleh."


Ketika kalimatnya berakhir, Simon mendekatkan wajahnya. Bibirnya mendarat di bibir Anna. Anna terdiam dengan mata melebar merasakan


sentuhan bibir Simon untuk pertama kalinya. Tanpa sadar tangannya mencengkeram bahan kemeja Simon, merenggut bahan kain itu hingga mengerut dan kusut.


NEXT >>>>>>


**********


From Author,


Simon mulai meresahkan ya Mam...


Jangan lupa tekan likenya ya, love, bintang lima, komentar dan juga Vote untuk PS. Atas dukungannya author mengucapkan terima kasih.


Salam. DIANAZ.

__ADS_1


__ADS_2