Pengantin Simon

Pengantin Simon
47. Stomach ache


__ADS_3

Anna berpegangan tangan dengan Nyonya Luna. Mereka sekarang ada di bandara, Nyonya Luna akan pulang, kembali ke kotanya bersama dengan Lucas, staf Simon yang akan mengantarkan Nyonya Luna sampai tiba ke rumahnya dengan selamat.


"Jaga dirimu, Sayang. Jangan lupa telepon aku secara berkala. Sekarang tidak masalah seberapa sering pun kita saling menghubungi."


Nyonya Luna tersenyum ketika Anna menarik dan memeluknya.


"Terima kasih. Untuk semua yang sudah Anda lakukan untukku. Aku ...." Nada haru di suara Anna membuat Nyonya Luna menepuk pelan punggungnya.


"Jangan lagi sungkan meminta pertolongan, Ann ... kau punya teman-teman yang baik. Yang bersedia membantumu kapan saja ... tanpa pamrih ... percayalah pada mereka," bisik Nyonya Luna. Matanya melirik pada Mrs. Sanders dan Simon yang berdiri beberapa langkah di belakang Anna.


Setelah pelukan mereka terurai, Anna menghapus air mata yang begitu saja mengalir di pipinya. Ia sedih karena harus berpisah dengan Nyonya Luna. Sebuah saputangan terulur di depan wajah Anna. Ia menoleh dan melihat Simon yang mengulurkan benda itu. Anna mengambilnya dan mengelap pipi dengan saputangan tersebut.


Nyonya Luna berpamitan pada Mrs. Sanders. Dua sahabat itu saling mencium pipi, tertawa dengan mata berkaca-kaca.


"Sampai jumpa, Sayangku. Jaga dirimu," ucap Nyonya Luna.


"Kau juga, Luna. Jaga dirimu ...."


Kemudian Nyonya luna berpindah ke depan Leon. Wajah bocah itu tampak sangat sedih. Ia berdiri dengan memegangi koper Nyonya Luna.


"Apakah Anda akan datang lagi kemari?" tanya Leon.


"Mungkin saja, Leon ...."


Leon bergerak memeluk Nyonya Luna yang sudah berjongkok di depannya.


"Aku akan sangat merindukanmu," ucap Leon.


"Aku juga ...," bisik Nyonya Luna.


"Aku sangat senang ketika Anda berada di sini. Mam Ann juga."


"Akupun begitu ... Leon yang rajin belajar, oke ... jangan nakal," pesan Nyonya Luna.


Setelah bocah itu mengangguk, Nyonya Luna berpindah pada Simon. Pria itu langsung memeluknya.


"Selamat tinggal, Simon. Terima kasih atas semuanya," bisik Nyonya Luna.


"Itu bukan apa-apa. Anna sangat bahagia dengan kehadiran Anda."


"Bolehkah aku minta tolong, Simon?"


"Tentu, Nyonya Luna."


"Tolong ... jaga Anna untukku."


Simon melonggarkan pelukan, memegang kedua bahu Nyonya Luna dan menatap matanya yang berkaca-kaca. "Pasti. Aku berjanji."


Nyonya Luna mengangguk, lalu menghadap ke arah mereka semua dan mengulurkan tangan pada Leon. Meminta kopernya yang masih dipegang oleh Leon.


"Serahkan ini padaku, Nyonya. Mari ...." Lucas tersenyum, menerima pegangan koper yang diberikan oleh Leon.


"Terima kasih, Lucas. Aku harus merepotkanmu sekali lagi," ucap Nyonya Luna.


"Sudah tugasku, Nyonya."


Lalu Lucas menganggukkan kepalanya pada Simon. Berpamitan pada Tuannya itu. "Saya pergi, Tuan."


"Ya ...."


Mereka semua melambai ke arah Nyonya Luna yang sengaja berhenti berjalan sebelum pintu masuk, melambai pada semua orang dengan bibir tersenyum dan air mata menetes.


Anna terlihat menghapus air matanya. Ia terdengar terisak. Simon langsung memeluknya, lalu berbisik," kau bisa bertemu dengannya kapanpun kau mau ... aku tidak keberatan menemanimu ke sana ...."


Anna membersit hidungnya. "Terima kasih," ucapnya sambil tersenyum.


"Ayo, Mam. Kita pergi makan es krim saja. Daddy? Boleh kan?" tanya Leon.


Simon melirik jam tangannya, masih sore, masih satu jam lebih waktunya makan malam, mereka bisa menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan dan makan es krim sebelum pulang, makan malam dan beristirahat.


"Tentu saja. Ayo ...."


"Yeay!" Leon melompat kegirangan. Lalu menggandeng Anna dan menariknya pergi.

__ADS_1


Mrs. Sanders dan Simon tertawa, lalu Simon memberikan lengannya untuk digandeng Mrs. Sanders.


"Kulihat ... Anna tidak menghindar ketika kau peluk. Katakan padaku ... sebenarnya bagaimana hubungan kalian? Jangan salah sangka ... aku bukan mau ikut campur, tak apa jika kau keberatan dan tidak mau menjawab." Mrs. Sanders mengakhiri ucapannya dengan tertawa.


"Tentu saja aku akan menjawab, Mrs. Sanders. Untuk saat ini, Anna hanya menganggapku sebagai temannya."


" Kenapa kau terdengar tidak puas? Bagaimana dengan dirimu sendiri? Kau juga menganggap Anna teman?"


Simon tersenyum. Menepuk punggung tangan Mrs. Sanders yang memegang lengannya.


"Kalau Anda menanyakan bagaimana keinginanku, maka akan kukatakan kalau aku ingin lebih!"


"Katakan dengan jelas, Simon. Ingin lebih bagaimana? Menjadikannya teman kencan?"


"Bagaimana kalau kukatakan aku juga ingin lebih dari sekedar teman kencan, Mrs. Sanders?"


"Oh, astaga. Kau terdengar serius."


"Ya, tentu saja. Apakah kau keberatan?"


"Tentu saja tidak. Kau pria yang baik. Aku yakin, kau bisa menjaga dan membahagiakannya. Tapi ... pasti ada alasannya kan? Maksudku ... Apakah kau bermaksud serius untuk melamar Anna? Kenapa? Jangan bilang hanya karena kau menginginkannya."


"Aku memang menginginkannya, Mrs. Sanders. Sangat ...."


Mrs. Sanders menoleh dan mendapati Simon menatapnya sambil tersenyum. "Tapi aku akan menceritakan sebuah rahasia kepadamu. Kuharap kau menjaga rahasia ini sampai saatnya tiba dan aku bisa mengatakannya sendiri pada Ann."


Mrs. Sanders menaikkan kedua alis.


"Apa itu?" tanyanya penasaran.


"Kurasa aku sudah jatuh cinta ... saat pertama kali Anna memukul kepalaku dan membuatku harus berurusan dengan kantor polisi."


Seketika mereka tertawa bersama, Mrs. Sanders sudah mengetahui tentang cerita itu dari Anna sendiri. Ketika mereka tiba di dekat mobil. Leon mengernyit menatap ayahnya.


"Apa yang Daddy tertawakan?" tanya Leon.


"Tidak ada, Sayang. Ayo masuk." Simon memegangi pintu, menunggu Anna dan Leon masuk. Ia dan Mrs. Sanders masih berbagi senyum, lalu sebelum Mrs. Sanders ikut masuk, wanita tua itu meletakkan jari telunjuknya di bibir.


Simon tersenyum lebar, mengangguk dan mengedipkan sebelah matanya pada Mrs. Sanders.


**********


Perjalanan mereka dilanjutkan dengan mengikuti keinginan Leon. Bocah itu memesan es krim berbagai rasa. Begitu gembira dan melahap semua es krim dan kue yang dipesan. Mereka mengobrol lama, lalu sempat berkeliling sejenak sebelum akhirnya memutuskan pulang ketika senja sudah mulai menapak.


Simon memerintahkan Bruno untuk mengantarkan Mrs. Sanders duluan hingga ke depan rumahnya.


Dalam perjalanan pulang setelah dari rumah Mrs. Sanders, Leon jadi sedikit pendiam. Anna melihat kening bocah itu mengkerut. Keringat juga mengembun di pelipis dan leher bocah itu.


"Leon? Ada apa? Ada yang sakit?"


Mendengar ucapan Anna, Simon segera menoleh ke belakang. Ia mengernyit melihat wajah Leon yang sepertinya menahan sakit.


"Mam ... Leon sakit perut!" ucap Leon.


"Leon perlu ke toilet?" tanya Anna.


Leon mengangguk cepat. "Daddy ... sakit sekali ...."


Bruno mengendarai lebih cepat tanpa diperintah. Ia sudah mengerti situasinya.


"Sabarlah. Sedikit lagi, oke!? Kau terlalu banyak makan es krim dan kue!" ucap Simon.


Leon diam saja, bersandar ke dada Anna sambil memegangi perutnya.


"Perlukah kita berhenti di tempat yang ada toilet umum, Tuan?" tanya Bruno.


Simon menoleh ke belakang. Melihat ke arah Leon yang tampak makin kesakitan.


"Berhenti saja, Daddy!" seru bocah itu.


Bruno berhenti di sebuah fasilitas umum, tempat beristirahat, cafe kecil dan juga bersebelahan dengan tempat pengisian bahan bakar.


Anna dengan gesit membantu Leon turun. Mereka memilih toilet umum yang ada di sebelah cafe.

__ADS_1


Anna menunggu di luar ketika Leon masuk. Beberapa menit kemudian bocah itu keluar, namun wajahnya masih pucat dan berkeringat.


"Masih sakit?"


Leon mengangguk. "Sepertinya Daddy benar


... Leon kebanyakan makan, karena tadi saat makan siang Leon hanya makan dua sendok. Jadi perut Leon kosong, Leon lapar, Leon jadi makan semua cokelat dan es krimnya banyak-banyak."


"Shhhh ... ayo, kita kembali ke mobil. Kita pulang saja."


"Bisakah Mam Ann ke rumah Leon dulu? Kalau mengantar Mam dulu, Leon ...."


"Tentu. Mam bisa pulang sendiri nanti."


Anna mengangkat Leon, menggendongnya dan segera melangkah kembali ke mobil. Simon segera menyambut dan mengambil alih putranya ketika melihat Anna tiba.


"Dad, pulang ...." bisik Leon.


"Baiklah. Masih sakit?"


Leon mengangguk.


"Sebaiknya pulang ke rumahmu dulu, Simon. Leon sepertinya tidak akan tahan kalau harus mengantarku dulu." Anna segera membuka pintu mobil dan masuk, ia mengulurkan tangan, mengambil Leon dari Simon ketika bocah itu dimasukkan ke dalam mobil oleh ayahnya.


Setelah semua orang masuk ke mobil, Bruno melajukan kembali kendaraan.


"Langsung ke rumah pantai dulu, Bruno," perintah Simon.


Setelah tiba di rumah pantai, Leon tidak menunggu siapapun membukakan pintu untuknya, bocah itu langsung berlari masuk.


Anna ikut turun, tanpa menunggu ditawari untuk masuk, ia berjalan cepat menyusul Leon masuk ke dalam rumah. Kerutan khawatir tercetak jelas di kening wanita itu.


Simon turun dari mobil, berbarengan dengan Bruno. Bruno berdiri tegak dan menatap wajah tuannya yang seperti terkesima dengan adegan yang sebenarnya tampak biasa, tapi ia tahu bagaimana perasaan tuannya itu, karena Bruno sendiri merasa melihat hal yang sama.


Simon bersandar beberapa saat di pintu mobil, melihat ke arah pintu rumahnya yang terbuka lebar. Bila ia masuk ke sana, hanya Anna dan Leon yang akan ia temui, karena semua kakak dan keponakannya, Hamilton dan juga Alric sudah pulang kemarin. Sebuah perasaan menyelinap ketika ia melihat cara Anna memperlakukan Leon. Sejak Leon mengeluh perutnya sakit di dalam mobil tadi.


Bruno terus menatap tuannya sampai akhirnya Simon menyadari hal itu.


"Kenapa kau menatapku?" tanya Simon.


Bruno tersenyum. "Mam Anna terlihat seperti seorang ibu yang begitu khawatir melihat Tuan kecil sakit ...."


Simon tidak berkomentar.


"Bila Anda masuk rumah, saya jadi membayangkan sebuah keluarga kecil yang lengkap. Ayah dan ibu untuk Tuan Leonard."


Simon masih tidak berkomentar.


"Akan lebih baik lagi jika ayah dan ibunya cepat-cepat menikah," pancing Bruno lagi, tidak dapat menahan seringai kecil yang tiba-tiba menyeruak karena pikiran yang melintas di otaknya.


Simon menoleh. " Menurutmu begitu? Apa yang membuatmu menyeringai?"


Bruno menatap Simon, tidak merasa takut kalau pria itu akan marah karena ucapannya.


"Karena saya merasa hal itu masih sangat jauh, Tuan. Mam Anna terlihat tidak terlalu berminat dengan pernikahan," ucap Bruno dengan nada sedikit geli.


"Maksudmu Anna tidak tertarik padaku, begitu?"


Bruno tidak dapat menahan tawanya. "Jangan tersinggung, Tuan. Saya mengatakan tentang pernikahan. Mam Ann tidak berminat pada pernikahan, bukan pada Anda," ucap Bruno.


Simon menyipit menatap ke arah rumah. "Kau lihat saja, malam ini, dia tidak akan pulang," ujarnya sambil melangkah meninggalkan Bruno yang menyeringai dengan sangat lebar. Tahu bahwa Tuannya itu pasti akan melakukan sesuatu untuk menahan Anna agar tetap di rumahnya.


NEXT >>>>>


**********


From Author,


Jangan lupa like, like, like😆 love, komentar, bintang lima dan Vote untuk PS ya Dear😘😘


Terima kasih banyak🥰🥰


Salam. DIANAZ.

__ADS_1


__ADS_2