Pengantin Simon

Pengantin Simon
42. Just friend


__ADS_3

Anna menatap Leon yang masih berceloteh di depannya. Bocah itu memasukkan tangan ke dalam toples kaca, mengambil permen yang ada di dalamnya. Simon duduk di sofa tunggal yang ada di samping sofa panjang yang Anna duduki bersama Leon.


"Mereka semua akan pulang sebentar lagi. Daddy Alric sekeluarga, Paman Vincent, dan Daddy Claude ... mengundang Mam Ann ikut makan malam bersama kami semua," ucap Leon.


"Makam malam?" Anna bertanya, namun matanya melirik ke arah Simon.


"Iya. Kakek Hamilton bilang Leon harus membujuk Mam datang, juga Mrs. Sanders dan Nyonya Luna."


"Di rumah Leon?"


"Tepatnya bukan di rumahku ... Kurasa Yoana takut tempatnya agak sempit dengan kehadiran anak-anak." Untuk pertama kalinya Simon bersuara.


"Jadi dimana?"


"Di sebelahnya ... restoran hotel kami. Tempat itu cukup luas."


Anna tampak berpikir. Hotel mewah di pinggir pantai milik keluarga Bernard.


"Nyonya Luna dan Mrs. Sanders juga akan datang," tambah Simon.


"Benarkah?"


Simon dan Leon mengangguk berbarengan.


"Mam datang ya. Daddy akan jemput kemari," ucap Leon.


"Bersiaplah sebelum pukul 7. Nyonya Luna dan Mrs. Sanders akan dijemput oleh Bruno."


Anna menatap Simon. Pria itu tidak menanyakan kesediaannya. Leonlah yang menanyakan hal itu. Simon hanya memberi pernyataan, bahwa ia akan dijemput sebelum pukul 7.


"Ayolah, Mam ... Leon akan sedih kalau Mam tidak hadir. Mrs. Sanders dan Nyonya Luna juga," bujuk Leon.


Anna menyunggingkan senyum. "Baiklah ... Mam akan datang."


Leon bertepuk tangan, Anna melirik Simon, pria itu tertawa sambil membelai rambut Leon dengan gemas. Ketika mata mereka bertatapan, Anna segera memalingkan wajahnya. Ia melihat kilau itu lagi di mata Simon. Sinar mata yang membuat hatinya kembali merasa resah.


**********


Anna sudah mencoba seluruh gaun terbaik yang ia punya. Ia tidak punya banyak, namun entah kenapa, membayangkan bagaimana paras seluruh anggota keluarga Simon membuat Anna merasa ia setidaknya harus sedikit berdandan.


Pilihannya jatuh pada gaun berwarna abu-abu terang. Gaun itu tanpa lengan, dengan sebuah ristleting di bagian belakang gaun. Atasan dan bagian bawah gaun disatukan oleh sebuah ban pinggang dan juga pita pengikat yang diikat di bagian samping. Bagian bawah gaunnya jatuh lembut mengelilingi pinggul Anna, menutupi hingga beberapa senti di bawah lututnya.


Anna memutar tubuhnya di depan cermin.


"Kurasa ini cukup cantik ...."


Setelah itu Anna menyisir rambutnya kembali. Ia menyatukan rambutnya ke belakang leher, lalu menjepitnya dengan sebuah ikat rambut berwarna perak dengan hiasan kristal. Sapuan make up tipis di wajahnya membuat sinar mata Anna tampak lebih memikat.


"Make up ini tidak terlalu tebal kan?" ia bertanya, lalu tersenyum bodoh karena tidak ada seorangpun di sana yang bisa ia tanyai pendapatnya.


Anna menarik napas panjang, lalu berkata pada dirinya sendiri di cermin.


"Jangan menjadikan makan malam ini sebagai beban, Ann ... tidak ada orang yang perlu kau buat terkesan. Kau hanya memenuhi undangan makan malam dari seorang temanmu."


Setelah berkata begitu, Anna merasa perasaannya lebih baik.


Ia mengambil tas kecilnya, memeriksa ponsel, lalu melangkah keluar menuju ruang tamu. Ann baru saja duduk ketika suara mobil Simon sudah tiba di depan halaman rumahnya. Anna segera berdiri, mengambil kunci dan keluar ke beranda.


Ia melihat Simon baru saja turun. Anna segera mengunci pintu dan berbalik melangkah menuju mobil.


Simon bersiul, tersenyum menatap Anna dengan mata berbinar.

__ADS_1


"Kau sudah siap rupanya."


"Kau bilang sebelum pukul tujuh. Aku tidak suka terlambat."


Simon membukakan pintu untuk Ann. Wanita itu masuk disusul kemudian oleh Simon. Ia mengendarai sendiri mobilnya untuk menjemput Ann.


"Seharusnya kau tak perlu repot. Suruh saja Bruno mampir kemari, lalu kami akan menjemput Nyonya Luna dan Mrs. Sanders. Kami bertiga akan muat dalam satu mobil."


Simon diam saja, tidak menanggapi perkataan Anna.


"Apakah Nyonya Luna dan Mrs. Sanders sudah dijemput?"


"Sudah."


Sisa perjalanan mereka lalui dalam diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Simon bertanya-tanya apakah Anna gugup. Namun ia menjawab sendiri pertanyaan itu. Anna tidak tampak gugup sama sekali. Ia siap tepat waktu, bersikap percaya diri dan tampak tidak terganggu dengan kenyataan bahwa semua anggota keluarga Simon akan hadir.


Simon merasa sikap Anna berbanding terbalik dengan keadaan dirinya saat ini. Yoana sampai menertawakannya. Mengatakan bahwa ia seperti pria yang baru pertama kali pergi berkencan, mengganti dasi sampai tiga kali.


Yoana sampai bertanya, apakah benar-benar sesulit itu membuat Anna terkesan.


Mereka tiba di halaman hotel. Seseorang membukakan pintu untuk Simon dan juga Anna. Simon lalu menyerahkan kunci mobilnya pada petugas Valet yang menganggukkan kepala hormat.


Simon menunggu dengan lengan terulur ke arah Anna. Anna menyambut tangan itu sambil menyunggingkan senyum kecil.


Setelah tangan mereka saling menggenggam, dan mereka melangkah bersama memasuki lobi, Simon berbisik ke telinga Anna.


"Aku takut nanti lupa mengatakan ini ... kau tampak sangat cantik, Ann."


Anna menoleh sedikit, menyunggingkan senyum terima kasih dan balik memuji.


"Kau juga, Simon. Kau tampak tampan dan gagah dengan tuxedomu."


Simon menyipit, tidak ada wajah malu atau sedikit merona ketika Anna mendengar pujiannya, juga tidak ada sedikit pun getar dalam suara wanita itu saat balik memujinya. Anna bersikap layaknya seorang teman yang datang untuk makan malam bersama keluarga temannya.


Simon menarik sebuah kursi, lalu Anna duduk dan kemudian menyadari ia ditempatkan diantara Simon dan Leon, bukan di sebelah Mrs. Sanders dan Nyonya Luna yang juga adalah tamu dalam makan malam tersebut.


"Ini bukanlah makan malam yang formal. Semoga kalian semua tidak terganggu dengan suara dan tingkah anak-anak ini," ucap Yoana.


"Tentu saja tidak, Yoana. Jangan khawatirkan itu. Kami senang berkumpul di sini dengan semua anggota keluargamu," ucap Mrs. Sanders.


Anna bersyukur ia tidak perlu banyak bicara, karena sepanjang makan malam tersebut berlangsung, dirinya boleh dikatakan dimonopoli oleh Leonard. Anna menjawab pertanyaan Leon, membantu bocah tersebut dengan serbet dan juga kesibukan melayani pertanyaan Leon. Semua orang sepertinya tidak keberatan. Mrs. Sanders dan Nyonya Luna sangat senang duduk berdampingan dengan Mary dan Catty.


Anna tersenyum, mencoba menikmati makan malam dengan santai, namun ia tidak memungkiri jika rasa gugup yang sejak tadi ia coba sembunyikan, makin lama membuat dadanya terasa seperti penuh.


Ketika makan malam itu berakhir, Anna sangat bersyukur. Ia punya alasan untuk pamit sebentar pergi ke toilet. Ia perlu ruang, menghirup udara dan melegakan dadanya.


"Maafkan aku, aku perlu ke belakang. Bisakah aku permisi sebentar?"


Anna melihat Simon dan Hamilton yang duduk di dekatnya mengangguk. Ia baru saja akan pergi dari kursinya ketika gadis kecil Valencia merengek ingin ke belakang pada ibunya.


"Baiklah, ayo Mommy antar."


Mereka pergi bersama-sama menuju toilet. Mary dan Anna mengobrol dengan akrab, kebanyakan mereka membicarakan Leonard. Setelah selesai dari toilet dan mencuci tangan mereka di wastafel. Valencia menarik ujung gaun Ann.


"Mam Ann ... bolehkah aku bertanya?"


"Ya? Tentu boleh."


"Apakah kau menyukai kakakku?"


Anna menaikkan alisnya, lalu melirik ke arah Mary yang hanya tersenyum sambil menaikkan bahu.

__ADS_1


"Maksudmu Leon?"


Valencia tampak mengangguk. Mata birunya menatap Anna dengan serius, menunggu jawaban.


"Tentu saja. Kakakmu sangat baik."


Valencia tampak mengembuskan napas lega.


Mary tertawa, lalu menggandeng putrinya, ia juga mengajak Anna berjalan bersama.


"Katakan pada Mommy, kenapa bertanya begitu pada Mam Ann, Val?" tanya Mary pada putrinya.


"Mommy tahu Leon sangat suka bermain dengan kami bukan? tapi Mom lihat saat makan malam tadi? Leon hanya memperhatikan Mam Ann seorang."


Anna berdeham. "Apakah itu buruk?" tanya Anna.


"Tidak. Val senang kalau Leon akhirnya menemukan Mommy untuk Paman Simon ... tapi Mommynya harus menyukai Leon juga, tidak hanya menyukai Paman Simon. Karena itu Val bertanya apakah Mam Ann menyukai Leon atau tidak."


Valencia berceloteh lancar dan tidak menyadari kalau ucapannya itu membuat Anna kaget dan wajahnya jadi merona. Mary melihat hal itu dan tertawa sungkan.


"Ah, maafkan putriku ... perkataannya membuatmu jadi tidak nyaman."


Mereka tiba di aula dan berjalan ke arah meja kembali. Anna duduk dan mengambil gelas minumnya. Sekarang ia tidak lagi dapat menyembunyikan rasa gugupnya.


Apakah kehadiranku begitu tidak biasa? sehingga gadis sekecil Valencia bahkan mengira kalau ada sesuatu antara aku dan Simon? Sejak kapan aku menjadi calon Mommy untuk Leonard?


Anna menghabiskan minumannya. Mengembuskan napas panjang berulang kali.


Alric kemudian menuntun Mary untuk berdansa. Hamilton mengajak Nyonya Luna, lalu Claude mengajak Mrs. Sanders, karena Catty harus memegang Benita, putrinya yang masih delapan bulanan.


Vincent dan Yoana tampak tidak bergerak ke lantai dansa. Anna mengira mereka mungkin mengawasi anak-anak. Meskipun tak jauh dari meja itu, beberapa Nanny terlihat siap dengan mata mengawasi anak asuhnya masing-masing.


"Paman Simon, kenapa tidak mengajak Mam Anna berdansa?" tanya Valencia.


"Val benar. Kenapa Daddy masih duduk saja? Kalau Leon sudah besar dan pintar berdansa, Leon pasti sudah mengajak Mam."


"Stttt ... Daddy Simon akan mengajak Mam Ann. Tapi nanti, biarkan Daddy dan Mam mengobrol. Val dan Leon kemari," ucap Yoana.


Leon dan Valencia mendekati Yoana, yang sudah dikelilingi Aislin, Alexa dan Joice serta juga Catty yang mendekat dengan Benita dalam pangkuannya. Vincent, suami Yoana juga duduk tak jauh dari kumpulan itu. Kursi-kursi sudah tidak beraturan. Keluarga Bernard sepertinya tidak sekaku yang Anna duga sebelumnya.


"Bibi Catty, tadi Mam Ann mengakui kalau Mam Ann menyukai Leon. Mam Ann akan jadi Mommy yang keren untuk Leon," cetus Valencia tiba-tiba.


Anna sangat terkejut, ia menoleh dan menatap ke arah kumpulan keluarga Bernard di seberang meja. Yoana tampak terkejut, Catty tampak tersenyum lebar, sedangkan Vincent yang tidak pernah tersenyum, tiba-tiba terlihat menyeringai di mata Anna.


Anna mengangkat tangan, menggoyangkan telapak tangannya ke kiri dan ke kanan.


"Ti-tidak, it-itu ... Mam Ann bukan ...." Karena kesulitan bicara, Anna menoleh. Meminta bantuan Simon, namun pria itu duduk santai dan menuang kembali anggur ke dalam gelasnya.


Yoana kasihan melihat Anna yang salah tingkah dengan wajah yang mulai memucat.


"Maafkan Val, Mam Ann ... jangan diambil hati ... wajar saja jika anak-anak mengira begitu. Paman Simon kami, tidak pernah mengajak seorang wanita pun ikut bergabung makan malam dengan seluruh keluarga. Sepertinya Anda adalah pengecualian ... tentu saja karena Anda adalah guru kesayangan Leonard," ucap Yoana. Perkataannya didukung anggukan oleh Leonard.


Wajah Anna perlahan terlihat biasa lagi. Yoana tertawa dalam hati.


Ck ck ck ... sepertinya kau benar-benar hanyalah teman baginya, Simon!


NEXT >>>>


From Author,


jangan lupa untuk tekan like, love, bintang lima ,komentar dan vote ya pembaca semuanya. Atas dukungannya author ucapkan terima kasih banyak.

__ADS_1


Salam. DIANAZ.


__ADS_2