
"Maafkan aku, Brenda. Kau malah tidak bisa menikmati pestanya." Anna menarik napas panjang. Ia menoleh dan melihat Brenda tersenyum maklum.
"Dia hanya cemburu, Ann. Dia tidak suka melihat kau menari dengan Zach."
Anna mengendikkan kedua bahunya. "Entahlah. Aku pamit. Terima kasih banyak, Bren. Sekali lagi maaf, kau jadi harus mengantarku."
"Tidurlah yang nyenyak. Semua akan baik-baik saja besok."
"Ya ...."
Anna menunggu mobil Brenda berbalik dan pergi dari halaman pondoknya barulah ia masuk ke dalam. Tiba di dalam, Anna mengunci pintu. Ia berjalan gontai hingga ke dalam kamar. Setelah melempar tasnya sembarangan ke atas lantai, ia menjatuhkan diri sendiri ke atas kasur. Air mata yang sejak tadi dengan susah payah ia bendung akhirnya mengalir deras.
Anna mencoba menyelami hatinya sendiri. Perasaan apa yang paling dominan menguasai dirinya saat ini. Ia marah karena sadar ataupun tidak, Simon sudah melukai harga diri Ann dengan menyebutnya sebagai jalanng. Ann menilik sikapnya saat mereka berada di kabin kapal. Ia memang menggoda pria itu lebih dulu, mungkin itu juga yang membuat pria itu berpikir bahwa Anna sebenarnya murahan. Ditambah gaya berpakaiannya malam ini.
Tetapi entah kenapa, Anna mengakui pada dirinya sendiri, dibandingkan rasa sakit hatinya karena ucapan Simon, ia lebih sakit hati ketika melihat kehadiran Jean di sana. Simon bersama Jean. Meski wanita itu bertopeng, Anna kenal rambut merah wanita itu. Anna menyadari, rasa cemburunya semakin bertambah. Hatinya sakit ketika tahu Simon menghabiskan waktu dengan wanita lain juga, bukan hanya dengan Anna saja.
Aku sudah tahu kau pria yang dominan, aku menyukaimu, aku tidak suka kau bersama wanita lain. Namun malam ini, kau menampakkan diri sebagai pria arogan, apakah bijaksana mengorbankan kebebasanku, sedangkan kau sepertinya tetap memiliki kebebasan untuk bertindak sesuai keinginanmu? Kau akan mengatur semua segi dari kehidupanku ... bukankah begitulah artinya ikatan pernikahan? Kalian para suami, seolah memiliki kuasa penuh atas istri kalian ....
Anna menghapus kasar air matanya. Tanpa ia sadari, kelelahan dan tangisan akhirnya membuat matanya terpejam rapat. Menyambut tidur tanpa mimpi, masih dalam balutan gaun pesta yang menjadi sumber kekacauan malam itu.
**********
"Apa tidak sebaiknya kau mengetuk pintunya?" tanya Jhon.
Simon menarik napas panjang. Ia parkir tak jauh dari halaman pondok Anna. Sengaja tidak mendekat. Tadi setelah melihat mobil Brenda berlalu dari rumah Anna, Simon memutuskan mendekat ke jalur masuk pondok tersebut.
Jhon yang menyetir mobil. Mengajukan diri mengantar Simon, setelah ia menitipkan adiknya Mindy dan Jean pada temannya Damian agar membawa keduanya pulang.
"Tidak. Kami masih sama-sama marah, Jhon. Aku hanya ingin memastikan ia tiba di rumah dengan selamat."
"Kau tetap harus bicara dengannya, Simon. Ucapanmu padanya menurutku agak keterlaluan. Maaf, bukan maksudku menguping. Beberapa kata-kata kalian terdengar agak kencang."
"Aku tahu ... tapi tidak sekarang. Ia butuh tidur. Besok masih sibuk di sekolah. Lusa hari terakhir ... dan aku masih punya banyak waktu. Anna berjanji akan menghabiskan liburan musim panas bersama Leon."
__ADS_1
"Itu melegakan."
Simon mengangguk. "Ya ... kurasa kita bisa pulang sekarang," ucap Simon. Menoleh ke arah Jhon yang menggangguk menyetujui.
Dalam perjalanan pulang, ponsel Simon berdering. Ia mencoba mengabaikannya. Namun, nada deringnya terus memekakkan telinga.
"Kurasa itu penting. Lihat dulu siapa yang menelpon, Simon," saran Jhon.
Dengan malas-malasan, Simon merogoh ke dalam kantong. Ia melirik dan mendapati Yoana yang menelepon. Sambil bersandar dan meletakkan ponsel ke telinga, Simon menerima panggilan itu.
"Halo ... ya, Yoan? Ada apa?"
Terdengar isak tangis sebelum Yoana mencoba bicara.
"Kau belum tidur?" tanya Yoana.
Simon menegakkan punggungnya. Suara Yoana terdengar serak, isak tangis terdengar di sela kata-katanya.
"Simon ...." Yoana terdengar menarik napas, kesulitan mengucapkan kata-kata.
"Yoana, katakan padaku ada apa?"
"Simon, Paman Hamilton-"
"Ada apa dengan Paman Hamilton?"
"Segeralah kemari, Simon. Vincent sudah menghubungi Bruno. Pesawat kita sudah akan siap di bandara White Sand Bay. Kau dan Leon, segeralah kemari ...."
"Ada apa dengan Paman, Yoan!"
Jhon tersentak, terkejut mendengar Simon tiba-tiba berteriak.
"Aku tidak tahu, Simon. Aku sungguh tidak tahu. Claude bilang Paman baru saja bicara dengannya di ruang kerja, lalu mereka baru saja akan kembali ke kamar masing-masing. Paman baru menaiki setengah anak tangga menuju lantai atas ketika tiba-tiba ia jatuh. Claude tidak sempat menangkapnya. Paman jatuh dan tidak sadarkan diri ...." Tangis Yoana semakin kencang. "Sekarang kami sudah di rumah sakit. Paman sedang di dalam ... kami belum tahu bagaima ...." Yoana berhenti berkata, ia menangis lagi.
__ADS_1
"Kemarilah. Bawa Leon, Simon."
Simon mematikan sambungan. Ia melirik Jhon, " bisakah kau lebih cepat, Jhon? Aku perlu membawa Leon. Paman Hamilton-"
Jhon tidak menunggu Simon melanjutkan ucapannya. Kedua mata sahabatnya itu sudah berkaca-kaca. Ia tahu sesuatu yang buruk telah terjadi.
Mereka tiba di depan rumah pantai. Bruno sudah bersiap dengan mobil dan juga beberapa orang kepercayaan mereka. Ketika berlari masuk ke dalam rumah, Simon langsung menuju ke kamar Leon.
Nanny Lea sedang berusaha membangunkan bocah itu dengan bujukan. Leon menolak bangun. Bocah itu sudah sangat nyenyak dan menolak gangguan apapun. Simon meraup tubuh putranya, lalu memberi instruksi pada Lea.
"Tidak perlu membawa apapun, Lea. Beritahu pengurus rumah kita pergi."
"Sudah, Tuan."
"Kalau begitu kita pergi sekarang." Simon mengangkat dan menggendong Leon. Bersama mereka melangkah keluar rumah.
Jhon memberi pelukan selamat tinggal pada Simon, juga satu tepukan di punggung.
"Kuharap semuanya baik-baik saja ...."
"Ya ... Kami pergi, Jhon."
Diiringi Lambaian pengurus rumahnya dan Jhon. Dua mobil hitam yang dikendarai Bruno dan Seth meluncur membawa mereka menuju bandara White Sand Bay.
NEXT. >>>>>
******
From Author,
Jangan lupa like, love, bintang lima, vote dan komentar ya readers. Terima kasih banyak atas dukungannya.
Salam. DIANAZ.
__ADS_1