
Anna merasa sangat bosan. tidak ada kegiatan yang bisa ia lakukan di dalam pondok. Senja sudah memudar beberapa saat lalu. Setelah bolak-balik gelisah di atas ranjangnya, Anna akhirnya memtuskan bahwa saran Mrs. Sanders ada benarnya. Anna bangkit, mengambil ponsel dan mencoba menghubungi Simon.
Anna memejamkan mata ketika tidak mendengar nada sambung. Nomor Simon tidak aktif. Ia mencoba lagi dan hasilnya sama.
Anna mengembuskan napas panjang. "Baiklah
Karena tidak bisa bicara melalui telepon, aku akan mengalah! Aku akan ke sana dan bicara denganmu! Lagipula tidak ada yang bisa kulakukan di sini."
Anna segera mengganti piyamanya dengan gaun. Ia mengenakan cardigan rajut di luar gaun dan menarik tas kecil berisi dompetnya. Setelah memesan taksi, Anna menunggu di beranda pondok.
Debar jantung Anna jadi bertambah ketika taksi yang ia tumpangi membawanya makin dekat ke rumah pantai Simon.
Baiklah ... terserah kau mau menganggapku apa, Aku ingin bertemu Leon ... jika memang Leon tidak mau rencana liburannya dilanjutkan, aku akan menurut. Namun, jika liburannya tidak jadi hanya karena kita bertengkar, maka kau saja yang tidak usah ikut. Aku dan Leon tetap akan pergi.
Ketika sudah tiba dan turun dari taksi, Anna. menyipit memandang rumah pantai yang tampak sepi tersebut. Ia berjalan pelan sambil melihat sekitar. Angin malam menerbangkan rambutnya, berembus dan membuatnya sedikit kedinginan.
Ketika menunggu di depan pintu, Anna memegangi perutnya yang merasa lapar. Ia memang belum makan malam.
Makan malam di luar? Sepertinya ide bagus, bicara dengan kepala dingin ...
"Selamat malam, Nona."
Anna mendongak, agak terkejut mendapati seorang pelayan telah membukakan pintu dan menyapanya.
"Oh, Selamat malam. Bisakah aku bertemu Simon?"
__ADS_1
Pelayan tersebut belum pernah melihat Anna sebelumnya, namun karena Anna menyebut nama Simon bukan Mr. Bernard. Ia tahu bahwa tamu tersebut memiliki hubungan yang cukup dekat dengan tuannya.
"Tuan Bernard tidak di rumah, Nona. Sedang pergi."
"Kalau begitu, apakah Leon ada?"
"Tuan kecil juga ikut, Nona."
"Oh ... boleh aku tahu mereka kemana? Mungkin kau bisa memberitahuku? Aku teman Simon, aku perlu bicara dengannya."
Pelayan tersebut menggelengkan kepala. "Maaf, Nona. Sepertinya Anda harus menunggu jika mau bicara dengan Tuan Bernard. Beliau pulang ke Mansion keluarga Bernard. Mansion utama, tempat Tuan Claude." Pelayan tersebut menjulurkan tangan ke udara, memberi tanda bahwa mansion tersebut jauh.
Anna berdiri kaku. Tidak menyangka akan mendengar berita ini. Ia tahu Simon marah besar, namun tidak menduga bahwa pria tersebut sudah pergi tanpa mengatakan apa-apa.
Pelayan tersebut berpikir sejenak. Hanya pengurus rumah yang tahu kenapa tuan mereka tiba-tiba pulang, yang lainnya tidak tahu. Namun saat ini memang sudah liburan musim panas dan tuan kecil biasa menghabiskannya di rumah Nyonya Catty.
"Sepertinya iya, Nona. Sudah liburan. Bahkan Lea, Seth, Lucas dan Bruno juga ikut."
Anna menelan ludah, ia mengangguk mengerti, lalu sambil mencoba tersenyum ia segera berpamitan. Anna meraih ponselnya, kembali memesan taksi dan menunggu sendirian.
Debur ombak terdengar jelas dari tempatnya berdiri. Anna terkenang kembali ketika ia berjalan berdua dengan Simon di sepanjang pantai saat acara makan malam keluarga Simon. Keluarga yang hangat, penuh kasih sayang dan juga saling mendukung.
Hati Anna terasa amat hampa, Simon dan Leon meninggalkannya. Sekarang Anna tahu, rencana liburan mereka benar-benar sudah dibatalkan. Keduanya memilih menghabiskannya dengan keluarga besar Bernard.
" Tentu saja ... mereka lebih memilih ke sana. Aku bukan siapa-siapa. Aku hanya wanita yang berdandan seperti seorang jalanng ...."
__ADS_1
Anna menoleh ketika taksi tiba. Ia segera naik, menahan rasa sesak yang tiba-tiba terasa menggulung di dadanya. Sekuat tenaga Anna menghapus pikiran-pikiran buruk yang membuat dirinya menjadi lemah, menghalau rasa sedih dan juga kecewa yang menekan batinnya.
Ketika tiba di dalam pondok, keheningan yang mewarnai ruang tamu membuat Anna makin tertekan. Ia menyadari bahwa ia benar-benar sendiri. Sendiri dalam arti sesungguhnya. Hatinya terasa kosong ... mengisi liburan sambil memancing bersama Leon benar-benar hanyalah angan. Rencana itu sudah menguap.
Mata Anna tiba-tiba menjadi berair. Ia melempar tas kecilnya ke atas sofa, lalu berjalan gontai ke arah kamar. Anna menelungkup di atas kasur, entah kenapa ia merasa ingin menangis. Ia sama sekali tidak mengerti kenapa hatinya jadi sangat kecewa.
Setelah membasahi bantalnya dengan air mata, Anna berbalik hingga tubuhnya telentang
Matanya terpaku pada sebuah kotak yang ada di atas lemari.
White Clouds ... Nuella ...
Anna mengembuskan napas panjang. Sebuah keputusan terbit di pikirannya. Membuat hatinya sedikit tenang. Dengan perlahan ia bangkit, membuka lemari dan mulai menyusun beberapa baju dalam tas travelnya.
Hanya beberapa hari ... setidaknya aku punya kegiatan sebelum kembali ke sini dan bertemu lagi dengan Leon ....
NEXT >>>>>
**********
From Author,
Jangan lupa like bab ini, love, bintang lima dan vote ya. Terima kasih banyak.
Salam. DIANAZ.
__ADS_1