
Simon mengerutkan kening, memandangi bagian ujung dari area restoran, tempat tadi sosok Anna menghilang setelah berpamitan ingin ke toilet.
Suasana temaram di sekitar tempat itu membuat Simon agak khawatir. Ia mengedarkan pandangan, hanya ada beberapa pasangan saja yang mengisi meja. Meski ia mengenal tempat itu dengan baik, namun tidak begitu dengan Anna.
Dia sudah terlalu lama ke belakang. Apakah ia tersesat?
Simon mengangkat gelas minumannya dan menyesap seteguk. Terpikir olehnya untuk menyusul dan mencari Anna ketika sebuah tepukan dari belakang bahunya membuat ia terkejut dan menoleh.
"Kau Simon bukan?" tanya seorang wanita berambut merah.
"Ya?" Simon mengangguk. Ia menatap sambil mengingat siapa wanita itu.
Suara tawa yang merdu terdengar.
"Hei, Bocah Bernard! Tak kusangka kau setampan ini sekarang," ucap wanita itu.
Simon merasa tidak sopan bila ia terus duduk membelakangi wanita itu. Lagipula ia tidak bisa melihat dengan jelas sosoknya bila tetap duduk. Ia bangkit dari kursinya, berhadapan dengan wanita yang tersenyum padanya dengan tangan yang terulur.
Simon menjabat tangan wanita itu sambil menatap sosoknya dari atas hingga bawah. Wanita itu terlihat modis, gaun one shoulder yang ia kenakan memperlihatkan sebelah bahunya yang putih, gaun berwarna hitam tersebut membalut tubuhnya dengan ketat, sengaja dibuat pas badan dan memperlihatkan lekuk cantik dari pemiliknya. Rambut wanita itu disanggul di belakang, sedikit ikal kemerahan jatuh di samping telinganya, menambah cantik paras wajah wanita itu.
"Kau lupa ternyata," ucap wanita itu, lalu tertawa renyah sebelum melanjutkan. "Kukira rambut merahku ini sulit dilupakan oleh pria manapun. Ternyata tidak denganmu, Simon."
"Astaga ... kau si gadis api," ucap Simon sambil tersenyum lebar. Seketika teringat siapa wanita itu setelah ia mengungkit soal rambut merahnya.
Jabatan tangan mereka terlepas setelah Simon mengingat dengan baik siapa wanita itu. Salah satu temannya saat sekolah dulu. Si rambut merah yang kerap membuat onar. Dulu, Simon pernah menolongnya sekali, beberapa orang menghadang wanita itu saat pulang menuju rumahnya. Mereka terlibat perkelahian, meski bisa bela diri dan bisa menghajar para lelaki itu, tak urung lama kelamaan ia kewalahan. Saat itulah Simon yang melihat kejadian itu membantunya.
"Apa kabarmu, Jean?" tanya Simon. Menatap dengan senyum masih terkembang.
"Aku baik-baik saja. Tak kusangka melihatmu di sini. Kau tidak suka lama-lama ada di pulau ini kan?"
"Itu dulu. Sekarang aku tinggal di sini. Sudah bertahun-tahun. Malah kau yang telah lama meninggalkan pulau ini."
"Aku mendapatkan pekerjaan bagus di luar sana. Dulu kau selalu pindah saat sekolah. Sesuka hatimu," sindir Jean.
Simon tertawa. "Dan ada seorang gadis yang pernah berusaha menahanku ...." Simon mengedipkan sebelah matanya, membuat Jean mendengus keras.
Kemudian keduanya sama-sama tertawa ketika mereka terkenang masa lalu, saat usia mereka masih belasan tahun.
"Kau dengan siapa kemari?" tanya Simon.
__ADS_1
"Dengan teman-temanku. Di ujung sana." Jean menunjuk di ujung kiri restoran. Tempat dua orang wanita duduk sambil menatap ke arah mereka.
"Bagaimana denganmu? Dengan siapa kau kemari?"
"Ah ... aku dengan-" Ucapan Simon terputus, karena di ujung lain restoran, tempat tadi Anna menghilang untuk ke toilet, tampak Anna berdiri sambil memegang tas kecilnya di depan dada. Simon tidak bisa menebak ekspresi apa yang dengan cepat menghilang dari wajah wanita itu, karena ketika mata mereka bertemu, Anna menyunggingkan senyum padanya.
Bertepatan saat itu Jean melihat teman-temannya melambai, menyuruhnya datang dengan segera.
"Maaf, Simon. Lain kali mungkin kita bisa mengobrol lebih panjang. Aku ke sana dulu, mereka sudah memanggilku."
"Baiklah. Senang bertemu denganmu, Jean."
"Aku juga!" Lalu tanpa aba-aba Jean memeluk Simon sambil tertawa.
Simon terlalu terkejut untuk bereaksi.
"Jhon benar ... kau sangat tampan dan juga menawan. Sesekali ajak aku keluar makan malam, oke?" pinta Jean.
"Kau sudah bertemu Jhon?"
"Tentu saja! Pria yang mengeroyokku saat remaja tidak akan pernah bisa melupakanku. Aku menemuinya dan mendorongnya hingga tercebur ke dalam laut," ucap Jean sambil tertawa, lalu wanita itu berlalu sambil melambaikan tangan.
pemandangan Simon yang sedang mengobrol dengan seorang wanita cantik membuat ia menghentikan langkah. Anna tidak kuasa mendekati mereka dan menyapa wanita itu. Hingga akhirnya mata Simon menatapnya, Anna harus berusaha sekuat tenaga menyunggingkan sebuah senyum.
Ketika wanita berambut merah tersebut berlalu sambil melambai pada Simon, Anna memaksa kakinya agar kembali berjalan.
"Kau lama sekali," ucap Simon sambil mengulurkan sebelah tangan.
Anna menaikkan alis, tidak mengerti kenapa Simon mengulurkan tangan.
"Aku sudah lama menunggu untuk berdansa denganmu. Jadi ayo, kita langsung ke sana," tunjuk Simon.
Anna menoleh, melihat beberapa pasangan yang sudah lebih dulu ada di sana. Ia mengangguk, lalu meletakkan tangannya ke tangan Simon tanpa mengucapkan apapun.
Berputar dalam gerak lambat di lantai dansa, Anna merasakan sentuhan tangan Simon di pinggang dan tangannya, pikiran Anna mengembara di sentuhan-sentuhan lain yang dilakukan oleh pria itu, bahkan ciuman pria itu melintas dalam bayangan Anna.
Sudah berbulan-bulan ia bersama Simon, hubungan mereka menjadi sangat dekat. Anna tidak ingat ia pernah berteman dengan siapapun sedekat itu selain dengan Simon. Anna jadi terbiasa, menganggap bahwa kehidupan pria itu hanyalah Leon, keluarga besarnya, lalu pekerjaannya. Ia tidak pernah melihat Simon dengan wanita manapun.
Pergi makan malam, menghabiskan waktu bila pria itu sedang bosan, Annalah yang diajak. Simon mengatakan mereka pergi kencan, seperti pasangan kekasih, meski dengan nada bercanda dan Anna tidak merasa terganggu dengan perumpamaan itu.
__ADS_1
Namun, setelah melihat senyum Simon dan juga tawa yang tadi ia bagi bersama wanita cantik berambut merah, Anna jadi menegur dirinya sendiri. Tentu saja pria itu punya kehidupan lain selain yang sudah Anna ketahui. Dia seorang pria tampan yang sukses dan juga mapan. Mungkin saja ia punya kekasih yang benar-benar menjadi teman kencan sungguhan.
Memikirkan itu entah kenapa Anna merasa sedih. Ia tertunduk dan tidak menyadari langkahnya semakin pelan dan ia menjadi lesu.
"Kau kenapa?"
Anna mendongak, mendapati sepasang mata berwarna gelap yang memandangnya penuh perhatian.
"Kau sepertinya tidak bertenaga. Kau tidak mau berdansa?"
"Tidak. Aku baik-baik saja. Tetaplah di sini sampai musiknya selesai."
"Kau kelamaan di belakang. Ada masalah? "
Anna menggeleng, namun ia memang agak lemas. Siklus datang bulannya ternyata sudah datang sesuai jadwal, ketika perut dan pinggangnya tadi merasa nyeri, Anna pamit memeriksa ke belakang. Untunglah ia membawa persiapan pembalut dalam tas kecilnya.
Anna mengatakan pada diri sendiri bahwa faktor hormonallah yang membuat perasaannya tidak menentu, bukan pemandangan wanita cantik yang bersenda gurau dengan Simon tadi. Meski dalam hati kecilnya mengakui bahwa pemandangan tadi juga memicu sesuatu yang terasa asing, seolah ia kecewa mengetahui bahwa Simon juga memiliki teman wanita lain yang akrab dan berbagi tawa dengannya.
Anna tanpa sadar mendesah panjang. Desahan yang terdengar lelah di telinga Simon. Segera ia mengeratkan pelukan lengannya di sekeliling pinggang wanita itu, lalu mengangkat tubuh Anna dengan cepat.
"Ap-"
Anna yang terkejut tidak sempat protes, karena Simon sudah berjalan sambil mengangkat tubuhnya hanya dengan sebelah lengan.
"Simon, turunkan aku," desis Anna. Mengedarkan pandangan ke sekeliling restoran. Tidak ada yang memperhatikan mereka kecuali tiga orang wanita yang berada di sebuah meja di ujung lain restoran. Salah satu wanita itu adalah si rambut merah.
Anna segera mengalihkan tatapannya ketika mengetahui wanita itu tengah memandangi ulah Simon. Ia berhenti protes, menggigit bibir dan membiarkan saja Simon membawanya keluar dari tempat itu sambil berpegangan pada bahu Simon.
Aku pasti sinting ... aku senang wanita itu melihat adegan memalukan ini ... ya Tuhan ....
NEXT >>>>>>
********
From Author,
Hai, hai readers kesayangan Leon, bantu vote yuk untuk Daddy biar otor rajin up, hehehe ... kasih kopi biar otor tahan melek buat ngetik, hati atau bunga juga boleh, apalagi kursi pijat ama piala, wkwkkwk .... kalo silet, meski takut terluka, otor rela deh, diterima juga. bhuahahahhaha.
Moga sehat selalu ya my readers and happy always. Luv youuu....
__ADS_1
Regard. DIANAZ.