
Anna duduk di ruang tamu Mansion keluarga Andreas dengan gelisah. Hampir satu minggu ia baru berani mengambil keputusan untuk menemui ibu mertuanya.
"Kulihat kau baik-baik saja, Emilia." Nyonya Andreas menatap menantunya dari atas hingga bawah, lalu melirik Simon yang duduk di sofa lain dengan pakaian rapi. Nyonya Andreas masih mengenali pria itu meski sudah berbulan-bulan. Saudara Claude Bernard, yang anaknya diculik oleh Martin.
"Ya ... Mom ...." Anna merasa lidahnya kelu ketika menyebut nama panggilan ibu mertuanya itu.
"Sekali saja ... untuk terakhir kalinya, apa kau tidak bisa memberikan salam terakhir untuk Martin. Jika kau datang, setidaknya kau bisa tahu dimana ia dimakamkan."
Anna tidak menjawab, hanya menunduk dengan tangan saling menggenggam.
"Aku tahu dia membuatmu menderita, tapi dia mengurusmu dengan baik sejak awal. Ada kebaikan yang ia lakukan, untukmu, untuk Nuella ... dia tidak sepenuhnya jahat!"
Anna masih diam. Ia sudah mengira akan dihakimi seperti ini.
Simon duduk diam tanpa suara. Ia akan ikut campur bila saatnya tiba. Bila Nyonya Andreas mau meluapkan kejengkelannya dengan cara mengomel seperti itu, ia akan menutup telinga, selama Anna tidak merasa terganggu .
"Setidaknya ... untuk terakhir kali ... kau bisa datang kemari, dia sudah mati, Em! terakhir kali ... katakan selamat tinggal! balasan kebaikan yang pernah ia lakukan karena mengurusmu dan Nuella!"
Anna menunduk dalam-dalam.
Akulah yang mengurusnya ... mengorbankan hidupku ... kebebasanku ... membebaskan kalian dari tugas itu .... Anna menjawab ibu mertuanya di dalam hati.
"Tapi rupanya, kau lebih suka tinggal sendiri. Tidak mau menoleh lagi pada kami, keluarga suamimu! ... ah, aku salah ... kau menemukan kesibukan baru. Kau bahkan diantar kemari, seolah kau tidak tahu dimana letak Mansion ini," sindir Nyonya Andreas sambil melirik pada Simon.
Anna mengangkat kepalanya, merasa perlu menetapkan pembicaraan hanya pada tujuan kedatangannya ke sana. Ia tidak mau ibu Martin menyindir Simon.
"Mom ... kau mengatakan ada sesuatu yang ditinggalkan Martin, ada hubungannya dengan Nuella. Aku ingin tahu apa itu?"
"Ck! Aku sudah menduga kau akan datang ketika aku menyebut nama Nuella. Claude Bernard benar-benar merepotkan! Kau seharusnya mendatangi kami yang dalam keadaan berduka! Aku malah harus mengemis pada pria itu! Menanyakan kapan kau akan datang!"
Telinga Simon merasa tersentil ketika Nyonya itu menyebut nama kakaknya. "Jika Anna belum siap datang, bukankah bisa ganti Anda yang bertamu dan mendatanginya, Nyonya?"
"Hah! Itu juga yang dikatakan kakakmu! Dengan syarat aku harus mengatakan padanya kapan aku mau datang ke pulau terpencil itu! Agar ada seseorang yang bisa menemani Emilia ketika aku datang! Memangnya aku penjahat! Tentu saja aku tidak mau bersusah payah ke sana! Emilia lah yang seharusnya menemuiku, bukan sebaliknya!"
Simon menatap kasihan pada Anna yang terlihat merapatkan bibir. Seolah menahan agar tidak berkomentar.
"Jadi cuma itu alasanmu datang kemari? Menginginkan benda peninggalan adikmu itu?"
"Benda itu ... peninggalan Nuella? Tolong ... Mom ... berikan padaku," pinta Anna dengan suara memelas.
__ADS_1
"Bagaimana kalau kau pulang saja kemari? Kau tidak perlu bekerja ... kami akan menyediakan semua kebutuhanmu, bahkan ... warisan bagian Martin akan kuberikan kepadamu, asalkan kau mau kembali."
"Aku heran ... Anda terlihat tidak terlalu menyukai Anna, kenapa berkeras sekali ingin ia kembali ke keluarga Andreas?" tanya Simon. Tidak dapat menahan rasa ingin tahunya.
"Aku sebenarnya tidak punya keharusan menjawab pertanyaanmu, Tuan Bernard. Tapi apa boleh buat ... aku ingin bisa melihat Emilia setiap hari, mengingatkanku bahwa putra bungsuku adalah anak yang sempurna. Dengan Emilia, ia hidup bahagia. Aku perlu itu untuk mengenang Martin."
"Anna bukan pengganti anakmu."
"Tentu saja, tapi dia menantuku. Dan nama aslinya Emilia, Tuan Bernard, bukan Anna!"
Anna merasa perlu menghentikan perdebatan itu. "Mom ... bisakah aku mendapatkannya sekarang? Benda milik Nuella ...."
"Ck! Bagaimana dengan tawaranku?" tanyanya arogan.
"Terima kasih, Mom, tapi tidak. Aku suka bekerja. Jadi tak apa, aku tetap akan tinggal di White Sand Bay."
"Ck!" Tanggapan Nyonya Andreas berupa decakan, namun ia tetap berdiri, berlalu dari ruang tamu yang besar itu untuk pergi mengambil sesuatu yang jadi penyebab Anna datang ke sana.
Setelah menunggu beberapa menit, Nyonya Andreas kembali dengan sebuah kotak kardus. Tidak terlalu besar dan juga tampak ringan.
"Ini."
Kotak tersebut diletakkan di atas meja. Anna segera mengambil dan mengintip isinya. Beberapa amplop yang sepertinya berisi surat. Anna mengangkat satu, lalu melihat tulisan kecil-kecil yang ia kenali sebagai tulisan tangan Nuella.
Anna menganggukkan kepala. "Terima kasih sudah memberikannya padaku. Aku ... pamit, Mom ...."
"Kau benar-benar tidak mau kembali kemari?"
Anna menggeleng. "Tidak ...."
"Martin meninggalkan banyak hal yang bisa menjadi milikmu ...."
Anna kembali menggeleng. "Tidak ...."
"Sekali saja ... apa kau tidak mau melihat makamnya? Dia pasti mau melihatmu ... dia memujamu ... kau pusat hidupnya, Em ...." Suara Nyonya Andreas tiba-tiba terdengar kalah.
"Kau salah, Mom ... kaulah pusat hidupnya ... Martin begitu mencintaimu. Baginya ... pendapatmulah yang penting. Dia berusaha melakukan apapun, agar mendapatkan pujian darimu, Mom. Apapun ....."
Termasuk memberikan istrinya pada pemabuk. Agar bisa mendapatkan keturunan ....Anna menambahkan dalam hatinya.
__ADS_1
Ia kemudian bangkit, "Aku pamit, Mom."
"Dia beristirahat di Tanah Crystal," ucap Nyonya Andreas.
Anna tidak menanggapi, ia terus melangkah.
Dengan tertunduk lesu, Nyonya Andreas melepas Anna. Ia tidak mengantarkan Anna dan Simon ke pintu keluar.
Setelah mereka masuk ke dalam mobil yang telah disewa Simon ketika tiba, Anna mengambil sebuah surat yang ada di dalam kotak. Ia membukanya perlahan, mengeluarkan sebuah kertas tulisan Nuella.
Yang kucintai, Emilia.
Aku sangat berharap dapat melihatmu. Di sini sangat sepi ... perawatan tiada henti. Aku sungguh merindukan jalan-jalan dan makan es krim denganmu. Namun, jika kau datang kemari, kau mungkin akan menjadi sedih melihat aku seperti ini ...
Kedatangan Martin kadang sedikit membuatku gembira. Dia memperlihatkan foto-fotomu dari ponselnya. Aku tidak menyangka, kau jadi sangat cantik, padahal kita tidak bertemu baru beberapa tahun saja. Aku berharap, aku punya mata berwarna hijau, sama seperti dirimu. Tapi Martin bilang, mataku tak kalah cantik. Dan satu rahasia akan kubagi di sini, tapi kau jangan kesal ya .....(Martin bilang mataku lebih menarik dibanding warna matamu, heheehe)
Anna melipat kembali surat itu, tidak membaca sampai habis. Memutuskan membacanya ketika ia sedang sendirian. Tidak bersama Simon, yang akan mengawasi setiap ekspresi wajahnya. Dari isi surat, ia mengetahui setidaknya, saat melakukan kunjungan ke tempat perawatan Nuella, Martin masih bersikap baik pada adiknya.
Selembar tisu terulur di depan wajah Ann. "Ini," ucap Simon.
"Terima kasih ...." Anna baru menyadari ia menangis dalam diam.
"Kita kemana? Penerbangan kita kemari lumayan melelahkan. Kau mau langsung kembali pulang atau bagaimana? Bila lelah, kita bisa mencari hotel. Istirahat dulu, besok baru kembali. Kalau kau kuat, kita bisa langsung mengatur penerbangan pulang."
Anna menghapus pipinya dengan tisu sambil menjawab pertanyaan Simon. "Aku belum memutuskan, tapi bisakah kau mengantarku ke suatu tempat dulu?"
"Tentu. Tunjukkan saja arahnya."
NEXT >>>>>
**********
From Author,
Readers Simon and Anna, yuks ikutan Birthday party berhadiah di novel pengantin Simon, ada uang tunai, voucher pulsa, tas, dll. Yuks simak sama-sama
Caranya? Cukup dengan memberikan vote sebanyak-banyak untuk karya Pengantin Simon. Event ini tidak berlaku untuk admin dan panitia GC Dianaz ya.
__ADS_1
Jangan lupa juga tekan like, love, rate bintang lima dan komentar. Terima kasih banyak readersku, terima kasih juga panitia dan admin. I love u😘😘😘😘
Salam hangat. DIANAZ.