Pengantin Simon

Pengantin Simon
57. No commitment


__ADS_3

"Boleh aku tahu kemana tujuan kita, Ann? Sudah lebih satu jam kita berkendara ...."


Simon berkata dengan mata menatap fokus ke jalanan di depannya.


"Kita akan ke Danau Elar."


"Danau Elar?"


Anna mengangguk. "Danau yang ada di utara Kota ini."


"Disanakah Tanah Crystal berada?"


Anna mengernyit, melirik ke arah Simon. "Tanah Crystal?"


"Ya. Tempat Martin dimakamkan."


"Kenapa kau mengira aku akan kesana?"


Simon mengangkat bahu. "Entahlah, mengucapkan selamat tinggal mungkin?"


Anna tertawa kering, terdengar terpaksa. Wajah wanita itu terlihat sedih sejak keluar dari rumah Nyonya Andreas.


"Aku sudah lama mengucapkan selamat tinggal padanya. Sejak aku melarikan diri. Tidak perlu kuulangi lagi ... aku tidak ingin melihatnya lagi, bahkan jika itu hanya dalam bentuk sebuah makam."


"Maaf, aku hanya menebak. Jadi ... tempat apa Danau ini sebenarnya?"


Simon tidak mendapatkan jawaban yang ia inginkan, karena Anna menunjuk ke arah depan sebuah plang penunjuk arah sambil memberi arahan. "Di depan belok kiri, Simon. Kita hampir sampai."


Simon mengikuti arahan itu, sampai mereka tiba di sebuah tempat bertuliskan Danau Elar. Sebuah tempat bersantai, piknik, dengan lapangan berumput di pinggir danau dan beberapa anjungan yang menjorok ke arah air, tempat mengambil latar foto yang pasti menakjubkan.


Simon memarkirkan mobilnya. Anna segera berbalik ke arah kursi belakang, bermaksud meletakkan kotak berisi surat Nuella ke kursi belakang.


"Surat itu ... apakah ditulis adikmu?"


"Ya."


"Dia menulis banyak sekali, tanpa sampai padamu satu pun ... yang dikirim oleh kepala rumah sakit ke rumah lamamu dulu, juga ada banyak kan? Apakah Martin tidak sempat mengambilnya dari rumah sakit waktu itu?"


"Mungkin ya ... di surat yang dikirim oleh rumah sakit, Nuella lebih banyak menulis dalam bentuk cerita ... hari-hari terakhirnya ... kurasa, saat itu Martin sudah tidak mengunjunginya lagi, jadi surat-surat itu tertinggal di sana."


"Tapi dari surat itu juga kau mengetahui kebenaran kalau Nuella sudah ...."


Anna mengangguk. "Surat itu dikirim bersama satu surat pemberitahuan dari mereka, bahwa mereka mengirim barang-barang Nuella ke alamat rumah Martin karena pria itu tidak pernah datang lagi sejak Nuella meninggal. Aku tahu setelah membacanya ... Martin membohongiku ... dia membiarkan aku mengira bahwa adikku masih hidup, masih menjalani pengobatan agar aku tetap bersamanya ...."


Simon menunjuk ke arah kotak yang sudah diletakkan Anna di belakang.


"Itu, apa yang ia tulis?"

__ADS_1


"Ia merindukanku, ingin jalan-jalan lagi denganku ... kurasa ia menulis surat-surat yang ada di dalam kotak itu saat Martin mengunjunginya. Mengira Martin akan memberikannya untukku. Martin memang membawanya, tapi menyimpan sendiri surat itu."


Anna membuka pintu, bersiap turun dari mobil.


"Danau ini, pasti punya cerita tentang Nuella kan? Kau mau mengenang acara jalan-jalan kalian?"


Anna belum jadi turun mendengar pertanyaan Simon. "Tidak. Tempat ini adalah tempat dimana Martin melamarku."


Simon reflek mendekat ke arah Anna, menarik kembali pintu mobil sampai tertutup dan menguncinya. Ia tidak segera kembali ke tempatnya sendiri, melainkan memandang Anna dengan wajah berhadapan, sehingga Anna bisa melihat jelas ekspresi wajahnya.


"Kau tidak mau melihat makamnya, kau bilang sudah mengucapkan selamat tinggal! Lalu kenapa kau kemari!? Mau mengenang acara lamaranmu!? Kisah yang terlalu manis untuk kau lupakan!?"


Anna menaikkan kedua alisnya, wajah Simon terlihat kesal, kedua matanya mendelik dengan tubuh mendesak ke arah Anna.


"Kenapa kau jadi kesal?"


"Jawab aku kenapa kita kemari!"


Anna jadi terhibur melihat wajah Simon yang gusar.


"Bagaimana kalau memang untuk mengenang kisah lamaranku saat itu?"


"Ck! Kalau begitu, kita pergi saja. Sudah saatnya makan siang! Aku lapar!"


Senyum kecil akhirnya terbit di wajah Anna.


"Benda apa?" Simon bertanya, ia tidak melihat Anna membawa sesuatu di perjalanan mereka.


Anna menunduk, merogoh dalam kantongnya dan mengeluarkan sebuah cincin berlian.


"Ini ...." Simon menyipit menatap cincin yang terpajang jelas di matanya.


"Dia memberiku ini di sini, aku menerimanya dengan sepenuh hati. Aku ingin mengembalikan padanya. Kurasa ini tempat yang cocok. Membuang ini dan seluruh kenangannya ... selamanya ...."


Simon segera beringsut, ia membuka pintu, lalu memutari mobil. Membuka pintu bagian Anna. Wanita itu masih termangu memandangi kilau berlian di cincin yang ada di tangannya.


"Ayo. Lempar itu ke tengah danau, lalu lupakan pria itu! Jangan sedih! Pria lain masih banyak!" nasehat Simon dengan semangat.


Anna tersenyum lagi. "Kau benar. Aku masih muda, sebaiknya aku menikmati hidupku mulai sekarang."


"Setuju!"


"Banyak pria yang baik di dunia ini. Aku pasti akan menemukan satu."


"Benar. Aku salah satunya," ucap Simon dengan percaya diri.


Senyum Anna berganti tawa mendengar perkataan Simon.

__ADS_1


"Tunggu di sini, Simon. Aku hanya sebentar," ucap Anna. Ia turun dan melangkah pergi ke salah satu anjungan yang menjorok ke arah danau.


"Ann!" panggil Simon.


Anna menoleh. "Ya?"


"Jika kau mencari pria setelah ini, aku mendaftar pertama!" Simon menunjuk dirinya sendiri dengan ekspresi lucu.


Anna tertawa geli. "Kau sudah jadi teman pria favoritku, Simon."


"Tidak. Bukan teman. Aku mendaftar jadi kekasih."


Anna menatap Simon dengan wajah terkejut, lalu wajahnya berbinar, masih tertawa ia berbalik dan pergi menjauh ke arah danau.


"Akan kupastikan tidak akan ada yang bisa mendaftar lagi dalam list itu setelah aku," bisik Simon sambil menyeringai. Ia gembira wajah sedih Anna telah menghilang, wanita itu melangkah cepat ke pinggir danau, menaiki anjungan dan berjalan sampai ke ujung. Tiba di sana, ia mengangkat tangan, lalu melempar sesuatu ke tengah danau. Kilau yang terkilas di bawah sinar matahari membuat Simon yakin benda itu adalah cincin yang tadi ia lihat.


"Benar. Buang saja! Aku akan membelikanmu yang lebih bagus," desis Simon sambil bersandar di badan mobil. Menunggu Anna kembali.


Anna langsung berbalik dan melangkah kembali ke arah Simon. Ia menatap Simon yang menatapnya di kejauhan dengan postur santai, bersandar ke badan mobil dengan kaki bersilangan dan lengan bersedekap.


Bersenang-senanglah setelah ini ... Nuella pasti ingin kau bahagia ... pria di depanmu bisa jadi jawabannya, lihat dia ... dia tampan, menggairahkan, kau suka ciumannya, kau meleleh di pelukannya ... Kau bisa mereguk semuanya bersama pria itu, tanpa perlu mengikatkan dirimu, mempertaruhkan kebebasanmu ... tanpa komitmen seperti pernikahan, itu akan menbuatmu aman ....


Anna tersenyum lebar, melangkah semakin cepat ke arah Simon. Semakin cepat hingga Simon melihat wanita itu seperti setengah berlari. Simon segera berdiri tegak dan merentangkan tangannya, ia khawatir Anna terjatuh, wanita itu seolah akan menabrakkan tubuhnya ke arah Simon.


Anna masuk dalam rengkuhan lengan Simon. Senyumnya lebar, wajahnya berbinar. Simon melihat sinar kebahagiaan di kedua bola matanya. Ia bahkan mengalungkan kedua lengannya ke leher Simon.


"Apa aku melewatkan sesuatu?" tanya Simon. Menatap menyelidik ke wajah Anna yang mendongak.


Anna menggeleng, lalu dengan sengaja menjinjitkan kakinya. Wanita itu menarik kepala Simon dan menyatukan bibir mereka.


Mata Simon melebar, ia berdiri diam dan terkesima. Anna Geraldi, pertama kalinya berinisiatif memberi sebuah ciuman di bibir untuknya. Wanita itu memejamkan mata, menempelkan tubuh pada Simon, dan memeluk lehernya begitu dekat.


Ah, cincin ... kenapa aku belum juga mencarinya. Sepertinya lamaranku akan segera diterima ... ucap Simon dalam hati, sebelum balas melumatt bibir Ann dengan hati membuncah.


NEXT >>>>>>


*********


From Author,


Nantikan kisah selanjutnya, perjalanan pulang yang penuh arus listrik dan juga kesalahpahaman, wkwkwkkw .... kesentrum dong ...


Bantu like, love, bintang lima , komentar dan vote untuk PS ya. Yuk ikutan juga Birthday party di novel PS.


Terima kasih semuanya.


Salam. DIANAZ.

__ADS_1


__ADS_2