
Anna memandang pondoknya yang sudah terkunci untuk terakhir kali sebelum naik ke kursi bagian belakang mobil taksi yang ia pesan. Ia akan pergi untuk melihat makam Nuella, sekaligus melihat panti White Clouds, tempat ia dan Nuella bertemu dan dibesarkan sebelum diadopsi oleh keluarga Barnes.
Setelah duduk dan mobil mulai melaju, Anna melirik ke arah ponsel yang ada di tangannya. Sampai pagi ini, tidak ada pesan maupun panggilan masuk dari Simon. Anna menyerah menunggu dan mengecek terus layar ponsel. Ia akhirnya memasukkan benda tersebut ke dalam tas.
Jhon yang melihat sebuah taksi baru saja keluar dari jalur masuk rumah Anna segera memutar dan membuntuti. Ia hanya berniat melintas dan mengambil foto keadaan pondok itu pagi ini sebagai bahan laporan untuk Simon. Jhon tahu, temannya itu senang ketika ia mengirim kabar tentang Anna, semacam vitamin untuk suasana hati Simon yang pasti masih khawatir dengan keadaan Hamilton.
Jhon menjaga jarak aman dengan mobil taksi yang membawa Anna. Ia menduga Anna mungkin mau berjalan-jalan, atau mengunjungi seorang teman.
Namun, semakin jauh ia mengikuti, keraguan merasuki hatinya. Jalur yang ditempuh oleh taksi Anna adalah jalur yang akan berakhir di bagian lain pulau, tempat bandara White sand bay berada.
Apakah ia mau pergi? Kemana?
Jhon semakin yakin ketika taksi yang ditumpangi Anna memasuki jalur bandara.
Sambil memegang ponselnya, Jhon segera menelepon Simon.
"Ya, Jhon?"
"Apakah aku mengganggu?"
"Tidak. Ada apa Jhon?"
"Kau dimana?"
"Masih di rumah sakit. Ada apa? Apakah kau sudah melihat Anna pagi ini?"
"Di rumah sakit? Apakah Paman Hamilton masih-"
"Jhon, perkembangan Paman Hamilton sangat bagus, kami hanya tinggal menunggu ia bangun. Sekarang katakan padaku, kenapa kau menelepon?"
"Syukurlah. Aku sedang mengikuti ibu guru."
"Mengikuti?"
"Ya. Dia menuju bandara ... ah, dia sampai."
"Bandara!? Memangnya dia mau kemana?"
"Tunggu! Aku akan bicara dengannya."
Jhon langsung mematikan ponsel. Mendekat ke arah taksi Ann. Anna berdiri di trotoar, menunggu travel bagnya diturunkan oleh supir taksi.
__ADS_1
"Ann!" panggil Jhon sambil membuka kaca mobilnya.
Anna mengerutkan kening. "Jhon? Bukankah kau Jhon?"
"Ya. Bisakah kita bicara? Aku akan parkir dulu. Kumohon tunggulah sebentar."
"Oh, emmm ... baiklah."
Anna menunggu beberapa menit, sampai Jhon akhirnya datang. Mereka bersalaman, Anna tersenyum dan mengira kalau Jhon kebetulan ada urusan di bandara dan melihatnya.
"Apakah kau menjemput seseorang?" tanya Anna. Melihat Jhon tidak membawa tas atau apapun, jadi Jhon tidak mungkin datang ke sana karena akan bepergian.
"Emm ... ya. Di-dia belum tiba," ucap Jhon. Memutuskan sedikit berbohong mengenai alasan ia ada di sana.
"Apakah kau mau pergi?" Jhon menunjuk travel bag Anna.
"Ya. Aku mau mengunjungi kota kecil White Clouds. Kau tahu tempat itu?"
Jhon mengangguk. "Ah, liburan musim panas di sana?" tanya Jhon berbasa-basi.
Anna mengangguk. "Ada sedikit urusan. Aku mau mengunjungi adikku."
"Oh. Dia pasti senang kau datang."
"Emm, Ann ... karena kita bertemu di sini, kebetulan ada yang ingin ku sampaikan."
Anna melirik jam tangannya, ia masih punya waktu.
"Tidak akan lama, Ann. Ini soal Simon malam itu. Di bar ..."
"Ah ... itu ... kau ada di sana juga?" Anna mengernyit, mengingat-ingat apakah ia pernah melihat Jhon malam itu.
"Ya. Aku dan Jean tidak bermaksud mencuri dengar pertengkaran kalian. Tapi ... Simon datang ke sana karena akulah yang memberitahunya bahwa kau ada di sana bersama teman-temanmu. Dia jadi marah-marah melihat kau berdansa dengan Zach. Maaf ...."
Anna mengerutkan keningnya. "Jean? Jean datang ke sana bersamamu? Bukan dengan Simon?"
Jhon menatap wajah Anna yang terkejut. Wanita itu bukannya fokus pada berita bahwa Jhonlah yang memanggil Simon, tapi malah bertanya tentang Jean. Sedikit pemahaman terlintas di pikiran Jhon.
"Tidak. Simon datang ke sana karena aku yang meneleponnya. Jean datang ke bar bersamaku, juga Mindy adikku. Bukan dengan Simon. Kalau kau melihat ia sempat bergelayut pada lengan Simon, jangan mempercayainya. Jean hanya menggunakan Simon untuk memprovokasi seseorang. Kami sudah saling mengenal sejak kami remaja. Aku tahu dengan pasti siapa target Jean." Jhon tertawa kecil.
Anna terlihat menggigit bibir bawahnya.
__ADS_1
"Soal Simon yang marah, kurasa kau tahu pemicunya ... dia pria posesif, dia tidak suka melihat wanita yang ia cintai berada dalam pelukan pria lain. Kurasa ... dia juga tidak menyadari ketika bibirnya memakimu ...."
Anna tertunduk, terpaku mendengar Jhon mengatakan kalau Simon mencintainya. Tangan Ann menggenggam erat tali tas yang tersampir di bahu sebelum ia kembali melihat jarum jam di pergelangan tangan.
"Terima kasih sudah mengatakan semuanya padaku, Jhon. Ini sudah waktunya, aku harus berangkat sekarang."
"Tentu, berhati-hatilah."
Anna mengangguk, lalu mulai melangkah sambil menyeret travel bagnya.
"Ann!" Jhon memanggil. Masih ada yang mau ia sampaikan.
Anna berbalik, melihat ke arah Jhon.
"Mungkin kau ingin tahu kenapa Leon dan Simon tidak menemuimu beberapa hari ini?"
Anna mengangguk.
"Mereka pulang. Paman Hamilton sakit. Kemarin ia menjalani prosedur operasi otak. Kabar terakhir, ia belum sadar, meski perkembangannya bagus setelah operasi."
Wajah Anna memucat. Ia berdiri kaku di tempatnya.
"Pergilah, Ann. Nanti kau terlambat!" seru Jhon.
Seperti robot yang menerima perintah, Anna berbalik dan kembali melangkahkan kakinya.
Teman macam apa kau, Ann! Dia dan putranya selalu ada saat kau membutuhkan! Dia membantumu tanpa kau minta ... dan sekarang, saat mereka bersedih, jangankan memberikan dukungan atau penghiburan! Kau bahkan tidak tahu!
Jhon mengembuskan napas, ia merasa lega dan puas. Ekspresi Anna memberinya keyakinan bahwa wanita itu juga memiliki perasaan yang sama pada Simon. Wanita itu hanya belum mengakuinya.
Mengambil ponsel, Jhon mengambil beberapa gambar Anna dari belakang. Tampak punggung wanita itu dengan tas kecil di bahu kiri dan tangan kanan menyeret tas bepergiannya.
"Ini gambar terakhir dariku, Teman," bisik Jhon sambil mengirim seluruh foto tersebut pada Simon.
NEXT >>>>>
**********
From Author,
Jangan lupa like bab ini, love, bintang lima, vote dan komentarnya ya. Terima kasih banyak readers.
__ADS_1
Salam. DIANAZ.