
Anna mengalihkan tatapannya ke arah tubuh Leon yang tertutup parka. Tatapan Simon entah kenapa membuat hatinya jadi resah. Mungkin tubuh mereka yang terlalu dekat, kegelapan yang hanya di sinari cahaya temaram lampu senter membuat suasananya jadi agak aneh. Begitulah yang Anna pikirkan.
"Ann ... kukira selama ini kau sudah menganggapku sebagai temanmu. Atau hanya aku yang menganggap kalau kita berteman baik? Selama ini kau tidak begitu? Aku hampir setiap hari merepotkanmu dengan Leonard. Kau juga bisa merepotkanku dengan masalahmu, Ann."
Anna terdengar membuang napas panjang. Ia menunduk dalam.
"Aku ... harus mulai dari mana? Ini seperti film serial yang terus bersambung ...."
"Dari manapun kau mau memulai. Melompat-lompat pun tak apa. " Simon menarik kepala Anna. Merasakan wanita itu tidak menolak, lemas dan menurut ketika ia menariknya agar bersandar ke bahunya.
"Karena ini cerita serial bersambung, bersandarlah dengan nyaman dan mulailah bercerita. Mungkin membantu kalau kau memulainya dengan menjelaskan siapa Martin."
Simon melihat Anna memejamkan mata. Sebelah tubuh wanita itu benar-benar bersandar di sisi tubuhnya dengan sebelah lengan diletakkan di atas tubuh Leon yang tertidur di atas pangkuan Simon.
"Dia suamiku."
Anna membuka matanya, menatap Simon. Meneliti ekspresi pria itu. Wajah Simon masih nampak seperti tadi. Siap mendengarkan, tanpa ada perubahan setelah mendengar kata suami.
"Lanjutkan, Ann," bisik Simon.
Anna mengangguk. Memejamkan matanya kembali.
"Namaku Emillia ... aku tidak punya orang tua. Hidup dan di besarkan di sebuah panti asuhan bersama dengan puluhan anak. Ketika aku menginjak remaja, Nuella datang ke panti, seorang gadis kecil yang juga sebatang kara. Satu demi satu teman-teman kami pergi dan dibawa oleh orang tua asuh mereka. Kami berdua tetap tinggal."
Anna tiba-tiba membuka kelopak matanya kembali. Tawa kecil keluar dari bibirnya. Simon menunduk dan melihat kalau mata Anna menerawang jauh di kegelapan.
"Mungkin tidak ada yang berminat untuk mengadopsi kami. Tubuh kami terlalu kurus, mungkin orang mengira kami tidak sehat, Panti kesulitan karena banyaknya anak-anak yang harus ditampung. Aku dan Nuella tetap bahagia meski harus terus tinggal di panti, harus tidur berdesakan di satu ranjang kecil. Pengurus di sana lumayan baik. Kemudian datanglah sepasang orang tua ... keluarga yang menginginkan mengadopsi Nuella. Karena Nuella tidak mau berpisah denganku, pasangan ini akhirnya mengurus dokumen untuk kami berdua. Mereka tampak baik hati ...."
__ADS_1
Simon mengeratkan rengkuhan lengannya di tubuh Anna. Ia menebak semuanya tidaklah semudah itu bagi Anna dan Nuella.
"Kami dibawa pindah ke lain kota. Di sana ... sepasang orang tua yang mengadopsi anak-anak dari panti mendapatkan tunjangan dari pemerintah. Keduanya menyediakan kami tempat berteduh, namun untuk makanan yang kami makan, kami harus membayarnya dengan bekerja. Aku pergi sekolah di pagi hari, lalu karena sudah cukup besar, aku bekerja paruh waktu di sore hingga malam hari. Aku tidak tahu kenapa ... tapi pasangan Barnes sepertinya selalu kekurangan uang ...."
"Mereka tidak bekerja?"
"Oh, Tuan Barnes memiliki sebuah tempat yang lumayan besar, mirip bengkel. Kurasa tempat itulah yang diketahui orang-orang sebagai sumber pasangan ini menghasilkan uang. Ditambah lagi dengan riwayat pernikahannya dengan Nyonya Barnes yang sudah memasuki tahun ke lima belas, terkenal sebagai pasangan yang mesra dan sangat mengharapkan kehadiran anak-anak. Kurasa hal itu yang meloloskan permintaan adopsi mereka. Anak-anak di panti terlalu banyak ... berkurang dua orang akan melegakan yang tersisa. Pemeriksaan setelah adopsi pun hanya berupa formalitas. Tentu saja pasangan Barnes hanya akan menampilkan apa yang mau dilihat oleh petugas. Sesuatu yang berjalan sebagaimana mestinya."
"Apa yang mereka lakukan?"
Anna menggelengkan kepala. "Pikiranku terlalu polos untuk mengetahui sebenarnya apa yang dikerjakan oleh Pasangan Barnes. Aku membanting tulang hingga malam ... setiap sen dari gajiku harus kuserahkan pada sang Nyonya. Aku bertahan, berharap hingga sekolahku selesai, aku bisa pergi dengan Nuella. Tahun demi tahun berlalu, Nuella mulai tampak sakit. Aku meminta pasangan Barnes membawanya periksa, tapi ...."
Anna berhenti bicara, menelan ludah seolah melancarkan kerongkongannya.
"Mereka tidak mau?" tanya Simon dengan gigi gemeretak.
Anna mengatur napasnya sejenak, kenyamanan yang ia rasakan dari kedekatannya dengan tubuh Simon membuat suatu perasaan asing menyelinap. Perasaan aman ... Anna mengernyit, bukankah seharusnya ia lebih waspada? Tersesat di kegelapan sebuah pulau tak berpenghuni, dengan Martin yang sekarang entah ada dimana. Seharusnya bukan rasa aman yang ia rasakan.
Kau mengenalkan satu perasaan baru untukku, Simon ... lenganmu membuatku merasa terlindungi, bahumu terasa hangat. Begini rasanya ketika ada seseorang di sampingku ....
"Ann ... lanjutlah bercerita. Kita belum sampai pada Martin," ucap Simon.
Anna berkedip, kehangatan dari bahu pria itu terasa meresap ke pipinya. Mata Anna kembali terpejam. Membayangkan kilas kisah hidupnya lagi dan memaksa bibirnya untuk bercerita.
"Malam itu, aku terbangun. Tubuh Nuella agak panas dan ia berkeringat. Jadi aku keluar untuk mengambilkan minum dan air untuk mengompres tubuhnya. Karena suara di ruang tengah terdengar ramai, aku berjalan pelan-pelan tanpa suara. Sampai seseorang kemudian menyebut namaku dan mengatakan tampaknya tubuhku sudah cukup siap untuk ditukarkan dengan sejumlah uang."
Anna berhenti, menelan ludah dan meremas jaket parka yang menutupi tubuh Leon. Simon menangkap tangannya, melepas genggamannya pada bahan kain tersebut dan menyatukan telapak tangannya sendiri ke tangan Anna. Dengan satu tangan memegang tangan Anna dan satu tangan lagi memeluk bahu wanita itu, Simon menoleh menatap mata Anna.
__ADS_1
"Ceritakan semuanya. Jangan berhenti. Kalau kau merasa sakit ketika mengatakannya, maka menangislah. Namun teruslah berbicara."
Setelah mengangguk, Anna kembali meneruskan kisahnya. "Sepertinya mereka sudah bosan memeliharaku. Memutuskan sudah saatnya aku memberikan mereka bayaran dengan uang yang bisa dihasilkan dengan menjual tubuhku. Malam itu aku membangunkan Nuella, kami pergi diam-diam. Kabur di tengah malam dalam cuaca yang sedang hujan. Di malam itulah aku bertemu Martin untuk pertama kalinya. Mobilnya tidak sengaja menyerempet Nuella. Dia membawa Nuella ke rumah sakit. Namun pemeriksaan malah memberikan gambaran penyakit Nuella yang sesungguhnya. Nuella mengidap kanker darah."
Anna merasa matanya tiba-tiba berair, perlahan ia menghapus buliran bening yang mulai menuruni pipinya.
"Martin ... seperti seorang malaikat yang dikirim Tuhan untuk kami ... ia mengurus segalanya. Aku mengatakan padanya akan melakukan apapun asalkan Nuella bisa sembuh. Aku juga menceritakan tentang orang tua angkat kami. Dia membawa Nuella ke fasilitas terbaik untuk diobati, sekaligus menyembunyikan kami dari pasangan Barnes. Aku melihat Nuella makin hari makin membaik, keceriaan sudah kembali di wajahnya yang kuyu." Anna berusaha menahan isakannya, teringat kembali sosok rapuh adiknya yang selalu tersenyum.
Ia sedang menyeka lagi pipinya yang basah ketika Leon tiba-tiba bergerak dalam tidur. Kedua tangan bocah itu terulur ke arah Anna, memeluk dan bergeser dari dada ayahnya, mendekat ke arah Anna.
"Mmm ...."desah Leon.
Simon melepas genggaman tangannya dengan Anna, mengatur posisi Leon agar kembali nyaman. Namun putranya itu menarik piyama Anna.
"Mommy," desah Leon lagi.
NEXT >>>>>
From Author,
Mommy?
Leon sayang, Leon benar-benar sedang tidur kan? 😳😳😳😳
Ikuti kisahnya terus ya, pas cek chapter, astoge, baru 28 episode ya. Dukung Leon dengan like, love ,bintang lima dan komentar serta vote ya my readers.
Terimakasih banyakkk sebelumnya
__ADS_1
Salam. DIANAZ.