
Anna membereskan benda-benda yang ada di atas mejanya. Beberapa hari lagi menjelang liburan musim panas. Mereka disibukkan dengan tugas mengajar, lembaran tugas dan juga beberapa rapat.
"Ann, ada yang mencarimu," ucap Brenda, salah satu guru teman Anna.
Anna mendongak, melihat ke arah pintu masuk ruang guru. Kepala Leon nampak menyembul dari bingkai pintu.
"Leon? Kemarilah."
Leon akhirnya berjalan masuk setelah mendengar ucapan Anna. Ia menyapa Mam Brenda ketika melewatinya.
"Selamat siang, Mam Brenda."
"Selamat siang, Leon. Mau mengajak Mam Ann pulang bersama?" tanya Brenda.
Leon menggelengkan kepala. "Tidak, Mam. Mam Ann sudah bilang kalau hari ini ada rapat guru, mungkin sampai sore."
Brenda mengangguk. "Benar. Jadi, Leon pulang dengan siapa? Maksud Mam, dijemput Daddy atau Nanny?"
"Mmm ... dijemput Daddy, Mam Brenda."
Senyum simpul terkembang di bibir Brenda, ia mengedipkan mata ke arah Anna yang hanya menatapnya datar, seolah tidak tahu kalau temannya itu sedang menggodanya.
"Ada apa, Leon? Kenapa mencari Mam?" tanya Anna ketika Leon tiba di depan mejanya.
"Mam tidak ada di depan kelas."
"Hari ini Mam Tina yang terakhir mengajar. Mam Tina yang bertugas menunggu sampai kalian dijemput. Karena itu Mam tidak mengantar kalian."
"Tapi ... Leon belum mengucapkan selamat tinggal sebelum pulang." Leon terlihat lesu.
Anna tersenyum, tangannya mengajak Leon mendekat. "Kemarilah."
Leon memutari meja, mendekat hingga ke kursi Anna.
"Mam sibuk sekali beberapa hari ini. Tidak pernah pulang bersama, ke sekolah juga pergi sendiri. Pondok Mam sudah terkunci ketika Daddy tiba," bisik Leon dengan nada sedih.
Anna menghela rambut di pipi Leon. "Rambutmu mulai panjang, seharusnya Daddymu sudah membawamu untuk potong rambut."
Pipi Leon menggembung, bocah itu sekarang tampak kesal. "Kita tidak sedang membicarakan rambut Leon, Mam. Kenapa Mam tidak mau ke sekolah bersama Leon?"
"Bukan tidak mau, Sayang. Menjelang liburan musim panas, pekerjaan Mam agak banyak, jadi Mam sedikit sibuk. Beberapa tugas dari Mrs. Sanders harus Mam selesaikan. Jadi Mam harus berangkat lebih pagi."
"Kenapa tidak memberitahu Dad? Jadi Daddy bisa menjemput Mam lebih pagi."
"Itu artinya Leon juga harus bangun lebih pagi, lalu berangkat seokolahnya juga terlalu pagi. Mam tidak mau membuat Leon dan Daddy Simon repot, mengerti kan?"
Senyum Leon terkembang ketika ia mengangguk. Ia senang karena Mam Anna memanggil ayahnya dengan sebutan Daddy Simon.
"Tapi, kemarin kenapa Mam tidak mau pulang bersama?"
"Kemarin Mam harus pergi bersama beberapa guru dan Mrs. Sanders ke suatu tempat setelah jam sekolah berakhir. Nah, hari ini juga, kami semua guru akan rapat dengan Mrs. Sanders. Mam tidak tahu selesai jam berapa. Jadi Mam tidak bisa pulang bersama Leon."
Leon terdengar membuang napas panjang. "Baiklah ... sebenarnya Leon mau ajak Mam jalan-jalan. Kita makan es krim."
__ADS_1
Anna tersenyum, menarik tangan Leon lalu menepuk punggung tangannya. "Lain kali, oke?"
Leon memasang wajah lesu. "Mam masih akan sibuk beberapa hari ke depan?"
"Iya, Leon. Maaf Mam tidak bisa menemani Leon makan es krim."
"Bagaimana dengan liburan musim panasnya? Mam akan ikut dengan Leon kan?"
Anna menarik napas panjang, kesibukan di sekolah membuat Anna mempunyai alasan untuk menghindar dari Simon sementara waktu. Ia sengaja menjauhkan diri dulu dari pria itu, menganalisa perasaannya sendiri.
Simon memang telah melamarnya, juga mengatakan kalau ia mencintainya. Namun, Anna merasa semuanya berjalan terlalu cepat. Ia tidak mau mempertaruhkan hidupnya lagi, menerima lamaran pria karena merasa kalau pria itu baik. Simon memang dekat dengannya, tapi Ann tidak percaya pria itu tidak dekat dengan wanita lain. Jean contohnya.
Dulu ia mencintai Martin, namun hidupnya tidak bahagia. Bagaimana hidupnya nanti dengan Simon jika mereka menikah, sedang Anna tidak mencintainya. Tidak akan adil untuk Simon. Lagipula, Anna masih ragu, Simon pria dominan, akankah ia mengikatkan dirinya pada pria yang akan mengendalikan hidup dan mengekang kebebasannya lagi?
"Mam tidak mau ikut?" Leon terdengar sangat sedih. "Kalau begitu, liburannya tidak jadi saja ...."
"Kenapa begitu?"
"Tidak akan menyenangkan kalau Mam tidak ikut."
"Jangan begitu, Leon. Memangnya kita akan kemana?"
"Di sana adalah perkemahan musim panas. Tapi itu adalah perkemahan keluarga. Tidak seru hanya Leon dan Daddy. Teman-teman Leon pergi ke sana setiap tahun. Leon tidak pernah mau pergi ke sana meski Dad bersedia, meski Nanny Lea dan Paman Seth juga ikut, terasa tidak pas ... tapi ...."
"Tapi?"
"Tapi sebenarnya, Leon ingin sekali bisa pergi ke sana ... Kata teman-teman Leon, di sana menyenangkan sekali, ada danau, hutan hijau, juga bisa mendengar suara burung di pagi hari, karena itu tahun ini, Leon ingin pergi, dengan Mam tentu saja."
Anna menggenggam tangan Leon dalam telapak tangannya.
"Daddy bilang terserah Leon mau liburan kemana. Biasanya Leon ikut dengan Paman Claude dan Mom Cat, pernah juga liburan dengan Daddy Alric dan Mom Marry."
"Tidak pernah dengan Daddy Simon?"
"Daddy hanya mengantar, lalu akan sibuk dengan pekerjaannya sendiri. Tentu saja ia akan datang, menghabiskan waktu beberapa jam, lalu pergi lagi. Jadi tahun ini, Leon mau menghabiskan waktu seluruhnya dengan Dad ...."
Anna terenyuh mendengar nada sedih Leon. "Baiklah. Mam akan ikut."
Senyum lebar segera terbit di bibir Leon. Bocah itu segera memeluk Anna. "Mam janji?"
"Ya. Tentu. Tapi Mam harus menyelesaikan beberapa pekerjaan dulu sebelumnya. Leon harus bersabar sebelum kita bisa pergi ke perkemahannya."
"Tak apa, Mam. Perkemahannya dibuka selama musim panas. Kita tidak harus datang saat liburan di mulai. Kita bisa pergi ketika semua tugas Mam selesai. Lagipula, Leon lihat Daddy juga banyak sekali pekerjaan akhir-akhir ini. Mungkin Daddy mau menyelesaikan semua sebelum menikmati libur."
Anna mengangguk, senang mendengar nada riang di suara Leon.
"Kalau begitu kita sepakat, jadi jangan sedih lagi meskipun kita tidak akan sering bertemu beberapa hari mendatang."
Leon mengangguk antusias. "Tentu! Semoga pekerjaan Mam lancar dan cepat selesai. Leon akan menunggu sampai waktunya liburan."
"Anak pintar. Sekarang pulanglah. Daddymu pasti sudah menunggu lama."
"Ya!" Leon mencium pipi Anna sekali lagi, lalu berpamitan sebelum meninggalkan ruang guru.
__ADS_1
Brenda berdiri sambil memegang alat tulis di tangannya. Ia melihat ke arah Anna.
"Kita pergi sekarang, Ann?"
Anna melirik jam dinding, lalu mengangguk setuju. Setelah mengambil alat tulisnya sendiri, ia bangkit. Mereka berjalan bersama ke ruang rapat.
"Jangan lupa dengan pesta dua hari mendatang, Ann. Datanglah sesekali. Bersenang-senang dengan kami teman-temanmu. Jangan pergi dengan si macho itu terus," goda Brenda sambil terkikik.
"Siapa saja yang pergi?"
"Tentu saja hanya kita para gadis lajang. Berdandanlah secantik dan sesexi mungkin. Ekspresikan dirimu, tidak akan ada murid kita yang melihat."
"Aku penasaran dengan dandananmu Brenda," ucap Anna sambil tertawa.
"Haish ... kau akan terkejut! Rok yang sopan ini akan menghilang, Baby! Bokong indahku akan dipamerkan dengan sempurna." Brenda tertawa sambil menepuk bokongnya sendiri.
"Astaga, Brenda ...." Anna terbahak.
"Ayolah, sekali saja berdandanlah yang sexi. Sebelum si Macho itu mengikatmu! Dia terlihat posesif. Kau tidak akan pernah tahu pesona apa yang kau miliki dengan gaun mini, Ann."
"Simon tidak mengikatku, Bren," bantah Anna.
"Belum. Tapi akan ... kau beruntung, Ann. Disukai pria mapan paling diminati di White Sand Bay! Sudah satu paket dengan bocah lucu dan cerdas anaknya. Kau kira dulu kami tidak berusaha menggodanya sedikit?"
Anna menaikkan alisnya menatap Brenda yang tertawa.
"Tenang, Ann, Mr. Bernard tidak tertarik. Ia cuma melihatmu."
Anna berdecak. Namun, hatinya senang mendengar ucapan Brenda.
"Jadi bagaimana? Kau pergi kan?"
"Aku tidak pandai berdandan."
"Ck! Itu mudah! Aku akan ke rumahmu! Kita pergi bersama! Aku si ratu make up akan membuatmu menjelma menjadi wanita sexi dan sensual."
"Aku akan terlihat tidak percaya diri, Bren. Aku tidak pernah berdandan begitu."
"Ck! Kau lupa kita diharuskan mengenakan topeng? Kau tidak akan dikenali, Ann."
"Ah, benar ...."
"Jadi, kita pergi?"
"Sepertinya akan seru ... baiklah."
"Yes! Kita akan tampil memukau!" jerit Brenda. Anna sampai tertawa geli melihat bagaimana ekspresi temannya itu.
NEXT >>>>>
*********
From author,
__ADS_1
Klik like bab ini jangan lupa ya, komentar, love, bintang lima dan Vote hadiahnya. Atas dukungan readers semuanya otor ucapkan terima kasih banyak.
Salam. DIANAZ.