
Simon baru saja turun dari mobil ketika Ponselnya berbunyi. Ia mengambil dan membukanya. Sebuah pesan dari Jhon dengan segera terlihat. Satu gambar seorang gadis cantik yang tampak sexi.
Simon hanya melihat sekilas ke gambar tersebut. Lalu ia membaca pesan dari Jhon.
'Penampilan yang mengejutkan bukan?' tulis Jhon.
Simon memasukkan kembali ponsel ke dalam kantong tanpa membalas. Ia sedang tidak berminat bersenang-senang. Ia segera menatap ke arah Bruno.
"Beristirahatlah, Bruno. Aku tidak akan kemana-mana lagi malam ini."
"Baik, Tuan Simon." Bruno mengangguk, menatap sosok tuannya sampai menghilang ke balik pintu rumah.
Sesampai di dalam kamarnya, Simon meletakkan ponselnya di ujung ranjang, lalu mulai membuka seluruh pakaian sebelum mengenakan baju handuk.
Simon sudah berada di pinggir kolam renang ketika beberapa menit kemudian ponselnya kembali berbunyi.
Jhon mengerutkan keningnya ketika melihat pesannya tak kunjung dibalas oleh Simon. Pesan itu sudah dilihat dan dibaca. Namun tidak ada respon dari temannya itu.
Apakah ia tidak mengenali? Tidak mungkin! Aku saja tahu itu Anna ....
Jhon kembali mengambil beberapa gambar Anna secara diam-diam. Mengambil gambar keseluruhan wajah wanita itu agar tampak jelas.
"Ini, Teman. Nasibmu sungguh sial bila kau tidak segera merespon," bisik Jhon sambil berdecak pelan.
"Siapa yang tidak merespon?"
Pertanyaan tiba-tiba itu membuat Jhon segera menoleh. Jean dengan topeng kupu-kupu lebar menutupi hampir setengah wajahnya, dengan rambut palsu berwarna pirang sudah berdiri di samping Jhon.
"Bukan siapa-siapa."
"Mau berdansa denganku?"
"Tidak."
"Sayang sekali." Jean baru saja duduk di kursi yang ada di samping Jhon ketika seorang pria datang dan menarik lengannya.
"Jean, ayo menari," ajak pria itu.
__ADS_1
"Dengan senang hati." Jean meninggalkan Jhon yang masih sibuk dengan ponselnya. Setelah melihat bahwa pesannya tidak dibaca, Jhon segera menelepon Simon. Dengan ponsel berada di telinga, Jhon mengawasi Jean yang berputar di lantai dansa dalam pelukan seorang pria. Jhon mengenali pria itu sebagai salah satu teman Mindy adiknya.
"Kau kemana Simon Bernard!" ucap Jhon setengah jengkel.
Waktu berjalan hingga menit demi menit berganti hampir satu jam. Jhon melihat Anna sudah beberapa saat yang lalu ikut turun ke lantai dansa bersama teman-teman wanitanya. Hingga saat ini, ia belum melihat Anna menerima ajakan melantai dari pria manapun.
Jhon memandangi gelasnya yang sudah kosong. Ia tidak menghitung itu gelas ke berapa yang sudah ia kosongkan selama menunggu respon Simon. Jika bukan karena hal itu, ia sudah menyeret Mindy dan Jean untuk pulang.
Setelah puas berenang, Simon yang sudah mengeringkan tubuh pergi ke ruang kerjanya. Hanya dengan mengenakan jubah. Ia menuang minuman dan menikmati waktu santai sambil minum-minum sembari menunggu waktu tidur.
Simon masih merasa kesal, setelah lelah bekerja, ia mampir ke pondok Anna, hanya agar bisa melihat wanita itu. Namun pondok itu terkunci. Pesan dan juga telepon Simon tidak dibalas oleh Anna.
Teringat akan ponsel, Simon segera melangkah menuju kamar. Gelas berisi minuman masih ia pegang di salah satu tangan. Tiba di dalam kamar, sambil menyesap minuman, ia mengecek beberapa pesan masuk, juga beberapa panggilan tak terjawab dari Jhon.
'Kenapa kau tidak membalasku?'
'Jangan katakan kau tidak berminat kemari?'
'Hei! Simon Bernard! Angkat teleponnya!'
'Dia sexi, Kawan! Kau ketinggalan pesta!'
'Dia pintar bergoyang!'
Pesan-pesan tersebut disertai dengan gambar seorang wanita cantik dengan gaun mini dan belahan dada terlihat. Ketika Simon memperbesar foto wajah dari wanita tersebut, jantungnya mulai berdetak cepat.
Gigi Simon mulai gemeretak ketika ia mengulang melihat foto wanita tersebut menyesap minuman dan foto wanita tersebut menari bersama teman wanitanya di lantai dansa. Simon mengenali dengan segera gambar siapa yang Jhon kirim padanya itu.
Simon segera menekan nomor Jhon. Panggilannya langsung terjawab di detik pertama.
"Kemana saja kau, Te-"
"Katakan kau dimana!' potong Simon.
Ia menjepit ponsel dengan menaikkan bahu dan menekan ke arah telinganya, kedua tangannya mulai bergerak melepas jubah dan dengan cepat mencari pakaian. Ia mengenakan pakaian dalam, celana panjang dan dengan cepat menarik sebuah kemeja.
Sambil menjepit ponsel di telinga ia mendengarkan ketika Jhon menyebutkan sebuah nama Bar yang cukup sering mereka datangi.
__ADS_1
"Astaga ... Pengganggu itu ...." Suara Jhon terdengar jengkel.
"Apa! Katakan apa yang kau lihat! Jhon!"
"Kau harus lihat sendiri, Kawan!"
Simon baru setengah mengancingkan kemeja, ketika pesan bergambar dari Jhon kembali masuk. Ia segera melihat ke arah layar ponsel.
Seorang pria bertopeng dengan senyum simpul yang terlihat manis sedang mengulurkan tangan ke arah Anna. Dua lesung pipinya terlihat jelas ketika pria itu tersenyum. Pria itu tinggi, dengan kulit putih mulus di bagian wajahnya yang tidak tertutupi topeng.
Simon tidak dapat melihat wajah Anna, karena Jhon mengambil gambar dari belakang wanita itu.
Simon segera memasukkan ponselnya ke dalam kantong celana. Ia menarik sebuah jaket hitam, lalu mencari kunci mobil.
Ketika mobil kemudian melaju di tengah jalan raya, sebuah bisikan meluncur dari bibir Simon.
"Apanya yang pertemuan guru! Awas saja kalau kau terima uluran tangan pria berwajah plastik itu!"
Cast : Anna Geraldi
Cast : Simon Bernard
NEXT >>>>>
*********
From Author,
Bab demi bab berlalu, terima kasih yang udah like, love, bintang lima, komentar dan juga memberi hadiah vote untuk PS. Semoga bisa terus dukung author sampai kisah ini End.
Makasih banyak ya.
Salam. DIANAZ.
__ADS_1