
Anna mengambil bantal dan menutup dada. Menghalangi tangan Simon yang berusaha membuka brra berenda miliknya.
"Tidak. Sebelum kau membuka jubah itu lebih dulu," ucap Anna. Wajahnya yang merona nampak memandang ke balik jubah Simon yang tersibak.
Simon memandang Anna dengan mata berkilat. Ia belum tahu sisi Anna yang ini. Setelah beberapa kali mencium dan sedikit menyentuh Anna, ia tahu dibalik sosok ibu guru yang selalu menahan diri dan juga malu-malu tersebut, ada gairah yang besar. Gairah yang belum pernah Anna tunjukkan pada siapapun. Kecuali mungkin suaminya dulu. Namun selera Martin tidak membuat gairah itu tuntas.
"Jika kau bisa membuka tali ini, aku akan membiarkan dirimu melakukan apa saja padaku. Tapi bila aku duluan yang bisa membuka itu. Maka aku yang punya kuasa." Simon menunjuk dada Anna yang tertutup bantal.
Anna hanya diam, namun matanya bergerilya memandangi Simon yang masih berjongkok di atas kasur, membungkuk ke arahnya, bola mata hijau itu naik-turun perlahan, kadang berhenti agak lama di tempat-tempat tertentu.
Simon ingin memainkan fore play selama mungkin. Ia tahu Anna perawan, seingin apapun ia memiliki Anna saat ini, ia lebih ingin Anna bisa ikut menikmatinya tanpa terlalu merasakan sakit atau tidak nyaman.
"Jika kau kalah, kau harus diam. Sama sekali tidak bergerak," ujar Simon.
"Itu tidak mung-"
Belum selesai Anna bicara, Simon merampas bantal yang dipegang Anna lalu melemparnya sembarangan, mendarat di atas meja rias, menyebabkan beberapa botol kaca berserakan dan bahkan ada yang jatuh ke lantai. Menimbulkan suara-suara yang mengganggu telinga.
Anna membelalak melihat benda-benda yang berhamburan tersebut. "Kau curang!" serunya. Namun, ia sama sekali tidak menghindar ketika Simon menangkapnya, lalu mulai mencari-cari kaitan di belakang punggung Anna. Karena tidak ketemu, ia berdecak dan pindah ke depan. Simon menyeringai ketika telah melepas kaitan braa tersebut.
"Aku menang," ucapnya senang. Ia baru saja akan menarik lepas penghalang tersebut ketika Anna menahan tangannya dengan kepala menggeleng pelan.
"Kau salah, suamiku sayang. Coba lihat dirimu."
Simon menunduk, mendapati tali jubahnya sudah lepas, bagian depan bahan kain mengkilat itu bahkan sudah tersibak sepenuhnya. Anna pasti melepas ikatan jubah itu saat tadi ia sibuk mencari-cari kaitan braa.
__ADS_1
Wajah Anna bertambah merah ketika mendapati Simon berkata jujur ketika mengatakan ia tidak mengenakan apa-apa di balik jubah itu.
"Kau kalah. Kau ...." Anna menelan ludah. " Harus diam, jangan bergerak. Apapun yang nanti aku lakukan."
Simon merasa aneh. Entah kenapa ia merasa gugup, meski terlihat malu, istrinya terlihat sangat berani.
Simon menurut ketika Anna menunjuk kepala ranjang. Simon berbaring setelah menyusun beberapa bantal di belakang punggungnya.
"Kau tahu ... aku pernah melakukan ini ... untuk memancing gairah seorang suami ...." Anna mendekati Simon, lalu duduk di atas paha pria itu dengan kedua kaki terbuka.
Simon baru saja akan menggapai Anna ketika wanita itu berkelit. "Kau lupa hukumannya. Kau tidak boleh bergerak apapun yang kulakukan ...."
Tangan Simon turun kembali ke sisi tubuh. Kilau matanya bertambah terang ketika Anna menghela rambut yang menutupi bahu dan dadanya ke arah belakang.
"Ini mengganggu, bukan?" tanya Anna dengan nada memancing. Ia dengan sangat pelan, menarik dan melepaskan braa berenda tersebut dari bahu, lalu kedua lengannya.
Anna menilai pandangan mata suaminya. Simon terlihat senang melihat bagian yang sudah ia perlihatkan. Anna memajukan lutut, menggeser duduknya tepat di bagian pangkall paha Simon. Bila dulu ia tidak mendapati rasa apapun di bawah sana ketika ia merayu Martin, maka kini, jantung Anna berdebar kencang mendapati bagian yang ia duduki sudah sekeras batu.
Simon mengeretakkan giginya. Kedua tangannya menggenggam seprai agar bisa menahan diri tidak memegang Anna.
"Hm hm, jarimu bergerak," seringai Anna melebar.
"Tidak ada larangan bicara kan. Kau mau ganti posisi? Bukankah tidak nyaman menduduki benda di bawah sana?"
"Tidak mau. Jangan bergerak. Kau sendiri yang menetapkannya tadi."
__ADS_1
Anna mengalungkan lengannya ke sekeliling leher Simon, lalu memulai penjelajahannya sendiri di bibir pria itu. Tidak ada lagi penghalang ataupun rasa ragu maupun malu. Anna melakukan apa yang ia mau. Ia mengecup, menyesapp, lalu melepaskan ketika merasa Simon mulai mengecup balik. Seolah sengaja memancing gairah, namun tidak berniat meneruskan ketika Simon mulai membalas.
"Sudah kubilang jangan bergerak," bisik Anna di telinga Simon, lalu mengecup bagian belakang daun telinga tersebut, berpindah ke leher atas, berhenti sebentar di tengah leher.
"Aku boleh menggerakkan satu tangan? Satu saja ... boleh?" rayu Simon.
Anna menggelengkan kepala, lalu kembali menyatukan bibir mereka. Ciuman itu semakin bergairah. Simon mengangkat tangannya, namun ingat kalau ia tidak boleh bergerak. Ia menurunkannya kembali.
Kerongkongan Simon terasa tercekat ketika ia merasa gairahnya kembali dibawa naik ketika merasakan Anna menempelkan dua bukit kembarnya ke dada Simon. Wanita itu mulai bergerak perlahan tanpa melepaskan ciuman mereka.
Kali ini, tangan Simon bukan hanya meremass seprai, namun menarik hingga lepas dari kedua ujungnya.
Ketika merasakan Anna bukan hanya menggesekkan dada ke badan Simon tapi juga mulai menggoyanggkan bagian bawah tubuhnya. Simon sudah tidak dapat lagi menahan kedua tangannya untuk diam.
"Tidak mungkin lagi menahan kedua tanganku bila kau melakukan itu, Sayang!
Napas Anna tampak memburu, begitu juga napas Simon. Setelah menarik dua tali kecil pengikat renda yang ada di kedua pinggul istrinya itu, Simon membalik posisi mereka. Dengan ujung jemarinya, renda yang tadi ada di bawah tubuh Anna ikut melayang ke atas lantai.
"Aturannya aku ubah. Sekarang, siapapun, boleh melakukan apapun," ucapnya sambil memulai perjalanan mendaki puncak penuh kenikmatann bersama wanita yang ia cintai, Annanya yang penuh gairah, dan yang paling membuatnya jatuh hati, wanita yang jatuh cinta pada putranya lebih dulu.
NEXT >>>>>>>>
**********
From Author,
__ADS_1
Satu part lagi menuju End. Yuk vote, komentar, bintang lima dan love bagi yg belum klik. Atas dukungannya author ucapkan terima kasih.
Salam. DIANAZ.