Pengantin Simon

Pengantin Simon
52. Tease her


__ADS_3

Anna mengerutkan kening melihat beberapa pelayan yang berlalu lalang. Sejak ia bangun dan keluar dari kamar Leonard, ia telah bertemu dengan beberapa orang yang sepertinya bekerja di rumah Simon. Anna bertanya-tanya kemana orang-orang itu tadi malam? Apakah memang semuanya pulang setelah malam menjelang? Namun mereka semua sudah ada di sini pagi-pagi sekali.


"Terimakasih sudah menyediakan waktumu untuk menjaga Leonard, Ann. Bahkan sampai pagi ini, ia hanya mau makan ketika kau menyuapinya," ucap Simon.


Anna menoleh, lalu menganggukkan kepala. "Itu bukan apa-apa. Kau juga sudah sering membantuku. Lagipula ... meski aku ada di sini menjaga Leon, rasa khawatirmu tidak juga hilang bukan? Kau mungkin tidak tidur semalaman? Mata mu, tidak ... bukan hanya matamu, wajahmu keseluruhannya terlihat sangat lelah."


Sebuah senyum smirk tersungging di bibir Simon. Ia tidak menanggapi ucapan Anna, lagipula ia tidak mau menceritakan apa yang sesungguhnya ia pikirkan sehingga tidak bisa tidur dengan nyenyak.


Sarapan pagi itu berakhir, Simon menemui Bruno yang sudah bersiap di depan rumah dengan mobilnya.


Melihat wajah Simon, Bruno tersenyum lebar.


"Sepertinya Anda menghabiskan waktu Anda dengan sangat baik," ucap Bruno sambil terkekeh.


"Hmmm ...." Simon berdiri di dekat mobil, lalu meregangkan tangannya ke atas sambil menguap lebar.


"Anda tampak lelah dan mengantuk. Saya yakin Anda kurang tidur, Tuan," ucap Bruno lagi.


Simon menoleh ke arah rumah. Anna belum kelihatan, wanita itu pergi ke kamar Leon dulu untuk berpamitan.


"Mana mungkin aku menghabiskan waktu dengan tidur, Bruno ... sedangkan seorang ibu guru cantik menginap di rumahku ...." Simon mengedipkan sebelah matanya.


"Malam yang hebat, Tuan?" tanya Bruno dengan nada bercanda.


"Tentu saja."


"Ah ... tak diragukan lagi, Anda pria sejati. Semua wanita dengan cepat tergoda, meski pada awalnya tidak tertarik," puji Bruno. Ia membuka pintu dan mempersilakan Tuannya masuk.


Simon menggelengkan kepala. "Tidak, Bruno. Aku duduk di belakang saja dengan Anna. Aku mau memejamkan mata sebentar."


Bruno mengangguk, lalu mereka menunggu Anna yang terlihat mendatangi.


Bruno membukakan pintu bagian belakang, Anna masuk sambil mengucapkan terimakasih.


Anna tidak mengucapkan apapun, meski ia sedikit terkejut ketika mendapati Simon menyusul masuk ke kursi belakang di sebelahnya.


"Kita pergi, Bruno. Ke pondok Anna dulu. Ann perlu ganti baju dan sedikit berdandan sebelum ke sekolah. Ibu guru tidak mungkin terlihat berantakan di depan kelasnya bukan ...


"Ya, Tuan ...," jawab Bruno. Ia tidak dapat menyembunyikan nada geli dalam suaranya. Ia menghubungkan ucapan tuannya itu dengan percakapan mereka sebelumnya. Tuannya secara tidak langsung memberitahu bahwa malam yang dihabiskan Anna di rumahnyalah yang membuat penampilan wanita itu berantakan.


Anna mengerutkan kening mendengar nada geli dalam suara Bruno. Ia menunduk dan memandangi gaun kemarin yang terpaksa ia kenakan lagi, namun Anna merasa penampilannya tidaklah terlalu berantakan. Anna menoleh ke samping, namun Simon sudah bersandar dengan santai dengan kedua mata tertutup rapat.

__ADS_1


Anna akhirnya memilih diam sepanjang perjalanan. Ia beberapa kali melirik ke arah Simon, namun pria itu tidak bergerak.


Sepertinya ia benar-benar tertidur ....


Ketika Bruno telah menghentikan mobil di halaman depan rumahnya, Anna segera membuka pintu mobil. Ia menoleh dulu ke arah Simon, bermaksud meminta maaf karena membuat Simon terpaksa menunggunya berganti pakaian.


"Simon? Aku akan cepat-cepat, maaf membuatmu harus menunggu ...."


Hanya keheningan yang menjawab ucapan Anna. Wajah Simon menoleh ke arah berlawanan, tampak tidak berespon terhadap kata-kata Anna.


"Sepertinya Tuan tertidur, Nona ....," bisik Bruno.


Anna mengangguk-anggukkan kepala, lalu memberi tanda pada Bruno bahwa ia tidak akan lama.


Sampai Anna selesai berganti pakaian dan kembali naik ke mobil, Simon masih tertidur.


Bahkan di sepanjang perjalanan, pria itu tidak bergerak.


"Sebenarnya apa yang terjadi sampai kau tidak bisa tidur? Aku dan Leon tidur nyenyak berdua sampai pagi, tapi kau mengalami malam yang mengerikan ... kasihan sekali," bisik Anna setengah bergumam.


Bruno mendengar cukup jelas ucapan Anna. Senyum geli terbit di bibirnya secara spontan. Matanya melirik sosok tuannya dari kaca spion tengah. Senyum Bruno makin lebar ketika melihat tubuh Simon mulai condong, lalu roboh ke arah Anna, kepala pria itu bersandar di bahu Anna.


Bruno kembali menatap ke arah depan. Berusaha tidak menatap lagi ke arah kaca. Menyembunyikan rasa gelinya sebaik mungkin dengan mengalihkan perhatian ke jalanan.


Tiba di gerbang sekolah, Anna menoleh sedikit ke arah kepala Simon yang bersandar di bahunya. Ia tidak ingin membangunkan pria itu, namun ia harus segera turun.


Anna memegang kedua pipi Simon dan menyangga kepala pria itu dengan telapak tangannya.


"Maaf ... tapi, aku harus turun," bisik Anna sambil meletakkan kepala Simon kembali ke sandaran kursi. Ia mengelus lembut pipi pria itu sambil tersenyum.


Kau pasti lelah sekali ....


Anna merasa lega karena Simon tidak terbangun ketika ia menggeser kepala pria itu dari bahunya.


Pintu di samping Anna lalu terbuka. Bruno yang sudah turun membukakan pintu untuk wanita itu.


Anna segera turun dan mengucapkan terima kasih pada Bruno.


"Terima kasih, Bruno. Simon masih tidur. Aku tidak membangunkannya."


"Ya, Nona."

__ADS_1


Anna kemudian berlalu setelah melirik sekali lagi ke sosok Simon di dalam mobil. Bruno kembali masuk dan duduk di belakang setir ketika merasakan sosok tuannya bergerak, ia menoleh ke belakang.


Bruno terkejut melihat kedua mata tuannya sudah terbuka, pria itu bersedekap sambil menatap ke arah gerbang sekolah.


"Anda terbangun Tuan? Apakah karena saya?"


"Tidak. Aku sama sekali tidak tidur ...."


Bruno menaikkan alisnya mendengar jawaban itu.


"Ayo ke pelabuhan. Jhon sudah menungguku," ucap Simon sambil mengembuskan napas panjang.


"Baik, Tuan."


Simon masih menatap ke arah luar kaca setelah Bruno kembali mengemudikan mobil. Ia memegang pipinya dengan sebelah tangan.


Pipi yang tadi dielus oleh Anna. Simon tidak tahu apakah wanita itu melakukannya secara sadar atau tidak, namun Simon dapat merasakan bahwa sentuhan apapun yang Anna berikan, itu adalah sentuhan seorang teman.


Jika Anna punya rasa sayang padanya, Simon yakin itu hanyalah rasa sayang seorang sahabat.


"Sepertinya aku perlu sering-sering mengajakmu berkencan. Pergi berdua saja denganmu, lalu menunjukkan bagaimana perasaanku ..."


"Kau akan membuatnya takut ... Anna hanya menganggapmu teman."


"Sekarang ini aku merasa itu tidak cukup. Aku serakah ... aku menginginkan lebih!"


"Lakukan dengan perlahan, Simon ... atau kau akan menyesalinya."


Simon berdialog dengan dirinya sendiri, sampai otaknya kemudian membayangkan kejadian saat ia mencium Anna saat di atas kapal.


Goda saja dia sekali lagi ... oh itu salah! bukan sekali! Tapi lakukanlah berkali-kali!


NEXT >>>>>>


*********


From Author,


Mohon dukungannya dengan tekan like, love ,bintang lima dan ketik komentar kalian ya. Yg punya poin/coin bisa dukung Simon dengan Vote hadiah. Sebelumnya author mengucapkan terima kasih banyakkk.


Salam hangat. DIANAZ.

__ADS_1


__ADS_2