
Anna ingin sekali keluar kamar untuk melihat Leon, namun ia merasa pakaiannya sama sekali tidak pantas. Kaos Simon hanya menutupi setengah dari pahanya, Kaos itu memang besar, longgar dan terlihat oversize di tubuh Anna, tapi tetap saja Anna merasa tidak nyaman bila ia keluar kamar dengan tampilan seperti itu.
Anna melirik ke arah ranjang, bedcover yang ada di atas kasur terlalu besar bila digunakan untuk menyelubungi tubuhnya, ia memutuskan mencari sesuatu yang bisa ia gunakan sebagai jubah untuk menutupi tubuh.
Anna berjalan ke arah sebuah pintu yang ada di salah satu dinding kamar. Ia mendorong dan mendapati di dalamnya tersusun rak-rak besar yang sebagian kosong, sebagian lagi berisi beberapa linen dan juga handuk.
Sebuah selimut flanel tertangkap oleh matanya, Anna tersenyum, benda yang pas untuk ia jadikan jubah.
Anna menarik selimut berwarna krem lembut tersebut, lalu membuka lipatannya. Selimut tersebut tidak terlalu besar, namun cukup lebar untuk menutupi seluruh tubuh dan juga terasa amat ringan di bahu Anna.
Setelah menyelubungi badannya dengan selimut, Anna keluar dari kamar dan menutup pintu. Suasana rumah itu sangat sepi, ia yakin Simon sudah tidur. Sudah cukup lama sejak terakhir terdengar suara dari arah kolam renang. Anna sengaja menunggu beberapa jam sebelum memutuskan keluar dari kamarnya.
Tiba di depan kamar Leon, Anna mendorong perlahan pintu yang memang sedikit terbuka. Ia masuk dengan langkah kaki tanpa suara. Anna tidak menggunakan alas kaki, agar langkahnya tidak menimbulkan suara yang bisa membuat seseorang terbangun.
Anna berhenti di sisi ranjang, ia duduk di samping tubuh Leon yang terbaring miring. Senyum Anna terkembang melihat mulut bocah itu yang terbuka.
"Syukurlah kau tidur nyenyak. Perutmu tidak sakit lagi kan?" Anna berbisik, mengulurkan tangan untuk mendorong dagu Leon agar mulutnya tertutup, lalu menghela anak rambut yang bertebaran di kening bocah itu.
Anna memeriksa kening Leon dengan telapak tangannya, mengecek suhu tubuh dan merasa lega ketika merasakan kulit bocah itu terasa sejuk. Ia baru saja menaikkan selimut Leon ketika merasakan bocah itu bergerak telentang, kemudian matanya perlahan terbuka, mengedip beberapa kali dan menatap Anna.
"Mam ...," ucap Leon dengan suara serak khas bangun tidur.
"Maafkan, Mam. Kau jadi terbangun ...."
Leon bangkit dan duduk di atas kasur, lengannya terangkat mengusap-usap wajahnya yang masih mengantuk.
"Leon haus, Mam."
Anna segera mengambil botol berisi larutan cairan pengganti yang masih tersisa, lalu memberikannya pada Leon.
"Ini, minum ini saja ...," ucap Anna sambil memegangi botol dan mendekatkannya ke bibir Leon.
Anna merasa puas ketika melihat Leon menghabiskan minuman itu.
"Leon tidak mau ke kamar mandi?" tanya Anna.
Leon menggelengkan kepala. "Tidak, Mam. Tadi sudah, Leon terbangun karena sakit perut lagi, lalu ke kamar mandi."
"Hanya sekali? Kenapa tidak panggil Mam?"
"Tidak apa-apa. Rasanya tidak terlalu sakit seperti pertama kali. Sesudah ke kamar mandi sakitnya hilang."
Anna mengembuskan napas lega, ia mengatur selimut dan menyuruh Leon kembali berbaring.
__ADS_1
"Tidurlah kembali. Mam akan menunggu di sini sampai Leon tertidur."
Leon tiba tiba bergeser sedikit ke tengah tempat tidurnya. Ia menepuk-nepuk tempat kosong di pinggir ranjang.
"Mam istirahat di sini saja. Kalau Leon terbangun lagi Leon bisa tenang karena ada Mam."
"Apa Mam malah tidak mengganggu?"
"Tidak ...." Leon melihat Anna tampak ragu, ibu gurunya itu menunduk dan melihat ke arah selimut yang menyelubungi badannya.
"Atau Mam bisa tunggu saja sampai Leon tidur. Tapi Mam jangan duduk saja, nanti pinggang Mam sakit. Mam bersandar saja di sini." Leon menunjuk ke arah kepala ranjangnya.
"Oh, baiklah."
Anna menyusun bantal di kepala ranjang, lalu masuk ke bawah selimut yang sama dengan Leon tanpa melepaskan selimut flanel dari bahunya.
Leon mengulurkan tangan dan menggenggam tangan Anna yang bersandar setengah duduk di kepala ranjang.
"Tidurlah."
"Baik. Jangan pergi sebelum Leon tertidur."
"Baiklah." Anna bergerak memiringkan tubuh, menatap Leon yang balik menatapnya.
"Begitukah? Bagaimana dengan Daddymu?"
"Daddy kadang merepotkan kalau sedang khawatir. Jadi Nanny Lea mengusirnya. Mengatakan kalau Nanny akan menjaga Leon sebaik mungkin dan menyuruh Daddy keluar."
Mereka sama-sama tertawa, lalu Leon mulai berceloteh, ceritanya mengalir tanpa henti bagai sedang membaca sebuah buku dongeng. Sambil mendengarkan, tanpa sadar mata Anna meredup, bibirnya tersenyum dan kadang suara tawanya masih terdengar pelan, sampai akhirnya kedua mata hijau jernih Anna tertutup rapat. Rasa kantuk menyeretnya ke alam mimpi, suara Leon bagai musik latar pengantar tidur bagi telinga Ann.
Leonard tertawa pelan, bibirnya menyeringai melihat Anna yang terbaring miring dengan mata tertutup dan napas teratur.
"Mam benar-benar sama dengan Nanny. Kalau Leon berceloteh, malah membuat Nanny tertidur lebih dulu dari Leon." Bocah itu terkikik pelan, lalu beringsut ke arah Anna, memeluk pinggang Anna dengan senyum lebar sebelum dengan nyaman menutup matanya. Menyusul Anna ke alam mimpi.
**********
Simon mematikan laptop, lalu meregangkan tubuhnya sambil menguap. Ia tidak bisa tidur, setelah berenang hingga lelah, ia kembali ke kamar dan berharap rasa lelah membuat matanya dengan cepat dapat tertutup, namun entah kenapa ia malah mondar-mandir tidak jelas.
Ia memutuskan pergi ke ruang kerja dan mengecek beberapa hal. Mengerjakan sesuatu hingga rasa kantuk mendatangi. Hal itu mampu mengalihkan pikiran Simon sejenak dari sosok Anna yang menempati salah satu kamar. Ia tahu bagaimana dekatnya Anna, ia tinggal membuka sebuah pintu dan akan mendapati wanita itu di atas tempat tidur, mengenakan kaos miliknya, di atas kasur miliknya, dan juga tertutupi selimut miliknya.
Bayangan itu sungguh menggoda Simon, namun ia tahu tidak bijaksana bila ia menuruti keinginannya yang ingin sekali memeluk dan mencium wanita itu sekali lagi. Ia akan menorehkan kesan negatif dan Anna mungkin saja akan menjauhinya setelah itu.
Simon menggeser laptop di atas meja, lalu kembali menguap lebar.
__ADS_1
"Baiklah ... waktunya tidur," ucapnya pada diri sendiri. Ia bangkit, meregangkan tubuh sekali lagi, lalu merapatkan tali jubah tidur yang ia kenakan.
Setelah keluar dari ruang kerja, Simon memutuskan mengecek Leon dulu, ia berbelok ke arah lorong yang mengarah ke kamar Leonard.
"Apa kau tidak mau mengecek Anna sekalian?"
"Oh, tidak ... itu tindakan yang menggoda, namun tidak ... tidak boleh. Tempat tidur dan Anna tidak boleh dilihat dalam satu waktu ...."
"Hanya untuk sebuah kecupan kecil?"
Simon mendengus dan menertawakan dirinya sendiri. Percakapan dengan dirinya sendiri itu terasa menggelikan baginya.
" Sebuah kecupan kecil? Alasan saja! Kau pria brengseek, akan meminta lebih dari itu!"
Simon mendesah. "Setidaknya besok aku sudah bisa melihatnya ketika ia bangun tidur."
Simon mendorong pintu setelah tiba di depan kamar Leon dan ia tertegun melihat pemandangan di atas tempat tidur.
Wanita yang baru saja jadi topik dialog dalam hatinya terlihat terbaring telentang di atas tempat tidur dengan selimut menutupi hingga pinggang. Sebuah selimut flanel tampak jadi alas di bawah punggung Anna. Di sebelah Anna, Leon tertidur dengan kaki berada di atas selimut di paha Anna, sedangkan kepala bocah itu telah berputar ke arah sisi terjauh tempat tidur.
Simon menggeleng-gelengkan kepalanya. Leon bisa membuat putaran sampai seratus delapan puluh derajat bila ia tidur di atas kasurnya sendiri.
Simon mengambil sebuah bantal guling yang jatuh di atas lantai dan meletakkannya kembali ke atas tempat tidur. Ia mendekat ke arah ranjang, menggeser posisi Leonard hingga lurus kembali seperti Ann, lalu mendekatkan bantal guling tadi ke sisi Leon.
Setelahnya, Simon kembali ke sisi bagian Anna, ia duduk dan menatap lama-lama kelopak mata Anna yang tertutup, berganti-ganti dengan wajah Leon.
"Kalian tidur bersama di sini dan meninggalkan aku sendirian tidur di kamarku ... ini tidak bisa dibiarkan. Jadi ...." Simon menghela selimut Anna, menatap ke bawah selimut dan menyadari bagian bawah Anna tertutup selimut flanel. Ia menyeringai.
"Kau melapisi dirimu dengan dua selimut."
Simon menggeser Anna perlahan ke arah tengah, lalu ia membaringkan dirinya sendiri ke atas tempat tidur.
"Ini muat untuk tiga orang. Satu tempat tidur untuk kita bertiga. Jangan mengeluh sempit," ucapnya sambil menarik selimut hingga menutupi tubuh mereka bertiga.
Sesaat kemudian Leon bergerak, memiringkan tubuh menghadap Anna, bocah itu bergeser sampai tubuhnya melekat pada Anna dan lengannya memeluk dada ibu gurunya tersebut.
Kau beruntung, Bocah, Simon membatin.
Simon menjaga jarak dengan Anna, hingga tubuhnya hanya menempati bagian pinggir tempat tidur. Setelah memposisikan tubuhnya miring dengan wajah menghadap ke arah Ann dan Leon. Ia mendesah puas.
"Sepertinya aku bakal bisa tidur nyenyak ... tenang saja, Ann ... aku tidak akan macam-macam, yang tidur sambil melekat di tubuhmu itu akan jadi penjagamu malam ini. Malam ini kau miliknya," bisik Simon dengan seringai kecil di wajah.
NEXT >>>>>
__ADS_1
*********