
Cahaya lampu temaram menyinari kabin dengan langit-langit rendah yang di isi suara kecupan silih berganti. Anna benar-benar meninggalkan batasannya entah dimana. Kulit maskulin yang membalut otot-otot kencang di balik punggung Simon membuat telapak tangan Anna mengelus, meraba setiap senti, seolah enggan melewatkan kehangatan dan sensasi nikmat yang ditimbulkan oleh sapuan tangannya.
Bibir mereka melekatt, saling mengecup dan membelai, Anna melakukan persis seperti apa yang dilakukan Simon pada mulutnya. Ia akan memagutt ketika pria itu memagutt, ia balik menggigit kecil ketika Simon menyentuhkan gigi di kedua kelopak bibirnya silih berganti. Ann bahkan mencoba menarikan lidahnya di dalam rongga mulut pria yang melingkarkan tangan di pinggangnya tersebut.
Suara desah Anna yang tanpa ditahan, membuat Simon mengutuk dalam hati. Sejak Anna mulai menyentuhnya, Simon berusaha mengingatkan wanita itu. Namun entah apa yang merasukinya, Anna tidak peduli apapun.
"Kau butuh pengalihan? Baiklah ...."
Simon berbisik dengan suara serak. Ggairah sudah melandanya, tapi ia masih berusaha menahan dirinya sendiri.
"Kaulah yang menginginkan ini ...." Simon menurunkan resleting di belakang punggung Anna, membuka gaun itu ke arah depan sehingga bra berenda berwarna ungu muda terpajan jelas.
"Sudah tahu bagaimana sensasi ketika aku mengecupmu di sini kan?"
Bisikan yang disertai elusan diatas renda branya membuat Ann memejamkan mata. Apa yang dilakukan Simon kemudian membuat tubuhnya menjadi tegang. Ann bergerak gelisah, melentikkan punggung ke belakang. Merasa seluruh tubuhnya ibarat anak panah yang siap dilesatkan. Namun pemanahnya dengan sengaja menarik tali busurnya dengan amat perlahan.
Sensasi demi sensasi membuat Anna merasa semakin panas. Ia tahu ia menginginkan sesuatu, ia ingin tiba di suatu tempat, dan ia bisa mencapainya seandainya Simon mau membawanya segera.
"Please ... ini ... aku tidak tahan ...." Anna memindahkan tangannya dari belakang punggung Simon.
Desah ditambah rintihan itu membuat Simon mengeretakkan gigi. Dengan cepat ia mengangkat Anna, merubah posisi hingga Anna terbaring di atas sofa dan ia segera berlutut di lantai di sisi sofa.
Mata Anna menerawang menatap Simon, kedua lengan wanita itu kembali terulur, memeluk leher Simon yang bertumpu dengan lutut di atas lantai. Pria itu menunduk, melumatt kembali bibir Anna dengan sebelah tangan mulai mengelus bahu, turun menjelajah agak lama di bagian dada. Ketika kembali menggerakkan telapak tangannya ke arah bawah, Simon melepas ciumann mereka.
"Aku harus melakukannya sekarang, atau aku akhirnya tidak akan dapat menahan diriku lagi. "
Ketika kembali memagutt bibir Anna, jemari Simon tiba pada bahan kain lembut yang ada di balik rok gaun. Bahan kain itu terasa sejuk, dengan sedikit renda. Ia menyelinap, dan sentuhannya ketika tiba di sana membuat Anna seperti tercekik, namun wanita itu menngelinjanggkan tubuhnya, membuat Simon kembali melakukan sesuatu dengan jarinya.
"Raih itu ... kau akan tahu bagaimana...."
__ADS_1
Simon merasakan kelembapan yang disentuh jemarinya semakin bertambah di bawah sana, ketika Anna menegangg, memeluk erat bahu dan lehernya lalu satu jeritan kecil lepas dari bibir yang tengah ia *****. Simon tahu wanita itu sudah mencapai puncak.
Secepat kilat Simon memindahkan tangan, merangkum pipi Ann ke dalam telapak tangannya. Setelah mengangkat kepala, Simon menatap, Wajah di depannya terlihat memabukkan.
Simon menunduk, memberi kecupan kecil di bibir Ann yang masih terbuka, Anna masih berusaha mengatur napas, meredakan darahnya yang baru saja menderu.
"Ini ... hanya sedikit kesenangan yang bisa kita dapatkan ketika bersama, Ann ... hanya dengan bibir dan tanganku ... menikahlah denganku ... akan kutunjukkan lebih ... aku akan mencintaimu, dengan seluruh diriku. Semuanya ...." Simon berbisik di telinga Anna, lalu ia mengecup telinga itu sebelum bangkit dan berbalik menuju pintu keluar. Ia butuh naik, lalu melompat ke dalam air laut yang gelap.
"Aku butuh berenang. Tunggulah di sini. Setelahnya aku akan mengantarmu pulang," Simon mengucapkannya tanpa melambatkan langkah.
Ia terus menaiki tangga, naik ke atas anjungan. Angin malam yang menerpa tubuhnya membuat ujung kemeja Simon melayang ke belakang. Memperlihatkan tubuh bagian depannya yang polos.
Di kejauhan di sisi kanan kapalnya, Simon melihat Charlie dan Jhon masih duduk berhadapan, tak jauh dari kapal charlie yang masih tertambat di dermaga. Saling mengobrol tanpa memperhatikan ke arahnya.
Simon melepas kemeja dan melempar ke sembarang arah, setelah memperhatikan ke arah air laut yang tampak gelap di sekeliling kapalnya, ia kemudian melompat, terjun ke dalam air.
Di dalam kabin, Anna yang sudah bangkit duduk menunduk melihat ke arah pakaiannya yang berantakan. Satu sisi gaunnya sudah jatuh ke arah pinggang, kedua tali branya sudah turun ke lengan atas. Mata Anna terpaku pada jejak merah di kulit dadanya yang bahkan masih terlihat di temaramnya cahaya lampu.
Sedikit terkejut dengan pemandangan yang ia lihat, Ann mengangkat tangan. Menyentuh beberapa tanda kemerahan di bahu, dada dan juga leher. Jejak yang dibuat oleh bibir Simon di tubuhnya. Anna merona dan segera merapikan kembali bra dan juga atasan gaun ketika terkenang kembali bagaimana ia mendesah, menggeliat, bahkan menjerit.
Anna memandang dirinya sendiri di dalam cermin. Setelah berusaha menaikkan resleting belakang gaunnya dan tidak berhasil, Anna membiarkan resleting itu tetap terbuka. Ia menatap ke arah bibirnya yang tampak merah dan membengkak.
Berapa lama kami berciuman?
Ann menyentuh bibirnya sendiri.
Itu pengalaman yang hebat. Bukan begitu? Simon memuaskanmu tanpa harus melakukan aktifitas itu secara full ...
Mata Anna beralih menatap jari manisnya yang masih memegang bibir. Membayangkan sebuah cincin ada di sana.
__ADS_1
Menikah?
"Entahlah ... setahuku ... friends with benefits yang sesungguhnya bukan hanya melakukan kencan makan malam ... mereka berlanjut ke tempat tidur ... mereka tidak menikah ...."
Anna bicara pada bayangannya di cermin.
Simon bilang dia mencintaimu ....
"Semua pria bisa mengatakan apa saja ketika dikuasai hormon cinta. Itu hanya reaksi kimia dari oksitocin ...."
Anna menarik napas, ia merapikan kembali seluruh penampilannya. Memasukkan kembali surat-surat dan juga foto yang ia temukan dalam sebuah amplop yang merupakan foto dari kuburan Nuella. Martin rupanya menguburkan adiknya di pekuburan umum di dekat panti asuhan White Clouds. Panti tempat Ann dan Nuella bertemu.
Suaminya itu bahkan masih membuatnya sedih meski sudah tiada. Andai Ann membuka amplop itu lebih dulu ketimbang surat-surat yang lain, Ann pasti akan tahu dimana tempat peristirahatan terakhir adiknya. Martin menyimpan informasi itu bahkan sampai di dalam kubur. Bila ia tahu sebelum tiba di Danau Elar, Ann pasti meminta Simon mengantarnya lagi. Hanya tinggal setengah perjalanan lagi. Satu jam perjalanan. Mereka akan tiba di White Clouds. Namun, takdir menggariskan Ann menemukan dan membuka suratnya ketika ia sudah tiba di White Sand Bay.
Setelah menarik napas panjang, Ann menelan ludah, melancarkan tenggorokan dan menepuk-nepuk pelan pipinya. Seolah menyiapkan dirinya bertemu Simon. Ia merasa sudah bisa mengendalikan diri.
Setelah tiba di anjungan, mata Anna langsung terfokus pada sosok setengah telanjangg yang ada di tepian dermaga. Sosok itu membelakangi Ann, bagian atas tanpa pakaian sama sekali, bagian bawah masih dengan celana panjang. Meski membelakangi, Anna tahu itu adalah Simon.
Di depan Simon tegak seorang wanita berambut merah. Mengenakan atasan kaos ketat berwarna putih dan bawahan hotpants dibawah bokong. Anna dapat melihat karena wanita itu seperti tengah menari. bergerak ke kiri dan ke kanan sambil tertawa.
Jean ....
*********
From Author
Dukung PS dengan menekan like, love, bintang lima, komentar dan juga vote ya...
Atas dukungannya author ucapkan terimakasih.
__ADS_1
Salam. DIANAZ.