
Simon menarik rambutnya dengan kedua tangan. Rasa frustrasi membelitnya, kekalutan membuatnya merasa tidak bisa berpikir jernih. Setelah tiba di tepi dermaga dan bertemu dengan Jhon yang sudah menunggu, temannya itu memberitahu bahwa seseorang yang menyewa kapal Joaquin bernama Martin. Tujuannya adalah bagian lain pulau, pria itu bermaksud pergi ke bandara.
Simon hendak berlari ke arah kapalnya sendiri ketika Jhon menghalangi.
"Tidak, Simon! Mereka tidak tiba ke sana. Aku sudah menelepon teman-teman kita, tidak ada kapal Joaquin yang menepi."
"Mereka seharusnya sudah menepi sejak tadi bukan? Kalau tujuannya bandara."
Jhon mengangguk. "Karena itu ... kurasa pria itu teralihkan. Satu hal lagi ... jika memang mereka tiba di sana, mereka tidak akan bisa pergi kemanapun. Teman-teman kita mengatakan Hamilton sudah memblokir tempat itu."
Simon mengusap wajahnya. "Laut. Mereka ke lautan," bisik Simon, kemudian pria itu tiba-tiba berlari, melompat ke kapal.
"Simon! Aku ikut!" seru Jhon. Ia melompat ke atas kapal beberapa detik sebelum kapal itu mulai bergerak menjauhi tepi dermaga.
Simon memandang ke arah langit. sudah lewat tengah malam, udara dingin terasa menggigit di kulit. Apakah Leonard mengenakan jaket? Apakah Anna mengenakan mantel? Apakah keduanya mengenakan sepatu? Apakah keduanya terluka? Apakah keduanya ketakutan? Pertanyaan-pertanyaan yang silih berganti muncul di pikiran Simon.
Tepukan di bahunya membuatnya menoleh.
"Kau harus tenang. Hamilton menangani semuanya. Juga orang-orangmu! Sebentar lagi semuanya akan menyusul. Laut ini akan segera dipenuhi orang-orangmu," ucap Jhon menghibur.
Simon hanya mengangguk. Mereka berlayar terus menjauhi pulau.
"Kita akan mencari kemana dulu, Jhon?"
"Aku tidak tahu. Ada tiga pulau kecil di seputaran White Sand Bay, Abalon akan jadi yang dilalui pertama kali."
"Kita ke sana. Aku tidak bisa diam saja, Jhon. Aku bisa gila menunggu mereka memeriksa dulu."
"Aku mengerti."
Kapal terus melaju, Jhon mengulurkan sebuah jaket parka yang ada di kapal kepada Simon.
"Pakailah ini."
Simon mengangguk. Ia mengambil jaket dan mengenakannya menutupi kemeja.
Jhon kembali mengedarkan pandangan ke depan. Ia menyipit ketika melihat benda yang terapung di perairan Abalon. Kapal mereka terus mendekat.
"Simon!"
Simon mendongak, waspada mendengar nada suara Jhon, dengan hati-hati Jhon mendekati perairan penuh karang tersebut.
"Aku tidak bisa mendekat lagi. Terlalu berbahaya. Itu tak salah lagi kapal Joaquin."
Simon menyambar lampu senter flashlight waterproof yang ada di dekatnya, lalu berdiri di pinggir kapal.
__ADS_1
"Kau mau apa!" teriak Jhon.
"Lima menit, Jhon! tidak ada tanda dariku dari atas kapal itu, panggillah Hamilton!"
Simon melompat, Jhon hanya berdiri terkesima, melihat pria itu bergerak cepat dan hanya butuh waktu hitungan menit tiba di atas kapal Joaquin. Entah apa yang dilihat Simon di atas kapal itu, Jhon melihat Simon melambaikan tangan.
"Jhon! Panggil semuanya kemari! Sekarang!"
Setelah aba-aba itu, Jhon melihat Simon kembali melompat. Cahaya flashligh ditangan Simon meliuk di antara gelapnya air laut. Jhon masih membelalak ketika sosok Simon Bernard sepertinya tiba di daratan. Cahaya senter yang dipegangnya menjauh, menghilang di telan kegelapan malam.
Tersadar dari rasa tertegunnya, Jhon menelan ludah. merogoh jaket dan melihat sinyal ponselnya sangat minim. Ia berdoa semoga tetap bisa menghubungi Hamilton.
Panggilannya diangkat pada dering kedua.
"Hamilton! Abalon!" teriak Jhon.
"Abalon!" teriaknya lagi. Suara Hamilton hanyalah berupa gesekan terputus putus.
"Abalon! Sekarang!" seru Jhon setengah putus asa. Kemudian sambungan itu terputus.
Kedua mata Jhon memandangi kegelapan di daratan Abalon. Setahunya pulau itu tidak berbahaya, namun tidak ada penghuni di tempat itu.
"Berdoalah bocah itu selamat, Martin ... kau mengganggu bocah yang salah ... "
Jhon kemudian mendekati radio dan mengirimkan beberapa pesan, memastikan kalau orang-orang di White Sand Bay menerima dan mengetahui posisinya.
**********
Ketika tadi mereka tiba di daratan dan basah kuyup. Kaki Anna membentur kayu, tiang pondok kecil yang rupanya menjadi tempat bersantai para pelancong yang datang ke pulau itu. Ia menemukan kain-kain agak panjang yang sepertinya adalah bendera terkait pada tiang-tiang pondok. Anna mengambilnya, segera membuka pelampung, jaket dan kaos Leon yang basah. Membalut tubuh Leon dengan kain tersebut.
Mantelnya juga ia buka, melemparnya di atas dipan pondok, lalu dengan pelan ia mengajak Leon kembali berjalan.
Meski ada beberapa pondok di sepanjang pinggir pantai, Anna tidak mau mengambil resiko bersembunyi di tempat itu. Ia akan masuk sedikit ke bagian pulau, menunggu Simon atau siapapun yang datang menyelamatkan mereka.
Sekarang Anna dan Leon, meringkuk sambil berpelukan di balik sebuah batu besar. terhalangi oleh beberapa tanaman yang merambat hingga menutupi beberapa tumpukan batu setinggi pinggang orang dewasa. Mereka beristirahat, berharap pagi segera tiba atau Simon segera datang.
Ia menarik napas lega. Tidak ada suara aneh atau langkah kaki mendekat. Ia berharap Simon sudah menemukan jejak mereka, dan Martin masih terkapar pingsan di atas kapal.
"Leon kedinginan?"
"Tidak, Mam." Leon menggeleng. Mereka hanya berani berbisik-bisik. Anna tahu bocah itu berbohong agar ia tidak khawatir. Badan Leon terasa bergetar dalam pelukan Anna.
"Emillia!"
Teriakan itu bergema di kegelapan malam. Anna memejamkan matanya, merintih pelan, hampir terisak mendengar suara Martin yang memanggil namanya.
__ADS_1
"Mam ...." bisik Leon ketakutan.
"Shhh ... kita diam di sini dulu, Sayang."
Anna merasa Martin masih jauh dari tempat mereka bersembunyi. Hanya gema suaranya yang terbawa oleh angin.
"Aku melihat jejakmu, Em," seru Martin sambil tertawa mengerikan. Anna memejamkan mata. Ia melepaskan tangannya pada Leon, lalu mengintip diantara akar yang menjulur di balik batu.
Cahaya tampak meliuk di kejauhan.
"Mam ... kita pergi saja ...."
Anna menimbang, Jauh dari Martin akan lebih aman untuk Leon. Namun Simon akan kesulitan mencari mereka bila Anna mengajak Leon terlalu jauh masuk ke tengah pulau.
Leon sudah merangkak mendekat ke arah Anna. "Mam, ayo. Kita pergi saja," bisiknya lagi.
"Daddymu akan kesulitan mencari kita kalau kita masuk terlalu jauh, Leon."
Anna merasa Leon menggelengkan kepalanya.
"Tidak, Mam. Tidak akan. Dad akan menemukan kita. Daddy tidak akan sendirian mencari. Semua Daddy Leon akan datang. Juga Uncle ... hanya saja ... mereka butuh waktu, Mam."
"Maksudmu ... kita harus memberi mereka waktu?"
Leon mengangguk lagi. "Leon akan kuat, Leon bersama Mam di sini. Kita pergi bersembunyi agar tidak ditemukan orang jahat itu. Agar Dad punya waktu datang kemari."
"Leon benar ... Daddymu tidak akan berhenti sampai kau ditemukan."
"Iya. Dad pasti memanggil semuanya datang. Ayo Mam. Cepatlah,"
Anna mengangguk. Setuju dengan perkataan Leon. Mengetahui bagaimana besarnya keluarga Simon Bernard ayah Leon, dan Marylin ibunya. Keduanya pasti tidak akan tinggal diam. Marylin dan suaminya sangat menyayangi Leon. Simon Bernard juga begitu, walaupun bersikap sederhana dan biasa saja, Anna tahu bagaimana berkuasanya keluarga itu. Anna percaya, Simon Bernard bahkan akan meratakan pulau Abalon agar dapat menemukan putranya.
"Ayo ... kita pergi," bisik Anna.
Mereka keluar dari persembunyian. Pakaian Anna masih agak lembab, Anna memegang pergelangan tangan Leon dan mulai membimbingnya kembali berjalan memasuki pulau lebih dalam lagi. Ia menoleh ke belakang, Cahaya di kejauhan tampak di sela-sela tanaman yang mulai tinggi. Anna terus berjalan beberapa lama, melihat ke belakang dan tidak lagi melihat apapun. Pasir yang diinjaknya sudah lama berganti jadi tanah. Dalam hati ia berdoa, semoga Simon cepat datang, dan semoga Leon bisa tetap selamat hingga saat itu tiba. Ia tidak peduli dengan nyawanya, ia akan dengan senang hati mengorbankannya bila itu bisa menyelamatkan Leonard.
NEXT >>>>>
**********
From Author,
Sedikit info dari otor ya pembaca semuanya. Update akan semakin tidak menentu di bulan Ramadhan ππ kalaupun up jamnya otor atur malam hari. Tentunya kalo lolos review baru nongol bab barunyaππ
Selamat menunaikan ibadah puasa, semoga sehat selalu, lancar ibadahnya, berlimpah rezekinya dan diterima semua amalan-amalan kita nanti. Aamiin.
__ADS_1
Terimakasih dukungannya. Luv youuu...
Salam hangat. DIANAZ.