Pengantin Simon

Pengantin Simon
63. Party


__ADS_3

Simon berulangkali melirik ke arah ponsel yang ada di atas meja di hadapannya. Suara manajer operasional hotel yang tengah menjelaskan sebuah presentasi di layar yang terdapat di ujung lain meja rapat hanya lewat saja di telinga. Ia sama sekali tidak bisa berkonsentrasi. Sejak tadi ia telah mengirim pesan pada Ann. Namun tidak juga dibaca oleh wanita itu. Ia juga sempat menelpon sebelum rapat dimulai, namun tidak diangkat oleh Anna.


Simon merasa Anna sengaja menjaga jarak darinya. Wanita itu pergi ke sekolah sendiri, lalu ketika ia menjemput Leon, Anna pasti sedang punya kesibukan lain. Simon bahkan tidak dapat melihat wajahnya meski hanya sebentar. Ia hanya mendapatkan kabar dari Leon, bahwa ibu gurunya yang satu itu sedang sangat sibuk karena sekolah sebentar lagi libur. Simon tidak dapat mengunjungi Ann ke pondoknya, karena pekerjaannya sendiri juga menumpuk. Ia berusaha menyelesaikan tugas-tugasnya sebelum menikmati liburan musim panas bersama Ann dan Leon. Sedapat mungkin ia melakukan tugas mengantar dan menjemput Leon, agar bisa melihat dan bertemu Anna. Namun itu juga tidak terwujud.


Ketika rapat akhirnya selesai, Simon bernapas lega. Ia mencoba menghubungi Anna sekali lagi. Akhirnya wanita itu mengangkat, namun nada suaranya seperti berbisik.


"Ya, Simon?"


"Ada apa denganmu? Kenapa sulit sekali bicara denganmu beberapa hari ini?"


"Maafkan aku. Tapi ... bisakah kita bicara nanti saja? Aku sedang dalam perjalanan bersama temanku."


"Siapa?"


"Brenda."


"Kemana?"


"Ah ... kami pergi mengurus sesuatu."


"Bisakah kita bertemu malam ini?"


"Ma-malam ini?"


"Ya."


"Maaf, Simon. Aku tidak bisa. Ada janji dengan teman-teman guru Rainbow Kindergarten


Kau tahu, sebentar lagi liburan, jadi ...."


Anna mendengar Simon mengembuskan napas panjang.


"Maafkan aku."


"Ya, sudahlah ...."


"Ah, kami sudah tiba ... aku tutup ya. Dah, Simon."

__ADS_1


Simon memandangi ponselnya, nada terputus sudah terdengar. Ann bahkan tidak menunggu ia menjawab.


Wanita ... makhluk aneh yang susah dimengerti. Kukira ia bakal senang mendengar aku mencintainya, kukira ia dengan cepat akan menerima lamaranku ... setelah dia yang menggodaku di dalam kabin kapal, sekarang dia yang malah menghindariku ....


Simon mengeluarkan sebuah kotak yang sudah ia kantongi selama beberapa hari. Sebuah cincin tersimpan dalam kotak kecil itu. Namun ia tidak punya kesempatan bertemu Anna.


Sepertinya aku harus menculikmu.


*********


Brenda memandangi hasil karyanya dengan pandangan takjub.


"Kau cantik sekali. Astaga, semua pria akan meneteskan air liur malam ini."


Anna tertawa, ia pun agak terkejut ketika Brenda selesai mendandaninya. Ia melihat seorang wanita yang sangat menggoda. Wajah Ann tampak sensual, sentuhan make up dari Brenda membuat Anna tampak cantik, dewasa, dan tampak berpengalaman. Dress mini berwarna silver pas badan membuat Anna tampak memukau, ia tampak mewah, glamour dan sekali lagi ... berpengalaman.


Bagian atas gaun itu hanya berbentuk seperti kemben, menutupi hanya sampai dada atasnya, tanpa ada apapun yang menutupi lengan, bahu dan leher. Panjang gaun yang membalut tubuhnya bagai kulit kedua itu hanya sampai setengah paha atas. Brenda mau mencari yang lebih pendek, tapi menurut Ann yang ini sudah cukup. Gaun Ann tentu saja tidak bisa dibilang sexi dibanding gaun Brenda. Wanita dengan tubuh berisi dan montok di bagian yang pas tersebut, mengenakan gaun yang memperlihatkan kulitnya lebih banyak dibanding Ann. Punggung Brenda terekspos penuh, panjang gaunnya sepertiga paha atas. Gaun-gaun inilah yang tadi sore mereka buru ketika ia menerima telepon dari Simon.


Anna melirik sekali lagi pantulan dirinya di dalam cermin. Rambutnya ditata ke atas oleh Brenda dalam satu ikatan dengan sedikit juntai yang sengaja di atur seolah jatuh alami membingkai wajah Anna.


"Kau tampak sedikit nakal dengan rambut seperti itu. Ayo, sempurnakan lirikanmu. Seperti ini," ucap Brenda sambil mulai menperagakan wajah menggoda, dan kedipan mata nakal.


"Ayo, pergi. Tina dan yang lainnya pasti sudah berangkat ke sana."


"Ayo."


Brenda dan Anna mengunci pondok, lalu masuk ke mobil yang dikendarai oleh Brenda.


"Lets go have fun, Babe! Party! Party!" ucap Brenda setengah menjerit.


**********


"Ayolah, Mindy! Aku mau pulang! Sangat membosankan di sini!" Jhon menarik ujung gaun adiknya yang bergoyang pelan di sisi meja bar."


"Tidak bisa begitu! Kau kalah taruhan denganku! Kau berjanji melakukan apapun yang kumau!" ucap Mindy santai.


"Kau sengaja mengajak Jean!"

__ADS_1


"Tentu saja! Dia temanku," ucap Mindy santai.


Jhon mengembuskan napas panjang. Merasa sangat kesal dengan adiknya.


"Temanmu yang itu sangat merepotkan! "


"Kalau berani katakan langsung di depan Jean!" Mindy menjentikkan ujung mata Jhon yang mengenakan topeng.


Saat itu serombongan wanita cantik dan sexi membuat sedikit kehebohan. Siulan para lelaki terdengar nyaring, tepukan dan ajakan cabul dan rayuan menggoda terdengar dilontarkan dari beberapa sudut.


Para wanita cantik itu berhenti dan berdiri di sisi meja tak jauh dari Jhon dan Mindy.


"Seharusnya kau menikmati malammu. Lihat mereka. Cantik-cantik, masa kau tidak bisa dapat satu," ucap Mindy.


Jhon memandang tak berkedip satu sosok diantara kerumunan wanita itu. Topeng yang hanya menutupi bagian mata tersebut tidak bisa menyamarkan wajahnya secara keseluruhan. Senyum wanita itu mengingatkan Jhon pada seseorang.


"Ah, itu Damian! Aku ke sana ya!"


Jhon menahan adiknya yang akan segera kabur. Ia menyipit, memastikan sosok yang mendekat ke arah mereka memang temannya Damian.


"Pergilah. Kau boleh berdansa. Tapi hanya dengan pria yang kita kenal! Ingat itu!"


Mindy meninggalkan Jhon sambil mengomel. Jhon duduk menghadap bar sambil kembali melirik ke arah para wanita yang masih tertawa dan saling bercengkrama tak jauh darinya. Satu demi satu para wanita itu pergi ke lantai dansa, ada juga yang mengambil minuman, lalu memutuskan pergi menemui pria yang sepertinya memang sudah menunggu untuk menemui mereka.


Mata Jhon terpaku lagi pada sosok dengan gaun berwarna silver. Sejak melihat wanita itu, Jhon seperti mengenali gerak-geriknya. Tanpa ketara ia terus mengikuti dan setelah hampir lima belas menit, ia berani memastikan bahwa tebakannya tidak salah.


Jhon bersyukur mengenakan topeng, meski beberapa kali bertemu pandang dengan wanita itu, tidak ada kesan mengenali dari gerakan tubuh wanita itu.


Sambil menahan senyum, Jhon mengeluarkan ponsel. Ia mengambil gelas minuman, meneguk beberapa sesapan, lalu secara sembunyi-sembunyi mengambil gambar. Setelah beberapa kali shoot, Jhon memilah dan akhirnya memilih satu yang menurutnya agak provokatif. Belahan dada wanita itu agak terlihat karena saat itu ia sedikit membungkuk untuk mendengarkan bisikan temannya yang duduk di atas kursi bar. Kulit putih bahu dan lehernya terlihat jelas karena rambutnya yang diangkat dan diikat ke puncak kepala.


"Kau pasti akan terkejut, Teman ...," ucap Jhon sambil terkekeh ketika menekan tanda send di layar ponselnya.


NEXT >>>>>>


********


From Author,

__ADS_1


Bisakah bantu otor untuk vote karya ini readers sekalian. Dukung otor dg like tiap bab, Vote ,love dan komentar ya. Terima kasih banyak.


Salam. DIANAZ.


__ADS_2