
Suara ketukan pintu membangunkan Simon. Ia membuka mata, mendapati tubuh hangat istrinya dalam pelukan. Simon tersenyum, merasa paginya akan dimulai dengan sangat indah mulai hari ini.
Suara ketukan lagi terdengar. Karena takut Anna terbangun, Simon bangkit perlahan. Ia menutupkan ujung selimut ke punggung Anna yang masih terpejam.
Simon menemukan jubahnya di lantai kamar. Ia memungut benda tersebut dan memakainya dengan cepat.
Sambil menguap lebar, Simon memutar kunci dan membuka pintu.
Sebuah gaun berwarna hijau lembut menyambut matanya.
"Apa ...."
"Ini gaun untuk istrimu. Kau baru bangun ya? " Kepala Yoana menyelinap dan mengintip ke dalam.
"Astaga ... seprainya kenapa ...,"
Simon mengambil gaun dan juga goodybag di tangan Yoana. Lalu menutup sela pintu dengan seluruh badan agar Yoana tidak dapat lagi mengintip.
"Setelah siap, bawa Anna turun. Koper kalian sudah siap. Makan siang bersama dulu baru pergi."
"Makan siang?"
Yoana terkekeh. "Kalian sudah lama melewatkan sarapan." Yoana mencolek lengan adiknya dengan seringai jahil." Setelah menikah, tadi malam adalah malam kedua kalian kan?"
"Hah?"
"Kemarin setelah menikah? Dimana kau ungsikan Leonard?"
"Jangan mengurusiku, Yoan. Aku tidak ikut makan siang. Nanti saja," sungut Simon.
"Tidak bisa. Paman Hamilton sudah di bawah. Ia tiba tadi pagi dari rumah sakit."
"Kenapa tidak membangunkan aku!"
"Baru saja kulakukan, Bocah!"
Simon menyipit, lalu menutup pintu dengan sengaja di depan kakaknya itu. Tawa Yoana masih terdengar dari luar kamar ketika Simon meletakkan gaun Anna di ujung kasur.
Simon pergi mandi, Berpikir lebih baik mereka mandi sendiri-sendiri jika mau menghadiri makan siang bersama seluruh keluarga. Jika ia membangunkan Anna dan mengajak mandi bersama, ia yakin mereka tidak akan turun dari kamar hingga sore.
*********
Anna mencoba memasang wajah yang biasa di depan seluruh keluarga Simon. Kali ini Paman Hamilton, Alric dan Mary juga hadir. Mereka makan siang bersama dan mengobrol seperti biasa. Tidak ada yang menanyakan perihal syal berwarna abu-abu yang melilit di leher Anna. Padahal benda itu sangat tidak cocok, tidak pada tempatnya dan mengganggu keanggunan dari gaun hijau yang ia pakai. Hanya benda itu yang bisa Anna temukan di walk in closet, yang bisa dililit di lehernya untuk menutupi tanda merah di sana.
Makan siang yang ramai dan penuh tawa tersebut berjalan lancar. Celoteh anak kecil mewarnai di tiap sudut meja. Anna memandang dengan mata berbinar seluruh orang yang ada di sana.
Semuanya ini ... keluargaku ... aku tidak sendiri lagi, Nuella ....
Segera setelah selesai makan siang, Anna dan Simon bersiap-siap pergi.
Anna Berjalan pertama kali ke arah Mary dan Leon.
__ADS_1
"Sayang sekali kau tidak mau ikut, Leon." Anna berjongkok agar bisa setara dengan tinggi Leon.
Leonard menggelengkan kepalanya. "Tidak, Mom. Kali ini Mom harus pergi berdua dengan Dad. Leon tidak mau terhimpit di tengah lagi," ucap bocah itu polos.
Tawa geli terdengar dari setiap orang. Membuat wajah Anna merona malu.
"Jadi, ternyata memang belum ya. Tadi malam, yang pertama?" Yoana melirik Simon, menaik-turunkan alisnya dengan menggoda. Simon memilih tidak menanggapi.
" Pantas saja kau ganas luar biasa. Semua benda di meja rias jatuh," Yoana menusuk pinggang Simon dengan jari telunjuknya untuk memancing respon. Yoana sempat masuk ke kamar itu ketika pelayan membersihkannya.
"Hentikan, Yoan." Simon menangkap ujung jari Yoana yang kembali mau mencolek pinggangnya.
"Aku penasaran. Apa yang kalian lakukan di atas meja rias? Hm?"
Simon berderap meninggalkan Yoana. Kakaknya itu tertawa geli. Catty yang berdiri tak jauh dari sana ikut tertawa melihat Simon yang kabur menjauh.
Anna dan Leon saling mengucapkan selamat bertemu kembali dan berpelukan lama, lalu Anna berdiri dan berhadapan dengan Mary.
Mereka sama-sama tersenyum, lalu saat tubuh mereka saling berpelukan, Anna berbisik pelan ke telinga Mary. "Aku meminta izinmu. Izinkan aku menjadi salah satu ibu bagi Leon. Aku ingin ia memanggilku Mom seperti ia memanggilmu, juga Catty."
Mary tersenyum lebar. "Itulah yang kuinginkan. Aku titip putraku ...," bisik Mary.
Keduanya masih berbagi senyum ketika saling melepas pelukan.
Kemudian Anna dan Simon berpamitan satu persatu pada seluruh anggota keluarga, termasuk pada anak-anak. Terakhir, mereka menyalami dan memeluk Hamilton. Pelukan Simon pada pria tua itu agak lama. Hamilton juga terlihat berbisik pada Simon dengan mata yang berkaca-kaca.
"Jangan menangis. Semua bahagia melihatku. Paman juga harusnya tersenyum."
"Aku bahagia, Simon. Terlalu bahagia malah. Pergilah. Bulan madu sepuasnya," ucap Hamilton sambil menepuk pundak Simon berulang kali.
"Terima kasih, Yoan." Anna tersenyum.
"Telepon kami jika sudah sampai." perintah Claude.
"Baik," jawab Anna.
Setelah sekali lagi melambai pada Leon dan semua orang. Keduanya menaiki mobil dan mulai menjauh dari kediaman Bernard.
Sudah menikah semua, Antonio, Alissia. Semuanya sudah memiliki teman hidup yang saling mencintai. Cucu-cucu kalian akan segera bertambah. Aku yakin ....aku harap aku bisa menyaksikannya sedikit lebih lama. Hamilton membatin dengan mata menatap di kejauhan.
Yoana melambai dengan bibir menyeringai geli. Catty menyenggol bahunya. "Ada apa? ceritakan padaku apa yang lucu?"
"Tidak ada, Cat."
Catty menyipit tidak percaya, namun membiarkan dan tidak mendesak Yoana.
Maaf, Ann. Aku sedikit mengerjaimu, Ucap Yoana dalam hati.
**********
"Kenapa kau tidak berpakaian?" tanya Simon. Ia mengerutkan kening. Mereka telah tiba di hotel yang dipesan oleh Claude. Perjalanan memakan waktu hingga sore hari, Simon memutuskan beristirahat di kamar hotel sebelum waktu makan malam.
__ADS_1
Namun, bukannya beristirahat, tempat tidur ukuran besar dan acara mandi bersama membuat keduanya kembali mengulang adegan penuh hasrat yang sepertinya selalu memberikan sensasi baru bagi Anna. Simon dengan senang hati mengajari dan Anna mempraktekkannya dengan penuh semangat.
"Aku tidak punya."
"Apa? Kopermu? Kita akan makan malam di luar, Ann." Simon mengancingkan kemejanya.
Ia mendekat ke arah koper, lalu mengangkatnya ke atas tempat tidur. Simon membuka dan terbelalak melihat isinya.
Anna terkikik geli. Ia membuka jubah mandinya dan memperlihatkan gaun tipis tembus pandang yang ia pakai, panjangnya hanya di bawah bokong.
"Aku suka warnanya. Hitam, begitu tipis. Kulitku jadi menerawang. Talinya sangat kecil, bahannya halus," ucap Anna. Ia berputar dengan sengaja di depan Simon.
"Yoana ... apa-apaan ...."
"Bagaimana? Kita jadi makan di luar?" Anna berkedip menggoda."Hanya model ini dan renda-renda yang ada di koperku. Pasti tidak ada yang makan malam di luar memakai ini."
"Dalam mimpimu!" Seru Simon. Ia mengejar Anna yang sengaja berlari.
"Aku suka isi koperku!" teriak Anna sambil tertawa.
"Kalau begitu, aku akan menyekapmu hanya di kamar ini. Kau tidak boleh kemana-mana!"
"Kenapa tidak? Aaaaaaa!" Anna menjerit ketika ia tertangkap.
"Karena kau milikku seorang, gadis jahil. Kau menggodaku dengan baju ini ... Kalau begitu, Makan malammu hanya layanan kamar."
Anna tertawa ketika ia didorong ke atas kasur.
"Aku tidak keberatan," bisiknya manja ketika tubuh suaminya ikut naik ke atas tempat tidur. Memulai kembali bahasa cinta yang sudah berdengung di telinga dan pembuluh darah Anna bahkan hanya dengan memandang suaminya itu. Ketika tarian memabukkan itu membawa Anna kembali mengunjungi nirwana, ia mengucapkan perasaannya dengan suara lantang.
"Aku mencintaimu, Simon."
Perlu beberapa detik bagi Simon memahami ucapan itu. Ia terdiam di atas tubuh Anna.
"Aku ingin mengeluarkannya dari dalam sini." Anna menunjuk dadanya. "Aku ingin perasaanku tersampaikan padamu. Aku ingin kau tahu ...." Anna menelan ludah. Ia menunggu reaksi Simon dengan jantung berdebar.
Sebuah senyum kemudian terkembang sempurna di wajah Simon.
"Aku juga mencintaimu, Nyonya Bernard. Sangat mencintaimu."
Pelukan bercampur peluh menyatu bersama hati mereka yang juga sudah menjadi satu. Anna memejamkan mata, menikmati rengkuhan dua lengan yang membuatnya merasa sangat aman. Dunia yang dulu sama sekali tidak berani ia impikan.
**** The End ****
From Author.
Hai semua readers PS. Chapter terakhir dari Simon dan Anna. Satu kebahagiaan tersendiri bagi otor ketika satu karya sudah diselesaikan sampai tamat. Rasanya puas dan bahagia.
Otor mengucapkan terima kasih banyak pada readers yang sudah mampir. Terutama yang mengikuti bahkan dari POME, LS, MR. Costra, EL, lalu PS. Tanpa dukungan kalian semua otor mungkin sudah berhenti menulis di tengah jalan. Namun bisa terus dan akhirnya selesai satu demi satu berkat dukungan readers semuanya.
Mohon maaf jika pernah tersinggung kata, doa tulus untuk kalian semuanya semoga sehat selalu,.bahagia selalu dengan keluarga tercinta. Aamiin.
__ADS_1
Doain otor juga ya. Hehe.... I Love You my readers. Thanks a lot🙏🙏🙏
Salam hangat. DIANAZ.