Pengantin Simon

Pengantin Simon
36. Falling in love again


__ADS_3

"Ann ... ayo bangun. Kau harus makan," ucap Simon. Ia mendekatkan meja yang diatasnya sudah ada nampan berisi mangkuk-mangkuk makanan dalam bentuk bubur untuk Anna.


Anna mengernyit ketika bergerak, ia bermaksud bangkit, duduk dan bersandar di kepala tempat tidur, namun rasa nyeri terasa menyayat di bagian perutnya.


"Jangan bergerak. Sini, aku bantu." Simon menjauhkan lagi meja tempat nampan makanan. Ia mendekat ke sisi ranjang, lalu menunduk dan mengangkat kedua bahu Anna.


Melihat Anna masih mengernyit, Simon dengan cepat menyusun bantal di belakang Anna, kemudian menurunkan kembali tubuh Anna pelan-pelan.


Saat itu pintu terbuka lebar, lalu Claude dan Catty masuk. Keduanya menaikkan alis melihat posisi Simon yang terlihat seperti sedang memeluk Mam Ann.


"Kau sedang apa?" tanya Claude.


"Kau seharusnya mengetuk," sungut Simon.


"Baiklah. Maaf. Kau sedang apa?" ulang Claude lagi.


"Membantunya duduk bersandar. Sudah waktunya ia makan," jawab Simon.


Catty mendekat, melihat Mam Ann mengernyit dan terlihat tidak nyaman dengan posisinya.


"Bukankah posisi duduk Anda terasa kurang nyaman , Mam Ann?" tanya Catty.


Catty tidak menunggu jawaban. Bahasa tubuh Mam Ann sudah menjawabnya. Ia mencari di pinggir tempat tidur dan menemukan remote kontrol untuk mengatur posisi tempat tidur. Catty segera memencet remote, menaikkan bagian tengah hingga kepala tempat tidur sehingga Mam Ann bisa bersandar dengan nyaman pada posisi setengah duduk.


"Ah, terima kasih, Nyonya," ucap Anna dengan suara serak.


"Panggil Catty saja, Mam Ann. Kita belum berkenalan dengan resmi. Namun kami sudah bertemu Anda sejak Anda dibawa bersama Leon kemari." Catty tersenyum ramah.


Claude memandangi apa yang baru saja dilakukan istrinya dengan seringai geli, lalu ia menatap Simon.


"Jangan katakan kau tidak tahu fungsi benda itu, Simon," ucap Claude dengan nada mengejek. Tangannya menunjuk ke arah remote yang tadi dipegang Catty.


Simon menatap kakaknya dengan mata berkilat, tahu apa yang dipikirkan oleh Claude. Ia menolak melayani sindiran kakaknya itu, hanya menaikkan kedua bahunya sambil memasang ekspresi tidak peduli.


Catty tertawa kecil melihat ekspresi Simon, lalu ia melihat nampan berisi makanan milik Mam Ann.


"Ah, Anda harus makan, Mam. Sini, biar saya bantu," tawar Catty dengan antusias.


"Cat, Sayang ... kau mengacaukan rencana pria ini. Dia yang akan membantu Mam Ann, bukan begitu?" Claude terlihat menaik-turunkan kedua alisnya, menatap geli ke arah Simon. Adiknya itu sengaja mengabaikannya, membuat Claude jadi ingin terus memancingnya.


Simon mendelik, membuat Claude terkekeh dan Catalina menggeleng-gelengkan kepala.


Anna bersyukur ketika akhirnya Catty mendekatkan meja dorong ke arah tempat tidur. Anna meraih sendok dan memperlihatkan senyuman yang ia harap dimengerti oleh semua orang bahwa ia kuat untuk melakukannya sendiri. Ia akan sangat malu membiarkan keluarga Simon membantunya terus.


"Terima kasih, Catty. Tapi aku sudah lumayan kuat. Sudah bisa sendiri," ucap Anna.


"Ah, tentu ... kalian berdua ... bagaimana kalau keluar dulu dan carilah kopi. Mam Ann tentu akan canggung kita berdiri di sini dan memperhatikannya makan."


Catty melihat rona merah melintas di wajah Anna. Claude dan Simon juga melihatnya. Keduanya lalu pamit dan pergi meninggalkan kamar.


Catty duduk di sisi ranjang, mengambil alih sendok dari tangan Anna dan tersenyum lebar.


"Kuharap Anda jangan sungkan denganku, Mam. Dulu aku pernah bekerja sebagai perawat. Anda harus membatasi aktivitas untuk sementara, akan ada waktunya semuanya harus Anda lakukan sendiri nanti. Tapi belum sekarang, ayo Mam ...."


Catty menyendok bubur dan menyuapkannya pada Anna. Tanpa bisa menolak, Anna akhirnya membuka mulut dan menerima suapan dari salah satu Mommy Leon tersebut.


"Boleh aku bertanya, Catty?"


"Tentu." Senyum Catty sungguh bersahabat. Membuat Anna balas tersenyum dan merasakan keakraban dengan wanita itu.


"Kalian sangat baik padaku ... kau tahu Leon mengalami hal mengerikan karena aku bukan? Apa yang terjadi padanya karena ia ada bersamaku. Akulah yang sebenarnya dikejar oleh Martin ... tapi kenapa kalian semua malah mengurusku di sini."


"Itu bukan salahmu, Ann ... Leon ada di sana karena ia menyukaimu. Pria itu datang dan membuat kalian berdua mengalami malam yang menakutkan. Leon sudah menceritakan semuanya. Ia bilang ia tidak terlalu ketakutan, karena kau ada bersamanya dan menjaganya dengan baik ... Kesayangan Leon tentu saja kesayangan kami semua," ucap Catty dengan senyum lebar. Ia meninggalkan sebutan Mam agar Anna tahu ia sudah menganggap Anna sebagai teman.

__ADS_1


Catty melihat senyum balasan terkembang di bibir Anna. Ia mengangguk dan melanjutkan pekerjaannya menyuapkan bubur.


"Bagaimana keadaan Leon hari ini?" tanya Ann.


"Dia lebih baik, apalagi semua sepupu dan adiknya ada di sini. Tadi dia ingin ikut kemari, namun Yoana melarangnya. Ia akan membuatmu tidak bisa beristirahat."


"Aku dapat membayangkannya ... seorang kakak lelaki diantara para gadis cilik yang memujanya," sahut Anna. Ingat akan hadiah-hadiah kecil yang ia pilih bersama Leon untuk para sepupunya.


Catty terkekeh. "Penggambaranmu sangat pas Ann. Aku dan Claude punya dua putri. Alexa menjelang tiga tahun dan Benita sekarang delapan bulan. Kakakku Mary juga punya dua. Valencia dan Aislin ."


"Aku sudah bertemu mereka," potong Anna, ingat pertemuannya dengan adik-adik Leon itu di Mansion Mommy Mary.


"Dan Auntie Yoana punya satu putri, Joice. Jadi bocah lelaki di keluarga Bernard hanya Leon. Ah, di keluarga Lucca juga begitu ... entah kalau Alric mau menambah lagi dan beruntung mendapatkan anak laki-laki," canda Catty.


Anna merasa tawa Catty menular, ia jadi ikut tertawa.


Catty memandangi wajah Anna yang tertawa dengan mata berbinar. Anna terlihat cantik, apalagi bila tawanya juga terpancar ke bola matanya yang berwarna hijau.


"Leon sangat beruntung. Punya Mommy dan Daddy yang cantik dan tampan, juga punya keluarga yang sangat mencintainya," ucap Anna setelah menelan satu lagi suapan dari sendok Catty.


Catty tersenyum. Menyuapkan satu sendok bubur terakhir ke mulut Anna. Lalu mendekatkan gelas berisi air minum agar Anna bisa meraihnya.


Aku penasaran, Daddy yang mana yang dikatakan tampan? Apakah Daddy Simon? Pikir Catty, tertawa geli dalam hati.


Catty membereskan peralatan makan dan menyingkirkannya ke sudut ruangan.


Setelahnya ia kembali ke sisi ranjang. Anna terlihat menoleh ke arah kaca, menatap cahaya langit dan dengan suara pelan mendesah, " aku ingin segera pulih, lalu pergi dari tempat ini ...."


"Bersabarlah, Ann ....kau akan sembuh," ucap Catty memberi semangat.


Satu senyum simpul tersungging di bibir Catty. Teringat pengumuman yang dilontarkan Leon setelah ia pulang dari rumah sakit. Di depan semua orang yang menyambut kepulangannya, bocah kecil itu dengan lantang mengumumkan bahwa ia sudah mendapatkan Mommy untuk Daddynya. Penuh semangat Leon mengatakan bahwa hanya Daddy Simon yang belum punya Mommy dan ia menetapkan bahwa ibu gurunya sangat cocok untuk posisi itu. Semua orang terpana, lalu ikut bersorak dan tertawa terbahak-bahak ketika bocah itu berseru agar setiap orang segera memberikan selamat padanya.


Catty yakin, andai Simon ada di sana, pria itu sudah pasti akan jadi bulan-bulanan semua orang. Alric dan Claude takkan henti menyindirnya, Yoana takkan henti menggoda dan menjahilinya. Sayangnya pria itu tidak ikut, ia tinggal untuk menjaga Anna. Jadi hanya mengantarkan Leon sampai halaman rumah sakit dan membiarkan Claude dan Alric yang membawa bocah itu pulang.


Catty jadi tersenyum geli karena pikiran dan dugaan yang melintas di kepalanya.


***********


"Bagaimana perkembangan keluarga Martin? Ada kabar terbaru?" Simon menyesap minuman. Claude memutuskan mengajak adiknya itu makan siang di sebuah restoran tak jauh dari rumah sakit.


"Tidak ada. Pemakamannya sudah dilakukan kemarin. Menurut Alric, mereka malah sedikit sibuk menyembunyikan berita kematian Martin."


Simon mengembuskan napas panjang.


"Apa rencanamu setelah ini?" tanya Claude tiba-tiba.


"Rencana? Maksudmu?"


Claude mengangkat kedua bahunya. "Tentang Anna."


"Anna? Ada apa dengan Anna?"


"Kau tidak berminat mulai mencari Mama? Agar Leon kembali memanggilmu Papa?"


Simon mengangkat alis memandang kakaknya. Teringat bahwa sejak Leon bayi, ia mengajari putranya itu memanggilnya dengan sebutan Papa. Simon merasa perlu membedakan sebutan dirinya dengan ayah-ayah Leon yang lain.


Karena Mary adalah Mommy yang melahirkan Leon, maka Alric mengajari bocah itu agar memanggilnya Dad.


Begitu juga dengan Claude. Catty yang mengasuh Leon sejak baru dilahirkan oleh Mary mengajari bocah itu memanggilnya Mommy. Malah, Mommy pertama yang dikenal Leon adalah Catty, karena Mary sempat meninggalkan anak itu ketika ia dilahirkan, sehingga Cattylah yang mengasuhnya. Otomatis setelah menjadi suami Catty, Claude mengajari Leon memanggilnya Daddy.


Namun dengan bertambahnya umur Leon, bocah itu mengerti bahwa panggilan pada orang tua adalah sebutan berpasangan. Jika memanggil Daddy maka ia pasti punya Mommy. Jika punya Papa maka temannya akan bertanya yang mana mamanya. Sejak ia mengerti tentang hal itu, ia mengganti sendiri panggilannya terhadap Simon.


Simon ingat dengan jelas alasan yang dikemukakan putranya itu di depan semua orang. Dengan suaranya yang saat itu masih cadel, Leon berkata bahwa ia tidak punya Mama, jadi Leon tidak mau lagi memanggil Papa pada Simon, Tapi karena ia punya Mommy, maka papanya akan diganti menjadi Daddy. Jadi mulai saat itu, ia punya Daddy dan juga Mommy.

__ADS_1


Claude pasti mengingatnya, hingga menyinggung tentang hal itu sekarang, pikir Simon.


"Tidak masalah ia memangggilku dengan sebutan apa ... aku tahu Leon sudah mengerti tentang hubungan yang dimiliki oleh seluruh orang yang ia sebut Daddy atau Mommy."


Claude mengangguk. "Tentu saja. Leon sangat cerdas. Terlepas dari ketiadaan seorang ibu darimu, ia sudah memiliki lengkap sejak awal. aku yakin ia tumbuh dengan baik dan bahagia. Tapi kau ... kau sudah 31 tahun. Tidak berminat beristri?"


Simon menyeringai geli.


"Kenapa malah tersenyum?" tanya Claude.


"Yoana saja waktu berumur 32 tahun belum menikah. Kenapa aku harus sibuk?"


"Yoana berbeda. Ia menunggu seseorang. Kita semua tahu bila Vincent tidak menikahinya, ia tidak akan menikah."


Simon mendengus. "Ia terlambat bersiasat. Coba sejak dulu ia berkencan dengan orang lain dan mengatakan pada Vincent mau berburu suami agar bisa punya bayi. Kurasa ia tidak harus menunggu selama sepuluh tahun lebih."


Claude terkekeh. "Itu kisah mereka. Bagaimana dengan kisahmu sendiri, Simon? Kau dan Leon ... bentuklah keluarga yang lengkap. Cari istri sekaligus ibu untuk putramu."


Claude terpana melihat Simon tidak mendengus atau meledek idenya. Adiknya itu menyisir rambut dengan jemari, mendongak ke arah langit-langit dengan wajah serius, Desahan napasnya terdengar panjang.


"Ada apa? Apa masalahnya?" tanya Claude.


Simon tertawa kecil. Dengan sedikit malu ia mengaku pada Claude.


"Kau tahu ... sejak awal aku mendekatinya sebagai seorang pria ... tapi ia menjauh ... aku mengubah strategi mendekatinya sebagai seorang teman, perlahan ia menerimaku ... Leon juga banyak membantu. Sedikit demi sedikit aku mengenalnya. Ia menganggap aku dan Leon sebagai sahabat baiknya, lalu malam itu ... di pulau Abalon ... Anna terbuka dan menceritakan seluruh kisah hidupnya."


Claude menjentikkan jarinya. "Ia sudah terbuka padamu! Artinya ia sudah mempercayaimu! Itu hal yang bagus bukan?" tanya Claude penuh semangat.


Simon tertawa masam. "Ya. Lumayan bagus. Tapi yang jadi masalah adalah ... perasaannya tidak berubah ... hingga tadi, saat aku membantunya, menyentuhnya dan melakukan apapun untuknya, Anna hanya menganggapku teman ... bukan itu yang aku mau ... tapi sebatas itulah arti diriku. Teman, sahabat, kawan baik , Ck!" Simon berdecak dan mengusap wajahnya.


Claude mencibirkan bibirnya ke arah Simon yang tampak mulai frustrasi. Merasa seperti sedang berhadapan dengan orang lain. Bukan adiknya yang penuh rencana, siasat dan juga akal bulus.


"Seperti bukan dirimu ... itu bukanlah masalah. Kau malah satu langkah lebih maju dibanding aku dan Alric."


Simon mengernyit. "Maksudmu?"


Claude terkekeh. "Kau sudah berteman dengannya. Setidaknya kau hanya perlu mengubah cara pendekatanmu. Jangan tanya aku bagaimana ... pengalamanmu sudah lebih dari cukup. Aku dan Alric harus memulainya dari nol! Catty membenciku ketika melihatku pertama kali. Alric lebih parah ... Mary mengutuknya!"


Ucapan Claude membuat Simon tertawa kencang. Dua kakak beradik itu tertawa geli hingga membuat beberapa orang menatap ke arah mereka.


Setelah puas tertawa, Simon mengedipkan mata ke arah Claude. "Kau benar. Aku hanya sedikit bingung saja," ucap Simon.


Claude mencibir. "Bingung? Kau gundah Anak Muda ... mau kubantu menjelaskan apa yang ada di hatimu itu?"


Simon mendengus, menilai bahwa Claude pasti akan mulai mendramatisir ucapannya. Ia bangkit berdiri, lalu berpamitan.


"Terima kasih makan siangnya. Aku duluan. Kau yang bayar, oke."


Simon melenggang pergi. Claude tertawa, lalu berteriak dengan nada mengejek.


"Kau jatuh cinta lagi, Bocah!" teriak Claude. Sengaja memanggil Simon dengan panggilan yang selalu berhasil membuatnya gusar.


NEXT >>>>>


**********


From Author,


Nantikan kisah lanjutan Daddynya Leon ya. Jangan lupa tekan like, love, bintang lima , komentar dan vote untuk PS, panjang loh ini🤭🤭


Yang penasaran kisah Yoana-Vincent, Mary-Alric, Catty-Claude, yuk mampir dulu ke Novel Embrace Love (EL). Sambil nunggu up PS, baca EL dijamin seru dan romantis loh. Hehe, otor promo dikit🎉🎉😁


Terimakasih banyak atas dukungannya.

__ADS_1


Salam. DIANAZ.


__ADS_2