Pengantin Simon

Pengantin Simon
44. Desire


__ADS_3

Simon menunduk, menatap Anna dengan mata berkilat. Wanita itu tampak tidak tergetar sedikit pun ketika ia mengatakan ia menginginkannya dan Anna sama sekali tidak memperbolehkan ia mengucapkan kata-kata itu, Ann memotong ucapannya, Ann menghentikannya, menutup mulutnya, menolak mendengarkannya.


"Katakan kenapa kau tidak mau aku melanjutkan perkataanku!?" Lengan Simon mengetat membelenggu pinggang Anna.


"Tidak perlu alasan. Aku tidak mau kau membuat hubungan kita rusak, Simon. Aku sangat nyaman denganmu tapi bila kau mau mengubah ini ... meminta lebih ...." Anna menggelengkan kepalanya sebagai isyarat bahwa ia tidak mau.


"Tapi katakan alasannya!"


Simon menggertakkan gigi ketika Anna menjawabnya dengan menggelengkan kepala lebih kencang.


"Tidak ada alasan? Kalau begitu aku juga tidak perlu mengatakan alasan untuk apapun perbuatanku padamu!"


Simon melihat wajah Ann sedikit bingung, lalu mata wanita itu mulai melebar ketika ia mendekatkan wajah.


Anna mulai menggigit bibir bawahnya, Simon tahu Anna bisa menebak apa yang ingin ia lakukan.


"Mungkin aku akan sedikit memberikan penjelasan ...." Simon menunduk, sengaja menatap lama-lama ke arah bibir Anna.


Melihat arah mata Simon, Ann tahu pria itu pasti akan menciumnya lagi. Ia mulai menggeleng dan bermaksud mundur, namun lengan Simon di pinggangnya menahan tubuh Anna begitu kuat. Pria itu sekarang juga memegang dagunya dengan satu tangan yang masih bebas. Menghentikan gerakan dari kepala Anna.


"Aku akan menciummu, Ann ... alasannya? Karena aku suka melakukannya!"


Setelah ucapannya berakhir, Simon mengecup bibir Anna, awalnya lembut, mencium dan merayu wanita itu, namun karena merasakan gerakan tangan Anna yang selalu berusaha untuk mendorongnya, Simon melakukannya dengan sedikit kasar. Ia menggigit kecil bibir bawah Ann beberapa kali, lalu berpindah untuk mengeksplor sisi dalam dari mulut Anna, menarikan lidah dan mencecap berulang kali.


Kedua tangan Simon tidak tinggal diam. Ketika merasakan Anna berhenti mendorongnya, tangan Simon menjelajah ke belakang leher wanita itu, menjelajah sampai ia menemukan ritsleting di belakang gaun Anna. Seketika ia merasakan tubuh wanita itu menjadi kaku.

__ADS_1


"Ann ...." Simon berbisik diantara kecupannya. Jemari tangannya mengelus punggung Anna dari atas bahan gaun, bergerak berirama seolah menenangkan wanita itu. Simon bisa merasakan ketika tubuh Anna mulai melemas. "Aku terus menginginkan ini," bisik Simon lagi.


Kali berikutnya, lengan Simon di pinggang Anna makin mengencang hingga tubuh mereka saling menempel. Lengannya yang lain dengan mudah telah menurunkan ritsleting bagian belakang gaun Ann tanpa disadari oleh wanita itu.


Simon mendesah puas ketika jemarinya yang sudah menyelinap masuk ke balik bahan gaun di punggung Anna menemukan kulit lembut wanita itu dan membelainya dengan ahli.


Anna merasakan dirinya berubah-ubah dalam hitungan detik. Awalnya ia kukuh akan pergi, namun lengan pria di depannya itu menahan pinggangnya, kemudian ketika ciuman Simon menyentuh bibir, Anna lemas merasakan tubuhnya sendiri seperti tersengat, lalu ketika merasakan jemari pria itu di punggungnya, tubuh Anna menjadi kaku. Namun, itu juga hanya terjadi beberapa detik, sebelum pria itu kemudian menelusuri punggungnya, mengelus dan membuat tubuhnya kembali lemas.


Detik berikutnya, ciuman pria itu terasa seperti menyulut sesuatu di dalam tubuh Anna. Ia merasa mendamba, dengan detak jantung berubah semakin kencang, Ann seperti diajak berlari, membuat napasnya memburu dan tubuhnya terasa panas, tapi di detik itu ia sekaligus merasa lemas, kakinya seperti tidak mampu berpijak dengan benar. Ia masih berdiri hanya karena lengan besar Simon yang mengelilingi pinggangnya.


Sesuatu di dalam darah Anna makin tidak terkendali, ketika ia merasakan telapak tangan Simon menyentuh kulit punggungnya. Ia tidak tahu kapan pria itu menurunkan ritsleting gaun, ia terlalu fokus dan terkesima pada bibir dan lidah Simon yang terus menelusuri mulutnya tanpa henti, Ann tidak dapat mendorong pria itu, karena tubuhnya sendiri telah berkhianat. Tubuhnya menikmati semua itu.


Anna merasa semakin panas ketika tangan Simon menarik kelepak atas bagian kanan gaunnya ke arah depan, menurunkan gaun itu hingga dada bagian kanannya yang mengenakan bra berwarna hitam terlihat jelas.


Anna kembali memejamkan mata ketika mendapati kecupan di kulit bahunya, merasakan sedikit rasa nyeri ketika bibir Simon meninggalkan jejak merah di kulit bahu itu.


Anna bergetar dan semakin gemetar ketika mengetahui kepala Simon kembali bergerak. Ia dapat menebak kemana bibir Simon menuju, kedua telapak tangan Ann memegang kelepak jas pria itu, meremasnya sambil menelan ludah.


Desahan terdengar ketika bibir Simon tiba di tempat yang ia tuju, entah dari dasar tenggorokan siapa suara itu berasal, mereka tidak peduli. Keduanya hanya terpusat pada apa yang akan dilakukan seterusnya.


Kulit lembut di sisi atas bahan kain bra Anna yang berwarna hitam. Simon mengecup begitu lama di bagian atas bra Anna, seolah memberi tanda, jejak dirinya di tempat itu. Namun dengan sengaja ia tidak menyentuh apa yang disembunyikan Anna di balik bra.


Anna merasa tidak mampu lagi menerima rangsangan apapun. Ia merasa sesak. Sensasi itu terlalu banyak bagi syaraf-syarafnya. Ia merasa kewalahan. Bila Simon mulai menarik bahan kain yang menutupi dada kanannya, entah apa yang akan dilakukan oleh tubuhnya, atau mulutnya. Sekarang saja Ann ingin sekali mendesah dan menjerit. Tubuhnya melengkung, berkhianat, meminta lebih, seolah memberi akses pada pria itu.


Anna menelan ludah, berjuang begitu keras menekan gairah dan api yang terasa membakar di pembuluh darahnya, menguatkan diri untuk berucap," aku mohon ... Simon ... hentikan," bisik bibirnya yang kering. Ann merasa sulit untuk bicara lagi.

__ADS_1


Anna bersyukur pria itu rupanya mendengarkan. Simon berhenti,mengangkat kepalanya dari dada Ann, dengan cepat menaikkan kembali gaun Anna ke atas, menutup kembali dada dan bahu kanan Anna. Lalu pria itu mendekapnya, memeluk Ann erat-erat di dada.


Anna bersandar, memejamkan mata dan mengatur napasnya yang memburu. Ia bisa mendengarkan suara detak jantung Simon, terdengar cepat sama seperti jantungnya sendiri.


"Shhhh ... kau juga merasakannya bukan? Gairah ini ... aku begitu menginginkanmu, Ann ...."


Anna hanya diam membisu. Pengalaman ini baru kali ini ia rasakan. Sesuatu yang dikenalkan Simon padanya ini terlalu intens dan membuatnya merasa sesuatu di dalam dirinya bangkit. Ann menyadari ... itu adalah sebuah kebutuhan ... kebutuhan dirinya untuk dicintai dan juga kebutuhannya akan gairah. Selama pernikahannya, hanya di awal saja Ann pernah merasakan keinginan terhadap kebutuhan biologis yang satu itu, hubungan seksual ... dan itu berakhir memalukan ... hingga akhirnya ia berhenti mencoba. Martin membuat Ann percaya bahwa dirinya sama dengan pria itu. Mempunyai masalah ... tidak bisa melakukan hubungan seksual. Seiring berjalannya waktu dan usia pernikahannya, Anna benar-benar percaya bahwa dirinya tidak memiliki kebutuhan itu sama sekali.


Simon menaikkan ritsleting gaun Ann, lalu melepas jasnya dan memasangkan ke tubuh Anna. Setelah merapatkan kelepak jas tersebut di depan dada Ann, ia menatap wanita itu lama-lama.


"Jujurlah padaku ... apa kau pernah merasakan gairah seperti itu? Dengan Martin? Atau pria lain? Kekasihmu sebelum Martin?"


Anna menelan ludah, lalu setelah mengembuskan napas panjang, ia mendongak menatap Simon. "Aku mau pulang. Sekarang."


NEXT >>>>>


**********


From Author,


Halo semuanya, selamat idul fitri 1442 H bagi yang merayakan. Author mengucapkan mohon maaf lahir dan batin. Mohon maaf juga up chapternya ngadat, hari raya banyak wara wiri ke tempat sodara, silahturahmi, trus masih kerja juga, libur cuma sehari gaes, hehehe


Tak bosan-bosannya otor minta dukungan dengan tekan like, love, bintang lima, komentar dan vote untuk Mam Ann dan Daddy Simon ya. Terima kasih readers kesayanganku. Luvv you...


Salam. DIANAZ.

__ADS_1


__ADS_2