
"Makasih banyak Miss udah ngajar Ruby banyak hal," ucap Rania pada Miss. Susi dengan wajah senangnya. Saat ini ia sedang menjemput Ruby di sekolahnya.
"Ah iya Bu sama-sama. Ruby kan anak yang cerdas jadi enak ngajarnya."
"Tapi bagaimanapun lingkungan sekolah seperti guru yang baik juga ikut turut mempengaruhi lho Miss."
"Iya Bu. Terimakasih banyak atas ucapannya. Kami selaku guru disini merasa dianggap kalau semua orang tua menyatakan hal yang seperti ini," balas guru perempuan itu dengan hati yang sangat senang.
"Maaf Bu. Pengasuhnya kemana kok tumben ibu yang menjemput?"
"Ah, ini kebetulan saya lagi nginap di rumah putra saya jadi ya, sayalah yang menjemput Ruby. Sekalian mau ngajak jalan-jalan di Mall."
"Oh gitu, ibu eyang yang sangat sayang ya sama cucu."
"Iya dong Miss. Eyangnya Luby kan Eyang terbaik." Ruby menimpali perkataan gurunya dengan dua jempol ia angkat ke depan wajahnya. Rania dan Miss Susi langsung tertawa dibuatnya.
"Baiklah Miss. Kami pamit ya, selamat siang." Rania pun membawa cucunya itu baik ke atas mobil yang dikemudikan oleh Kang Udin.
Di atas mobil, perempuan paruh baya itu mengganti pakaian sekolah Ruby menjadi pakaian santai agar lebih nyaman untuk bermain nanti di Time Zone.
"Kita mau kemana sih eyang?" tanya gadis cilik itu dengan wajah penasaran.
"Mau main game sayang, kamu kan udah lama gak jalan sama eyang."
"Asyik. Mama Jo juga udah pelnah janji mau ngajak Luby main eyang."
"Ya gak apa-apa. Nanti kalau Mama Jo udah balik ke rumah, kamu bisa main lagi bertiga sama Papa."
"Asyik. Mama Jo katanya suka main PAM it ap," ujar Ruby sembari membayangkan Jovanka menari dengan arcade simulasi penari sesuai yang sering diceritakan oleh gadis itu padanya.
"Permainan apa itu sayang?" tanya Rania penasaran. Namanya tidak bisa ia deteksi dari lidah cadel cucunya.
"Mainan nali-nali gitu deh eyang. Pasti selu deh."
"Iya deh, kalau eyang kan gak bisa ikut permainan seperti itu. Tubuh eyang udah tua, gak seperti mama Jo yang masih kuat."
"Hihihi iya ya eyang udah gak kuat. Ngangkat Luby aja eyang suka capek hihhi."
__ADS_1
"Nah itu dia. Jadi kamu maunya main apa Ruby?"
"Bampel kal aja eyang. Pasti selu juga. Tapi jangan nablak-nablak ya, hihhi."
"Iya dong. Kalau permainan itu sih Eyang juga jago." Mereka berdua pun tak berhenti berbicara dan bercanda sampai mobil Kang Udin memasuki area Mall terbesar di kota itu.
"Ruby makan dulu ya, supaya gak masuk angin sayang," ujar Rania seraya membawa cucunya itu ke dalam sebuah Restoran cepat saji.
"Kamu duduk sini ya, Eyang akan pesan makanan kesukaanmu."
"Iya eyang, fled cikken ya," jawab Ruby dengan wajah bahagia. Untuk sesaat ia lupa akan keinginannya bermain bersama dengan Jovanka. Rania adalah salah satu orang yang sangat perhatian padanya jadi ia benar-benar menikmati kebersamaan mereka berdua di tempat itu.
"Nah, silahkan makan sayang, udah cuci tangan 'kan?"
"Udah dong."
"Baca doa jangan lupa ya."
"Bismillahillahmanillahim. Allohumma balik Lana fi ma lozaktana wa kina azabannnal,"
"Aamiin."
Setelah makan, mereka pun keluar dari Restoran cepat saji itu untuk menuju ke Time Zone.
"Eyang, itu kan mama Jo." ucap Ruby dengan tangan menarik ujung blouse yang sedang dipakai oleh Rania.
Perempuan paruh baya itu pun mengarahkan pandangannya pada seorang gadis yang ia tahu adalah pengasuh Ruby sekaligus calon mama dari cucunya itu.
"Iya sayang, itu memang benar Mama Jo." Rania langsung meraih handphonenya yang ia simpan di dalam tasnya. Ia pun mengambil gambar gadis itu yang sedang bermain Pump it up dengan beberapa pria. Ia harus memperlihatkan gambar ini pada Radith tentang kekakuan calon istrinya yang masih bau kencur itu.
"Luby mau main sama Mama Jo eyang."
"Gak boleh sayang. Di sana itu gak ada anak-anak kecil seperti Ruby."
"Tapi Ruby mau main sama Mama Jo." Ruby pun merajuk dan tetap ingin bergabung dengan para gadis dan pria remaja itu.
"Ruby sayang, kamu kan mau main bumper car sama eyang, kok mau main itu sih?"
__ADS_1
"Cuma mau panggil Mama Jo Eyang. bental aja," ujar Ruby dengan tatapan tak lepas dari penampakan gadis pengasuh yang nampak sangat ceria menari dengan musik yang cukup ribut itu.
"Baiklah, tapi kita tidak boleh lama-lama ya sayang. Eyang suka sakit kepala kalau dengar musik keras-keras."
"Iya eyang." Ruby dan Rania pun segera berjalan ke arah Jovanka yang sedang asyik melompat kesana kemari sampai tubuhnya yang terbalut pakaian yang agak terbuka itu nampak sudah basah oleh keringat.
"Mama Jo!" panggil Ruby dengan suara kerasnya. Tapi sepertinya tidak didengar oleh Jovanka.
"Mama Jo! ini Luby!" Ruby kembali berteriak tetapi suaranya tertelan musik yang begitu bising dari semua arah.
"Mama Jo!" Sekali lagi Ruby berteriak dan mulai menangis tapi suara musik dan bunyi game yang lain yang ada di tempat itu benar-benar menelan suaranya.
"Udah, Mama Jo lagi gak bisa diganggu sayang. Ayo ikut eyang aja. Kita main bumper car aja." Rania berusaha bersabar dengan membawa paksa cucunya yang menangis karena merasa diabaikan oleh Jovanka.
"Mama Jo, lupa sama Luby eyang, huaaaa," ujar Ruby seraya menghapus airmatanya dengan menggunakan punggung tangannya.
"Cup cup cup, kan ada eyang sayang. Kita main berdua aja yah. Main seru-seruan." Rania berjongkok untuk mensejajarkan tingginya dengan cucunya. Ia pun meraih beberapa lembar tissue untuk menghapus airmata Ruby.
Sungguh Ia juga sangat marah saat ini, tapi ia tidak boleh menunjukkannya di depan anak kecil seperti Ruby.
"Mama Jo lupa sama Luby, eyang huaaaa," tangis Ruby kembali pecah padahal mereka sudah berada dalam wahana mobil-mobilan untuk bermain bumper car.
"Udah, lupakan Mama Jo itu okey, kita main dulu sayang. Pokoknya kita tidak boleh kalah dan harus menang."
"Tapi eyang, Mama Jo udah janji mau main itu sama Luby. Ia lebih senang main sama olang lain huaaa." Rania menarik nafas panjang. Ia tetap harus bersabar menghadapi cucunya yang begitu sangat rewel ini.
"Iya, nanti Eyang yang bicara sama Mama Jo atau Papa supaya nanti main lagi sama Ruby ya?" Ruby pun mengangguk tetapi masih terdengar isak nya yang sangat menyedihkan.
Sementara itu, di tempat lain. Jovanka menghentikan aksinya dalam permainan Pump it up itu dengan nafas memburu karena lelah. Ia sebenarnya melihat Ruby dan juga perempuan yang ia yakini adalah ibu dari Radith Aditya itu tetapi ia berpura-pura tidak mendengarnya.
Ia sudah berjanji untuk memutuskan hubungan dengan keluarga itu meskipun hatinya sangat tidak rela.
πΊπΊπΊ
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading π