Pengasuh Centil

Pengasuh Centil
Bab 32 Perjuangan Belum Selesai


__ADS_3

"Aku yang akan buka pintunya dan kalian masuk ke kamar," titah Cici seraya meraih sapu yang ia simpan di belakang pintu. Ia harus berjaga-jaga dengan mempersiapkan senjata di tangannya.


"Aku temenin kamu Ci'." Naomi menwarkan dirinya untuk ikut membantu.


"Gak perlu Nom. Bawa saja Mini dan Jojoba ke dalam. Pokoknya kalau yang datang itu Pak Randy Jaya, Aku pastikan kepalanya akan mendapatkan jurus sapu terbang." Naomi dan dua orang lainnya pun segera berlalu dari ruang tamu.


Tok


Tok


Tok


Pintu kembali diketuk dengan tak sabar. Handle nya pun terlihat sedang berusaha dibuka dan didorong dari luar. Cici yakin sekali kalau orang yang berada di luar adalah orang yang sedang mencari Mini. Siapa lagi kalau bukan Pak Randy Jaya.


Dengan hati-hati ia membuka pintu rumah kost itu. Tangannya sudah siap memukul saat pintu terbuka.


Seeeet


"Aaargh!"


"Kak Zain?!" Cici melempar sapu yang ia pegang kemudian maju lebih dekat pada mahasiswa Pasca sarjana yang ia kenal sebagai sepupu Jovanka.


"Kamu kok mukul Aku sih?'" Zain mengelus lengannya yang baru saja terkena pukulan dari gadis dihadapannya.


"Maaf Kak, kirain orang lain." Cici meringis. Ia pun ingin mengelus tangan pria itu yang ia pastikan sangat sakit karena ia memukulnya dengan keras.


"Jovanka ada di dalam?" tiba-tiba saja Radith Aditya muncul dari arah belakang Zain dengan tatapan serius pada Cici Dewangga.


"Eh, bapak. Iya. Jovanka ada di dalam kamar. Mari pak, silahkan masuk." Cici membuka pintu lebar-lebar dan mempersilahkan dosennya itu untuk masuk.


"Silahkan duduk Pak. Akan saya panggilkan." Cici pun segera berlari ke dalam kamar Naomi tempat tiga gadis itu berkumpul.


"Jo, kamu dicariin tuh sama Pak Radith," ujar Cici memberi tahu.


"Hah? Pak Radith?" Jovanka dan dua orang lainnya terkaget.

__ADS_1


"Iya, kamu cepetan gih. Keburu orangnya nyusul ke kamar ini lagi."


"Gak mau. Kamu gak bilang kalau Aku gak ada di sini 'kan?"


"Ih mana bisa Aku bohong sama pak dosen. Ayo cepetan keluar."


"Gak mau. Bilang saja Aku tidak ada dan sudah kabur lewat pintu belakang."


"Jo. Kok gitu sih? Buruan keluar dan cepat selesaikan masalah kalian." Naomi langsung menarik tangan Jovanka dan membawanya ke ruang tamu.


"Jo," panggil Radith Aditya dan langsung menarik tangan gadis itu dan membawanya keluar dari rumah. Semua orang yang ada di dalam ruangan itu hanya bisa saling berpandangan. Sedangkan Zain tersenyum miring.


"Kalian hampir saja Aku tuntut karena menyembunyikan calon pengantin wanita!"


"Calon pengantin wanita?!" Cici mengulang beberapa kata itu dengan mulut membola.


"Baiklah kami permisi." Zain tidak menjawab rasa penasaran ketiga gadis itu. Ia langsung ikut meniggalkan rumah kost itu dengan tatapan tajam pada Cici Dewangga.


"Lain kali kamu jangan suka asal mukul orang sembarangan!"


'Eh iya Kak Maaf."


"Lepasin tangan Aku Pak!" sentak Jovanka pada pria yang membawanya masuk ke dalam mobilnya."


"Masuklah Jo. Kita akan pulang." Radith sepertinya sedang tidak ingin berdebat dan mengulur waktu. Ia memaksa gadis itu masuk kedalam mobil dan menutup pintunya. Ia mengitari mobilnya itu dan ikut masuk.


"Gak mau pulang sama bapak. Aku mau nginap disini sama teman-teman." Jovanka ingin turun lagi dari mobil itu tapi sayangnya pintunya sudah dikunci.


"Kamu lupa kalau kita akan menikah sayang?" ujar Radith Aditya seraya menghidupkan mesin mobilnya.


"Gak mau menikah sama bapak. Aku mau pulang ke rumah Aku aja. Tuh! ada kak Zain. Aku ikut di motornya aja." Jovanka bertahan tidak ingin bersama dengan pria yang sangat dicintainya itu. Hatinya masih belum bisa menerima kalau ada perempuan lain seperti orang yang dipanggil Mama Feli oleh Ruby itu.


"Jo, dengarkan Aku. Kamu sudah menjadi tanggung jawabku. Kedua orangtuamu sudah menerima lamaranku. Jadi plis, jangan bikin aku pusing." Radith Aditya menatapnya dengan tatapan serius.


"Pusing kenapa Pak? Pusing memilih antara Aku atau Mama kandungnya Ruby?"

__ADS_1


"Jo?!"


"Gak. Pokoknya Aku gak mau menikah sama bapak. Aku gak mau jadi pelakor di dalam keluarga bapak."


"Jo, Aku sudah lama sendiri. Felicia bahkan ku anggap sudah mati. Kamu bukan pelakor. Kamu calon istriku."


Jovanka tidak lagi ingin menjawab. Ia harus menenangkan perasaannya terlebih dahulu. Sungguh ia belum bisa menerima keadaan yang serba tiba-tiba ini.


"Jo, kita akan menikah secepatnya sayang. Kamu yang akan menjadi Mamanya Ruby seutuhnya." Jovanka sekali lagi tidak menjawab. Ia hanya memandang keluar jendela mobil.


"Aku mau ketemu bunda pak. Tolong bawa Aku pulang ke rumah saja." Akhirnya gadis itu membuka suara setelah lama terdiam.


"Baiklah, tapi ingat Jo. Jangan ragukan perasaan Aku sayang. Aku sangat mencintaimu."


Tak lama kemudian. Radith Aditya tiba di Rumah berpagar hijau itu. Ia pun turun dan membukakan pintu untuk gadis yang sangat ingin ia nikahi itu. Mereka berdua masuk ke dalam Rumah untuk bertemu dengan pemilik Rumah itu yang tak lain adalah Haikal Baron dan Zarina selaku orangtua Jovanka.


"Bunda..." Jovanka langsung berlari memeluk ibunya. Ia menangis di dalam pelukan perempuan berusia 40an itu.


"Udah, kamu jangan nangis dong. Gak cantik lagi nanti." Zarina menyusut airmata putrinya dengan jari-jarinya. Ia lalu membawa putrinya ke kamar.


"Nah Pak Radith. Sebaiknya kita bicarakan ulang tentang rencana pernikahan ini. Saya tidak ingin menyerahkan Jovanka untuk anda nikahi jika bayangan masa lalu masih juga berada di sekeliling Anda." Haikal langsung menyambutnya dengan kalimat yang sangat tidak ingin ia dengar.


"Pak Haikal. Saya sangat mencintai putri anda dan saya sudah katakan kalau saya ingin menikahinya." Radith Aditya menjawab dengan sangat tegas.


"Saya mengerti Pak Radith. Tapi bagaimana dengan seorang perempuan yang ada di Rumah Sakit itu. Jangan sampai ia menjadi seseorang yang akan menggangu hubungan kalian kedepannya." Haikal masih bertahan dengan pendapatnya. Ia pun melanjutkan dengan wajah serius.


"Untuk saat ini, biarkan Jovanka menenangkan hatinya supaya bisa berpikir jernih." Pria itu meninggalkan Radith Aditya yang duduk menunduk. Ia ingin kembali berpikir ulang demi masa depan putrinya.


Dan satu hal yang sepanjang sore ini yang ia pikirkan adalah, bahwa Jovanka masih sangat muda untuk menikah. Pikirannya masih sangat labil.


"Baiklah," ujar Radith Aditya dengan perasaan yang sangat kecewa. Ia tahu kalau hubungan ini sepertinya tidaklah semudah yang ia pikirkan. Dan ya akan membuktikan kalau perasaannya pada Jovanka benar-benar sangat kuat. Dan ia bertekad untuk memperjuangkannya.


🌺🌺🌺


*Bersambung.

__ADS_1


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍


__ADS_2